Paskah di Tengah Dunia yang Retak

Share:

Di tengah dentuman narasi konflik geopolitik yang tak kunjung usai, fluktuasi ekonomi yang mencekik, serta kabut kecemasan akan masa depan yang kian tebal, dunia seolah sedang berada dalam “Sabtu Suci” yang panjang—sebuah ruang tunggu yang sunyi, penuh ketidakpastian, dan mencekam.

Dalam konteks inilah, Paskah hadir bukan sekadar sebagai ritual keagamaan tahunan atau selebrasi musiman. Paskah muncul sebagai sebuah interupsi radikal terhadap keputusasaan global.

Dunia yang Sedang Menangis

Ada sesuatu yang aneh dan menyakitkan tentang dunia kita hari ini.

Kita hidup di era di mana informasi mengalir lebih deras dari sebelumnya, namun kebijaksanaan terasa semakin langka. Kita terhubung satu sama lain melalui ribuan kabel digital, namun kesepian merajalela di mana-mana. Kita memiliki teknologi yang mampu memetakan seluruh galaksi, namun tidak mampu menghentikan sebuah peluru yang merobek tubuh seorang anak di sudut kota yang terlupakan.

Konflik geopolitik bukan sekadar berita di layar ponsel kita. Ia adalah tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya di bawah reruntuhan bangunan. Ia adalah langkah kaki jutaan pengungsi yang berjalan tanpa tahu ke mana—hanya tahu dari mana mereka lari. Ia adalah pemimpin-pemimpin dunia yang duduk di meja perundingan mewah sambil memindahkan pion-pion manusia di atas papan catur kekuasaan mereka.

Krisis ekonomi bukan sekadar angka-angka yang jatuh di bursa saham. Ia adalah meja makan yang semakin sepi hidangannya. Ia adalah generasi muda yang berpendidikan tinggi namun tidak mampu membeli rumah, tidak mampu merencanakan masa depan, tidak mampu bermimpi dengan tenang karena kenyataan terus menggerogoti mimpi itu dari dalam. Ia adalah jutaan orang yang setiap pagi bangun bukan dengan semangat, melainkan dengan kecemasan: akankah hari ini lebih buruk dari kemarin?

Dan di atas semua itu, ada kecemasan eksistensial yang lebih dalam—sebuah pertanyaan yang tidak berani kita ucapkan terlalu keras: Apakah masa depan masih ada? Perubahan iklim, kecerdasan buatan yang berlari lebih cepat dari kemampuan kita memahaminya, polarisasi sosial yang membelah masyarakat seperti kapak membelah kayu—semuanya menciptakan sebuah kabut ketidakpastian yang tebal dan menghimpit.

Di dalam konteks inilah—di tengah dunia yang sedang menangis—kita merayakan Paskah.

Dan pertanyaannya bukan sekadar: Apa itu Paskah? Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apa artinya Paskah bagi dunia yang sudah hampir kehilangan kemampuannya untuk berharap?

Salib: Ketika Allah Menolak Menjadi Penonton

Sebelum kita bisa berbicara tentang Kebangkitan—tentang fajar dan batu yang terguling dan kubur yang kosong—kita harus terlebih dahulu berdiam di hadapan Salib.

Karena Salib adalah pernyataan yang paling radikal dalam sejarah manusia: bahwa Allah tidak memilih untuk menjadi penonton atas penderitaan.

Ini bukan hal yang mudah untuk dipahami, apalagi diterima. Sepanjang sejarah, agama-agama besar dunia bergulat dengan pertanyaan yang sama: Di mana Allah ketika manusia menderita? Sebagian menjawab dengan teodisi yang rumit—bahwa penderitaan adalah ujian, atau karma, atau kehendak yang tidak bisa kita pertanyakan. Sebagian yang lain menjawab dengan diam yang agung—bahwa Allah berada di luar jangkauan penderitaan manusia, tak tersentuh, tak tergoyahkan dalam kesempurnaan-Nya.

Namun iman Kristen memberikan jawaban yang berbeda—dan jawaban itu menggetarkan karena begitu tidak terduga.

Allah sendiri masuk ke dalam penderitaan.

Yesus di atas kayu Salib bukan sekadar seorang guru agama yang dihukum mati karena mengancam kekuasaan. Ia adalah, dalam iman Kristen, Allah yang memilih untuk merasakan dari dalam apa artinya ditinggalkan, dikhianati, difitnah, disiksa, dan mati. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”—seruan itu bukan kelemahan iman. Ia adalah ungkapan paling jujur tentang kedalaman solidaritas ilahi dengan manusia yang merasa ditinggalkan.

