Eksplorasi botani di wilayah biogeografi Malesia Timur, khususnya di Pulau Papua, telah lama dianggap sebagai salah satu tantangan terbesar dalam ilmu pengetahuan alam modern. Sebagai pulau tropis terbesar dan paling beragam secara botani di planet ini, Papua menyimpan kompleksitas taksonomi yang memerlukan dedikasi akademik yang luar biasa. Dalam konteks inilah, Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS, muncul sebagai figur sentral yang menjembatani kedalaman riset taksonomi dengan implementasi kebijakan publik yang transformatif. Sebagai Guru Besar bidang Botani Hutan di Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, perjalanan karier Heatubun mencerminkan evolusi dari seorang peneliti herbarium menjadi arsitek kebijakan provinsi konservasi yang diakui secara internasional.
Formasi Akademik dan Visi Botani: Akar Kepakaran di Tanah Papua

Perjalanan akademik Charlie Danny Heatubun berakar kuat pada tanah kelahirannya di Manokwari, Papua Barat, pada tanggal 6 Desember 1973. Pendidikan dasarnya di Papua memberikan perspektif lokal yang intim terhadap kekayaan alam, yang kemudian diformalisasi melalui studi sarjana di Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih (memisahkan diri menjadi UNIPA) yang diselesaikannya pada tahun 1997.
Sejak awal kariernya, keterlibatan Heatubun dalam dunia riset sudah terlihat saat ia menjadi peneliti di Herbarium Manokwariense dan Pusat Studi Keanekaragaman Hayati Universitas Cenderawasih antara tahun 1997 hingga 1998.
Pendidikan pascasarjana Heatubun menunjukkan ambisi ilmiah yang melampaui batas-batas regional. Ia menyelesaikan gelar Magister Sains (M.Si) di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2006 dengan spesialisasi Taksonomi Tumbuhan, di mana ia menghasilkan monografi penting mengenai genus palem Cyrtostachys. Kesuksesan ini dilanjutkan dengan studi doktoral (S-3) yang dilakukan melalui program gelar ganda antara IPB dan Royal Botanic Gardens (RBG), Kew, Inggris. Disertasinya yang berjudul Systematic and Evolution of Palm Genus Areca L. lulus dengan predikat summa cum laude pada tahun 2009. Melanjutkan Postdoctoral di The Royal Botanic Gardens, Kew, UK: “Old World Palms Projects” pada tahun 2011. Pencapaian ini tidak hanya menandai keahlian teknisnya dalam sistematika filogenetik, tetapi juga memperkuat jejaring internasionalnya dengan tokoh-tokoh kunci dalam dunia botani global, seperti John Dransfield, yang dikenal sebagai figur otoritas palem dunia.
Kombinasi antara pendidikan tinggi dan pelatihan lapangan yang intensif, termasuk partisipasinya dalam Mt. Jaya Expedition tahun 1998 yang disponsori oleh PT. Freeport Indonesia dan RBG Kew, membentuk kapasitas Heatubun dalam melakukan eksplorasi di medan-medan yang paling sulit di Papua. Pengalaman ini menjadi landasan bagi pengangkatannya sebagai Guru Besar Botani Hutan dan Ilmu Sumber Daya Hutan di UNIPA pada 1 Oktober 2012, menjadikannya salah satu profesor termuda dan paling berpengaruh di bidangnya.
Kontribusi Taksonomi: Mengungkap Rahasia Arecaceae di Malesia Timur
Sebagai ahli palem, kontribusi Charlie Danny Heatubun terhadap keluarga Arecaceae bersifat fundamental dan telah mengubah peta pengetahuan botani di wilayah Malesia. Melalui pendekatan integratif yang menggabungkan morfologi tradisional dengan data molekuler, ia telah mengidentifikasi dan mendeskripsikan puluhan spesies baru serta melakukan revisi terhadap genus-genus yang sebelumnya kurang dipahami.
Penemuan Genus Baru dan Signifikansi Evolusioner
Salah satu tonggak sejarah botani modern yang dicapai oleh Heatubun adalah penemuan tiga genus palem baru dari wilayah Indonesia Timur yang diterbitkan pada tahun 2014. Penemuan ini sangat jarang terjadi di abad ke-21 dan memberikan bukti kuat bahwa biodiversitas Indonesia masih menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan.
