Ketika Jan Lawalata, pria kelahiran Bangka tahun 1943, tiba di Belanda pada tahun 1951, ia adalah seorang anak berusia delapan tahun yang membawa sejarah kolonial, transisi kemerdekaan Indonesia, dan identitas Maluku yang kuat dalam dirinya. Kini, ia tinggal tenang di Leusden bersama istrinya yang berkebangsaan Belanda, menyaksikan cucu-cucunya tumbuh besar dalam budaya yang tak hanya Belanda, tapi juga kaya akan warisan Maluku. Dalam sebuah wawancara mendalam bersama Willy Hilverda dari Geschiedenislab, Lawalata membuka lembaran hidupnya yang sarat makna, tantangan, dan kontribusi terhadap komunitas Maluku di negeri Belanda.
Dari KNIL ke Kamp-Kamp Belanda

Ayah Jan adalah seorang pendeta militer di KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger). Kehidupan mereka berpindah-pindah, mengikuti tugas sang ayah, hingga akhirnya menetap di pulau Bangka. Setelah Indonesia merdeka tahun 1949, tentara KNIL harus didemobilisasi. Namun bagi tentara Maluku, demobilisasi berarti ancaman nyawa di bawah rezim Soekarno. Maka, para pemimpin Maluku menuntut agar para tentara Maluku dipulangkan ke Belanda atau ke Nugini Baru. Hasilnya, lebih dari 12.000 orang Maluku tiba di Belanda pada tahun 1951—termasuk keluarga Lawalata.
Setelah tinggal sementara di kamp Amersfoort dan Vught, mereka dipindahkan ke Middelburg, tempat Lawalata menghabiskan masa kecil hingga remajanya. Ia menempuh pendidikan dasar dan melanjutkan ke HBS (setingkat SMA), sempat kuliah geografi di Vrije Universiteit Amsterdam, namun harus berhenti setelah kehilangan dua saudaranya secara beruntun—sebuah realitas berat dalam budaya Maluku yang menjunjung tinggi kehadiran keluarga dalam masa duka.
Membangun Jembatan Budaya
Kiprah Jan dalam membangun jembatan antara komunitas Maluku dan masyarakat Belanda dimulai melalui aktivitas sukarela. Ia kemudian bergabung sebagai konsultan di Iccan (Interkerkelijk Contact Comité Ambon Nederland), yang berfokus pada pendampingan warga Maluku yang mulai dipindahkan dari kamp-kamp terisolasi ke perumahan umum. Melalui pendekatan budaya dan sosial, ia berupaya memperhalus transisi ini.
Keterlibatan lebih lanjut membawanya ke Vluchtelingenwerk Nederland sebagai konsultan integrasi, khususnya bagi pengungsi Vietnam. Di tahun 1980-an, setelah munculnya krisis penggunaan narkoba pasca insiden penyanderaan, ia turut mendirikan yayasan Tjandu untuk menangani masalah narkotika di kalangan pemuda Maluku—sebuah inisiatif yang ia geluti hingga pensiun dini lima tahun lalu.
Antara Dua Dunia
Meski sukses berkarier, Lawalata tidak menutup mata pada kesulitan yang dihadapi oleh banyak lansia Maluku. Sebagai anak-anak tentara yang tidak sempat memperoleh pendidikan atau keterampilan formal, banyak dari mereka harus bekerja sebagai buruh atau petugas kebersihan, menyebabkan mereka menua dalam kesederhanaan.
Meski ia fasih berbahasa Belanda sejak kecil, berkat sekolah Belanda di Indonesia, banyak orang tua Maluku mengalami hambatan bahasa. Bahkan hingga kini, bahasa Melayu tetap menjadi bahasa utama dalam ibadah dan pertemuan komunitas. Anak dan cucunya pun belajar bahasa Melayu darinya dan dari kursus.
Namun, status mereka yang lama sebagai simpatisan RMS (Republik Maluku Selatan) membuat banyak orang Maluku seperti Lawalata dulu dipandang sebagai “pengkhianat” oleh pihak Indonesia. Paspor merah muda yang dulu mereka miliki menjadi simbol identitas RMS, yang membawa stigma saat berurusan dengan kedutaan Indonesia.
Barulah pada tahun 1995, upaya rekonsiliasi antara gereja-gereja Belanda, Indonesia, dan Maluku membuka jalan baginya untuk kembali ke tanah leluhur. Ia ikut dalam delegasi gerejawi yang mengunjungi Maluku untuk mempererat hubungan spiritual dan budaya yang lama terputus.
Rumatua dan Rumah Pulang
Meskipun banyak orang Maluku tidak kembali menetap di tanah kelahiran mereka, hampir semuanya masih memiliki rumah keluarga di sana. Dalam budaya Maluku, rumah leluhur disebut Rumatua, tempat yang menjadi simbol keterikatan antar generasi. Saat berusia 65 tahun, Lawalata menerima hadiah tiket dari anak-anaknya untuk kembali ke Maluku, mengenalkan anak sulungnya kepada tanah dan keluarga mereka di desa Papiru, pulau Saparua.
Nama keluarga seperti “Lawalata” di Maluku bukan sekadar identitas, tapi penanda asal-usul desa. Rumah itu milik semua saudara-saudaranya, dan kini mereka tengah merencanakan pembangunan rumah baru sebagai warisan budaya dan tempat pulang generasi mendatang.
Menua dengan Warna Maluku
Masa tua bagi orang Maluku tidak bisa dipisahkan dari komunitas. Di Middelburg, sebuah pusat lansia dengan warna khas Maluku telah berdiri, dan di Barneveld tengah dibangun lagi. Musik, makanan, bahasa, hingga kegiatan semuanya bernuansa Maluku. “Kalau nanti saya tidak bisa merawat diri, saya juga ingin tinggal di situ,” kata Jan.
Menurutnya, orang tua merasa lebih tenang bila dikelilingi oleh sesama. Bahkan istrinya yang orang Belanda pun tidak keberatan tinggal di lingkungan Maluku. “Kami sudah hampir 40 tahun menikah, dia sudah terbiasa.”
Tradisi dan Tanggung Jawab Antar Generasi
Dari makanan, pakaian tradisional, hingga ritual pernikahan, banyak aspek budaya Maluku diwariskan secara langsung. Kakaknya yang tertua, misalnya, masih menyimpan pengetahuan tentang adat pernikahan dan telah menjadi rujukan bagi warga desa Papiru di Belanda.
Namun tantangan besar tetap ada. Banyak lansia Maluku lebih rentan terhadap penyakit seperti diabetes, dan mereka yang hidup terisolasi cenderung mengalami masalah alkohol. Lembaga seperti Pelita dan kelompok kerja nasional lansia Maluku terus memberikan penyuluhan dan pendampingan.
Sayangnya, ikatan kuat antara generasi mulai melemah. Dulu, menitipkan orang tua ke panti jompo dianggap aib. Namun kini, karena gaya hidup modern dan keterbatasan waktu, nilai itu mulai terkikis. Meski begitu, generasi kedua—anak-anak para perintis—masih menunjukkan kepedulian dan aktif dalam membangun dan mengelola rumah perawatan Maluku. Tapi Lawalata khawatir, generasi berikutnya tidak lagi sepeduli itu.
Wawancara ini dilakukan oleh Willy Hilverda untuk Geschiedenislab, menghadirkan suara autentik dari seorang tokoh yang memainkan peran penting dalam mempertahankan dan mewariskan identitas Maluku di negeri orang. Kisah Jan Lawalata adalah cerminan dari keteguhan budaya, semangat pengabdian, dan pentingnya merawat akar meski hidup jauh dari tanah asal.