Ini berarti: tidak ada satu pun dari kegelapan kita yang tidak dikenal oleh Allah dari dalam.

Pengungsi yang tidur di tenda dalam cuaca dingin? Allah pernah tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Orang yang difitnah, diadili secara tidak adil, dan dihukum atas kejahatan yang tidak dilakukannya? Allah merasakannya. Orang yang mati sendirian, dikelilingi oleh kerumunan yang mengejek dan tidak peduli? Allah ada di sana—bukan sebagai pengamat yang jauh, melainkan sebagai yang paling menderita di antara semua yang menderita.

Di sinilah letak relevansi Salib bagi dunia kita hari ini: ia menolak spiritualitas yang steril, yang bersih dari kenyataan, yang berbicara tentang damai sejahtera sambil menutup mata terhadap tangis dunia. Salib adalah pernyataan keras bahwa iman yang otentik tidak menghindar dari kenyataan yang menyakitkan—ia terjun ke dalamnya.

Sabtu yang Sunyi: Belajar Tinggal dalam Ketidakpastian

Ada hari yang sering kita lupakan dalam narasi Paskah: Sabtu Sunyi.

Jumat sudah berlalu—hari ketika segalanya hancur, ketika harapan tertancap bersama tubuh-Nya di atas kayu. Minggu masih belum datang—hari ketika segalanya akan berubah. Di antara keduanya terdapat Sabtu: hari keheningan, hari kubur tertutup batu, hari di mana murid-murid bersembunyi di balik pintu yang terkunci karena takut.

Kita sedang hidup di Sabtu.

Ini bukan metafora yang terlalu puitis atau terlalu dramatis. Ini adalah deskripsi yang akurat tentang kondisi kemanusiaan kita saat ini. Kita tidak sedang berada di Jumat yang dramatis—kita sudah melewati banyak krisis yang mencengangkan. Namun kita juga belum berada di Minggu—belum ada resolusi yang jelas, belum ada fajar yang pasti, belum ada berita dari malaikat yang duduk di atas batu yang terguling.

Kita berada di tengah-tengah. Dan di tengah-tengah adalah tempat paling sulit untuk bertahan.

Di Sabtu, ada godaan untuk dua ekstrem yang sama-sama berbahaya.

Ekstrem pertama adalah keputusasaan yang prematur: menyimpulkan bahwa karena Jumat sudah terjadi dan Minggu belum datang, maka Minggu tidak akan pernah datang. Ini adalah nihilisme yang menyelubungi dirinya dalam kenyataan. “Lihat dunia apa adanya,” kata suara itu. “Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang akan berubah. Yang berkuasa tetap berkuasa, yang lemah tetap dihancurkan. Sejarah berulang, dan ulangan itu selalu menyakitkan.”

Ekstrem kedua adalah optimisme yang naif: berpura-pura bahwa Sabtu tidak ada, melompat langsung dari Jumat ke Minggu, menolak untuk duduk bersama kenyataan yang menyakitkan. Ini adalah spiritualitas yang berbahaya—yang mengajarkan bahwa iman berarti selalu tersenyum, selalu merayakan, selalu “bersyukur” bahkan ketika tubuh dan jiwa sedang berteriak kesakitan.

Sabtu mengajarkan kita jalan ketiga: ketabahan yang jujur. Kemampuan untuk duduk bersama ketidakpastian tanpa menghancurkan diri sendiri dengan keputusasaan, dan tanpa membohongi diri sendiri dengan optimisme yang kosong. Kemampuan untuk berkata: “Ini gelap. Ini menyakitkan. Aku tidak tahu kapan fajar akan datang. Tapi aku tidak akan berhenti menunggu.”

Dunia membutuhkan orang-orang yang telah belajar tinggal di Sabtu dengan bermartabat—yang tidak melarikan diri dari kenyataan ke dalam ilusi, namun juga tidak membiarkan kenyataan menghancurkan seluruh kapasitas mereka untuk berharap.

Kebangkitan: Revolusi Kosmis yang Menolak Finalitas Kematian

Kemudian datanglah Minggu.

Dan Minggu mengubah segalanya—bukan dengan cara yang spektakuler seperti yang mungkin kita bayangkan, melainkan dengan cara yang mengejutkan dalam kerendahannya.

