Di tengah kepedihan akibat konflik yang baru saja mengguncang wilayah Seram Utara, secercah harapan menyala dari desa kecil bernama Masihulan. Rumah-rumah memang telah terbakar, sebagian warga masih trauma, dan suasana belum sepenuhnya pulih. Namun, dari reruntuhan duka itu, kabar penuh sukacita datang: Sebelas calon sidi dari Jemaat GPM Masihulan Klasis Seram Utara Barat akan diteguhkan sebagai anggota sidi baru pada tanggal 13 April 2025.
Ke-11 calon sidi ini bukan hanya menjadi simbol regenerasi iman di jemaat tersebut, tetapi juga menjadi tanda bahwa kehidupan tetap berjalan, bahwa kasih Kristus terus menyatukan, bahkan di tengah luka yang masih basah. Mereka adalah anak-anak muda yang tidak menyerah pada rasa takut, dan memilih untuk melangkah maju dalam komitmen iman.
Ironisnya, perlengkapan sidi mereka—pakaian hitam khas yang telah disiapkan dengan sukacita—ikut hangus dalam kobaran api saat bentrokan terjadi. Namun, berkat kepedulian dan gerak cepat Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, kebutuhan perlengkapan tersebut segera ditanggulangi. Dalam waktu singkat, pakaian sidi yang baru dipersiapkan agar mereka tetap dapat diteguhkan dengan layak dan penuh khidmat.
Momentum peneguhan ini tidak sekadar seremoni gerejawi. Ia menjadi peristiwa spiritual dan sosial yang penting. Ia menjadi deklarasi bersama bahwa kekerasan tidak dapat membungkam iman, dan bahwa gereja tidak diam ketika umatnya terluka. GPM hadir, merawat, dan berdiri bersama jemaatnya—termasuk di daerah-daerah yang terdampak konflik seperti Seram Utara.
Peneguhan sidi ini direncanakan akan berlangsung dalam ibadah jemaat pada Minggu, 13 April 2025, di gedung gereja GPM Masihulan yang masih berdiri kokoh, meski dikepung ketidakpastian. Jemaat dan para pemuda lainnya turut bergotong-royong membersihkan dan menata gedung gereja agar layak menyambut hari bersejarah tersebut.
Dalam rangkaian masa Minggu Sengsara,, peneguhan ini menjadi pengingat kuat tentang makna kebangkitan: bahwa dari kehancuran pun, hidup baru bisa tumbuh. Bahwa di tengah bara, Tuhan tetap bekerja.
Gereja tidak hanya berdiri untuk merayakan kemenangan, tetapi juga untuk menyeka air mata, merawat luka, dan menguatkan iman yang diuji. Seperti sabda dalam Roma 5:3–4, “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”
Dan pada 13 April nanti, pengharapan itu akan mengenakan pakaian hitam sidi, berdiri di altar, dan berkata: “Ya… dengan segenap hatiku, TUHAN.”