Prof. Ferry Latuhihin: Ekonom Visioner yang Berani Melawan Arus

Share:

Prof. Ferry Latuhihin adalah seorang ekonom terkemuka Indonesia dengan latar belakang pendidikan yang mengesankan. Ia menyelesaikan studi dari jenjang S1 hingga S3 di Erasmus University Rotterdam, Belanda, dengan fokus pada analisis pasar modal dan kebijakan ekonomi. Saat ini, ia menjabat sebagai Chief Economist di Tanamduit, sebuah platform finansial digital yang mempermudah akses masyarakat terhadap investasi. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pengamat ekonomi yang sering memberikan analisis tajam terhadap isu-isu kebijakan publik.

Nama Prof. Ferry kini semakin dikenal di kalangan publik berkat kehadirannya yang aktif di berbagai media massa. Ia sering muncul sebagai narasumber di televisi, surat kabar, serta podcast di YouTube. Dalam setiap diskusi yang diikutinya, ia mampu memberikan analisis yang tajam terhadap isu-isu terkini, mulai dari kebijakan ekonomi nasional hingga tren di pasar modal. Kemampuannya untuk menyampaikan topik-topik kompleks dalam bahasa yang mudah dipahami menjadikannya sebagai salah satu pengamat ekonomi yang paling dicari. Selain itu, pandangan-pandangannya yang selalu relevan dan didasarkan pada riset yang solid membuatnya sangat dihormati, baik di kalangan profesional maupun di masyarakat umum.

Sebagai anggota Dewan Pakar di Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Prof. Ferry memainkan peran penting dalam merancang narasi ekonomi yang berbasis solusi nyata. Namun, di balik perannya sebagai pendukung kampanye, ia tidak segan-segan mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggapnya kurang tepat. Salah satu kritik terbesarnya ditujukan kepada Danantara, lembaga investasi yang baru dibentuk oleh pemerintah.

Danantara: Struktur dan Potensi

Danantara, atau Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, adalah lembaga sovereign wealth fund (SWF) Indonesia yang baru diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Lembaga ini dirancang untuk mengelola aset negara senilai lebih dari Rp14.000 triliun, menjadikannya salah satu SWF terbesar di dunia. Struktur organisasi Danantara mencakup beberapa elemen utama:

  1. Pembina dan Penanggung Jawab: Presiden Prabowo Subianto memimpin sebagai pembina utama.
  2. Dewan Penasehat: Terdiri dari tokoh-tokoh senior seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.
  3. Dewan Pengawas: Dipimpin oleh Erick Thohir sebagai Ketua, dengan anggota seperti Sri Mulyani dan Tony Blair.
  4. Badan Pelaksana: Rosan Perkasa Roeslani menjabat sebagai CEO, didampingi Pandu Patria Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO) dan Dony Oskaria sebagai Chief Operating Officer (COO).

Danantara juga mengelola tujuh BUMN besar, termasuk PT Pertamina, PT Telekomunikasi Indonesia, dan PT Bank Mandiri, yang diharapkan menjadi katalisator utama bagi pengembangan ekonomi nasional.

Kritik Prof. Ferry terhadap Danantara

Menurut Prof. Ferry, Danantara berpotensi menjadi alat politik yang mengancam profesionalisme dalam pengelolaan dana publik. Ia menyoroti dominasi figur politik dalam struktur organisasi Danantara, yang menurutnya dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap independensi lembaga tersebut. Selain itu, ia mengkritik keputusan memasukkan bank-bank besar ke dalam Danantara, karena langkah ini dinilai meningkatkan risiko sistemik yang dapat berdampak luas pada stabilitas ekonomi. Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan lembaga investasi ini.

Tanggapan dari Kelompok Presiden

Tanggapan dari kelompok Presiden Prabowo terhadap kritik ini beragam. Aktivis senior seperti Arief Poyuono membela Danantara sebagai bagian dari visi besar Presiden untuk memanfaatkan aset negara secara optimal demi kemakmuran rakyat. Ia menegaskan bahwa lembaga ini memiliki potensi besar untuk mengelola aset senilai Rp14.000 triliun, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Namun, beberapa pihak lain dalam pemerintahan memilih untuk tidak terlalu menanggapi kritik ini secara langsung, dengan alasan bahwa Danantara masih dalam tahap awal pembentukan dan perlu waktu untuk menunjukkan hasilnya.

Kesimpulan

Posisi Prof. Ferry di TKN Prabowo-Gibran menunjukkan bahwa ia tidak hanya berperan sebagai pendukung kampanye, tetapi juga sebagai pengamat yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Sikapnya yang tegas dan berbasis prinsip menjadikannya salah satu tokoh yang dihormati dalam dunia ekonomi dan politik Indonesia. Kritiknya terhadap Danantara mencerminkan keberanian untuk berbicara lantang demi prinsip, meskipun berada di tengah arus politik yang kompleks.


error: Content is protected !!