Klaim bahwa Alkitab Ethiopia merupakan tradisi kanonik Kristen yang paling awal memerlukan analisis yang cermat dan berbasis bukti arkeologis. Meskipun klaim tersebut mengandung elemen kebenaran yang kuat dalam konteks tertentu, ia juga memiliki nuansa dan batasan yang harus dipahami dengan benar. Bukti utama yang mendasari klaim ini datang dari serangkaian manuskrip monumental yang ditemukan di Ethiopia, yang secara fundamental telah merevisi narasi sejarah terjemahan Alkitab.
Titik pusat dari semua diskusi ini adalah dua volume yang dikenal sebagai Garima Gospels. Penemuan ini tidak hanya memberikan usia yang jauh lebih awal bagi tradisi manuskrip Ethiopia, tetapi juga membuka jendela baru untuk memahami seni, teologi, dan sejarah Kristen pada abad ke-5 dan ke-6 Masehi. Sebelum penemuan dan analisis modern ini, persepsi Barat terhadap Alkitab Ethiopia didominasi oleh gagasan bahwa manuskrip-manuskripnya relatif baru, biasanya ditarik mundur ke abad ke-9 atau ke-10, atau bahkan lebih lambat. Namun, penelitian terbaru, terutama analisis radiokarbon, telah mengguncang pandangan lama ini dan menempatkan Ethiopia di panggung sejarah Alkitab dunia dengan posisi yang jauh lebih sentral.
Bukti Arkeologis dan Manuskrip: Menilai Klaim “Tertua”
Manuskrip Garima Gospels, yang terdiri dari Garima 1 dan Garima 2, adalah koleksi terawal dari naskah-naskah Injil Kristen yang lengkap dan teridentifikasi. Kedua volume ini ditulis dalam bahasa Ge’ez, bahasa liturgi Gereja Ortodoks Tewahedo Ethiopia, pada kulit kambing (goatskin) dan berisi empat Injil Kanonik. Signifikansi mereka tidak hanya terletak pada teksnya, tetapi juga pada ilustrasi yang kaya dan teknik pengikatan buku yang unik. Hasil analisis radiokarbon yang dilakukan di Oxford University secara definitif menetapkan rentang waktu produksi manuskrip ini. Hasilnya menunjukkan bahwa Garima 2, yang berisi Injil Lukas dan Yohanes, berasal dari periode antara tahun 390–570 M. Sementara itu, Garima 1, yang berisi Injil Matius dan Markus, lebih muda sedikit, dengan rentang waktu 530–660 M. Revisi temporal ini sangat dramatis; sebelumnya, manuskrip-manuskrip semacam itu diasumsikan berasal dari abad ke-11 atau kemudian. Rentang waktu ini menjadikan Garima 2 salah satu manuskrip Injil terawal yang masih ada di dunia, bahkan kemungkinan lebih awal daripada beberapa manuskrip penting lainnya yang dikenal, seperti Rabbula Gospels yang diketahui berasal dari tahun 586 M.
Temuan ini memiliki implikasi yang mendalam. Waktu produksi Garima 2, yang jatuh pada abad ke-4 hingga awal abad ke-6, secara langsung menempatkannya dalam periode yang sama dengan era Pentakosta Akhir, tepat setelah Konstantin Agung dan era imperium yang berkembang pesat. Hal ini memberikan wawasan tak ternilai tentang bentuk tekstual Injil (versi Byzantine) dan gaya seni Kristen pada masa transisi dari zaman kuno ke abad pertengahan. Iluminasinya, yang menampilkan portrat Empat Penginjil dan sebuah gambar unik dari Templer Yahudi atau Mata Air Kehidupan, menunjukkan interaksi dengan tradisi artistik Mediterania lainnya, meskipun spekulasi tentang asal-usulnya—apakah dari Syria atau Mesir—masih menjadi subjek perdebatan akademis. Lebih lanjut, Garima 1 menampilkan sampul buku terbuat dari perunggu yang digilas, yang kemungkinan besar adalah sampul asli dari manuskrip tersebut, menjadikannya salah satu sampul buku terikat yang paling awal yang masih melekat pada halaman-halamannya saat ini. Ini menyoroti tingkat kemajuan teknis dalam produksi buku pada saat itu di Ethiopia.
Tradisi monastik lokal menghubungkan penciptaan manuskrip ini dengan seorang rahib bernama Abba Garima, yang secara legendaris tiba di Ethiopia dari Konstantinopel pada tahun 494 M dan diklaim telah menyalin seluruh Injil dalam satu hari dengan bantuan ilahi. Meskipun klaim supernatural ini tidak dapat diverifikasi secara ilmiah, tanggal radiokarbon yang mendekati tahun kedatangan legendaris ini memberikan dasar historis yang kuat bagi tradisi tersebut. Namun, penelitian terkini juga menantang kesimpulan bahwa manuskrip ini secara eksklusif merupakan produk dari tradisi “Syriac” yang diasosiasikan dengan “Sembilan Orang Suci” yang datang setelah Konsili Chalcedon (451 M). Analisis linguistik dan art historian menunjukkan kemiripan yang lebih dekat dengan seni Koptik Mesir dan bukti linguisistik yang menunjukkan bahwa terjemahan tersebut lebih mungkin berasal dari teks-teks Yunani daripada Siria. Ini mengimplikasikan bahwa tradisi terjemahan Injil di Ethiopia mungkin lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya, mungkin sudah ada sebelum kedatangan para misionaris Siria tersebut.