- Jailoloa: Ditemukan di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Genus ini, dengan spesies tipe Jailoloa halmaherensis, memiliki keunikan ekologis karena tumbuh secara eksklusif di tanah ultramafik yang kaya akan logam berat seperti nikel dan besi. Penemuan ini bermula dari survei dampak lingkungan di area pertambangan, yang menunjukkan pentingnya riset taksonomi dalam konteks industri ekstraktif.
- Manjekia: Genus ini berasal dari Pulau Biak, Papua. Spesies Manjekia maturbongsii sebelumnya ditempatkan secara ragu-ragu dalam genus Adonidia, namun analisis molekuler mengungkapkan posisi filogenetik yang berbeda. Nama “Manjekia” diambil dari nama lokal palem tersebut dalam dialek Biak, yang mencerminkan penghormatan Heatubun terhadap pengetahuan lokal (etnobotani).
- Wallaceodoxa: Ditemukan di kepulauan Raja Ampat (Pulau Gag dan Waigeo). Nama genus ini berarti “Kemuliaan Wallace,” yang merujuk pada naturalis Alfred Russel Wallace. Spesies Wallaceodoxa raja-ampat merupakan palem soliter yang kuat dan tumbuh di atas formasi batu gamping, menambah daftar panjang spesies endemik di wilayah Kepala Burung Papua.
Penemuan ketiga genus ini bukan sekadar penambahan nama dalam daftar flora, melainkan memberikan wawasan baru mengenai radiasi adaptif palem di wilayah Wallacea dan Papua. Data filogenetik menunjukkan bahwa meskipun genus-genus ini memiliki kemiripan morfologis dengan kelompok Ptychospermatinae lainnya, mereka mewakili garis keturunan evolusi yang terisolasi selama jutaan tahun.

Genus Areca dan Spesies Simbolik “Pinang Jokowi”
Heatubun secara khusus mendedikasikan sebagian besar risetnya pada genus Areca, yang mencakup pinang yang memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi di Asia Pasifik. Pada tahun 2011, ia mendeskripsikan tujuh spesies baru Areca dari Borneo, Sumatra, dan Kamboja, yang memperluas cakupan risetnya melampaui tanah Papua.
Namun, penemuan yang paling menarik perhatian publik adalah Areca jokowi, atau “Pinang Jokowi,” yang dideskripsikan pada tahun 2016. Spesies ini ditemukan di wilayah Danau Yamor, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Secara morfologis, Areca jokowi memiliki kemiripan dengan Areca catechu (pinang biasa) dan Areca unipa, namun dapat dibedakan melalui struktur perbungaannya yang memiliki percabangan hingga tingkat keempat (four orders) dan susunan rachillae yang sangat rapat.
Pemberian nama spesifik “jokowi” dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Presiden Joko Widodo atas perhatiannya yang besar terhadap pembangunan di Tanah Papua. Di luar aspek politik, penemuan ini memiliki urgensi konservasi yang tinggi karena Areca jokowi merupakan kerabat liar dari tanaman budidaya yang penting. Melindungi spesies ini sangat krusial untuk menjaga kedaulatan genetik tanaman pangan dan ekonomi di masa depan, terutama di tengah ancaman perubahan penggunaan lahan dan degradasi hutan.
- Areca jokowi. Ditemukan di wilayah Danau Yamor, Kabupaten Kaimana, Papua Barat.. Cabang perbungaan 4 tingkat, rapat. Status konservasinya sebagai terancam (habitat terbatas).
- Areca unipa. Ditemukan di Papua Barat. Merupakan kerabat liar pinang, batang soliter, endemik.
- Areca mandacanii. Ditemukan di wilayah pegunungan Kepala Burung, Papua. Endemik.
- Calamus heatubunii. Ditemukan di Sorong & Raja Ampat. Eponim spesies rotan endemik yang dinamai oleh William J. Baker dan John Dransfield pada tahun 2017, merupakan pengakuan tertinggi dari komunitas ilmiah internasional terhadap kontribusi Heatubun dalam dunia taksonomi tumbuhan.
