Ekspedisi Keanekaragaman Hayati Maluku Barat Daya 2025: Kepulauan Romang dan Damer sebagai Benteng Terakhir Biodiversitas Laut Global

Share:

Wilayah Maluku Barat Daya (MBD), khususnya Kepulauan Romang dan Damer, telah lama berada di pinggiran perhatian pembangunan nasional namun tetap menjadi pusat perhatian dalam diskursus biogeografi dunia. Sebutan “The Forgotten Islands” atau Kepulauan yang Terlupakan yang melekat pada wilayah ini bukan sekadar merujuk pada isolasi geografisnya di tengah Laut Banda, melainkan juga pada kekosongan data saintifik yang mendalam selama lebih dari satu dekade. Namun, pada awal tahun 2026, paradigma ini bergeser secara signifikan ketika Yayasan WWF Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memaparkan hasil ekspedisi komprehensif yang dilakukan pada akhir tahun sebelumnya. Paparan yang berlangsung di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Kamis, 5 Februari 2026, mengungkapkan bahwa wilayah ini bukan sekadar gugusan pulau terpencil, melainkan merupakan benteng pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut dunia di tengah krisis iklim global.

Ekspedisi yang berlangsung dari tanggal 3 Oktober hingga 3 November 2025 ini dipimpin oleh Senior Manager Program WWF Indonesia sekaligus Expedition Lead, Ahmad Hafiz Adyas. Fokus utama dari kegiatan ini adalah untuk melakukan konfirmasi serta pengumpulan data terbaru mengenai kekayaan hayati laut yang mencakup tiga ekosistem kritikal: terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Melalui integrasi tim darat dan laut, penelitian ini juga menyentuh aspek sosial-ekonomi masyarakat lokal yang selama berabad-abad telah hidup berdampingan dengan ekosistem unik ini. Signifikansi dari temuan ini tidak hanya terletak pada jumlah spesies yang ditemukan, tetapi juga pada kondisi kesehatan ekosistem yang luar biasa stabil, yang menunjukkan resiliensi alami terhadap fenomena pemanasan global yang telah merusak banyak kawasan pesisir lainnya di wilayah tropis.

Konteks Biogeografis dan Signifikansi Geografis Maluku Barat Daya

Kabupaten Maluku Barat Daya merupakan sebuah wilayah kepulauan yang terdiri dari 48 pulau, di mana tujuh di antaranya diklasifikasikan sebagai pulau-pulau terluar Indonesia. Dengan luas total mencapai 72.427,2 km², di mana sekitar 88,1% wilayahnya adalah perairan, MBD memiliki karakteristik unik sebagai koridor migrasi megafauna laut di wilayah timur Indonesia. Lokasi geografisnya yang strategis di Laut Banda menempatkan wilayah ini di dalam kawasan Wallacea, sebuah zona transisi biologis yang kaya akan spesies endemik dan memiliki sejarah geologis yang kompleks.

Keberadaan lembah bawah laut atau underwater canyon di sekitar Kepulauan Romang menambah kompleksitas ekologis kawasan ini. Fenomena geologis ini menciptakan sirkulasi arus yang membawa nutrisi dari laut dalam ke permukaan, yang pada gilirannya mendukung produktivitas primer yang sangat tinggi. Kondisi inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa perairan Romang dan Damer mampu menjadi rumah bagi populasi mamalia laut yang signifikan, termasuk hiu martil (Sphyrna lewini) dan berbagai spesies paus.

Data di atas menunjukkan betapa dominannya elemen perairan dalam struktur administratif dan ekologis MBD. Hal ini menggarisbawahi mengapa kebijakan pembangunan di wilayah ini harus meletakkan manajemen sumber daya laut sebagai prioritas utama. Penemuan ekspedisi 2025 memperkuat posisi MBD bukan sebagai wilayah marginal, melainkan sebagai aset strategis nasional dalam konteks ekonomi biru dan konservasi global.

Fenomena Populasi Dugong dan Integritas Padang Lamun

Salah satu temuan yang paling membanggakan dan menjadi sorotan dunia internasional dari ekspedisi ini adalah penemuan habitat dugong (Dugong dugon) terbesar yang pernah tercatat di Indonesia. Tim peneliti melalui pemantauan drone berhasil mendokumentasikan kawanan dugong sebanyak 32 individu dalam satu area pengamatan di perairan Pulau Romang. Secara ilmiah, temuan ini sangat signifikan karena dugong biasanya ditemukan dalam kelompok kecil yang terdiri dari satu hingga tiga individu saja.

