Malam itu, rumah kontrakan tua di ujung jalan sudah gelap sekali. Kami, sepuluh anak muda yang biasanya sok berani, duduk melingkar di ruang tengah. Lampu mati, jadi cuma lilin kecil yang kasih cahaya. Boneka jelangkung dari kain robek sudah ada di atas nyiru bekas. Kapur tulis di tangan boneka, siap dipakai.
“Eh, siapa yang mau pegang nyiru?” tanya Roni, si paleng jago di antara katong, sambil lirik-lirik ke yang lain.
“Ah, ose saja dolo, Roni. Beta seng mau, nanti ada yang salah,” balas Onggo sambil goyang-goyang lutut.
Roni putar mata. “E, jang panaku bodo. Kalo seng ada yang pegang, katong seng jadi bikin akang!”
Akhirnya Roni pegang nyiru itu, tangannya agak gemetar. Katong semua duduk diam, tegang. Sesajen roti bakpao, bunga kamboja, dan teh manis sudah taruh di tengah. Beta yang mulai baca mantra.
“Datang tak dipanggil, pulang tak diantar…”
Katong semua ulang-ulang akang mantra, suara pecah-pecah. Lilin mulai goyang, padahal seng ada angin.
“Eh, lilin bagoyang, e!” Buce bisik-bisik dengan mata besar.
“Diam, eh! Konsentrasi dolo!” bentak Roni. Tapi kelihatan dia juga takut.
Tiba-tiba itu nyiru di tangan Roni jadi berat. Dia melirik katong semua, mukanya sudah mulai putih macam kapur.
“Ini, akang tambah barat e!”
“Pegang bae-bae. Jang kas lepas!” kata Hengky, meski dia sendiri sudah siap berdiri.
Boneka jelangkung itu mulai bergerak. Semua langsung tahan napas. Lalu kapur tulis mendadak bergerak sendiri dan mulai tulis sesuatu.
“NA-MA SAYA …”
“Ada dia tulis nama! Ada dia tulis!” teriak Ebeng sambil mundur-mundur.
Roni langsung buang itu nyiru ke lantai. “Beta seng mau! Lari, lari!”
Semua langsung bangun dan lari keluar rumah macam ada setang buru doong samua. Sesajen, lilin, boneka, semua talamborang di situ.
Di luar, katong semua kumpul di bawah pohon dekat Om Padang pung rumah, napas masih satu-satu.
“E, Roni! Se kenapa buang itu nyiru la? Kan belum abis to!” Jeki itang protes sambil dorong-dorong Roni.
“Ale kira beta mau tunggu dia tulis nama sampe habis? Bagus e, beta lari jua mo!” jawab Roni, muka masih panik.
Beta tunjuk-tunjuk ke arah rumah. “Eh, itu sesajen yang katong bawa, jang biar akang bagitu?”
Katong semua diam, pikir-pikir. Lalu Roni, seperti biasa, dapat ide usil. “E, tamang, begini saja. Itu sesajen katong bawa taruh akang di muka rumah Bapa Pendeta. Biar dia yang pikir ada apa-apa!”
Semua langsung setuju. Katong bale diam-diam, angkat itu roti bakpao dan bunga kamboja, lalu lari ke halaman rumah Bapa Pendeta. Katong taruh semua di trap-trap muka rumah, lalu kabur lagi.
Besok pagi, rumah Bapa Pendeta heboh. Dari jauh, katong intip. Ibu Pendeta keluar rumah sambil panggil-panggil tetangga.
“Ada sajen di trap-trap katong pung muka rumah! Ini pasti ada yang mau bikin katong! Aduh, panggil jemaat! Kita doa bersama!”
Katong semua langsung tahan-tahan tatawa.
“E, Roni, se pung akal memang mantap!” kata Ochi sambil tutup mulutnya.
Tapi tiba-tiba Bapa Pendeta keluar rumah. Muka dia serius sekali.
“Siapa yang bikin ini? Kalau seng ada yang mangaku, beta lapor polisi!” katanya keras sekali.
Katong langsung saling pandang, muka langsung pucat.
“E, bagaimana ini? Jangan-jangan polisi betul datang!” bisik Nopi.
Roni yang tadinya paleng jago sekarang cuma goyang-goyang kepala. “Sudah, anggap sa seng pernah ada apa-apa. Bubar jua!”
Katong semua langsung lari cerai-berai, masing-masing bawa rasa takut bercampur malu. Tapi dalam hati, katong tahu malam itu akan jadi cerita paling lucu sekaligus menyeramkan yang pernah katong alami.
Jalangkong e, mari loko sparuh nih 🤣🤣🤣