Kepemimpinan Strategis di BRIDA: Transformasi Sains Menjadi Kebijakan
Sejak Januari 2017, Charlie Danny Heatubun mengambil peran yang lebih luas dalam pemerintahan sebagai Sekretaris dan Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, yang kemudian pada tahun 2018 secara definitif menjabat sebagai Kepala Badan tersebut (kini bertransformasi menjadi BRIDA). Transisi ini menandai pergeseran signifikan dari riset murni menuju riset terapan yang berorientasi pada kebijakan publik.
Di bawah kepemimpinan Heatubun, BRIDA Provinsi Papua Barat mengusung konsep “SMART BRIDA” (Science, Management, Action, Research, and Technology). Visi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap keputusan pembangunan di Papua Barat didasarkan pada data ilmiah yang akurat. Hal ini sangat krusial mengingat Papua sering kali menjadi sasaran proyek pembangunan skala besar yang tidak jarang mengabaikan karakteristik ekologis dan sosial lokal.
BRIDA di bawah Heatubun fokus pada beberapa area strategis:
- Penyusunan Policy Brief: Menyediakan masukan berbasis data bagi Gubernur untuk pengambilan kebijakan cepat di bidang lingkungan, pangan, dan energi.
- Kemitraan Pembangunan: Mengoordinasikan berbagai mitra pembangunan internasional (NGO dan filantropi) untuk mendukung inisiatif pembangunan berkelanjutan di tingkat provinsi.
- Pusat Penelitian Biodiversitas: Menginisiasi pembangunan Pusat Riset Biodiversitas dan Budaya di Papua Barat untuk mengarsipkan data flora, fauna, dan pengetahuan tradisional masyarakat adat.
Salah satu kontribusi pentingnya adalah keterlibatan dalam studi mengenai ketahanan pangan dan gizi di Papua Barat. Meskipun memiliki kekayaan hutan yang melimpah, Papua Barat menghadapi tantangan tinggi dalam indeks ketahanan pangan dan angka stunting. Melalui riset yang dipimpinnya, Heatubun mengeksplorasi hubungan antara transisi pola makan, hilangnya akses terhadap hutan, dan degradasi nutrisi masyarakat, yang kemudian diusulkan menjadi bagian dari strategi mitigasi melalui kemitraan publik-swasta (PPP).
Arsitek Provinsi Konservasi dan Deklarasi Manokwari
Pencapaian paling monumental dari Charlie Danny Heatubun di ranah kebijakan adalah perannya sebagai konseptor utama di balik Deklarasi Manokwari dan penetapan Papua Barat sebagai Provinsi Pembangunan Berkelanjutan (Provinsi Konservasi).
Deklarasi Manokwari 2018: Komitmen Global dari Lokal
Deklarasi Manokwari, yang ditandatangani pada Oktober 2018 oleh Gubernur Papua Barat dan Gubernur Papua, merupakan sebuah janji politik dan hukum yang luar biasa. Inti dari deklarasi ini adalah komitmen untuk melindungi minimal 70% luas daratan di Tanah Papua sebagai kawasan hutan lindung dan konservasi. Target ini jauh melampaui target global yang ditetapkan dalam Global Biodiversity Framework tahun 2022 yang hanya sebesar 30%.
Analisis terhadap dampak Deklarasi Manokwari menunjukkan beberapa implikasi strategis:
- Mitigasi Perubahan Iklim: Dengan luas hutan utuh terbesar di Asia Tenggara, perlindungan 70% hutan Papua memiliki dampak global dalam penyerapan karbon dioksida.
- Perlindungan Masyarakat Adat: Deklarasi ini menekankan pembangunan yang menghormati wilayah adat, memberikan otoritas bagi pemerintah daerah untuk menetapkan hutan adat sebagai benteng perlindungan terakhir terhadap ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.
- Moratorium Lahan: Mendukung instruksi presiden mengenai moratorium pembukaan lahan sawit baru, dengan menggunakan data riset BRIDA untuk meninjau kembali izin-izin yang sudah ada.
