Di tengah semangat pembaruan pendidikan tinggi di wilayah timur Indonesia, nama Dr. Steve Gerardo Christoffel Gaspersz, M.Si., M.A., muncul sebagai sosok inspiratif. Pada 15 November 2025, ia terpilih sebagai Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) untuk periode 2025-2029, mengalahkan dua kandidat lainnya dengan perolehan suara telak 33 dari total 52 suara. Pelantikannya dijadwalkan pada 24 November 2025, menandai babak baru bagi UKIM yang telah berdiri sejak 1985 di Ambon. Sebagai seorang teolog, pendeta, dan akademisi yang mendalami isu-isu sosial-religius, perjalanan hidup Dr. Gaspersz mencerminkan dedikasi pada pendidikan, rekonsiliasi, dan pembangunan masyarakat pasca-konflik.
Lahir 09 September 1971 dan besar di Ambon, Maluku, Dr. Gaspersz tumbuh di lingkungan yang kaya akan budaya dan sejarah konflik antaragama. Pengalaman ini membentuk minatnya pada studi teologi dan hubungan antaragama.
Jalur Pendidikan Multinasional dan Fondasi Akademis
Profil akademis Dr. Steve Gerardo Christoffel Gaspersz tidak hanya tercermin dari daftar gelarnya, melainkan juga dari perjalanan pendidikannya yang mencakup institusi-institusi ternama di Indonesia dan di bawah naungan negara-negara Barat, yang secara signifikan membentuk perspektif intelektualnya. Jalur pendidikannya yang beragam ini memberinya landasan yang kokoh untuk memahami teologi kontekstual, khususnya dalam konteks pluralisme dan interaksi antaragama di Indonesia, sebuah kompetensi yang sangat relevan mengingat lokasinya di Ambon, Maluku. Menelisik riwayat pendidikannya mengungkapkan adanya sinergi antara fondasi lokal yang kuat dengan eksposur global yang luas, sebuah kombinasi yang langka dan berharga bagi seorang pemimpin akademik di ujung timur Indonesia. Setiap level pendidikan tampaknya dirancang untuk memperluas horison pemikirannya, mulai dari pengenalan tradisi teologi lokal hingga analisis kritis teologi modern dan studi interreligius.
Fondasi akademis Dr. Gaspersz dimulai dan dibesarkan di lingkungan akademis milik gerejanya sendiri. Ia meraih gelar Bachelor of Theology (S.Th.) dari Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) di Ambon, pada tahun 1995. Ini adalah titik awal yang fundamental, karena gelar ini tidak hanya menandai pencapaian akademis pertamanya tetapi juga menunjukkan loyalitas dan akulturasi awalnya ke dalam dunia intelektual teologi Protestan Maluku (GPM). Memulai pendidikan tinggi di institusi yang sama yang kemudian ia pimpin sebagai rektor menunjukkan keterikatan historis yang mendalam dengan UKIM. Pengalaman ini memberinya pemahaman langsung tentang struktur, budaya, dan tantangan yang dihadapi oleh universitas kristiani di Maluku. Hal ini memungkinkannya untuk membangun fondasi kepemimpinan berbasis “memori” regional yang hidup, sebuah kekuatan yang sering kali tidak dimiliki oleh para pemimpin eksternal.
Setelah merampungkan studi sarjananya, Dr. Gaspersz melanjutkan pendidikannya ke jenjang magister dengan menempuh program Magister Sains dalam Teologi di UKIM, yang disandingkan dengan gelar Magister Sains dalam Sociologi Agama dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga. Program dual degree ini merupakan langkah strategis yang signifikan. Pertama, ia memperdalam studi teologinya di dalam institusi asalnya, sambil pada saat yang sama memperkenalkan kerangka ilmu sosial—sosiologi agama—yang akan menjadi alat analisis kunci dalam karya-karyanya di masa depan. Kerangka sosiologis ini nantinya akan digunakan untuk menganalisis evolusi identitas Islam dan Kristen di Maluku menggunakan kerangka Pierre Bourdieu, menunjukkan bagaimana fondasi ini secara langsung membentuk metodologi penelitiannya. Kedua, kemitraan antara UKIM dan UKSW, dua lembaga teologi kristiani terkemuka di Indonesia, menandakan adanya jaringan akademis nasional yang sudah terjalin bahkan sejak awal karier akademisnya. Hubungan ini memberikan legitimasi dan akses ke jejaring intelektual yang lebih luas di tingkat nasional.