Keberadaan kelompok besar ini memberikan indikasi langsung mengenai kualitas ekosistem padang lamun di wilayah tersebut. Dugong sangat bergantung pada lamun sebagai sumber makanan utama, dan populasi yang besar hanya dapat didukung oleh hamparan lamun yang luas, padat, dan sehat. Analisis ekologis menunjukkan bahwa kerapatan padang lamun di Damer dan Romang mencapai rata-rata 57%, sebuah angka yang mengategorikan ekosistem ini dalam kondisi sangat baik.

Diversitas dan Adaptasi Spesies Lamun

Kekayaan jenis lamun di Kepulauan Romang dan Damer juga mencatatkan rekor tersendiri. Tim ekspedisi berhasil mengidentifikasi sembilan jenis lamun dari total 14 jenis yang ada di seluruh Indonesia. Dengan kata lain, dua per tiga dari keanekaragaman jenis lamun nasional dapat ditemukan di perairan dua kepulauan ini. Temuan ini menempatkan MBD sebagai pusat keragaman lamun yang sangat krusial bagi stabilitas ekosistem pesisir.

Di antara sembilan jenis tersebut, penemuan spesies Thalassodendirum ciliatum menarik perhatian khusus dari para ahli botani laut. Spesies ini dianggap unik karena memiliki pigmen warna merah, sebuah ciri yang tidak umum pada lamun tropis lainnya. Pigmen merah ini bukan sekadar variasi estetika, melainkan merupakan bentuk adaptasi evolusioner yang memberikan ketahanan lebih tinggi terhadap perubahan suhu air laut. Mengingat lamun sering terpapar panas matahari langsung saat air surut, kemampuan adaptasi termal ini menjadikan Thalassodendirum ciliatum sebagai indikator penting bagi resiliensi ekosistem terhadap pemanasan global.

Indikator Ekosistem LamunHasil Temuan Ekspedisi 2025
Rata-rata Kerapatan57%
Jumlah Jenis Teridentifikasi9 dari 14 jenis nasional
Spesies UnikThalassodendirum ciliatum (Pigmen Merah)
Cakupan AreaDi atas 50%
Fungsi UtamaHabitat Dugong dan Area Pemijahan

Keberhasilan regenerasi alami dan minimnya gangguan pada padang lamun di Romang-Damer memberikan harapan baru bagi upaya konservasi dugong di tingkat regional. Perbandingan yang dilakukan oleh Expedition Lead, Ahmad Hafiz Adyas, menunjukkan bahwa populasi di Romang melampaui catatan di Thailand yang berkisar pada 26 individu, serta jauh lebih tinggi dibandingkan populasi di wilayah India. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia, melalui MBD, memegang peran kunci dalam kelangsungan hidup spesies dugong di dunia.

Geochronologi Terumbu Karang: Saksi Bisu Stabilitas Ekosistem

Sektor terumbu karang di Kepulauan Romang dan Damer menawarkan wawasan yang mendalam mengenai sejarah stabilitas lingkungan di kawasan tersebut. Berdasarkan hasil analisis fotogrametri dan pengamatan langsung, tim ekspedisi menemukan adanya struktur koloni karang purba yang diperkirakan telah berusia antara 100 hingga 200 tahun. Kehadiran individu karang yang mampu bertahan selama dua abad ini mengindikasikan bahwa perairan dangkal di MBD telah terbebas dari gangguan lingkungan masif maupun bencana alam yang merusak struktur dasar ekosistem dalam jangka waktu yang sangat lama.

Kondisi terumbu karang secara keseluruhan berada dalam kategori sedang hingga baik, dengan rata-rata tutupan karang hidup berkisar antara 39% hingga 51,4%. Angka ini secara signifikan lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata regional yang hanya mencapai 34%. Ketahanan terumbu karang ini sangat krusial tidak hanya bagi biodiversitas, tetapi juga bagi fungsi perlindungan pantai dari abrasi serta sebagai penyedia jasa ekosistem bagi perikanan karang yang menjadi tumpuan hidup masyarakat lokal.