Perdasus Nomor 10 Tahun 2019
Untuk memberikan landasan hukum yang kuat, Heatubun mendorong lahirnya Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pembangunan Berkelanjutan di Provinsi Papua Barat. Peraturan ini adalah legislasi pertama di Indonesia yang secara eksplisit mengintegrasikan target konservasi ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dalam dokumen RTRW tersebut, 70% wilayah daratan dialokasikan untuk fungsi lindung, dan 50% wilayah perairan laut dikelola secara bertanggung jawab.
Kebijakan ini telah membawa Heatubun ke panggung dunia, termasuk menjadi delegasi utama pemerintah dalam Oslo Tropical Forest Forum di Norwegia tahun 2018 dan menghadiri malam penghargaan Global Conservation Hero di Los Angeles pada tahun 2019, di mana upaya konservasi Papua Barat mendapatkan pengakuan internasional.
Proyek Strategis: Mahkota Permata Tanah Papua dan StAR
Implementasi dari visi konservasi Heatubun termanifestasi dalam dua proyek mercusuar yang mengintegrasikan ekosistem darat dan laut melalui pendekatan Ridge to Reef.
Mahkota Permata Tanah Papua (MPTP)
Proyek “Mahkota Permata Tanah Papua” atau Crown Jewel of Papua (CJP) mencakup area seluas 2,3 juta hektar hutan primer yang melintasi lima kabupaten di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Area ini dihuni oleh ribuan spesies flora dan fauna, termasuk 41 dari 45 spesies Burung Cendrawasih yang ada di dunia.
Heatubun menekankan bahwa CJP bukan sekadar kawasan lindung, melainkan model tata kelola lanskap kolaboratif. Melalui yayasan “Yayasan Mahkota Permata Tanah Papua,” inisiatif ini mendorong:
- Ekowisata Berbasis Komunitas: Pengembangan pengamatan burung (bird watching) di Pegunungan Arfak, khususnya di Desa Kwau dan Syoubri, yang melibatkan partisipasi aktif perempuan dalam ekonomi kreatif dan konservasi.
- Hutan Desa dan Adat: Membantu masyarakat mendapatkan pengakuan legal atas 120.000 hektar hutan adat (Hutan Adat) atau hutan desa (Hutan Desa) untuk mencegah eksploitasi oleh pihak luar.
- Energi Terbarukan: Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Pegunungan Arfak untuk mendukung kesejahteraan warga tanpa merusak integritas hutan.
Proyek StAR: Restorasi Hiu Zebra di Raja Ampat
Di sektor kelautan, Heatubun memimpin implementasi Proyek StAR (Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery) di Raja Ampat. Proyek ini merupakan inisiatif pertama di dunia yang menggunakan potensi pembiakan di akuarium publik global untuk memulihkan populasi hiu zebra yang terancam punah di alam liar.
Heatubun, dalam kapasitasnya sebagai Kepala BRIDA, menjadi tokoh kunci yang menyatukan berbagai kementerian di Jakarta dan pemerintah daerah untuk menandatangani komitmen dukungan terhadap proyek ini pada tahun 2021. Baginya, Proyek StAR adalah bukti nyata bahwa inovasi sains dapat membalikkan tren kepunahan. Ia sering menekankan dalam kuliah-kuliah universitasnya bahwa manusia cenderung terlalu antroposentris, dan Proyek StAR adalah cara untuk menyeimbangkan perspektif tersebut dengan memperlakukan spesies lain sebagai bagian dari warisan budaya dan ekosistem yang tak ternilai.
Riset Karbon Biru dan Mitigasi Iklim Global
Sebagai seorang botanis, Heatubun menyadari potensi luar biasa dari ekosistem pesisir Papua, khususnya mangrove, sebagai aset “Karbon Biru” (Blue Carbon).
Papua memiliki sekitar 10% dari total luas mangrove dunia, dengan kepadatan stok karbon 3 hingga 5 kali lebih tinggi dibandingkan hutan tropis daratan per unit luas yang sama. Riset Heatubun dan koleganya di wilayah Teluk Bintuni telah mengidentifikasi spesies mangrove sejati yang sebelumnya tidak diketahui di area tersebut, seperti Amyema mackayensis dan Brownlowia argentina.
