Kota Ambon, yang secara historis dikenal sebagai jantung dari Kepulauan Rempah, menyimpan narasi sejarah yang berlapis dan kompleks. Di antara lapisan-lapisan kolonialisme Portugis dan Belanda, terdapat benang merah yang seringkali terabaikan namun krusial dalam pembentukan identitas ekonomi dan sosial kota ini: keberadaan Etnis Cina. Sejarah mencatat bahwa jauh sebelum kedatangan armada Eropa yang didorong oleh Gold, Glory, dan Gospel, para pedagang dari Tiongkok telah menavigasi perairan Maluku, didorong oleh angin muson dan aroma cengkih yang memikat pasar dunia.
Namun, bukti fisik dari kehadiran awal ini seringkali bersifat ephemeral (sementara), mengingat pola pemukiman awal yang bersifat sojourning (menyinggahi). Bukti paling tangguh, permanen, dan kaya akan data yang tersisa hingga hari ini bukanlah pasar atau kelenteng yang seringkali telah mengalami renovasi total, melainkan situs-situs pemakaman. Makam tradisional Cina, atau yang dikenal sebagai Bong (Sargata), bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir; mereka adalah “arsip batu” yang merekam genealogi, status sosial, afiliasi politik, dan transformasi teologis dari sebuah komunitas diaspora yang berusaha bertahan di tanah rantai.
Lanskap Historis: Diaspora Cina di Maluku
Interaksi antara Nusantara bagian timur dengan Tiongkok memiliki akar yang dalam. Catatan kronik Tiongkok dari abad ke-7 telah menyebutkan sebuah wilayah bernama Ma-li-ki atau Mi-li-ku (Maluku), sebuah toponimi yang merujuk pada sumber rempah-rempah eksotis. Pada masa ini, hubungan yang terjalin bersifat murni komersial. Para pedagang Tiongkok membawa keramik, sutra, dan barang besi untuk ditukarkan dengan cengkih dan pala.
Penting untuk dicatat bahwa pada fase awal ini, pedagang Cina menerapkan strategi kerahasiaan dagang yang ketat. Lokasi “Kepulauan Rempah” dijaga kerahasiaannya dari pesaing dagang lain untuk memonopoli keuntungan. Hal ini menjelaskan mengapa pemukiman permanen skala besar belum terbentuk secara signifikan pada periode pra-kolonial; pedagang cenderung datang dan pergi mengikuti angin musim, meninggalkan jejak yang minim dalam catatan stratigrafi arkeologi dibandingkan dengan periode setelahnya.
Kedatangan bangsa Portugis dan kemudian Belanda (VOC) pada awal abad ke-17 mengubah dinamika ini secara drastis. Ketika VOC merebut Ambon dari Portugis pada tahun 1605, mereka menemukan bahwa etnis Cina sudah menjadi elemen vital dalam ekonomi lokal. Belanda, dengan segala kekuatan militernya, tidak memiliki jaringan distribusi mikro yang dimiliki pedagang Cina. Etnis Cina berperan sebagai perantara (middleman) yang mendistribusikan beras, tekstil, dan kebutuhan pokok ke pulau-pulau terluar, sekaligus mengumpulkan rempah-rempah untuk diserahkan ke gudang-gudang VOC.
Ketergantungan ekonomi ini memaksa pemerintah kolonial untuk melembagakan kepemimpinan komunitas Cina melalui sistem Officieren der Chinezen (Opsir Tionghoa). Di Ambon, sistem ini melahirkan hierarki kepemimpinan yang tercermin jelas dalam kemegahan makam-makam yang tersisa hari ini. Para opsir ini—dengan pangkat Letnan, Kapiten, hingga Mayor—bertindak sebagai “penghubung” (schakel) antara pemerintah kolonial (Gouvernement) dan komunitas Tionghoa.
Sistem ini menciptakan sebuah kelas elit (Cabang Atas) di Ambon yang memiliki akses istimewa terhadap pendidikan Belanda dan kekayaan, namun tetap memegang teguh kewajiban ritual leluhur, sebuah dualitas yang terekam sempurna dalam arsitektur makam mereka.