Tidak ada tentara yang dikalahkan dalam pertempuran besar. Tidak ada pemimpin korup yang digulingkan secara dramatis. Tidak ada kemiskinan yang serta-merta lenyap. Tidak ada senjata yang tiba-tiba berubah menjadi alat pertanian. Dunia, pada Minggu pagi itu, tampak sama seperti sebelumnya—Roma masih berkuasa, Pilatus masih menjabat, para imam besar masih duduk di kursi mereka yang nyaman, dan para murid masih bersembunyi dengan ketakutan.

Namun satu hal telah berubah, dan perubahan itu bersifat fundamental: kematian bukan lagi kata terakhir.

Ini adalah klaim yang paling berani dalam sejarah pemikiran manusia. Lebih berani dari setiap manifesto politik. Lebih radikal dari setiap revolusi sosial. Karena setiap sistem kekuasaan di dunia ini, pada akhirnya, bergantung pada ancaman yang sama: kematian. Ancaman kehilangan nyawa adalah fondasi dari semua paksaan, semua tirani, semua ketaatan yang lahir dari ketakutan.

Kebangkitan menghancurkan fondasi itu.

Ketika Paulus menulis kepada jemaat di Korintus—jemaat yang terdiri dari para budak, orang miskin, mereka yang tidak punya kuasa apa pun dalam struktur sosial Romawi—ia menulis dengan nada yang hampir terdengar seperti provokasi: “Di manakah, hai maut, kemenanganmu? Di manakah, hai maut, sengatmu?” Ini bukan retorika kosong. Ini adalah deklarasi kemerdekaan dari ancaman yang paling mendasar.

Namun Kebangkitan bukan hanya tentang kehidupan setelah kematian—tentang surga di ujung perjalanan. Ia adalah pernyataan tentang hakikat realitas itu sendiri: bahwa di dalam kosmos yang diciptakan oleh Allah yang hidup, cinta lebih kuat dari kebencian, terang lebih kuat dari kegelapan, dan kehidupan memiliki kapasitas untuk bangkit dari dalam kematian itu sendiri.

Ini berarti bahwa setiap benih kebaikan yang ditanam di dalam tanah ketidakadilan—setiap tindakan kasih yang tampak sia-sia, setiap pengampunan yang diberikan tanpa syarat, setiap kebenaran yang disuarakan di hadapan kekuasaan yang menolak mendengar—memiliki berat kosmis yang jauh melampaui apa yang bisa kita ukur.

Paskah tidak menjanjikan bahwa dunia akan segera baik-baik saja. Ia menjanjikan sesuatu yang lebih dalam: bahwa kebaikan tidak pernah sungguh-sungguh kalah.

Harapan yang Bukan Ilusi

Di sinilah kita harus membuat perbedaan yang sangat penting—perbedaan antara harapan dan optimisme.

Optimisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik. Ia didasarkan pada penilaian terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ketika bukti mendukungnya, optimisme mudah dipertahankan. Namun ketika dunia terus memberikan bukti sebaliknya—ketika perang terus meletus, ketika ketidakadilan terus diperkokoh, ketika lingkungan hidup terus dirusak—optimisme mulai runtuh.

Harapan Kristiani berbeda dari itu.

Harapan Kristiani bukan prediksi tentang masa depan berdasarkan tren yang ada. Ia adalah keyakinan yang didasarkan pada karakter Allah yang telah menyatakan diri-Nya dalam sejarah—terutama dalam peristiwa Paskah. Harapan ini berkata bukan “segala sesuatu pasti akan membaik” melainkan “segala sesuatu berada dalam tangan Yang memiliki kuasa untuk membarukannya.”

Ini adalah perbedaan yang menentukan.

Orang yang hanya mengandalkan optimisme akan hancur ketika realitas menolak untuk bekerja sama. Namun orang yang memiliki harapan dalam pengertian Kristiani bisa bertahan bahkan dalam kondisi paling gelap sekalipun—bukan karena mereka tidak merasakan kegelapan itu, melainkan karena jangkar harapan mereka tidak ditancapkan pada kondisi-kondisi yang ada, melainkan pada Yang ada di balik dan di dalam semua kondisi itu.

Václav Havel, penulis dan politisi Ceko yang menghabiskan bertahun-tahun di penjara sebelum akhirnya menjadi presiden negaranya, menulis sesuatu yang sangat indah tentang ini: harapan, katanya, bukan keyakinan bahwa segala sesuatu akan berakhir baik, melainkan keyakinan bahwa sesuatu bermakna terlepas dari bagaimana ia berakhir.

Paskah memberikan fondasi bagi harapan seperti itu. Bukan harapan yang menutup mata terhadap kenyataan. Bukan harapan yang menolak untuk menangis bersama mereka yang menangis. Melainkan harapan yang menangis dan tetap percaya—yang meratapinya dan tetap menunggu fajar.

