Gereja Eben-Haezer (Gereja Sila Leinitu): Sejarah dan Maknanya

Share:

Selain keindahan alam, Pulau Nusalaut juga terkenal dengan sebuah gereja tua yang sudah berumur lebih dari 300 tahun, namun masih kokoh berdiri hingga sekarang. Gereja Eben-Haezer namanya. Dibangun sejak 1715, gereja ini tercatat sebagai gereja paling tua di wilayah Pulau Ambon dan Kepulauan Lease, dan menempatkannya sebagai gereja tertua kedua di Maluku, setelah gereja di Pulau Ay, Banda, yang berasal dari abad ke-17.

Gereja Eben-Haezer, yang juga dikenal sebagai Gereja Sila Leinitu, merupakan salah satu ikon spiritual yang penuh sejarah di Maluku. Terletak di sebuah desa kecil yang damai, gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga simbol perlawanan, pengharapan, dan kebangkitan masyarakat setempat. Nama “Eben-Haezer” sendiri memiliki arti mendalam, yaitu “Sampai di sini Tuhan menolong kita,” yang diambil dari kitab 1 Samuel 7:12.

Asal-Usul dan Sejarah

Gereja Eben-Haezer dibangun pada masa pemerintahan Pati Sila, Djouw Louis, sekitar tahun 1715-1719. Arsitekturnya mencerminkan perpaduan gaya Romawi kuno (Basilika) dan lokal. Keaslian gereja tetap terjaga, dengan tempat duduk yang dibagi berdasarkan strata sosial serta rincian interior yang utuh, seperti jendela berdaun ganda, mimbar, dan enam tempat persembahan dengan gagang panjang sekitar 2 meter untuk mengumpulkan kolekta. Nama Djouw Louis Pati Sila tercatat, namun marganya belum diketahui; ada informasi yang menyebut kemungkinan dia berasal dari marga Soselisa, yang merupakan garis keturunan raja di Negeri Sila.

Sejarah Gereja Eben-Haezer tidak dapat dipisahkan dari kehadiran VOC yang mengejar rempah-rempah. Nusalaut, pulau kecil yang menjadi rumah bagi tujuh desa, dihuni oleh warga Sila Leinitu yang sebagian besar berasal dari Kepulauan Seram. Beberapa pakar mencatat bahwa migrasi ini tidak terkait dengan kebijakan pasifikasi pemerintah kolonial pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dengan masuknya VOC, agama Kristen mulai berkembang. Sedikitnya ada lima gereja di sekitar Sila Leinitu yang menyimpan jejak peninggalan kolonial dan masih berfungsi hingga kini.

Penemuan Prasasti

Gereja Immanuel di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, pernah dianggap sebagai gereja tertua di Maluku, dibangun antara tahun 1780-1781 di bawah kepemimpinan Eillem Beth Iacobs, kepala Comtoire Hila, saat Gubernur Bernardus van Pleuren menjabat. Namun, penemuan prasasti tua Gereja Sila-Leinitu saat renovasi pada tahun 2000 menggeser status itu. Prasasti ditemukan terkubur di bawah lantai mimbar selama lebih dari 300 tahun. Hal inilah yang menunjukkan bahwa Gereja Eben Haezer adalah salah satu gereja tertua di Maluku, dengan inskripsi yang menyatakan peletakan batu pertama pada 28 Maret 1715 dan penyelesaian bangunannya pada tahun 1719.

Prasasti yang mencatat pembangunan gereja Ebenhaezer terbuat dari kayu besi berbentuk segitiga dan mencakup ukiran vas bunga dengan dua tangkai daun, masing-masing dengan jumlah enam dan sembilan. Angka tersebut melambangkan jumlah soa yang membentuk Negeri Sila (enam soa) dan Negeri Leinitu (sembilan soa). Dalam orientasi gereja, daun sembilan diletakkan di sebelah kiri sesuai posisi Negeri Leinitu, dan enam daun di sebelah kanan untuk Negeri Sila. Ini menunjukkan bahwa dalam pembangunan gereja, kekuatan pendukung dari kedua negeri tetap dihargai meski masyarakat telah menjadi Kristen. Prasasti segitiga juga melambangkan Tritunggal dalam ajaran Kristen.