Arsitektur Kematian: Filosofi dan Tipologi Makam (Bong)
Makam tradisional Cina di Ambon bukan sekadar gundukan tanah, melainkan manifestasi fisik dari kosmologi Cina yang diadaptasi ke dalam lingkungan tropis Maluku. Analisis terhadap situs-situs di Ambon menunjukkan kepatuhan yang ketat terhadap prinsip Feng Shui (Angin dan Air), yang bertujuan menyelaraskan makam dengan aliran energi Qi alam semesta.
Dari survei yang dilakukan di lokasi Benteng, Air Salobar, dan Kudamati, ditemukan pola orientasi yang konsisten. Makam-makam ini hampir seluruhnya dibangun di lereng bukit dengan bagian depan menghadap ke arah Teluk Ambon.
- Sandaran Gunung (Yin): Bukit di belakang makam berfungsi sebagai pelindung (Tortoise) yang menahan angin jahat.
- Muka Air (Yang): Pemandangan terbuka ke arah laut atau teluk di depan makam dipercaya dapat menampung Qi yang membawa kekayaan dan keberuntungan bagi keturunan yang masih hidup.
Topografi Ambon yang berbukit-bukit dan dikelilingi laut menjadikan kota ini lokasi yang sangat ideal (“auspicious”) menurut geomansi Cina, yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa komunitas ini bertahan lama dan membangun makam-makam permanen yang megah di sana.
Berdasarkan observasi lapangan, makam-makam di Ambon umumnya terdiri dari delapan komponen arsitektural utama yang mencerminkan gaya makam Cina Selatan (Fujian/Guangdong) :
- Mu Qiu / Mu Gui (Bukit Makam): Gundukan tanah berbentuk setengah bola yang menaungi peti mati, melambangkan rahim bumi.
- Mu An Qian Kao: Tembok penahan bagian dalam yang mengelilingi bukit makam.
- Mu An Hou Kao (Mu Cheng): Tembok luar atau punggung bukit yang memisahkan area sakral makam dengan dunia luar, seringkali berujung pada bentuk spiral atau ornamen naga.
- Bong Pay / Mu Bei (Batu Nisan): Elemen terpenting yang memuat informasi biografi almarhum.
- Meja Altar: Terbuat dari batu, digunakan untuk meletakkan persembahan (buah, daging, hio) dalam ritual Cheng Beng.
- Ou Shou (Lengan Makam): Tembok yang melengkung dari sisi nisan ke depan, seolah-olah “memeluk” area altar. Ini berfungsi menahan angin agar tidak memecah konsentrasi Qi.
- Tu Di Gong / Hou Tu (Dewa Bumi): Altar kecil di sisi makam yang didedikasikan untuk Dewa Bumi sebagai penjaga tapak makam.
- Tungku Pembakaran: Struktur kecil untuk membakar uang kertas (spirit money) sebagai bekal di akhirat.
Keberadaan komponen-komponen ini yang masih utuh (walau sebagian rusak) di Ambon menegaskan bahwa meskipun terisolasi di kepulauan rempah, komunitas ini tetap mempertahankan standar ritual kematian yang ortodoks.
Analisis Situs: Inventarisasi Necropolis Ambon
Penelitian ini mengidentifikasi empat klaster utama situs pemakaman yang masing-masing memiliki karakteristik unik dan mewakili periode sejarah yang berbeda.
Situs Gang Singa (Belakang Soya): Jejak Tertua yang Terancam
Kondisi: Kritis / Sebagian Besar Musnah.
Kawasan yang kini dikenal sebagai “Gang Singa” (merujuk pada patung singa batu/Kilins) di Belakang Soya adalah situs yang paling memprihatinkan namun paling historis. Urbanisasi yang tidak terkendali menyebabkan makam-makam kuno di sini terjepit di antara, atau bahkan menjadi bagian dari, fondasi rumah penduduk.
- Makam Dai Yanrang (1858): Temuan terpenting di lokasi ini adalah sebuah nisan (Bong Pay) atas nama Dai Yanrang (pria) dan istrinya Su Wenrou, yang didirikan oleh anak mereka pada tahun 1858.