Namun, penting untuk menempatkan klaim “tertua” ini dalam perspektif yang lebih luas. Jika “Alkitab Ethiopia” merujuk pada koleksi manuskrip yang lengkap, maka klaim tersebut keliru. Beberapa sumber secara eksplisit menyatakan bahwa manuskrip Alkitab Yunani tertua yang lengkap, yaitu Codex Sinaiticus (dikatakan berasal dari 330-360 M) dan Codex Vaticanus (dikatakan berasal dari 300-330 M), masih lebih awal dari manuskrip Alkitab Ge’ez yang ada. Oleh karena itu, menyatakan bahwa Alkitab Ethiopia secara kolektif adalah yang tertua adalah sebuah generalisasi yang tidak akurat. Keunggulan Ethiopia terletak pada dua area yang sangat spesifik: pertama, kesinambungan tradisi terjemahan bahasa vernakular yang independen yang dimulai pada paruh pertama abad ke-4 M, menjadikannya salah satu terjemahan Alkitab ke dalam bahasa non-Yunani yang paling awal di dunia; dan kedua, bukti visualnya. Garima Gospels adalah bukti visual terawal yang teridentifikasi dari Injil Kristen, menjadikannya warisan intelektual dan artistik yang tak ternilai. Dengan demikian, klaim yang lebih tepat adalah bahwa Alkitab Ethiopia adalah salah satu tradisi kanonik dan terjemahan paling awal yang bertahan hingga kini, dengan bukti fisik yang paling awal yang tersedia untuk mendukungnya.
Proses terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Ge’ez itu sendiri merupakan pencapaian monumental. Tradisi ini diyakini telah dimulai pada paruh pertama abad ke-4 M, tepat ketika Kristen menjadi agama resmi kerajaan Aksum di bawah pemerintahan Raja Ezana. Ini menjadikan terjemahan Ge’ez sebagai salah satu dari terjemahan bahasa vernakular yang paling awal di dunia, bersama dengan terjemahan Latin yang lebih awal. Proses terjemahan ini bukanlah sebuah acara tunggal, melainkan sebuah upaya yang berlangsung selama dua hingga tiga abad, mencapai puncaknya antara abad ke-5 hingga ke-7 M. Tradisi monastik menghubungkan inisiasi awal dengan Uskup Pertama Ethiopia, Frumentius, yang disahkan oleh Patriarkh Aleksandria, Athanasius, sekitar tahun 328 M. Perluasan signifikan dari tradisi ini kemudian dikaitkan dengan kedatangan “Sembilan Orang Suci” (Nine Saints), sekelompok misionaris Siria yang melarikan diri dari persaingan teologis pasca-Konsili Chalcedon (451 M) dan tiba di Ethiopia sekitar tahun 480 M. Mereka diakui telah mentranslasikan banyak teks ke dalam Ge’ez dan mendirikan biara-biara yang menjadi pusat-pusat belajar.
Sayangnya, banyak manuskrip Alkitab Ge’ez yang lebih awal tidak tersisa. Hilangnya sumber-sumber ini disebabkan oleh serangkaian bencana historis. Invasi oleh ratu pagan Gudit pada abad ke-10 menyebabkan destruksi masif terhadap biara dan gereja-gereja. Kemudian, pada abad ke-16, invasi oleh Ahmad Gragn (“Attila Ethiopia”) dari Adal menyebabkan kehancuran lagi, yang menyebabkan banyak manuskrip dan artefak religius hancur. Faktor lingkungan juga memainkan peran; iklim basah pegunungan tinggi di Ethiopia tidak kondusif untuk pelestarian materi organik seperti kulit, sehingga banyak dokumen yang hilang tanpa jejak]. Dengan demikian, Garima Gospels bukan hanya manuskrip yang sangat awal, tetapi juga salah satu saksi fisik yang paling langka dan berharga dari periode-transisi vital dalam sejarah Alkitab.

Struktur Kanon dan Komposisi: Dekonstruksi Klaim “Paling Lengkap”
Klaim bahwa Alkitab Ethiopia adalah tradisi kanonik yang “paling lengkap” jauh lebih valid dan merupakan titik pembeda utama dari semua tradisi Kristen lainnya. Namun, kompleksitas struktur kanonnya memerlukan dekonstruksi yang cermat untuk sepenuhnya memahami maknanya. Angka “81 buku” sering kali digunakan untuk menggambarkan keluasan ini, namun istilah ini menyamarkan variasi signifikan dalam komposisi dan penafsiran internal. Analisis mendalam terhadap struktur kanon ini mengungkapkan sebuah ekosistem teologis yang unik, yang mencerminkan sejarah, geografi, dan interaksi dengan tradisi-tradisi Kristen lainnya yang berbeda.
Secara statistik, Alkitab Ethiopia memang memiliki jumlah kitab yang paling banyak di antara semua denominasi Kristen yang terorganisir. Hampir semua sumber yang dianalisis setuju pada angka 81 buku, yang secara signifikan lebih besar daripada Protestantisme (66 buku), Katolisisme Roma (73 buku), dan bahkan Oriental Ortodoks lainnya yang jumlahnya bervariasi tetapi umumnya kurang dari 81. Namun, angka ini tidak begitu sederhana. Terdapat dua model struktural utama yang sering dikemukakan untuk mencapai total 81 buku ini, yang sering disebut sebagai “Kanon Lebih Luas” (Broader Canon) dan “Kanon Lebih Sempit” (Narrower Canon). Model Lebih Luas mengklaim total 81 buku yang terdiri dari 46 buku Perjanjian Lama (OT) dan 35 buku Perjanjian Baru (NT). Model Lebih Sempit, yang lebih umum ditemukan dalam edisi cetak resmi, juga mengklaim 81 buku tetapi dengan struktur yang berbeda, misalnya 54 OT dan 27 NT. Perbedaan ini dicapai dengan cara mengurai beberapa kitab yang dalam tradisi lain dihitung sebagai satu (seperti Ezra-Nehemia dihitung sebagai dua) dan dengan cara menghitung kitab-kitab tambahan secara berbeda. Sangat penting untuk dicatat bahwa tidak ada daftar kanon tunggal yang didefinisikan secara otoritatif dan final. Daftar beragam di antara manuskrip dan edisi cetak yang berbeda, dan konsep “kanon” di Gereja Ortodoks Tewahedo (EOTC) lebih bersifat tradisional dan inklusif daripada sebuah daftar teologis yang kaku dan tak tergoyahkan. Beberapa sumber bahkan menyebutkan angka hingga 88 buku, menunjukkan tingkat ketidakpastian dan variasi yang lebih lanjut.