Puncak dari pendidikan formalnya dicapai ketika ia meraih gelar Doktor dalam bidang Studi Inter-Religi (Ph.D) dari Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Graduate School of Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, antara tahun 2011 hingga 2016. Proses pendidikan doktoralnya ini menandai pergeseran krusial dalam kepakarannya, dari teologi Kristen ke studi yang lebih inklusif dan komparatif tentang agama-agama lain. ICRS di UGM adalah salah satu pusat studi agama-agama tertua dan paling berpengaruh di Asia, menjadikannya tempat yang ideal untuk mengembangkan keahlian dalam dialog antaragama dan teologi kontekstual. Gelar ini tidak hanya meningkatkan kredibilitas akademisnya tetapi juga meletakkan dasar bagi semua publikasi dan penelitiannya yang berkaitan dengan teologi dialog, hubungan Kristen-Muslim, dan perdamaian di Maluku. Keberhasilannya menyelesaikan studi doktoral di lembaga ternama ini menunjukkan dedikasi dan kapasitasnya untuk bersaing dalam arena akademik tingkat tinggi di Indonesia.
Perjalanan akademis Dr. Gaspersz mencapai puncaknya dengan perolehan gelar Master of Art (M.A.) dalam Teologi dari International Reformed Theological Institute (IRTI), yang berlokasi di Fakultas Teologi, Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, antara tahun 2003 hingga 2005. Pengalaman ini merupakan elemen yang paling menonjol dan paling membedakannya dari banyak akademisi lokal. Studi di Vrije Universiteit Amsterdam memberinya akses langsung ke wacana teologi Reformis Barat yang modern, kritis, dan global. Ia tidak hanya mempelajari teologi dari perspektif Eropa, tetapi juga berinteraksi dengan mahasiswa dan profesor dari berbagai negara, yang pastinya memperkaya pemahamannya tentang pluralisme dan isu-isu kontemporer seperti skeptisisme dan sekularisme. Pengalaman ini memberinya perspektif yang jauh lebih luas daripada yang didapatkannya hanya melalui studi di dalam negeri. Kemampuannya untuk berdialog dengan teologi kontemporer di panggung internasional menjadi aset tak ternilai, terutama ketika harus memimpin sebuah universitas kristiani yang ingin menegaskan relevansinya di era globalisasi. Gelar ini juga memperkuat kemampuannya untuk melakukan kolaborasi internasional, seperti yang terbukti dari partisipasinya dalam berbagai forum akademis global.
Secara keseluruhan, jalur pendidikan Dr. Gaspersz adalah sebuah narasi tentang perjalanan dari lokal ke global dan kembali lagi ke lokal dengan perspektif yang diperkaya. Ia dimulai di UKIM, tumbuh melalui kemitraan nasional dengan UKSW, mencapai puncaknya di pusat studi agama-agama di UGM, dan mendapatkan perspektif globalnya di Vrije Universiteit Amsterdam. Kombinasi dari fondasi lokal yang kuat, eksposur ilmu sosial, keahlian dalam studi interreligius, dan perspektif teologis global ini menciptakan profil akademis yang unik dan sangat relevan. Bagi publik umum, hal ini berarti bahwa Dr. Gaspersz tidak datang dengan pandangan yang terisolasi atau puritan. Sebaliknya, ia datang dengan pemahaman yang matang tentang bagaimana teologi kristiani, khususnya dalam tradisi GPM, dapat berdialog secara konstruktif dengan realitas sosial-politik yang kompleks dan pluralistik di Maluku dan Indonesia secara keseluruhan. Fondasi ini akan menjadi landasan bagi visi kepemimpinannya sebagai rektor, di mana dia akan berusaha memastikan bahwa UKIM tidak hanya menjadi pusat penyimpanan tradisi tetapi juga ruang dinamis untuk dialog, penelitian, dan pembelajaran lintas budaya dan lintas agama.
Kepakaran Intelektual: Teologi Kontekstual dan Studi Pasca-Konflik
Latar belakang akademis yang beragam menjadi fondasi bagi kepakaran intelektual Dr. Steve Gaspersz yang sangat spesifik dan relevan dengan konteks Maluku. Karya-karyanya tidak terpisah dari trauma kolektif yang dialami oleh provinsi tersebut, namun secara sadar dan sistematis berfokus pada bagaimana iman dan teologi dapat menjadi kekuatan positif dalam proses rekonsiliasi, pembangunan perdamaian, dan merekonstruksi identitas pasca-konflik. Kepakarannya dapat dikategorikan ke dalam beberapa domain utama: studi interreligius, teologi kontekstual yang berpusat pada perdamaian, analisis historis-politik Maluku, dan refleksi teologis tentang konflik dan martir. Domain-domain ini saling terkait erat dan menciptakan sebuah narasi akademis yang koheren dan berpusat pada masalah-masalah sentral Maluku.