- Analisis Epigrafi: Nisan ini berukuran 90 cm x 72 cm dengan hiasan sulur-suluran. Inskripsi menunjukkan asal leluhur dari Long Xi (sebuah wilayah kuno di Gansu/Fujian).
- Nilai Penting: Tahun 1858 menjadikan nisan ini sebagai bukti arkeologis tertua yang terverifikasi mengenai pemukiman keluarga Cina permanen di Ambon. Ini membantah anggapan bahwa pemukiman permanen baru masif terjadi di akhir abad ke-19. Keberadaan istri (Su Wenrou) dan anak yang mendirikan makam menunjukkan bahwa Dai Yanrang bukan sekadar pedagang pelintas, melainkan kepala keluarga yang telah menetap (settled family).
- Patung Chi Lin (Kilins): Nama “Gang Singa” berasal dari dua patung Chi Lin (hewan mitologi berkepala naga, berbadan sisik, berkaki kuku belah) yang kini terdisposisi menjadi hiasan gerbang gang.
- Interpretasi: Dalam tradisi Cina, penggunaan patung Chi Lin sebagai penjaga makam adalah hak istimewa pejabat tinggi atau saudagar yang sangat kaya raya. Keberadaan patung ini, terpisah dari makam induknya yang mungkin sudah hancur, mengindikasikan bahwa pada pertengahan abad ke-19, sudah ada individu dengan status sosial-ekonomi sangat tinggi di kawasan Soya.
Situs Benteng (Cina Benteng): Nekropolis Elite Kolonial
Kondisi: Variatif (Terawat hingga Rusak Sedang).
Terletak di dekat RSUD Dr. Haulussy, kompleks ini adalah pemakaman terbesar dengan lebih dari 200 makam. Situs ini adalah “Panteon” bagi elite Tionghoa Ambon era kolonial.
- Makam Mayor Njio Tjoen Ean (1925): Tokoh sentral dalam sejarah Tionghoa Ambon ini dimakamkan di sini. Namun, kondisi makamnya telah mengalami modernisasi yang menghilangkan keasliannya (ditutup keramik putih modern).
- Keunikan: Inskripsi pada nisannya ditulis dalam Bahasa Belanda. Hal ini sangat kontras dengan makam tradisional di Jawa yang umumnya mempertahankan aksara Hanzi. Penggunaan bahasa Belanda menandakan tingkat asimilasi yang tinggi dan orientasi politik sang Mayor ke arah pemerintah kolonial Belanda.
- Makam “Prajurit” 1817: Salah satu temuan paling mengejutkan di kompleks ini adalah sebuah nisan dengan inskripsi Belanda yang berbunyi: “OVERLEDEN TENGEVOLGE VAN BEKOMEN WONDEN IN HET GEVECHT NIJ NE NEGORIJ OUW OP DEN 12 NOVEMBER 1817” (Meninggal akibat luka-luka yang diderita dalam pertempuran di/dekat Negeri Ouw pada 12 November 1817).
- Analisis Historis: Tahun 1817 adalah tahun terjadinya Perang Pattimura. Inskripsi ini memberikan bukti tak terbantahkan bahwa anggota komunitas Tionghoa (atau setidaknya orang yang dimakamkan di pekuburan Cina) terlibat aktif secara militer, kemungkinan besar di pihak Belanda atau milisi sipil (Schutterij), dalam memadamkan perlawanan di Saparua/Ouw. Ini merevisi narasi sejarah yang sering menempatkan etnis Cina hanya sebagai pedagang non-kombatan.
- Makam Tan Siem Teng (1914):Makam ini berukuran raksasa (panjang 13,8 meter), terbesar di kompleks Benteng.
- Inskripsi: “HIER RUST… GELIEFDE VADER TAN SIEM TENG… GEBOREN TE TERNATE EN OVERLEIDEN TE AMBOINA DEN 23 SEPTEMBER 1914”.