Prasasti yang ditemukan setelah 300 tahun tertimbun di bawah mimbar

Arsitektur dan Keunikan

Gereja Ebenhaezer memiliki bentuk persegi panjang yang memanjang dari timur ke barat, terpengaruh gaya Romawi kuno (Basilika) dari abad ke-15. Ciri-ciri bangunan bergaya Romawi ini antara lain:

  • Struktur yang kuat dan kokoh
  • Plafon berbentuk setengah lingkaran
  • Enam tiang lilin di tengah ruangan utama dengan hiasan berprofil Romawi.

Di dalam gereja, terdapat enam tiang lilin. Di tengah bagian timur, terdapat tempat duduk raja dan keluarganya (kas raja), dengan kas saniri negeri di sebelah kanan. Di hadapan kas raja terdapat mimbar kecil dan mimbar utama berbentuk cawan dengan delapan sudut, dilengkapi tudung oktagonal yang menunjukkan arah mata angin. Di samping kiri mimbar utama terdapat tempat duduk majelis jemaat (kas majelis jemaat).

Gereja ini memiliki dua pintu utama di bagian selatan, delapan jendela, dan kubah di loteng. Di bawah kubah, terdapat dua balok untuk menggantung lampu pada malam hari, terutama saat Natal dan akhir tahun. Fach asli menggunakan pasir, tetapi setelah pemugaran diganti dengan semen. Unik dari gereja ini adalah menara lonceng yang ditempatkan di pintu masuk, berbentuk gerbang mengarah ke Negeri Leinitu, berbeda dari yang umum. Gereja dipagari tembok beton dan memiliki dua pintu masuk, satu dari arah Sila dan satu dari arah Leinitu.

    Gereja Eben-Haezer memiliki kesamaan dengan Gereja Immanuel di Hila, antara lain kedekatannya dengan Benteng Amsterdam yang berbatasan langsung dengan Gereja Immanuel Hila, mirip dengan Benteng Beverwijk di dekat Gereja Eben Haezer.

    Ruang khusus untuk Bapa Raja Sila yang ada di bagian belakang selalu dibuat lebih tinggi dari bangku jemaat. Ruang khusus ini juga biasanya diberi tanda mahkota.

    Peran dalam Kehidupan Masyarakat

    Gereja Eben-Haezer tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan budaya. Di sini, berbagai kegiatan seperti perayaan Natal, Paskah, dan pesta rakyat digelar dengan penuh semangat. Gereja ini juga sering digunakan sebagai tempat pertemuan warga untuk membahas berbagai hal penting yang menyangkut kehidupan desa.

    Bagi masyarakat Sila Leinitu, gereja ini adalah simbol persatuan. Tidak jarang, warga dari berbagai latar belakang bersatu untuk merawat dan menjaga keberlangsungan gereja. Hal ini mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Maluku.

    Wisata Rohani

    Dalam beberapa tahun terakhir, Gereja Eben-Haezer menjadi tujuan wisata rohani yang menarik banyak pengunjung dari dalam dan luar Maluku. Keindahan arsitektur, nilai sejarah, dan suasana damai yang ditawarkan gereja ini membuat banyak orang tertarik untuk berkunjung. Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk berziarah sekaligus menikmati keindahan alam sekitar.

    Makna Spiritualitas

    Nama “Eben-Haezer” yang berarti “Sampai di sini Tuhan menolong kita” menjadi pengingat bagi jemaat akan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. Gereja ini mengajarkan nilai-nilai pengharapan, iman, dan kasih yang menjadi dasar kehidupan orang Kristen. Dalam setiap kebaktian, pesan-pesan pengharapan selalu ditekankan, menguatkan jemaat untuk menghadapi tantangan hidup.

    Kesimpulan

    Gereja Eben-Haezer atau Gereja Sila Leinitu adalah lebih dari sekadar bangunan fisik. Ia merupakan simbol iman, harapan, dan perjuangan masyarakat Maluku. Keberadaannya yang kokoh hingga saat ini mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan keyakinan jemaat terhadap penyertaan Tuhan. Penemuan prasasti pada tahun 2000 semakin mempertegas nilai sejarah gereja ini. Bagi siapa saja yang ingin menyelami kekayaan sejarah dan spiritualitas Maluku, gereja ini adalah destinasi yang wajib dikunjungi.


    error: Content is protected !!