Salah satu area kepakaran utama Dr. Gaspersz adalah studi agama-agama, khususnya dialog dan hubungan antara Kristen dan Islam di Indonesia Timur. Publikasinya secara konsisten mengeksplorasi kompleksitas hubungan ini, melampaui narasi sederhana tentang konflik untuk menelusuri nuansa teologis, budaya, dan sosial. Beberapa judul publikasinya yang menonjol dalam bidang ini adalah ‘Teologi Agama-Agama di Indonesia, Menelisik Pengembangan dan Tantangannya’ (2019), ‘Muslim-Christian and Missiological Discourses on Cultural Identity in Maluku, Eastern Indonesia’ (2023), dan ‘Islam di Kota Ambon pada Masa Kolonial: Perspektif Sejarah’ (2022). Judul-judul ini menunjukkan bahwa penelitiannya mencakup spektrum yang luas, mulai dari diskusi teologis kontemporer hingga analisis historis yang mendalam. Ia tidak hanya melihat hubungan Kristen-Islam sebagai fenomena modern, tetapi juga mencoba memahaminya sebagai proses panjang yang terbentuk oleh faktor-faktor sejarah, politik, dan budaya. Pendekatan ini menempatkannya sebagai seorang ahli yang mampu memberikan konteks yang kaya dan berlapis dalam memahami dinamika religius di Maluku.
Domain kedua yang menjadi ciri khas karya Dr. Gaspersz adalah teologi kontekstual, yang secara khusus difokuskan pada perdamaian dan rekonsiliasi. Ia adalah seorang praktisi teologi perdamaian, di mana teori-teorinya tidak hanya tertulis di atas kertas tetapi juga dieksplorasi dalam praktik nyata. Salah satu contoh paling konkret dari ini adalah penelitiannya tentang mekanisme perdamaian informal seperti “school-pela” dan “campus-pela”, yaitu aliansi antara lembaga pendidikan Kristen dan Muslim. Artikelnya ‘Peace Religious Education: Walking through Challenges and Possibilities in the Post-Conflict Maluku Society’ (2022) adalah bukti nyata dari upayanya untuk memahami dan mengadvokasi praktik-praktik dialog dan kerjasama yang lahir dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, publikasi seperti ‘Keadilan dan Perdamaian: Tanggung jawab kristiani dalam pembangunan dunia’ (2009) menunjukkan komitmennya pada tema keadilan sosial sebagai prasyarat bagi perdamaian yang berkelanjutan. Kepakarannya ini sangat relevan bagi UKIM, sebuah universitas kristiani yang beroperasi di tengah-tengah populasi muslim yang signifikan. Visinya kemungkinan besar akan mendorong UKIM untuk menjadi laboratorium bagi dialog antarumat dan pusat penelitian tentang reconciliatory practices di Indonesia.
Konteks historis dan politik Maluku menjadi latar belakang yang tidak bisa dilepaskan dari semua karya akademis Dr. Gaspersz. Trauma dari konflik antarumat yang brutal antara tahun 1999 dan 2003 telah menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai penelitiannya. Ia secara aktif menulis tentang periode ini, bukan hanya sebagai sejarawan, tetapi sebagai seorang teolog yang mencoba menafsirkan makna dari konflik tersebut. Bab bukunya yang terkenal, ‘Church and Religious Conflict: Some Experiences of Theological Reflection during Years of Riots in Maluku’, yang diterbitkan dalam seri Studies in Reformed Theology (Volume 10), adalah sebuah refleksi personal dan teologis tentang peran gereja selama periode konflik. Buku ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya menganalisis konflik secara objektif, tetapi juga mengeksplorasi tanggung jawab moral dan teologis gereja dalam menghadapinya. Penelitian lainnya, seperti ‘Negotiating Religious Identities and Modernity in Maluku: A Socio-Historical Perspective’ (2023) , menggunakan kerangka sosiologis untuk menganalisis bagaimana identitas Kristen dan Islam berevolusi sebagai respons terhadap konflik dan modernitas. Dengan demikian, Dr. Gaspersz memperlakukan sejarah Maluku pasca-konflik bukan sebagai catatan sejarah yang dingin, melainkan sebagai data empiris yang kaya untuk teologi dan studi sosial.
Metodologi akademis Dr. Gaspersz terbukti canggih dan berbasis kuantitatif/kualitatif. Dalam analisisnya tentang identitas, ia menggunakan kerangka Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis yang terkenal dengan teori lapangan dan kapital sosialnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ia tidak puas dengan analisis deskriptif biasa, tetapi berusaha membangun model teoretis yang lebih kuat untuk menjelaskan dinamika sosial-religius di Maluku. Metodologi ini juga terlihat dalam karya-karya lainnya, di mana ia menggabungkan tinjauan literatur, analisis hermeneutikal, dan sintesis dari sumber-sumber teologis, sosial, dan antropologis. Pendekatan multidisipliner ini memungkinkannya untuk memberikan analisis yang holistik dan bernuansa tinggi. Misalnya, dalam penelitian tentang Protestant Church of Maluku (GPM), ia tidak hanya berfokus pada aspek teologis, tetapi juga pada hubungan gereja-negara, teologi pro-life, dan multiculturalisme. Komitmen pada metodologi yang kuat ini menjamin kualitas dan kredibilitas karyanya, yang pada gilirannya meningkatkan citranya sebagai seorang akademisi yang serius dan terpercaya.