Studi ini memiliki implikasi kebijakan yang sangat besar:
- Strategi NDC Indonesia: Data stok karbon mangrove Papua sangat penting untuk memenuhi target Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia dalam pengurangan emisi gas rumah kaca.
- Mitigasi Berbasis Alam: Dengan melindungi mangrove dari konversi lahan, Papua Barat berkontribusi secara signifikan dalam mitigasi perubahan iklim global.
- Ridge to Reef: Heatubun mempromosikan pengelolaan terintegrasi dari hulu ke hilir, di mana kesehatan hutan pegunungan di Arfak secara langsung mempengaruhi produktivitas karbon di pesisir.
Di forum internasional seperti COP28 di Dubai (2023), Heatubun mempresentasikan praktik terbaik pembangunan berkelanjutan di hutan hujan primer, menekankan slogan “Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera” (atau versinya: “Masyarakat Sejahtera, Hutan Lestari”) sebagai model bagi negara-negara tropis lainnya.
Pengakuan Akademik dan Keanggotaan Profesional
Dedikasi Charlie Danny Heatubun selama lebih dari dua dekade telah membawanya pada berbagai pengakuan prestisius di tingkat nasional dan internasional.
Pada tanggal 14 Oktober 2024, Heatubun resmi terpilih sebagai anggota baru Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), sebuah kehormatan tertinggi bagi ilmuwan di Indonesia. Ia ditempatkan di Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar berdasarkan prestasi ilmiahnya yang luar biasa dan dampak positif risetnya terhadap perkembangan bangsa. Pemilihannya dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1990 dan Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2016, yang menegaskan posisi Heatubun sebagai salah satu pemikir sains terkemuka di tanah air.
Heatubun adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya hingga saat ini yang diterima sebagai Fellow of The Linnean Society of London (FLS). Organisasi ini adalah perkumpulan sejarah alam tertua di dunia yang didedikasikan untuk studi taksonomi dan biologi evolusi. Keanggotaan ini menegaskan validitas global dari karya-karya taksonominya, terutama mengenai flora Papua dan Maluku.
Selain prestasi ilmiah, Heatubun juga menunjukkan keunggulan dalam manajemen pemerintahan. Pada tahun 2025, ia meraih Peringkat Pertama Prestasi Istimewa pada Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXX. Hal ini membuktikan kemampuannya untuk mengintegrasikan ketajaman intelektual dengan efektivitas birokrasi, sebuah kombinasi yang jarang ditemukan pada figur akademisi murni.
Masa Depan Flora Papua dan Warisan Inovasi
Sebagai penutup, sosok Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun mewakili paradigma baru ilmuwan di negara berkembang: seorang “Ilmuwan Kebijakan” (Policy Scientist) yang tidak hanya puas mendeskripsikan dunia, tetapi juga bekerja keras untuk melindunginya. Melalui publikasi ilmiah yang mencapai lebih dari 38 karya berstandar dunia di jurnal seperti Nature, Science Advances, dan Taxon, ia telah menempatkan biodiversitas Papua di pusat perhatian sains global.
Visi masa depannya terfokus pada persiapan The 12th International Flora Malesiana Symposium dan International Nature-Based Climate Solutions Conference yang akan diadakan di Manokwari pada Februari 2026. Acara ini diharapkan menjadi katalisator bagi kolaborasi internasional lebih lanjut dalam melestarikan keragaman flora Malesia dan merumuskan solusi iklim berbasis alam yang inklusif bagi masyarakat adat.
Warisan Heatubun bukan hanya terletak pada nama-nama spesies palem yang ia temukan atau buku Palms of New Guinea yang ia susun, melainkan pada keberhasilannya meyakinkan dunia dan pemerintah bahwa masa depan Papua terletak pada kelestarian hutannya, bukan pada eksploitasi yang merusak. Dengan melindungi 70% hutan Papua, ia tidak hanya menyelamatkan habitat “Pinang Jokowi” atau Burung Cendrawasih, tetapi juga menjamin masa depan biokultural bagi generasi mendatang di Tanah Papua dan bagi stabilitas iklim planet bumi.