Inti dari klaim “kelengkapan” terletak pada kitab-kitab yang secara spesifik tidak ditemukan dalam tradisi Yahudi-Yunani-Barat. Kitab-kitab ini, yang berasal dari tradisi pseudepigrapha dan apokrif, memberikan gambaran tentang tradisi teologis dan literer yang berbeda di Ethiopia. Di Perjanjian Lama, dua tulisan paling ikonik adalah Kitab Henokh (1 Enoch) dan Kitab Yubilees (Jubilees). Kitab Henokh bahkan dikutip secara eksplisit dalam Perjanjian Baru (Yudas 1:14-15), menunjukkan familiaritas awal dengan teks ini dalam lingkungan Kristen prakonsili. Yang paling menarik, versi lengkap dari kedua kitab ini hanya tersedia secara lengkap dalam terjemahan Ge’ez. Kitab Yubilees, yang ditemukan dalam fragmen lengkap di Qumran, menunjukkan hubungan erat dengan komunitas Essene dan memberikan visi teologis yang unik tentang kalender dan hukum. Selain itu, kanon Ethiopia juga mencakup Tobit, Judith, Baruch (termasuk suratnya), Susanna, “Sisa-Sisa Yeremia” (yang sebagian besar identik dengan 4 Baruch), dan Doa Manasye. Salah satu kitab yang paling unik adalah Tiga Buku Maseya (1-3 Meqabyan), yang secara etimologis mirip dengan nama Maseya tetapi secara teologis dan naratif sangat berbeda dari kitab-kitab Maseya dalam tradisi Septuaginta. Ketiganya ini adalah bagian integral dari kanon Ethiopia dan tidak dikenal di tempat lain.
Di Perjanjian Baru, “kelengkapan” Ethiopia diperpanjang dengan cara yang paling radikal. Selain 27 buku protokanon standar yang ditemukan dalam hampir semua tradisi Kristen, kanon Ethiopia menambahkan delapan buku tambahan yang dikenal sebagai Aturan Gereja. Delapan buku ini, yang sering dikumpulkan di bawah nama kolektif Sinodos, Book of the Covenant, Ethopic Clement, dan Didascalia, berasal dari Apostolic Constitutions (buku I-VII). Kitab-Kitab ini berisi serangkaian aturan gereja, doa-doa, dan ajaran doktrinal yang relevan dengan struktur dan praktik kehidupan gereja pada abad ke-2 hingga ke-4 M. Penambahan ini secara signifikan memperpanjang kanon New Testament dan menunjukkan bahwa pembentukan kanon di Ethiopia tidak hanya didasarkan pada otentisitas apostolik sebuah kitab, tetapi juga pada nilai praktis dan normatifnya bagi kehidupan gereja Ethiopia.
| Nama Kitab Tambahan | Kategori | Deskripsi Singkat |
|---|---|---|
| Kitab Henokh | OT Unik | Sebuah kitab pseude- pigrapha yang mem- bahas angelologi, cerita tentang Anak-Anggun (Watchers), dan visi tentang Hari Penghakiman. |
| Kitab Yubilees | OT Unik | Disebut “Genesis Kecil”, kitab ini retelling ulang narasi Perjanjian Lama hingga Musa, dengan fokus pada kalender 364 hari solar dan hukum perjanjian. |
| 1-3 Maseya (Meqabyan) | OT Unik | Tiga buku naratif yang berbeda dari Maseya Yunani, yang berfokus pada pemberontakan Makabeus. Mereka adalah bagian sentral dari liturgi Ethiopia. |
| Sinodos / Aturan Gereja | NT Unik | Serangkaian buku (Ser’ata Seyon, Te’ezaz, Gessew, Abtelis) yang berisi aturan-aturan gereja dan doktrin, berasal dari Apostolic Constitutions. |
| Ethiopic Clement | NT Unik | Dua buku yang berisi surat-surat Petrus kepada Clement dan jawaban Clement, yang berbeda dari surat-surat Korintus yang dikenal. |
| Didascalia | NT Unik | Sebuah buku panjang tentang hukum gereja, ajaran moral, dan ritus, juga berasal dari Apostolic Constitutions. |
Implikasi dari pendekatan kanonikal Ethiopia yang inklusif ini sangat penting. Berbeda dengan tradisi Katolik dan Protestan, Gereja Ortodoks Tewahedo tidak membuat distinksi formal antara kitab-kitab protokanon (mirip dengan Tanakh Ibrani), deuterokanon (kitab-kitab dari Septuaginta yang tidak ada dalam Tanakh), dan pseudepigrapha. Semua 81 buku ini dianggap sama-sama terinspirasi dan autoritatif. Pendekatan ini menunjukkan sebuah filosofi teologis yang lebih luas, di mana tradisi sastra pra-kristiani dan post-apostolik diterima secara lebih bebas, mencerminkan kekayaan dan keragaman tradisi Kristen yang lebih awal. Pembentukan kanon Ethiopia bukanlah sebuah proses statis yang diselesaikan pada satu waktu, melainkan sebuah ekosistem teologis yang berevolusi selama berabad-abad, menyerap dan mensintesis elemen-elemen dari tradisi Septuagint, tradisi Siria, dan sumber-sumber lokal Ethiopia. Ini bukan sekadar daftar buku, melainkan sebuah arsip dari tradisi Kristen yang beragam yang telah hilang di tempat lain, menjadikannya sumber yang tak ternilai bagi para sarjana teologi dan sejarah.