Analisis Resiliensi Karang Purba

Fenomena karang purba di MBD memberikan bukti empiris mengenai konsep “refugia” iklim. Di saat banyak terumbu karang di bagian lain dunia mengalami pemutihan massal (coral bleaching) akibat kenaikan suhu permukaan laut, koloni karang di Romang dan Damer tetap bertahan. Faktor-faktor yang diduga berkontribusi terhadap resiliensi ini antara lain adalah adanya fenomena upwelling dari laut dalam yang membawa air dingin kaya nutrisi, serta minimnya polusi sedimentasi dari daratan akibat hutan mangrove dan tutupan lahan yang masih terjaga.

Metrik Kesehatan Terumbu KarangNilai PengamatanInterpretasi
Tutupan Karang Hidup (MBD)51,4% (Maksimum)Kategori Baik
Rata-rata Regional34%Di bawah kondisi MBD
Estimasi Usia Karang Tertua100 – 200 TahunIndikator Stabilitas Jangka Panjang
Fungsi EkologisArea Pemijahan (Spawning)Mendukung Stok Ikan Nasional

Pentingnya menjaga struktur karang purba ini ditekankan oleh para ahli karena peranannya sebagai penyedia larva karang bagi wilayah sekitarnya. Jika ekosistem ini hancur, maka kemampuan pulih mandiri dari terumbu karang di wilayah Maluku lainnya akan terancam. Oleh karena itu, penetapan kawasan ini sebagai taman perairan melalui regulasi pemerintah merupakan langkah yang tepat untuk mengunci status perlindungan hukumnya.

Integritas Hutan Mangrove dan Biodiversitas Daratan

Ekosistem ketiga yang menjadi fokus ekspedisi adalah hutan mangrove. Di Pulau Romang, tim peneliti menemukan struktur ekosistem mangrove yang sangat lengkap dan optimal. Kualitas ini dinilai berdasarkan keberadaan tiga indikator struktur vegetasi: mangrove utama, mangrove minor, dan asosiasi mangrove yang tumbuh dalam keseimbangan alami. Dengan sedikitnya 43 spesies mangrove yang teridentifikasi, kawasan ini menjadi salah satu titik keanekaragaman hayati mangrove tertinggi di wilayah pulau-pulau kecil Indonesia.

Regenerasi alami pada ekosistem mangrove di kawasan ini dilaporkan berjalan dengan sangat baik, tanpa adanya tanda-tanda konversi lahan yang signifikan untuk kepentingan pemukiman atau industri. Mangrove di sini menjalankan fungsi ganda; selain sebagai penahan energi gelombang, mereka juga berfungsi sebagai filter alami yang menjaga kejernihan air laut, yang secara langsung mendukung kesehatan padang lamun dan terumbu karang di depannya.

Konektivitas Wallacea dan Spesies Endemik

Meskipun fokus utama ekspedisi adalah pada sektor kelautan, keterkaitan antara darat dan laut di pulau-pulau kecil seperti Romang dan Damer tidak dapat diabaikan. Kepulauan Maluku secara umum merupakan bagian dari zona transisi Wallacea yang terkenal dengan tingkat endemisme yang tinggi. Data dari organisasi Burung Indonesia mengonfirmasi bahwa Kepulauan Maluku adalah habitat bagi 435 spesies burung, di mana 126 di antaranya adalah spesies endemik yang hanya dapat ditemukan di wilayah ini.

Selama ekspedisi 2025, tim mencatat lebih dari 200 spesies yang masuk dalam kategori terancam punah, rentan, atau dilindungi oleh undang-undang di Pulau Damer dan Pulau Romang. Keberadaan spesies-spesies ini, baik di darat maupun di laut, membentuk satu kesatuan ekosistem yang rapuh namun sangat berharga. Spesies kunci seperti dugong dan paus orca bertindak sebagai indikator kesehatan sistemik; jika populasi mereka stabil, maka dapat dipastikan bahwa komponen ekosistem lainnya masih berfungsi dengan baik.