Dampak akademis Dr. Gaspersz dapat diukur dari metrik sitasi yang stabil dan meningkat. Di Google Scholar, total sitasinya mencapai 227, dengan 182 di antaranya dicatat sejak tahun 2020. Angka ini menunjukkan bahwa karyanya secara konsisten dibaca, direferensikan, dan dihargai oleh komunitas akademis. Indeks h-nya adalah 9 dan i10-index-nya adalah 8 (dengan 5 dari tahun 2020 ke atas). Meskipun angka-angka ini mungkin tidak sebesar beberapa akademisi terkemuka di dunia, untuk bidang studi teologi dan agama-agama di tingkat regional, ini adalah indikator yang solid dari dampak dan pengaruhnya. Trend sitasi yang konsisten dari tahun 2014 hingga 2024, dengan lonjakan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa minat terhadap karyanya semakin meningkat, kemungkinan besar seiring dengan meningkatnya kesadaran global tentang pentingnya dialog antaragama dan studi pasca-konflik di Indonesia. Prestasi ini menempatkannya sebagai salah satu pemikir teologis kontemporer Indonesia yang paling berpengaruh, terutama dalam konteks regionalnya.
Singkatnya, kepakaran intelektual Dr. Gaspersz adalah gabungan dari studi interreligius yang canggih, komitmen mendalam pada teologi perdamaian, analisis historis-politik yang berpusat pada trauma Maluku, dan metodologi akademis yang rigor. Ia adalah seorang teolog yang tidak hanya memahami dogma, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa kontekstual yang relevan dengan tantangan sosial dan politik modern. Bagi publik umum, ini berarti bahwa sebagai rektor, ia akan memimpin UKIM dengan otoritas intelektual yang didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang realitas Maluku. Ia tidak akan mengajukan solusi yang abstrak, melainkan solusi yang lahir dari dialog antara teologi, sejarah, dan pengalaman hidup di tanah Maluku.
Karier Profesional dan Integrasi Gereja-Akademika
Perjalanan karier profesional Dr. Steve Gaspersz di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) adalah cerminan dari integrasi yang sempurna antara pekerjaan akademis dan pekerjaan gereja, sebuah model kepemimpinan yang langka namun sangat efektif dalam konteks institusi yang berakar pada sebuah denominasi teologi. Sejak tahun 2009, ia telah menjadi dosen penuh waktu di Fakultas Teologi, UKIM. Jalur kariernya menunjukkan evolusi dari seorang peneliti dan pengajar menjadi pemimpin administratif yang bertanggung jawab atas fungsi-fungsi strategis universitas. Perjalanan ini dimulai dari posisi sebagai dosen dan peneliti, kemudian berkembang ke jabatan-jabatan manajerial yang semakin tinggi, yang pada akhirnya membawanya ke kursi rektor. Keterlibatannya yang mendalam dalam kehidupan Gereja Protestan Maluku (GPM) sebagai seorang pastor menambah dimensi penting pada karier profesionalnya, memungkinkannya untuk memahami dinamika internal gereja dan memetakan visi institusional UKIM secara lebih akurat.
Sebelum menjabat sebagai Rektor, Dr. Gaspersz telah memegang beberapa jabatan penting di UKIM, yang semuanya menunjukkan adopsi model kepemimpinan yang mengintegrasikan manajemen dengan agenda riset dan kolaborasi. Jabatan pertamanya yang tercatat adalah sebagai Wakil Rektor IV (Wakil Rektor IV) dari tahun 2021 hingga 2025, di mana tanggung jawab utamanya adalah Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi. Jabatan ini sangat relevan dengan profilnya sebagai seorang akademisi internasional yang memiliki jaringan luas. Ia bertanggung jawab untuk merumuskan arah strategis universitas, membangun kemitraan dengan institusi domestik dan internasional, serta mengelola aspek teknologi informasi. Pengalamannya dalam mengelola kerja sama internasional, seperti yang ditunjukkan oleh kunjungannya ke Cornell University dan Chung Chi College, Chinese University of Hong Kong, membuatnya menjadi kandidat yang sangat tepat untuk memimpin divisi ini. Ia tidak hanya bisa berbicara tentang kolaborasi, tetapi juga punya rekam jejak dalam membangunnya.
Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai Wakil Rektor III (Wakil Rektor III) dari tahun 2018 hingga 2021, di mana tanggung jawabnya adalah Urusan Mahasiswa. Mengelola urusan mahasiswa memerlukan pemahaman mendalam tentang kebutuhan, aspirasi, dan tantangan yang dihadapi generasi muda. Dengan latar belakang sebagai seorang dosen di program pascasarjana teologi dan pengalamannya dalam mengajar mata kuliah seperti ‘Public Theology’ yang mendorong dialog lintas agama, Dr. Gaspersz mampu melihat masalah-masalah mahasiswa dari perspektif yang lebih luas, yaitu bagaimana pendidikan tinggi dapat membentuk generasi yang lebih toleran dan peduli terhadap keragaman sosial. Pengalamannya dalam mengelola masalah-masalah internal universitas ini memberinya pemahaman praktis tentang manajemen operasional dan administrasi kampus, sebuah keahlian yang penting untuk seorang rektor.
