Jakarta, 23 November 2025 – Organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) dengan lebih dari 100 juta anggota dan afiliasi, sedang dilanda gempa internal yang jarang terjadi. Pada 20 November 2025, Rapat Harian Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) – badan tertinggi yang berwenang dalam urusan keagamaan – memutuskan memberikan ultimatum tegas kepada Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya): mundur secara sukarela dalam waktu tiga hari sejak keputusan diterima, atau akan diberhentikan secara paksa.
Keputusan ini tertuang dalam risalah rapat yang ditandatangani langsung oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, dan telah bocor ke publik pada 21 November 2025. Risalah tersebut langsung menjadi viral di media sosial dan dikonfirmasi oleh berbagai sumber terpercaya, termasuk Reuters, Al Jazeera, hingga media nasional seperti Kompas, Tempo, dan Republika.
Akar Masalah: Undangan Kontroversial ke Peter Berkowitz
Pemicu utama adalah keputusan Gus Yahya mengundang Peter Berkowitz, seorang akademisi Amerika dari Hoover Institution (Stanford University) dan mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS era George W. Bush, sebagai narasumber dalam program Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) pada Agustus 2025.
Berkowitz dikenal sebagai pendukung vokal kebijakan Israel di Gaza. Beberapa tulisannya yang kontroversial:
- Artikel September 2025 berjudul “Debunking Genocide Allegations Against Israel” yang membantah tuduhan genosida terhadap Israel.
- Berkali-kali membela operasi militer Israel sebagai “pertahanan diri” di tengah kecaman internasional atas korban sipil di Gaza.
Syuriyah PBNU menilai undangan ini sebagai:
- Pelanggaran berat terhadap nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
- Bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi NU yang menekankan pembelaan terhadap umat tertindas, termasuk Palestina.
- Memberi panggung kepada “jaringan Zionisme internasional” di saat Israel sedang melakukan agresi yang dikecam dunia sebagai “genosida”.
Risalah rapat secara eksplisit menyatakan bahwa acara tersebut memenuhi Pasal 8 huruf a Peraturan Perkumpulan NU No. 13/2025 tentang pemberhentian tidak hormat karena mencemarkan nama baik organisasi.
Selain itu, ada dua poin pendukung lain:
- Indikasi pelanggaran tata kelola keuangan di lingkungan PBNU yang berpotensi membahayakan status badan hukum organisasi serta melanggar hukum syara’ dan perundang-undangan.
- Proses pelaksanaan AKN NU tidak sesuai mekanisme organisasi.
Respons Gus Yahya: Maaf Sejak Agustus, Kini Melawan
Sejak polemik meledak pada Agustus 2025, Gus Yahya telah meminta maaf secara terbuka:
- Menyebut undangan Berkowitz sebagai “kelalaian” karena tidak memeriksa latar belakang secara mendalam.
- Menegaskan bahwa selama seminar, tidak ada pembahasan sama sekali tentang Israel-Palestina.
- Tetap mengutuk keras “tindakan brutal dan genosida Israel di Gaza”.
Namun, hingga 23 November 2025 malam, Gus Yahya menolak mundur. Ia bahkan meragukan keaslian risalah yang beredar, menyebutnya “tidak memenuhi standar resmi” dan belum menerima dokumen fisik secara langsung.
Respons lebih keras datang pada 22 November malam: Gus Yahya menggelar Rapat Koordinasi Darurat Ketua PWNU se-Indonesia di Surabaya. Pertemuan yang berlangsung hingga dini hari ini dihadiri puluhan ketua wilayah dan dianggap sebagai langkah konsolidasi untuk melawan keputusan Syuriyah. Beberapa PWNU sudah menyatakan dukungan penuh kepada Gus Yahya dan mempertanyakan prosedur rapat Syuriyah yang dianggap “sepihak dan tidak memberi ruang klarifikasi”.
Dinamika Internal NU: Tradisionalis vs Reformis?
Konflik ini bukan sekadar soal satu undangan. Banyak pengamat melihatnya sebagai benturan antara dua arus besar di NU:
- Kubu tradisionalis (didominasi ulama senior di Syuriyah) yang sangat sensitif terhadap isu Palestina dan menjaga kemurnian garis Ahlussunnah wal Jamaah.
- Kubu reformis/internasionalis yang dipimpin Gus Yahya, yang selama ini aktif mempromosikan “Islam Humanitarian” (Islam Nusantara yang rahmah-oriented), bahkan pernah bertemu Benjamin Netanyahu pada 2018 untuk misi perdamaian.
Gus Yahya dikenal sebagai tokoh yang berani membangun dialog dengan Barat dan Israel demi perdamaian global, tapi hal itu sering menuai kritik dari basis NU yang pro-Palestina militan.
Dampak dan Proyeksi
Hingga malam ini (23 November 2025):
- Batas ultimatum 3 hari belum berakhir (tergantung kapan risalah “resmi” diterima Gus Yahya).
- Belum ada tanda-tanda Gus Yahya akan mundur.
- Dukungan dari PWNU dan basis grassroot (Ansor-Banser) menguat, sementara ulama senior di Syuriyah tetap teguh.
Jika Gus Yahya diberhentikan paksa, ini akan menjadi preseden langka dalam sejarah NU: ketua umum dicopot di tengah masa jabatan oleh Syuriyah. Sebaliknya, jika Gus Yahya bertahan, bisa memicu perpecahan struktural yang lebih dalam.
Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) hanya menyatakan ini “dinamika internal” dan meminta warga NU tetap tenang serta menjaga ukhuwah.
Di tengah dunia Islam Indonesia yang sedang bergolak pasca-perang Gaza, krisis ini menunjukkan betapa sensitifnya isu Palestina bagi umat Muslim terbesar di dunia. Apakah NU akan keluar lebih bersatu, atau justru terbelah? Kita tunggu babak selanjutnya dalam beberapa hari ke depan.
Sumber: Reuters, Al Jazeera, The Times of Israel, Kompas, Tempo, Republika, dan risalah resmi yang beredar.