Perbandingan Kanon dengan Tradisi Kristen Global
Memahami posisi unik Alkitab Ethiopia memerlukan analisis komparatif yang sistematis dengan tradisi-tradisi Kristen utama lainnya. Perbandingan ini tidak hanya menyoroti perbedaan dalam jumlah dan isi kitab, tetapi juga mengungkapkan jalur-jalur sejarah, teologis, dan geopolitik yang berbeda yang membentuk evolusi kanon di seluruh dunia. Setiap tradisi memiliki fondasi tekstualnya sendiri, dan Ethiopia berada di ujung spektrum yang berbeda dari Roma dan Konstantinopel, dengan pengaruh yang lebih kuat dari tradisi Septuagint dan tradisi Siria. Perbedaan-perbedaan ini mencerminkan strategi pewahyuhan, prioritaskan tradisi, dan kebutuhan kontekstual gereja-gereja yang berbeda.
Salah satu pilar fundamental dalam memahami kanon Ethiopia adalah fondasinya pada tradisi Septuaginta (LXX). Septuaginta adalah terjemahan Yunani dari Kitab Suci Ibrani, yang secara luas digunakan oleh orang-orang Yahudi Diaspora dan menjadi Alkitab Perjanjian Lama bagi mayoritas awal gereja Kristen. Ethiopia, bersama dengan tradisi Oriental Ortodoks lainnya (seperti Koptik, Armenia, dan Melkite), mempertahankan Septuagint sebagai dasar OT mereka. Fondasi ini secara langsung menjelaskan keberadaan kitab-kitab unik seperti Henokh dan Yubilees, yang merupakan bagian dari tradisi Septuagint tetapi tidak ada dalam Tanakh Ibrani. Sebaliknya, tradisi Latin, yang berpusat di Roma, memiliki jalur yang berbeda. Ketika St. Jerome melakukan revisi Alkitab untuk Paus Damasus pada akhir abad ke-4, ia secara sadar membangun ulang Perjanjian Lama dari teks-teks Ibrani dan Aramaik, yang dikenal sebagai Masoretic Text (MT). Jerome menggunakan Septuagint hanya untuk kitab-kitab yang tidak ada dalam Tanakh, seperti Tobit, Judith, dan Maseya. Pendekatan ini, yang kemudian didefinisikan ulang oleh Konsili Trente pada abad ke-16, secara efektif memindahkan dasar kanon Katolik dari Septuagint ke Tanakh Ibrani, yang menjelaskan mengapa kitab-kitab seperti Henokh dan Yubilees tidak termasuk dalam kanon Katolik, meskipun ada beberapa kitab deuterokanon lainnya yang disimpan.
Hubungan Ethiopia dengan tradisi Siria juga sangat penting, meskipun hasilnya kompleks. Hubungan ini paling jelas terlihat pada kedatangan “Sembilan Orang Suci” pada abad ke-5-ke-6. Para misionaris ini, yang berasal dari wilayah yang saat ini merupakan Suriah, membawa tradisi teologis dan liturgi Siria dengan mereka. Ini tercermin dalam penggunaan kata-kata Siria dalam bahasa Ge’ez, seperti ‘haimanot’ (faith) dan ‘gehanem’ (hell). Namun, meskipun ada pengaruh Siria yang kuat, kanon Ethiopia tidak identik dengan Peshitta, terjemahan Siria standar. Peshitta, yang sebagian besar didasarkan pada teks Ibrani, memiliki kanon yang lebih mirip dengan Tanakh, meskipun juga mencakup beberapa kitab deuterokanon. Ethiopia, sebaliknya, lebih dekat dengan tradisi Septuagint, yang berarti mereka mempertahankan lebih banyak kitab yang ditemukan dalam tradisi Yunani tetapi tidak dalam tradisi Ibrani. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada hubungan dekat, Ethiopia memilih untuk mengadopsi dan memperluas tradisi Septuaginta daripada tradisi Siria yang lebih ketat.
Isolasi geografis dan politik Ethiopia adalah faktor kunci yang menjelaskan mengapa kanonnya tetap unik dan tidak terpengaruh oleh proses pengkonsolidasian kanon yang terjadi di Roma dan Konstantinopel. Ketika gereja-gereja di Timur Romawi mencoba menyelaraskan diri dan memformalkan kanon mereka, Ethiopia, yang secara historis mandiri secara politik, melanjutkan evolusinya sendiri. Tidak seperti banyak negara Afrika lainnya yang mengalami intervensi kolonial yang mengubah dinamika agama, Ethiopia berhasil mempertahankan integritas budaya dan agamanya, melindunginya dari pengaruh dominan misi Protestan atau Vatikan. Isolasi ini berfungsi sebagai pelindung alami bagi kanon Ethiopia, memungkinkan tradisi Ge’ez untuk berkembang tanpa tekanan eksternal untuk menyelaraskan diri dengan standar Barat. Akibatnya, kanon Ethiopia berfungsi sebagai “arsip” dari tradisi Kristen yang beragam yang telah hilang atau dikecualikan di tempat lain, memberikan wawasan yang tak ternilai tentang keragaman awal dalam teks dan ajaran Kristen.