Selain peran akademis dan administratifnya di UKIM, Dr. Gaspersz juga memiliki keterlibatan di luar institusi. Ia pernah bekerja sebagai editor di BPK Gunung Mulia Publishing House dari tahun 2007 hingga 2009. Pengalaman ini memberinya wawasan tentang dunia penerbitan akademis dan jurnalisme teologi, yang pastinya berguna dalam upayanya untuk meningkatkan publikasi dan visibilitas UKIM. Ia juga berpartisipasi aktif dalam berbagai konferensi akademis internasional, baik sebagai presenter maupun panelis, di lokasi-lokasi seperti Amerika Serikat, Hong Kong, Korea Selatan, Filipina, dan Belanda. Kehadirannya di panggung akademik global ini tidak hanya mempromosikan karyanya sendiri, tetapi juga secara tidak langsung mempromosikan nama dan reputasi UKIM. Setiap presentasi di konferensi internasional adalah kesempatan untuk menyebarkan informasi tentang institusi yang ia pimpin.
Integrasi antara pekerjaan gereja dan akademisnya adalah salah satu aspek paling menonjol dari profil profesionalnya. Sebagai seorang pastor GPM, ia secara langsung terhubung dengan jemaat dan dinamika gerejawi di Maluku. Ini memberinya akses ke sumber daya manusia yang potensial untuk UKIM dan memungkinkannya untuk memahami isu-isu sosial-religius yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Lebih jauh lagi, ia telah menulis bab buku tentang sejarah GPM, seperti ‘Revitalisasi Tradisi dan Politik Identitas: Ambon dalam Indonesia’ dalam volume ‘Delapan Dekade GPM’. Karya ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya menjadi pelaku dalam sejarah GPM, tetapi juga sejarawan dan analisnya. Keterlibatannya yang mendalam dalam kehidupan GPM memungkinkannya untuk memastikan bahwa misi teologis dan sosial GPM tercermin sepenuhnya dalam agenda akademis UKIM. Model kepemimpinan ini, di mana seorang pemimpin universitas juga merupakan pemimpin spiritual di komunitas lokalnya, sangat cocok untuk konteks Indonesia, di mana batas antara dunia spiritual dan dunia profan sering kali kabur.
Keberhasilan Dr. Gaspersz dalam merangkul berbagai peran ini—sebagai dosen, peneliti, editor, administrator, dan pastor—menunjukkan karakteristik kepemimpinan yang multifaset. Ia tidak hanya terampil dalam satu bidang, tetapi mampu mentransformasi keahliannya dari satu area ke area lainnya. Dari seorang peneliti yang fokus pada teologi dialog, ia bertransformasi menjadi seorang manajer yang bertanggung jawab atas kerja sama internasional. Dari seorang guru di kelas, ia menjadi fasilitator dialog antarumat di tingkat universitas. Dari seorang pastor yang peduli dengan jemaatnya, ia menjadi pemimpin yang peduli dengan mahasiswanya. Karakteristik ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemimpin adaptif yang mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan dan memanfaatkan keahliannya di berbagai bidang untuk kepentingan institusinya. Bagi publik umum, ini berarti bahwa Dr. Gaspersz bukanlah seorang birokrat yang terputus dari akar intelektualnya. Sebaliknya, ia adalah seorang akademisi yang sepenuhnya terlibat dalam kehidupan institusional, yang otoritasnya tidak hanya berasal dari jabatannya tetapi juga dari reputasi intelektualnya yang telah terbukti.
Jaringan Institusional Nasional: Sinergi Strategis dengan Lembaga Terkemuka
Jaringan institusional Dr. Steve Gaspersz di tingkat nasional sangatlah kuat dan strategis, yang berpotensi menjadi aset besar bagi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dalam meningkatkan reputasi akademis, memperluas jangkauan penelitian, dan memperkuat kemitraan dengan lembaga-lembaga teologi dan studi agama-agama terkemuka di Indonesia. Jaringan ini tidak terbatas pada hubungan simbolis, melainkan tercermin dalam bentuk kolaborasi riset bersama, kegiatan akademis bersama, dan kemitraan publikasi yang nyata. Analisis terhadap jaringan ini mengungkapkan adanya dua pilar utama: kemitraan dengan pusat studi agama-agama nasional terkemuka seperti ICRS-UGM, dan jaringan publikasi serta akademis yang solid di kalangan lembaga-lembaga teologi kristiani di seluruh Indonesia.