Komponen Biodiversitas MangroveDetail Temuan
Jumlah Spesies Teridentifikasi43 Spesies
Kondisi RegenerasiAlami dan Optimal
Struktur VegetasiLengkap (Utama, Minor, Asosiasi)
Fungsi PerlindunganFilter Sedimen dan Area Nurseri Ikan

Kehadiran Megafauna Laut: Orca dan Koridor Migrasi

Selain penemuan dugong, kemunculan paus orca (Orcinus orca) menjadi sorotan utama dalam dokumentasi ekspedisi di perairan MBD. Orca, yang sering dijuluki sebagai paus pembunuh, merupakan predator puncak di lautan yang kehadirannya menandakan adanya kelimpahan mangsa di sepanjang rantai makanan. Kemunculan orca di perairan Romang dan Damer mempertegas status wilayah ini sebagai jalur migrasi mamalia laut yang vital di Indonesia.

Secara keseluruhan, kawasan ini diidentifikasi sebagai koridor utama bagi sedikitnya 24 spesies laut yang dilindungi. Beberapa spesies besar yang tercatat melintasi atau menetap di perairan MBD meliputi:

  • Paus Biru (Balaenoptera musculus brevicauda): Mamalia terbesar di dunia yang bermigrasi melalui perairan dalam Laut Banda.
  • Hiu Martil (Sphyrna lewini): Sering ditemukan di sekitar lembah bawah laut Pulau Romang dan Damer.
  • Penyu Hijau (Chelonia mydas): Menjadikan pantai-pantai di MBD sebagai lokasi peneluran yang penting.
  • Berbagai jenis lumba-lumba dan paus sikat yang memanfaatkan kelimpahan plankton dan ikan pelagis kecil di wilayah ini.

Pentingnya menjaga spesies kunci ini ditekankan oleh Hafiz Adyas dalam laporannya; jika predator puncak dan mamalia laut besar terlindungi, maka secara otomatis habitat yang mereka gunakan juga akan ikut terjaga, memberikan efek perlindungan payung bagi ribuan spesies lainnya.

Tantangan dan Ancaman: Praktik Merusak dan Sampah Plastik

Meskipun hasil ekspedisi menunjukkan gambaran yang sangat positif mengenai kelestarian alam, Maluku Barat Daya tidak sepenuhnya bebas dari ancaman. Ahmad Hafiz Adyas memperingatkan bahwa keberlanjutan kekayaan alam di wilayah ini tengah menghadapi tantangan besar yang memerlukan tindakan kolektif segera. Ancaman-ancaman ini mulai merambah dari wilayah luar ke kawasan pesisir yang sebelumnya terisolasi.

Praktik Perikanan Tidak Ramah Lingkungan

Ancaman nyata yang paling merusak adalah praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak (bom ikan) dan racun (potas). Praktik ini sering dilakukan oleh nelayan dari luar wilayah yang mengeksploitasi kekosongan pengawasan di perairan MBD yang sangat luas. Penggunaan bom ikan secara langsung dapat menghancurkan struktur terumbu karang yang telah tumbuh selama ratusan tahun hanya dalam hitungan detik, menghilangkan area pemijahan ikan dan merusak basis ekonomi masyarakat lokal.

Masalah Sampah Plastik dan Ghost Nets

Isu sampah plastik global juga telah mencapai perairan terpencil di Romang dan Damer. Selain sampah rumah tangga, keberadaan jaring hantu (ghost nets)—yaitu jaring nelayan yang terbuang atau hanyut—menjadi ancaman mematikan bagi penyu, lumba-lumba, dan dugong yang terjerat di dalamnya. Polusi plastik tidak hanya mengancam kesehatan biota laut secara fisik tetapi juga berpotensi masuk ke dalam rantai makanan manusia melalui mikroplastik.

Perburuan Spesies Dilindungi

Meskipun terdapat larangan adat dan hukum formal, aktivitas perburuan penyu dan pengambilan telur penyu masih terjadi di beberapa pantai peneluran. Tanpa pengawasan yang ketat, populasi penyu yang lambat dalam bereproduksi dapat mengalami penurunan drastis, mengganggu keseimbangan ekosistem laut yang lebih luas.

Kategori AncamanDeskripsi DampakSkala Prioritas
Bom dan Racun IkanPenghancuran Fisik Terumbu KarangSangat Tinggi
Sampah Plastik & Ghost NetsKematian Megafauna Laut (Jeratan)Tinggi
Perburuan PenyuGangguan Siklus ReproduksiMenengah – Tinggi
Krisis IklimPeningkatan Suhu Air LautJangka Panjang

Strategi Konservasi dan Kerangka Regulasi Pemerintah

Menanggapi hasil temuan yang menunjukkan betapa strategisnya wilayah MBD, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan landasan hukum yang kuat untuk perlindungan kawasan tersebut. Penetapan status kawasan konservasi merupakan langkah krusial untuk memastikan bahwa keanekaragaman hayati yang ditemukan oleh tim ekspedisi tidak hilang begitu saja akibat eksploitasi yang tidak terkontrol.