- Interpretasi: Inskripsi ini mengungkap jaringan kekerabatan dan dagang antarpulau. Tan Siem Teng lahir di Ternate (pusat rempah utara) dan wafat di Ambon (pusat rempah selatan). Ini mencerminkan mobilitas tinggi keluarga elit Tionghoa yang menguasai jalur perdagangan Maluku Utara dan Selatan. Penggunaan gelar “Ds. Tan” dan bahasa Belanda kembali menegaskan status sosial mereka yang ter-Eropa-kan.

Situs Kudamati: Adaptasi di Lereng Bukit
Kondisi: Terancam Pembangunan.
- Makam Yang Wen (Wanita): Di lokasi ini ditemukan makam seorang wanita bernama Yang Wen. Fitur menarik dari makam ini adalah ukiran Burung Phoenix (Fenghuang) pada kepala nisan.
- Simbolisme: Dalam ikonografi Cina, Naga melambangkan Kaisar/Pria (Yang), sedangkan Phoenix melambangkan Permaisuri/Wanita (Yin). Keberadaan makam wanita dengan ornamen Phoenix yang rumit menunjukkan bahwa wanita dalam struktur sosial Tionghoa Ambon memiliki posisi terhormat dan berhak mendapatkan ritual pemakaman yang setara dengan pria.
Situs Air Salobar: Sang Penjaga Teluk
Kondisi: Rusak Berat.
- Makam Wang Xide (1903): Terletak di belakang perumahan Pelindo, makam ini menghadap langsung ke Teluk Ambon. Inskripsi menunjukkan Wang Xide berasal dari Long Xi, sama dengan Dai Yanrang di Gang Singa. Kesamaan asal daerah ini menunjukkan pola migrasi berantai (chain migration), di mana imigran baru cenderung mengikuti jejak kerabat atau tetangga sekampung halaman yang sudah lebih dulu sukses di rantau.
Dinamika Sosio-Kultural: Di Antara Tradisi dan Asimilasi
Melalui analisis terhadap makam-makam di atas, laporan ini menyimpulkan tiga dinamika sosio-kultural utama yang membentuk komunitas Tionghoa di Ambon.
Pergeseran penggunaan aksara pada nisan adalah indikator akulturasi yang paling jelas.
- Fase Awal (1858): Makam Dai Yanrang menggunakan aksara Hanzi murni, menunjukkan orientasi budaya yang masih kuat ke tanah leluhur (Tiongkok).
- Fase Lanjut (1914-1925): Makam Tan Siem Teng dan Njio Tjoen Ean menggunakan Bahasa Belanda.
Fenomena ini tidak terjadi secara vakum. Hal ini berkaitan erat dengan peran Mayor Njio Tjoen Ean dalam pendidikan. Pada tahun 1903, Njio mendirikan sekolah Poi Fek Hak Tong yang bertujuan khusus mengajarkan bahasa Belanda kepada anak-anak Tionghoa agar mereka dapat “diterima” dalam masyarakat kolonial dan administrasi sipil. Keberhasilan pendidikan ini ironisnya “membunuh” penggunaan bahasa ibu, yang tercermin pada nisan-nisan generasi selanjutnya yang lebih bangga menggunakan bahasa kolonial.
Makam Njio Tjoen Ean di Benteng mungkin telah dimodernisasi, namun warisan intelektualnya jauh melampaui batu nisan tersebut. Arsip menunjukkan bahwa Njio bukan sekadar birokrat. Ia adalah seorang cendekiawan yang menerjemahkan kitab suci Konghucu (Four Books) ke dalam Bahasa Melayu dengan judul “Soe Sie Pek Boen” pada tahun 1900.
Karya ini sangat fenomenal karena diterbitkan di Ambon, sebuah kota yang basis kekristenannya sangat kuat. Ini menunjukkan adanya upaya sadar dari elit Tionghoa Ambon untuk mempertahankan identitas religius mereka di tengah arus kristenisasi dan westernisasi. Njio menggunakan sumber-sumber Belanda untuk menerjemahkan ajaran Konghucu, sebuah proses “agensi tidak langsung” (indirect agency) yang unik: ia meminjam kacamata Barat untuk melihat kembali tradisi Timurnya.