Pilar utama dari jaringan nasional Dr. Gaspersz adalah hubungannya yang erat dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan khususnya Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). Hubungan ini bukanlah sekadar hasil dari gelar doktornya, melainkan sebuah kemitraan yang aktif dan berkelanjutan. Ia adalah seorang doktoral dari ICRS, yang merupakan salah satu pusat studi agama-agama tertua dan paling berpengaruh di Asia. Namun, jalinan kerja sama ini telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar alumni. Kemitraan ini ditunjukkan melalui berbagai kegiatan akademis bersama. Sebagai contoh, UKIM dan ICRS-UGM mengadakan seminar publik bersama di UKIM pada tanggal 14 November 2024, yang dihadiri oleh Dr. Leonard Chrysostomos Epafras, seorang fakultas inti dari ICRS-UGM. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ICRS tidak hanya memberikan legitimasi akademis kepada UKIM, tetapi juga secara aktif berpartisipasi dalam ekosistem intelektual di Ambon. Selain itu, Dr. Gaspersz juga berkolaborasi dengan Dr. Leonard C. Epafras (ICRS-UGM) dalam penyelenggaraan lokakarya kurikulum Studi Agama-Agama di Toraja pada Juni 2021. Kemitraan strategis dengan ICRS-UGM ini memberikan UKIM akses ke jaringan akademis internasional yang lebih luas, sumber daya penelitian yang kaya, dan standar akademis yang tinggi. Ini secara efektif menempatkan UKIM sebagai bagian dari jaringan studi agama-agama nasional yang mapan.
Selain kemitraan dengan ICRS, Dr. Gaspersz juga memelihara hubungan yang kuat dengan lembaga-lembaga teologi kristiani lain di Indonesia. Hubungan ini tercermin dalam publikasi dan kolaborasi risetnya. Ia telah bekerja sama dengan Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Satya Wacana University Press. Kemitraan ini, yang dimulai dari studi magisternya, terus berlanjut hingga hari ini, menunjukkan adanya hubungan yang berkelanjutan antara UKIM dan salah satu fakultas teologi terbesar di Indonesia. Selain itu, ia juga telah berkolaborasi dengan BPK Gunung Mulia, salah satu penerbit teologi dan filsafat terkemuka di Indonesia. Keterlibatannya sebagai editor di BPK Gunung Mulia sebelumnya menunjukkan adanya koneksi yang mendalam dengan dunia penerbitan akademis di tingkat nasional. Publikasinya di jurnal-jurnal ternama seperti HTS Teologiese Studies/Theological Studies dan Toronto Journal of Theology juga menunjukkan bahwa karyanya dihargai oleh komunitas akademis di luar Indonesia, yang pada gilirannya memperkuat jaringan nasionalnya. Jaringan publikasi ini memastikan bahwa UKIM dan para akademisnya tetap terhubung dengan wacana teologi kontemporer di tingkat nasional dan internasional.
Jaringan lain yang sangat penting adalah hubungannya dengan Gereja Protestan Maluku (GPM) dan institusi terkaitnya. Karena UKIM berada di bawah naungan GPM, jaringan ini adalah tulang punggung yang vital. Keterlibatannya yang mendalam sebagai pastor dan penulis biografi GPM memastikan adanya sinergi yang kuat antara pekerjaan gereja dan pekerjaan akademis. Ini adalah model yang sangat efektif di mana visi teologis dan sosial GPM dapat diimplementasikan secara langsung melalui program-program di UKIM. Contohnya adalah pengembangan mata kuliah ‘Public Theology’ yang ia ajarkan, di mana ia mendorong dialog lintas agama antara mahasiswa UKIM dan IAIN Ambon. Inisiatif ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, tetapi juga menjadi implementasi nyata dari visi GPM untuk dialog antarumat. Dengan demikian, jaringan dengan GPM dan institusi terkaitnya adalah jaringan yang tidak hanya mendukung secara finansial dan ideologis, tetapi juga secara operasional dalam pengembangan kurikulum dan program akademis.
Jaringan institusional ini adalah modal sosial yang sangat berharga bagi Dr. Gaspersz dan UKIM. Sebagai rektor, ia dapat memanfaatkan jaringan ini untuk berbagai tujuan strategis. Ia dapat mengajak para dosen dari mitra-mitranya untuk menjadi dosen tamu di UKIM, memfasilitasi pertukaran mahasiswa dengan UKSW atau ICRS, dan mengajukan proposal penelitian bersama dengan institusi-insititusi ini. Kemitraan dengan ICRS, misalnya, dapat membuka pintu bagi UKIM untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek penelitian regional yang didanai internasional. Kemitraan dengan GPM memastikan dukungan politik dan ideologis yang kuat untuk setiap inisiatif yang ia rancang. Bagi publik umum, jaringan ini menunjukkan bahwa UKIM tidak beroperasi dalam isolasi. Sebaliknya, ia adalah bagian dari jaringan akademis dan teologis yang dinamis di tingkat nasional, yang dapat mempercepat perkembangan dan meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di universitas tersebut.