Dasar Hukum dan Luasan Kawasan Konservasi

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan yang diterbitkan pada tahun 2022, perairan di Maluku Barat Daya telah secara resmi mendapatkan perlindungan hukum. Keputusan-keputusan tersebut meliputi:

  1. KEPMEN KP Nomor 4 Tahun 2022: Menetapkan Taman Perairan Damer dengan luas 297.143,91 hektar. Kawasan ini difokuskan untuk melindungi habitat penyu hijau, hiu martil, serta padang lamun.
  2. KEPMEN KP Nomor 6 Tahun 2022: Menetapkan Taman Perairan Kepulauan Romang dengan luas 274.845,74 hektar. Fokus utamanya adalah perlindungan ekosistem lembah bawah laut dan habitat mamalia laut seperti dugong dan paus.
  3. KEPMEN KP Nomor 5 Tahun 2022: Mencakup Wilayah Mdone Hiera, Lakor, Moa, dan Letti dengan luas 371.722,43 hektar yang berfungsi sebagai habitat penting bagi pemijahan ikan karang (spawning aggregations).

Kontribusi dari kawasan-kawasan konservasi di MBD ini mencapai 75% dari total luasan kawasan konservasi perairan yang dikelola oleh Provinsi Maluku. Dengan total luas yang mencapai jutaan hektar, MBD menjadi garda terdepan dalam mencapai target nasional konservasi laut Indonesia sebesar 30 juta hektar pada tahun 2030.

Kearifan Lokal dan Peran Sasi dalam Konservasi

Salah satu faktor utama mengapa ekosistem di Kepulauan Romang dan Damer masih terjaga dengan sangat baik hingga saat ini adalah keberadaan sistem tata kelola tradisional yang dikenal sebagai Sasi. Sasi adalah bentuk larangan adat untuk mengambil sumber daya alam tertentu di suatu kawasan dalam jangka waktu yang telah disepakati oleh masyarakat adat setempat.

Mekanisme dan Etika Sasi

Praktik Sasi melibatkan upacara adat yang dipimpin oleh tetua adat atau pemuka agama. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan bagi ekosistem dan spesies di dalamnya (seperti lola, teripang, atau ikan tertentu) untuk bereproduksi dan tumbuh hingga mencapai ukuran optimal sebelum dipanen kembali. Esensi dari Sasi bukan sekadar pelarangan, melainkan manajemen sumber daya yang bijaksana untuk menjamin kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Di Pulau Romang dan Damer, larangan adat atau Pemali terhadap perburuan spesies tertentu seperti dugong telah menjadi norma sosial yang sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kesadaran ekologis yang mendalam yang telah diwariskan secara turun-temurun. Integrasi antara hukum formal (KEPMEN KP) dan hukum adat (Sasi) dianggap sebagai model terbaik untuk pengelolaan kawasan konservasi di MBD.

Penguatan Pengawasan Berbasis Masyarakat (Pokmaswas)

Mengingat luasnya perairan yang harus diawasi, keterlibatan aktif masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) menjadi sangat krusial. WWF Indonesia menekankan perlunya kolaborasi untuk memperkuat Pokmaswas agar masyarakat lokal memiliki kapasitas untuk memantau wilayah mereka dari gangguan nelayan luar yang melakukan praktik penangkapan merusak. Dengan pengawasan berbasis masyarakat, rasa kepemilikan terhadap kekayaan alam akan meningkat, yang pada gilirannya akan menjamin keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang.

Potensi Ekonomi Berkelanjutan dan Lumbung Ikan Nasional

Konservasi di Maluku Barat Daya tidak bertujuan untuk menutup akses ekonomi, melainkan untuk memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam dilakukan secara berkelanjutan. MBD memiliki potensi perikanan yang sangat besar yang dapat mendukung visi Pemerintah Provinsi Maluku sebagai “Lumbung Ikan Nasional”.