Proses Terjemahan, Isolasi Historis, dan Warisan Intelektual
Warisan Alkitab Ethiopia bukanlah produk dari sebuah proses yang sederhana, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara proses terjemahan yang gigih, kondisi historis yang unik, dan dampak jangka panjang dari isolasi geografis dan politik. Memahami bagaimana Alkitab ini dibuat dan dilestarikan memberikan konteks yang krusial untuk menghargai kelengkapannya yang luar biasa. Proses ini dimulai sebagai terobosan linguistik dan spiritual yang monumental, yang kemudian diperkuat oleh faktor-faktor historis yang melindunginya dari penyamarataan global.
Proses terjemahan Alkitab ke dalam bahasa liturgi Ge’ez merupakan salah satu pencapaian tradisi Kristen paling awal dan paling signifikan. Dimulai pada paruh pertama abad ke-4 M, tepat ketika Kristen menjadi agama resmi di Kerajaan Aksum di bawah Raja Ezana, terjemahan ini memungkinkan injil dan ajaran-ajaran Alkitab untuk menjadi bagian dari kehidupan rohani rakyat Ethiopia. Proses ini berlangsung selama beberapa abad, dari sekitar 340-350 M hingga 600-700 M, menunjukkan dedikasi yang luar biasa dari para pendeta dan biarawan Ethiopia. Asal-usul teks-teks ini sangat menarik. Untuk Perjanjian Lama, terjemahan ini diduga kuat berasal dari Septuagint, versi Yunani dari Alkitab Ibrani. Bahkan, bukti linguisistik menunjukkan bahwa tradisi yang digunakan adalah Lucian recension Septuagint, yang populer di wilayah Siria, bukan Hesychian recension yang digunakan di Aleksandria. Ini menegaskan hubungan erat Ethiopia dengan tradisi Siria. Namun, pengaruh Siria juga terlihat dalam Perjanjian Baru, di mana beberapa kata kunci dalam bahasa Ge’ez tampaknya berasal dari bahasa Siria. Ini menunjukkan bahwa para penerjemah Ethiopia tidak hanya bergantung pada satu sumber, tetapi waspada terhadap tradisi-teks yang berbeda.
Meskipun tradisi monastik sering menghubungkan inisiasi terjemahan dengan Uskup Frumentius, yang disahkan oleh Athanasius pada tahun 328 M, dan perluasan besar-besaran dengan kedatangan “Sembilan Orang Suci” pada abad ke-5-ke-6, para sarjana modern melihat prosesnya sebagai lebih kompleks. Ada bukti varian gaya terjemahan di antara berbagai buku, yang menunjukkan kemungkinan adanya banyak penerjemah dengan tingkat penguasaan bahasa Yunani dan Ge’ez yang berbeda. Seiring waktu, tradisi terjemahan ini mengalami revisi. Pada abad ke-14, Metropolitan Abba Selama melakukan sebuah revisi besar-besaran terhadap Alkitab Ge’ez. Revisi ini diduga kuat menggunakan versi Arab dari Alkitab sebagai acuan, yang kemungkinan merupakan versi yang berdasarkan pada teks Ibrani Masoretik. Ini menciptakan tradisi terjemahan Ge’ez yang unik, yang merupakan sebuah “hibrida” antara tradisi Septuagint Yunani dan tradisi Masoretik Ibrani yang dipengaruhi oleh Arab. Revisi ini mungkin menjelaskan mengapa beberapa versi Ge’ez memiliki bab-bab yang sesuai dengan urutan dalam Tanakh Ibrani, sebuah fitur yang tidak ditemukan dalam tradisi Septuagint murni.
Isolasi Ethiopia adalah faktor pendorong utama yang menjaga kelangsungan dan keaslian kanonnya. Geografi Ethiopia yang terisolasi, dengan pegunungan tinggi dan medan yang sulit dilalui, serta kebijakan politik yang mandiri, melindunginya dari dominasi eksternal. Ini berarti bahwa kanon Ethiopia tidak pernah tunduk pada proses pengkonsolidasian yang terjadi di Roma atau Konstantinopel, di mana tujuannya adalah untuk mencapai keseragaman teks dan doktrin dalam kekaisaran. Ketika gereja-gereja Barat dan Timur mulai menyelaraskan diri, Ethiopia melanjutkan evolusinya sendiri, mempertahankan kitab-kitab dan tradisi yang telah hilang di tempat lain. Isolasi ini juga melindunginya dari tekanan misi Protestan pada abad ke-16 dan ke-17, yang secara fundamental mengubah kanon Kristen di seluruh dunia dengan menyingkirkan deuterokanon. Akibatnya, Alkitab Ethiopia berfungsi sebagai museum hidup dari tradisi Kristen yang beragam, sebuah “arsip” dari versi-versi Alkitab yang tidak pernah punah di tempat lain.
Warisan intelektual dari Alkitab Ethiopia sangatlah besar. Dengan mempertahankan versi lengkap dari kitab-kitab seperti Henokh dan Yubilees, yang hanya tersedia dalam fragmen di tempat lain, Ethiopia telah menjadi penjaga warisan teologis yang tak ternilai dari periode Pra-Kristen. Kitab Henokh, misalnya, berisi visi angelologi yang mendalam dan konsep tentang “Anak Manusia” yang menjadi sangat penting dalam teologi Perjanjian Baru. Kitab Yubilees memberikan konteks historis dan teologis yang kaya untuk Perjanjian Lama, terutama bagi komunitas yang berkembang di sekitar Qumran. Selain itu, terjemahan Ge’ez sering kali mempertahankan bacaan-bacaan teks yang lebih awal dan lebih murni daripada tradisi teks Yunani yang lebih banyak direvisi. Karena terjemahannya bersifat literal dan sering kali tidak terpengaruh oleh revolusi teks yang terjadi di Timur Laut Mediterania, ia dapat berfungsi sebagai “saksi independen” yang memberikan bukti tekstual yang berharga bagi para ahli kritik Alkitab. Dengan demikian, Alkitab Ethiopia bukan hanya kitab suci bagi jutaan orang, tetapi juga sumber data yang tak ternilai bagi para sarjana, memberikan jendela ke dunia teologis dan sastra Kristen yang beragam yang telah hilang di tempat lain.