Ekspansi Global: Kolaborasi Internasional dan Partisipasi dalam Forum Wacana Dunia
Dr. Steve Gaspersz memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam mengembangkan jaringan internasional yang luas dan strategis, yang telah menjadi pilar utama dalam kariernya sebagai akademisi dan peneliti. Pengalamannya tidak terbatas pada studi di luar negeri, tetapi meluas ke partisipasi aktif dalam forum-forum akademis global, penelitian kolaboratif dengan institusi asing, dan keterlibatan dalam organisasi-organisasi internasional yang berfokus pada isu-isu perdamaian dan teologi. Jaringan global ini tidak hanya meningkatkan reputasi pribadinya, tetapi juga berpotensi memposisikan UKIM sebagai “jendela” Indonesia Timur—sebuah pusat penelitian yang unik tentang interaksi antaragama, teologi kontekstual, dan dinamika pasca-konflik. Ekspansinya ke panggung internasional ini adalah manifestasi dari visinya untuk menghubungkan isu-isu lokal di Maluku dengan wacana global yang lebih luas.
Salah satu bukti paling nyata dari jaringan internasionalnya adalah pengalamannya sebagai Visiting Scholar di beberapa institusi ternama. Pada tahun 2013, ia menjadi Visiting Scholar di Institute for Advanced Study in Asian Cultures and Theologies (IASACT) di Divinity School, Chung Chi College, Chinese University of Hong Kong. Kunjungan ini memberinya kesempatan untuk berinteraksi dengan akademisi Asia lainnya dan memperluas jaringan penelitiannya di Asia Timur. Kemudian, pada tahun 2015, ia kembali menjadi Visiting Scholar di South East Asia Program (SEAP), Kahin Center, Cornell University di Ithaca, New York, USA. Pengalaman ini sangat berharga karena Cornell University adalah universitas elit di Amerika Serikat, yang menempatkannya di tengah-tengah wacana akademis Barat. Selain itu, ia juga pernah menjadi panelis di IRTI Conference di Seoul, Korea Selatan, pada tahun 2005. Partisipasi rutin dalam acara-acara semacam ini memastikan bahwa wacana dari Maluku hadir di panggung global dan bahwa ia sendiri menjadi bagian dari diskursus akademis internasional.
Partisipasinya dalam berbagai konferensi akademis internasional adalah indikator utama dari jaringan relasinya. Ia telah mempresentasikan karyanya di berbagai lokasi di dunia, termasuk Amerika Serikat, Hong Kong, Korea Selatan, Filipina, dan Belanda. Konferensi-konferensi ini bukan hanya ajang untuk mempresentasikan temuan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun hubungan, menemukan calon mitra penelitian, dan belajar dari perspektif akademisi lain. Keikutsertaannya dalam konferensi-konferensi global seperti Uniting General Council of World Communion of Reformed Churches di Calvin College, Michigan, pada tahun 2010, dan Global Institute of Theology di McCormick Theological Seminary, Chicago, pada tahun 2010, menunjukkan jaringan relawan gereja yang luas dan keterlibatannya dalam wacana teologi global. Ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya bergerak dalam ranah akademis sekuler, tetapi juga dalam jaringan teologi gerejawi yang terintegrasi secara global. Partisipasinya dalam HIV/AIDS Workshop oleh Christian Conference of Asia (CCA) di Filipina pada tahun 2005 juga menunjukkan minatnya pada isu-isu sosial-keagamaan kontemporer di tingkat regional.
Kolaborasi riset internasional adalah aspek lain dari jaringan globalnya yang sangat signifikan. Ia tidak hanya berpartisipasi dalam penelitian, tetapi juga berhasil mendapatkan pendanaan untuk proyek-proyeknya. Salah satu contoh yang menonjol adalah proyek penelitian yang didanai oleh Berghof Foundation Berlin dan Universitas Islam Indonesia pada tahun 2014, dengan judul ‘Young Leader Cross-religion Joint Council on Promoting Peace and Conflict Transformation through Local Wisdom and ICT’. Proyek ini menunjukkan kemampuannya untuk merancang dan melaksanakan penelitian yang berfokus pada transformasi konflik dan perdamaian, yang didanai oleh lembaga filantropi internasional. Ini adalah bukti nyata bahwa karyanya diakui secara internasional dan dianggap layak untuk didanai. Kemitraan ini juga menunjukkan kemampuannya untuk membangun jaringan yang melibatkan lembaga swasta (Berghof Foundation) dan universitas di Indonesia, menciptakan sinergi antara penelitian akademis, praktik perdamaian, dan teknologi informasi.