Komoditas Perikanan dan Akuakultur

Sektor perikanan di MBD didominasi oleh perikanan tangkap pelagis kecil dengan potensi mencapai 6.800 ton per tahun. Selain itu, sektor budidaya laut, khususnya rumput laut, menunjukkan performa yang cukup baik dengan hasil sekitar 3.294 ton per tahun. Melalui konsep pengelolaan perikanan terukur, kawasan konservasi di Romang dan Damer akan berfungsi sebagai “bank ikan” yang menyuplai stok ikan ke wilayah penangkapan di sekitarnya.

Sektor Ekonomi LautPotensi/Hasil per TahunStatus Pengembangan
Perikanan Tangkap Pelagis6.800 TonBerkelanjutan
Budidaya Rumput Laut3.294 TonBerbasis Masyarakat
Perikanan KarangN/ABergantung pada Terumbu Karang
Pariwisata BahariEmergingMembutuhkan Infrastruktur

Pengembangan Ekowisata Bahari

Keindahan alam bawah laut dan keberadaan megafauna seperti orca dan dugong memberikan peluang besar bagi pengembangan ekowisata. Pulau Moa, sebagai pusat administrasi, telah mulai dipromosikan melalui teknologi ArcGIS StoryMaps untuk memperkenalkan potensi wisatanya kepada dunia internasional. Wisatawan yang mencari destinasi yang belum terjamah (off the beaten track) akan tertarik untuk mengunjungi MBD, yang pada gilirannya akan memberikan dampak positif pada perekonomian lokal melalui sektor jasa dan akomodasi.

Namun, pengembangan pariwisata ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu habitat sensitif mamalia laut. Diperlukan regulasi yang ketat mengenai jarak aman pengamatan hewan laut serta pembatasan jumlah pengunjung untuk menjaga integritas ekosistem yang rapuh.

Rekomendasi Strategis dan Outlook Masa Depan

Hasil ekspedisi WWF Indonesia di Kepulauan Romang dan Damer tahun 2025 telah memberikan dasar ilmiah yang tak terbantahkan mengenai nilai strategis Maluku Barat Daya. Sebagai penutup dari analisis komprehensif ini, beberapa poin rekomendasi strategis perlu diperhatikan untuk memastikan temuan ini ditindaklanjuti dengan aksi nyata:

Pertama, diperlukan pembentukan unit pengelola kawasan konservasi yang efektif di tingkat lokal untuk menjalankan amanat dari KEPMEN KP tahun 2022. Tanpa kehadiran fisik otoritas pengelola di lapangan, regulasi hanya akan menjadi dokumen di atas kertas. Pendampingan teknis dari lembaga seperti Yayasan WWF Indonesia sangat diperlukan untuk melatih personel lokal dalam teknik pemantauan biodiversitas dan penegakan hukum perikanan.

Kedua, perlunya investasi pada teknologi pengawasan modern seperti sistem informasi satelit dan drone untuk memantau aktivitas penangkapan ikan ilegal. Mengingat luasnya wilayah laut MBD, teknologi ini akan sangat membantu Pokmaswas dan aparat dalam mendeteksi ancaman secara real-time.

Ketiga, edukasi bagi generasi muda di MBD mengenai pentingnya menjaga warisan alam mereka harus terus ditingkatkan. Kesadaran bahwa dugong dan karang purba di wilayah mereka adalah harta karun dunia harus menjadi bagian dari kurikulum lokal atau kegiatan komunitas. Dengan demikian, upaya konservasi akan memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat.

Keempat, riset lanjutan mengenai adaptasi iklim pada spesies lamun Thalassodendirum ciliatum dan karang purba harus terus didorong. Pemahaman mengenai mekanisme resiliensi di MBD dapat menjadi kunci bagi penyelamatan ekosistem laut di wilayah lain yang lebih terdampak oleh krisis iklim global.

Kepulauan Romang dan Damer adalah simbol harapan di tengah kegelapan krisis lingkungan global. Keberhasilan Indonesia dalam menjaga wilayah ini akan menjadi bukti kepemimpinan nasional dalam isu keanekaragaman hayati laut dan ketahanan iklim. Sebagaimana yang disampaikan oleh para peneliti, perairan Maluku Barat Daya adalah benteng terakhir, dan tugas kita bersama untuk memastikan benteng ini tidak pernah runtuh.

error: Content is protected !!