Perdebatan Ilmiah Kontemporer dan Implikasi Teologis
Meskipun Alkitab Ethiopia telah lama dikenal sebagai tradisi kanonik yang unik, studinya terus berkembang dengan perdebatan ilmiah yang aktif dan implikasi teologis yang mendalam. Analisis modern tidak hanya fokus pada verifikasi klaim historis, tetapi juga pada pemahaman yang lebih dalam tentang transmisi teks, konteks teologis, dan signifikansinya bagi dunia Kristen secara keseluruhan. Perdebatan ini sering kali berpusat pada bukti-bukti konkret seperti manuskrip Garima, serta pada interpretasi teks-teks yang paling ikonik, seperti Kitab Henokh.
Salah satu area perdebatan ilmiah yang paling menarik adalah asal-usul dan tanggal manuskrip Garima Gospels. Meskipun analisis radiokarbon telah memberikan tanggal yang sangat awal (Garima 2 sekitar 390–570 M), perdebatan tentang asal-usul artistiknya masih berlanjut. Beberapa sarjana berpendapat bahwa iluminasinya menunjukkan pengaruh yang kuat dari tradisi Seni Koptik Mesir, sementara yang lain menekankan kemiripannya dengan seni Siria. Pertanyaan kuncinya adalah apakah manuskrip ini benar-benar dibuat di Aksum, atau apakah para seniman dan sirkuit iluminasinya datang dari wilayah lain. Argumen yang menarik menyatakan bahwa tradisi terjemahan Injil di Ethiopia mungkin lebih tua dari yang diperkirakan, dan bahwa Garima Gospels bisa jadi merupakan produk dari sebuah pusat manuskrip yang mapan di Aksum sebelum kedatangan “Sembilan Orang Suci”. Perdebatan ini penting karena menantang narasi tradisional tentang kedatangan misionaris Siria sebagai titik awal tradisi terjemahan Ethiopia dan menyoroti potensi hubungan yang lebih dalam dengan tradisi Mediterania Timur lainnya.
Perdebatan ilmiah lainnya berkisar pada revisi besar-besaran Alkitab Ge’ez yang terjadi pada abad ke-14 di bawah Metropolitan Abba Selama. Persoalannya adalah seberapa besar revisi ini mengubah teks aslinya. Beberapa sarjana berpendapat bahwa revisi ini lebih bersifat harmonisasi, di mana teks-teks yang berasal dari tradisi Septuagint diselaraskan dengan versi Arab yang lebih dekat dengan Masoretic Text. Namun, yang lain skeptis, berpendapat bahwa kondisi politik dan sosial di Ethiopia pada saat itu tidak mendukung skala besar proyek revisi teks dari bahasa Ibrani. Memahami dampak revisi ini sangat penting untuk kritik tekstual, karena akan menentukan sejauh mana Alkitab Ge’ez dapat diandalkan sebagai saksi teks yang independen.
Interpretasi teks-teks paling ikonik, seperti Kitab Henokh, juga menjadi subjek penelitian yang intens. Versi Ge’ez dari Kitab Henokh adalah satu-satunya versi lengkap yang masih ada. Namun, para sarjana modern menyoroti bahwa versi Ge’ez ini adalah “terjemahan dari sebuah terjemahan”—yaitu, diterjemahkan dari versi Yunani yang sudah ada. Ini menimbulkan pertanyaan kritis: sejauh mana versi Ge’ez ini mereproduksi teks asli dari Periode Kesenian, atau justru merupakan sebuah teks yang diredaksikan dalam konteks Kristen yang lebih baru? Sarjana Loren Stuckenbruck dan Ted Erho, yang menganalisis ratusan manuskrip Ge’ez, menekankan bahwa versi Ge’ez ini “bukanlah teks Periode Kesenian itu sendiri” dan memerlukan tingkat kehati-hatian yang tinggi saat digunakan untuk merekonstruksi dunia teologis Antiquity. Mereka menemukan variasi tekstual yang signifikan dalam manuskrip-manuskrip Ge’ez, yang menunjukkan bahwa teks ini telah melalui proses transmisi dan interpretasi yang panjang di Ethiopia. Ini menunjukkan bahwa versi Ethiopia dari Kitab Henokh bukan hanya dokumen sejarah purba, tetapi juga sebuah karya teologis yang hidup dan berkembang.
Implikasi teologis dari Alkitab Ethiopia sangatlah luas. Kelengkapannya yang luar biasa menantang narasi Barat tentang “canonicity” yang sering kali terbatas pada protokanon dan deuterokanon. Dengan menganggap semua 81 buku sebagai sama-sama terinspirasi, Gereja Ortodoks Tewahedo menawarkan sebuah model kanonikal yang lebih inklusif dan holistik. Ini mengakui bahwa tradisi Kristen awal sangat beragam, dan bahwa banyak teks yang dikecualikan dari kanon Barat masih memiliki nilai teologis dan historis yang signifikan. Kitab-kitab seperti Henokh dan Yubilees, misalnya, menyediakan konteks penting untuk memahami pemikiran Yahudi yang melingkupi kelahiran Yesus Kristus, dan hadirnya mereka dalam kanon Ethiopia menegaskan pentingnya tradisi ini.