Pembaharuan: Bukan Kembali, Melainkan Maju

Ada kesalahpahaman yang sering muncul tentang pembaharuan dalam konteks Paskah: bahwa pembaharuan berarti kembali ke keadaan semula, ke dunia sebelum kerusakan, ke Eden yang hilang.

Namun Paskah mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Tubuh Yesus yang bangkit bukan tubuh yang persis sama seperti sebelum penyaliban. Ia masih memiliki bekas luka di tangan dan lambung-Nya—Thomas memasukkan jarinya ke sana dan percaya. Namun tubuh itu juga melewati pintu yang tertutup, tidak dikenali pada awalnya, dan memiliki kualitas yang berbeda dari sebelumnya.

Ini adalah gambar pembaharuan yang sangat berbeda dari sekadar restorasi.

Pembaharuan bukan penghapusan semua yang telah terjadi—seolah luka tidak pernah ada, seolah sejarah bisa digulung kembali. Pembaharuan adalah transformasi—di mana bahkan luka pun menjadi bagian dari identitas yang baru, di mana pengalaman paling menyakitkan pun diintegrasikan ke dalam narasi yang lebih besar tanpa kehilangan keseriusannya.

Ini sangat relevan untuk dunia kita.

Tidak ada jalan kembali ke dunia sebelum kita menyadari krisis iklim. Tidak ada jalan kembali ke dunia sebelum kita mengetahui kapasitas manusia untuk kehancuran massal. Tidak ada jalan kembali ke kepolosan yang tidak tahu. Pembaharuan yang kita butuhkan bukan nostalgia yang membawa kita mundur, melainkan visi yang membawa kita maju—ke dunia yang menanggung memori luka-lukanya namun menolak untuk didefinisikan oleh luka-luka itu.

Inilah yang Paskah tawarkan: bukan dunia yang dilupakan lukanya, melainkan dunia yang lukanya telah diubah menjadi sumber cahaya.

Konsekuensi: Iman yang Harus Berjalan dengan Kaki

Namun ada bahaya yang mengintai di setiap refleksi seperti ini: bahwa kita puas dengan keindahan gagasan tanpa membiarkannya mengubah cara kita hidup.

Paskah bukan hanya doktrin untuk dipercaya. Ia adalah panggilan untuk cara hidup yang tertentu.

Jika Kebangkitan benar—jika cinta sungguh-sungguh lebih kuat dari kematian—maka setiap tindakan kasih yang kita lakukan, sekecil apa pun, memiliki bobot kekal. Memberi makan satu orang yang lapar di tengah sistem yang menciptakan kelaparan berjuta orang bukan tindakan yang sia-sia—ia adalah partisipasi dalam logika kosmis yang berbeda dari logika kekuasaan dunia.

Jika Kebangkitan benar, maka keadilan bukan sekadar kebijakan yang baik—ia adalah respons terhadap panggilan Sang Pencipta yang mencintai semua yang diciptakan-Nya dengan setara.

Jika Kebangkitan benar, maka pengampunan—yang tampak seperti kelemahan dalam logika dunia—adalah salah satu bentuk kekuatan paling radikal yang ada. Karena pengampunan memutus rantai balas dendam yang terus meregenerasi kekerasan dari generasi ke generasi.

Jika Kebangkitan benar, maka kita tidak bisa berdiam diri di hadapan ketidakadilan sambil menghibur diri dengan janji surga. Justru sebaliknya: keyakinan akan Kebangkitan adalah bahan bakar yang paling kuat untuk keterlibatan di dunia ini, karena ia meyakinkan kita bahwa perjuangan untuk kebenaran tidak pernah sia-sia.

Dietrich Bonhoeffer, teolog Jerman yang akhirnya digantung oleh rezim Nazi beberapa hari sebelum perang berakhir, menulis dari penjara: iman kepada Allah bukan pelarian dari dunia, melainkan kepercayaan penuh kepada Allah yang mengasihi dunia ini—dan karenanya, keterlibatan penuh dengan dunia ini.

Paskah bukan pelarian ke dalam ketenangan spiritual yang privat. Ia adalah proklamasi yang menuntut kita untuk menjadi tanda-tanda konkret dari kerajaan yang berbeda—di mana yang lemah dilindungi, yang lapar diberi makan, yang asing disambut, yang terpenjara diziarahi, yang sakit dirawat.

Fajar yang Selalu Datang

Di Ambon, di kepulauan yang dijuluki “Kota Seribu Gereja” ini, ada sesuatu yang mungkin terasa sangat dekat dengan inti Paskah: pengalaman tentang rekonsiliasi setelah konflik yang dahsyat.