Perbedaan ukuran makam di kompleks Benteng sangat mencolok. Makam Tan Siem Teng dengan lebar hampir 14 meter berdiri kontras dengan makam-makam kecil atau gundukan tanah tanpa nama. Ini merefleksikan stratifikasi sosial yang tajam dalam komunitas Tionghoa. Kekayaan yang diperoleh dari perdagangan rempah, pengelolaan pajak, dan bisnis logistik terkonsentrasi pada segelintir keluarga elit (Cabang Atas), sementara mayoritas imigran (Sinkeh) mungkin hanya mampu membiayai pemakaman sederhana. Ornamen mewah seperti Chi Lin dan marmer impor adalah penanda status yang berfungsi menegaskan dominasi klan tertentu bahkan setelah kematian.
Nilai Penting (Significance) dan Rekomendasi Pelestarian
Berdasarkan analisis di atas, makam tradisional Cina di Ambon memiliki Nilai Penting Sejarah dan Arkeologi yang luar biasa:
- Bukti Kronologis Pemukiman: Makam Dai Yanrang (1858) adalah bukti fisik absolut tertua mengenai komunitas permanen, menggeser asumsi sejarah lisan.
- Revisi Sejarah Militer: Makam “Negorij Ouw 1817” memberikan data baru mengenai keterlibatan etnis Cina dalam Perang Pattimura yang selama ini luput dari buku teks sejarah nasional.
- Monumen Akulturasi: Transisi epigrafi dari Hanzi ke Belanda pada makam-makam ini merekam proses “Belanda-isasi” elit Tionghoa secara lebih jujur daripada dokumen kertas manapun.
- Pusat Studi Diaspora: Karya literasi Njio Tjoen Ean yang lahir dari komunitas ini menempatkan Ambon sebagai salah satu pusat awal kebangkitan literasi Konghucu-Melayu di Nusantara, sejajar dengan Batavia dan Surabaya.
Rekomendasi:
Mengingat kondisi situs Gang Singa yang kritis dan situs lainnya yang terancam vandalisme atau alih fungsi lahan, sangat mendesak bagi Pemerintah Kota Ambon dan Balai Arkeologi Maluku untuk menetapkan kompleks makam Benteng dan sisa situs Gang Singa sebagai Cagar Budaya. Langkah inventarisasi digital dan pemugaran fisik, terutama pada makam tokoh sejarah seperti Njio Tjoen Ean dan Tan Siem Teng, harus segera dilakukan. Makam-makam ini bukan hanya milik komunitas Tionghoa, melainkan bagian integral dari narasi sejarah Kota Ambon sebagai kota pelabuhan kosmopolitan.
Inventarisasi Makam Tradisional Cina Signifikan di Ambon
| Lokasi | Tahun Pendirian | Tokoh Utama | Fitur Arsitektur/Inskripsi | Signifikansi Historis |
| Gang Singa | 1858 | Dai Yanrang & Su Wenrou | Ornamen sulur, Patung Chi Lin (terpisah) | Makam tertua yang terverifikasi; bukti pemukiman permanen abad ke-19. |
| Benteng | 1925 | Mayor Njio Tjoen Ean | Penutup keramik modern, Inskripsi Belanda | Makam pemimpin tertinggi komunitas; simbol asimilasi total. |
| Benteng | 1914 | Tan Siem Teng | Ukuran masif (13,8m), Inskripsi Belanda & Latin | Bukti jaringan dagang elite Ternate-Ambon. |
| Benteng | 1817 | Tidak Diketahui (Prajurit?) | Inskripsi Belanda: “Gevecht… Negorij Ouw” | Bukti keterlibatan militer dalam Perang Pattimura. |
| Benteng | 1909 | Guo Dengtan & Chen Baozhu | Ornamen Naga Ganda, Spiral | Representasi gaya seni makam tradisional yang utuh. |
| Kudamati | N/A | Yang Wen (Wanita) | Ukiran Phoenix (Fenghuang) | Representasi gender dan status wanita dalam ritual kematian. |
| Air Salobar | 1903 | Wang Xide | Ou Shou (Lengan Makam), Menghadap Teluk | Contoh sempurna penerapan Feng Shui topografi Ambon. |