Lebih jauh lagi, Alkitab Ethiopia berfungsi sebagai saksi penting terhadap sejarah pluralisme Kristen. Ketika gereja-gereja di Barat dan Timur saling memisahkan satu sama lain, Ethiopia melanjutkan jalurnya sendiri, mempertahankan tradisi yang unik namun tetap setia pada garis teologis yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa “orthodoxy” (kebenaran iman) tidak selalu identik dengan “canonicity” (daftar kitab). Alkitab Ethiopia adalah bukti nyata bahwa sebuah tradisi teologis yang kaya dan ortodoks dapat berkembang di luar standar yang telah ditetapkan oleh konsili-konsili utama. Studi tentang Alkitab Ethiopia terus menjadi subjek minat akademik yang meningkat, dengan proyek-proyek seperti The Ethiopic Old Testament (THEOT) yang bertujuan untuk menganalisis secara digital ribuan manuskrip untuk memahami sejarah transmisinya. Proyek-proyek ini tidak hanya akan memperkaya pemahaman kita tentang Alkitab Ethiopia, tetapi juga akan memberikan wawasan yang lebih luas tentang dinamika universal dari teks, tradisi, dan canon dalam sejarah Kristen.
REFERENSI
Comparing Divine Texts: The King James Bible vs. The Ethiopian Bible || https://zehabesha.com/comparing-divine-texts-the-king-james-bible-vs-the-ethiopian-bible/
Bible translations into Geʽez || https://en.wikipedia.org/wiki/Bible_translations_into_Ge%CA%BDez
The Ethiopian Bible: Unveiling Christianity’s Ancient Enigma || https://medium.com/predict/the-ethiopian-bible-unveiling-christianitys-ancient-enigma-e4edbca33193
THE BIBLE AND ITS CANON IN THE ETHIOPIAN ORTHODOX CHURCH || https://translation.bible/wp-content/uploads/2024/06/mikre-sellassie-1993-the-bible-and-its-canon-in-the-ethiopian-orthodox-church.pdf
The Ethiopian Tewahedo Bible || https://philarchive.org/archive/KAMFRB
How did Ethiopian Orthodox Church Religious Texts end up in DC/USA ? || https://www.facebook.com/groups/EHelpingE/posts/1552555034757826/
Ethiopian Bible is the oldest and complete bible on earth || https://ocl.org/ethiopian-bible-oldest-complete-bible-earth/
The Ethiopian Tewahedo Bible: History || https://encyclopedia.pub/entry/history/show/127357
The Ethiopian Bible – E-books by ChurchFolks || https://churchfolks.site/the-ethiopian-bible
What Are Ancient “Versions” of the New Testament? || https://ehrmanblog.org/what-are-ancient-versions-of-the-new-testament/
What Are the Syriac Versions, and How Have They Helped to Restore te Greek Text of the New Testament? || https://uasvbible.org/2021/11/28/what-are-the-syriac-versions-and-how-have-they-helped-to-restore-the-greek-text-of-the-new-testament/
Topical Bible: Ethiopic Versions || https://biblehub.com/topical/e/ethiopic_versions.htm
Ancient Versions for New Testament Textual Criticism: How the Syriac, Coptic, Armenian, Ethiopic, Georgian, Arabic, Old Latin, Vulgate, Gothic, and Old Slavonic Witnesses Illuminate the Original Greek Text || https://uasvbible.org/2025/09/30/ancient-versions-new-testament-textual-criticism/
Early translations of the New Testament || https://en.wikipedia.org/wiki/Early_translations_of_the_New_Testament
Book of Jubilees || https://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Jubilees
ETHIOPIAN BIBLE IN ENGLISH COMPLETE: Full Apocrypha and Deuterocanonicals Including Enoch, Jubilees, Meqabyan (I-II-III), Tobit, Judith, Bel and the Dragon || https://www.barnesandnoble.com/w/ethiopian-bible-in-english-complete-thornbridge-press/1147780203
Where can I get a copy of the Ethiopian Bible in English? || https://www.quora.com/Where-can-I-get-a-copy-of-the-Ethiopian-Bible-in-English
Ethiopian Bible, LARGE PRINT: The Complete Edition of Rejected Scriptures & Lost Books with Commentary for True Seekers—Full Apocrypha & Deuterocanonicals with Enoch, Jubilees, Tobit, Judith & More || https://www.everand.com/book/874379032/Ethiopian-Bible-LARGE-PRINT-The-Complete-Edition-of-Rejected-Scriptures-Lost-Books-with-Commentary-for-True-Seekers-Full-Apocrypha-Deuterocanoni
THE BOOK OF JUBILEES || https://dl.icdst.org/pdfs/files3/1e0e5eb98935c3b2ad5ca1b27e381c27.pdf
The ethiopian bible in english || https://fullpdfword.org/look-up/mL752B/603459/4965447-the-ethiopian-bible-in-english
THE EARLY TRANSLATION OF THE BIBLE INTO ETHIOPIC/GEEZ || https://translation.bible/wp-content/uploads/2024/06/mikre-sellassie-2000-the-early-translation-of-the-bible-into-ethiopic-geez.pdf
Garima Gospels || https://en.wikipedia.org/wiki/Garima_Gospels
Researcher Identifies Second-Oldest Ethiopian Manuscript in Existence in HMML’s Archives || https://hmml.org/stories/researcher-identifies-second-oldest-ethiopian-manuscript-in-existence-in-hmmls-archives/
The Textual History of the Ethiopic Old Testament Project (THEOT): Goals and Initial Findings || https://brill.com/view/journals/text/29/1/article-p80_7.xml?language=en&srsltid=AfmBOoryDpWbpp8luCmVhyAQwS4aue1MWwtTNRBoXpEe9d3Sz8WgwwKT
The first known version of the Bible is known as the Ethiopian version, why was it abandoned for this latest one that contains less books than the Ethiopian version? || https://www.quora.com/The-first-known-version-of-the-Bible-is-known-as-the-Ethiopian-version-why-was-it-abandoned-for-this-latest-one-that-contains-less-books-than-the-Ethiopian-version