Mereka yang pernah hidup melalui kekerasan komunal di penghujung abad lalu tahu apa artinya Sabtu Sunyi yang panjang—bertahun-tahun, bukan hanya satu hari. Mereka tahu apa artinya kehilangan yang tidak bisa dijelaskan, ketakutan yang mengendap seperti sedimen di dasar jiwa, dan pertanyaan yang tidak punya jawaban mudah: Bagaimana kita bisa hidup kembali bersama setelah semua ini?

Namun rekonsiliasi terjadi. Tidak sempurna, tidak tanpa bekas luka, tidak tanpa proses yang menyakitkan. Namun terjadi.

Dan itu sendiri adalah Paskah—kebangkitan dari dalam abu yang tampaknya tidak mungkin menghasilkan kehidupan.

Di seluruh penjuru dunia, ada tanda-tanda kecil Paskah yang terus muncul di dalam kegelapan: komunitas yang memilih untuk memaafkan ketika kebencian jauh lebih mudah. Ilmuwan yang bekerja tanpa kenal lelah untuk solusi yang mungkin baru akan terasa dampaknya puluhan tahun ke depan. Guru di desa terpencil yang dengan setia menyalakan lampu pengetahuan hari demi hari, tanpa pujian, tanpa penghargaan besar. Orang-orang yang menolak untuk menjadi sinis meskipun dunia terus memberikan alasan untuk itu.

Tanda-tanda ini kecil. Namun mereka nyata.

Dan Paskah mengingatkan kita bahwa kebangkitan selalu dimulai dengan cara yang tampak tidak proporsional kecilnya: seorang perempuan yang datang ke kubur saat fajar, ketika langit masih gelap. Batu yang sudah terguling sebelum ada yang melihatnya. Malaikat yang duduk bukan di singgasana, melainkan di tempat jenazah yang sudah tidak ada.

Fajar tidak mengumumkan dirinya dengan terompet. Ia datang dengan diam, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit—sampai tiba-tiba kita menyadari bahwa kita sudah bisa melihat kembali.

Penutup: Menjadi Manusia Paskah

Menjadi manusia Paskah di dunia yang sedang retak bukan berarti memiliki semua jawaban. Bukan berarti tidak pernah merasa takut atau putus asa. Bukan berarti berpura-pura bahwa segalanya sudah baik.

Menjadi manusia Paskah berarti memilih, hari demi hari, untuk tidak membiarkan kegelapan memiliki kata terakhir.

Ia berarti menangis bersama mereka yang menangis, dan tetap percaya bahwa tangis tidak akan selamanya.

Ia berarti melihat dunia apa adanya—dengan semua keretakannya, semua kekejamannya, semua kerapuhannya—dan tetap memperlakukannya seperti sesuatu yang layak diperjuangkan.

Ia berarti menanam pohon meskipun kita tahu kita mungkin tidak akan duduk di bawah naungannya.

Ia berarti berbicara benar di hadapan kekuasaan yang tidak mau mendengar, bukan karena kita yakin akan berhasil, melainkan karena kebenaran itu sendiri layak untuk disuarakan.

Ia berarti mencintai dengan berani—dengan risiko penuh bahwa cinta bisa dikhianati, bisa ditolak, bisa dirobek—karena kita percaya bahwa dalam tata kosmis yang dibukakan Paskah, cinta yang hilang tidak sungguh-sungguh hilang.

Di dunia yang dipenuhi oleh para penghasut kebencian, jadilah pembawa damai. Di dunia yang lelah oleh kemunafikan, jadilah saksi kejujuran. Di dunia yang cemas akan esok hari, jadilah tanda bahwa esok hari bisa dijalani dengan bermartabat.

Kristus sudah bangkit.

Kalimat itu bukan sekadar pernyataan teologis. Ia adalah tantangan—kepada kita, kepada cara kita hidup, kepada cara kita memperlakukan sesama kita, kepada apa yang kita anggap nyata dan apa yang kita anggap mustahil.

Jika kubur yang tertutup batu bisa kosong pada pagi hari—maka tidak ada situasi, tidak ada sistem, tidak ada kegelapan yang bisa mengklaim keniscayaan abadi.

Selalu ada kemungkinan fajar.

Dan itu sudah cukup untuk terus berjalan.


Selamat Paskah. Kiranya harapan yang tidak mengecewakan itu menopang kita semua di tengah dunia yang sedang belajar kembali untuk bernapas. ✝️

error: Content is protected !!