The Forgotten Bible That Predates European Christianity || https://medium.com/write-a-catalyst/the-forgotten-bible-that-predates-european-christianity-5cd980d0e93e
The Biblical Canon of the Ethiopian Orthodox Tewahdo Church || https://www.euclid.int/papers/Anke%20Wanger%20-%20Canon%20in%20the%20EOTC.pdf
The Bible || https://www.ethiopianorthodox.org/english/canonical/books.html
Do Bible scholars and theologians consider the Ethiopian Christian Bible the most complete of all of the Christian Bibles? || https://www.quora.com/Do-Bible-scholars-and-theologians-consider-the-Ethiopian-Christian-Bible-the-most-complete-of-all-of-the-Christian-Bibles
The Ethiopian Canon || https://sanctushieronymus.blogspot.com/2016/09/the-ethiopian-canon.html
Deuterocanonical books || https://en.wikipedia.org/wiki/Deuterocanonical_books
The Bible Is Weirder than We Usually Realize || https://www.millersbookreview.com/p/bible-is-weirder-than-we-usually-realize
Order of the Complete Syrian Orthodox Antiochian Peshitta || http://www.atour.com/forums/peshitta/469.html
Vulgate – Topical Bible || https://biblehub.com/topical/v/vulgate.htm
Syriac Vulgate: Perspectives Of A Fellow Traveler || https://perspectivesofafellowtraveler.wordpress.com/tag/syriac-vulgate/
Orthodox Tewahedo biblical canon || https://en.wikipedia.org/wiki/Orthodox_Tewahedo_biblical_canon
What are the books in the Ethiopian Bible? || https://www.quora.com/What-are-the-books-in-the-Ethiopian-Bible
THE ETHIOPIAN ORTHODOX BIBLE PROJECT || https://ethiopianorthodoxbible.wordpress.com/ethiopian-orthodox-canon-of-scripture/
The Biblical Canon Of The Ethiopian Orthodox Church Today || https://www.islamic-awareness.org/bible/text/canon/ethiopican.html
Ethiopian Bible in English Complete: 88 Lost Books of the Bible. Including Apocrypha Complete, the Book of Enoch, the Book of Wisdom || https://www.amazon.com/Ethiopian-Bible-English-Complete-Including/dp/B0D9V2WFBF
Did the Septuagint contain the Deuterocanonical books? || https://www.quora.com/Did-the-Septuagint-contain-the-Deuterocanonical-books
According to Catholicism and Eastern Orthodoxy, what are the strongest apologetic arguments for the divine inspiration of the deuterocanonical books? || https://christianity.stackexchange.com/questions/86011/according-to-catholicism-and-eastern-orthodoxy-what-are-the-strongest-apologeti
Ethiopia: Earliest Known Illuminated Biblical Scripts Found || https://livingpassages.com/ethiopia-earliest-scripts/
The Ethiopian Bible: A Testament to Ancient Faith and Artistry || https://medium.com/@floribercus/the-ethiopian-bible-a-testament-to-ancient-faith-and-artistry-4e2cf4797297
Christian Ethiopian art || https://human.libretexts.org/Bookshelves/Art/SmartHistory_of_Art_2e/04%3A_SmartHistory_of_Art_IV-_Africa/06%3A_East_Africa_and_the_Horn_of_Africa/6.02%3A_The_art_of_Ethiopia/6.2.04%3A_Christian_Ethiopian_art
Ancient Manuscripts in Egypt & Ethiopia Still Relevant Today || https://livingpassages.com/ancient-manuscript-in-egypt-ethiopia/
Archaeology Adventures || https://www.facebook.com/100089633154398/posts/the-truth-behind-the-500-year-old-illegal-ethiopian-bible-decoding-ethiopias-old/640019458995820/
Palaeographic Analysis of Codices from the Early Christian Period: A Point of Method || https://brentnongbri.com/wp-content/uploads/2024/12/nongbri-palaeography-and-codices-jsnt-2019.pdf
The Age of Sacred Texts: Dating Ancient Biblical Manuscripts || https://uasvbible.org/2024/01/25/the-age-of-sacred-texts-dating-ancient-biblical-manuscripts/
The Ethiopian Orthodox Tewahedo Church Canon of the Scriptures: Neither Open nor Closed || https://translation.bible/wp-content/uploads/2024/07/asale-2016-the-ethiopian-orthodox-tewahedo-church-canon-of-the-scriptures-neither-open-nor-closed.pdf
The Ethiopian Orthodox Tewahedo Church: History, Doctrine, and Challenges || https://www.africanidea.org/Ethiopian_Orthodox_Tewahedo.pdf
The Earliest Ethiopic Biblical Canon || https://www.academia.edu/142919252/The_Earliest_Ethiopic_Biblical_Canon
Canon of Trent || https://en.wikipedia.org/wiki/Canon_of_Trent
WHAT BIBLE DOES THE CATHOLIC CHURCH USE? || https://www.anthonydelgado.net/blog-1/what-bible-does-the-catholic-church-use
Old Testament Peshitta || https://www.accordancebible.com/product/old-testament-peshitta/
Peshitta || https://encyclopedia.pub/entry/28378
Book of Enoch || https://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Enoch
1 Enoch: An Update on Manuscripts and Cautionary Notes on Usage || https://larryhurtado.wordpress.com/2019/10/06/1-enoch-an-update-on-manuscripts-and-cautionary-notes-on-usage/
The Books of Enoch || https://earlywritings.com/forum/viewtopic.php?t=5123
The Book of Enoch and the Ethiopian Manuscript Tradition: New Data || https://brill.com/display/book/edcoll/9789004214132/B9789004214132_017.xml
The Byzantine Forum || https://www.byzcath.org/forums/ubbthreads.php/topics/129883/How%20are%20the%20Maccabees%20divided%20