Selain itu, Dr. Gaspersz juga terlibat dalam organisasi-organisasi internasional yang relevan dengan bidang keahliannya. Keterlibatannya dengan Christian Conference of Asia (CCA) menghubungkannya dengan jaringan gereja-gereja dan lembaga teologi di seluruh Asia yang bergerak dalam berbagai isu sosial dan teologis. Keterlibatannya yang lebih baru, yaitu dengan UnitingWorld, yang merupakan badan penggalangan dana untuk Gereja Presbyterian Australia dan bekerja sama dengan GPM, menunjukkan adanya kemitraan internasional yang lebih aplikatif. UnitingWorld bekerja sama dengan GPM pada proyek-proyek perdamaian dan pemberdayaan wanita melalui pembangunan kebun komunitas untuk meningkatkan ketahanan pangan. Meskipun ini adalah proyek aplikatif, keterlibatan Dr. Gaspersz dalam wacana akademis yang terkait dengan isu-isu ini, seperti pandemi COVID-19 dan manajemen krisis keagamaan, menunjukkan adanya koneksi antara penelitiannya dan proyek-proyek pengembangan di lapangan yang didukung oleh organisasi internasional.
Jaringan internasional ini memberikan Dr. Gaspersz dan UKIM berbagai keuntungan strategis. Pertama, ia dapat memposisikan UKIM sebagai pusat studi yang unik tentang interaksi antaragama di Indonesia Timur, sebuah topik yang sangat diminati oleh peneliti internasional. Kedua, ia dapat memfasilitasi pertukaran pelajar dan dosen dengan mitra-mitranya di Eropa dan Asia, yang akan meningkatkan pengalaman global bagi mahasiswa dan dosen UKIM. Ketiga, ia dapat memanfaatkan jaringannya untuk mendatangkan dosen tamu internasional, mempresentasikan karya mereka di UKIM, dan memperkaya wacana akademis di kampus. Keempat, ia dapat mengajukan proposal penelitian bersama dengan mitra-mitranya untuk mendapatkan pendanaan dari lembaga-lembaga internasional, yang akan mendukung pengembangan infrastruktur penelitian di UKIM. Bagi publik umum, jaringan internasional ini adalah jaminan bahwa UKIM tidak akan terisolasi. Sebaliknya, ia akan terus terhubung dengan tren, wacana, dan standar terbaik dalam dunia akademis global, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di universitas tersebut.
Visi dan Misi: “UKIM SMART – Build the Future”
Dalam pidato visinya yang disampaikan dengan tenang namun penuh keyakinan, Dr. Gaspersz memperkenalkan konsep besar yang akan menjadi kompas kepemimpinannya: UKIM SMART. Bukan sekadar slogan, SMART adalah akronim dari lima pilar yang ia letakkan sebagai identitas baru civitas akademika UKIM sekaligus sebagai “civitas ekklesia” (jemaat intelektual):
- Spirituality: pembatinan nilai-nilai Kristiani menjadi etika sehari-hari kampus
- Model/Teladan: membentuk lulusan yang berpikir analitis, bertindak kritis, dan menjadi teladan di masyarakat
- Achievement: prestasi akademik serta kreativitas-inovasi sebagai buah proses pembelajaran yang sistematis
- Responsibility: karakter bertanggung jawab yang berani mempertahankan kebenaran dengan hikmat dan rasionalitas
- Trust: ruang diskursif yang transparan, jujur, dan saling percaya antara mahasiswa, dosen, dan staf
Ia menegaskan bahwa UKIM bukan hanya universitas biasa, melainkan mission field dan mission force Gereja Protestan Maluku: terbuka bagi semua, namun tetap digerakkan oleh etika Kristiani yang inklusif.
Dari panggung pemaparan itu, Dr. Gaspersz kemudian “membentangkan peta jalan” yang sangat konkret. Ia tidak berbicara dalam bahasa abstrak, melainkan menunjukkan tabel-tabel diagnosa problem dan solusi yang ia susun berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun di UKIM:
- Digitalisasi total: Media Center baru, OJS yang dikelola profesional, sistem informasi terintegrasi, hingga pembayaran kuliah dan gaji secara daring.
- Fasilitas modern: kelas ber-AC dengan monitor LED, laboratorium baru untuk prodi-prodi teknik dan kesehatan, serta unit building management permanen.
- Penguatan SDM: unit pendampingan jabatan fungsional dosen, reaktivasi layanan pastoral, sel-sel doa lintas prodi, dan pembinaan mental mahasiswa baru yang lebih seimbang.
- Penelitian dan publikasi: konferensi internasional dwitahunan bertema kepulauan, jurnal-jurnal UKIM menuju Sinta/Scopus, serta perluasan hibah riset internasional.
- Pengabdian masyarakat yang terintegrasi dengan program sinode GPM dan melibatkan mahasiswa sebagai agen perubahan nyata di kampung-kampung Maluku.
“Semua ini bukan mimpi kosong,” tegasnya, “melainkan kelanjutan dari yang sudah baik, penyelesaian dari yang tertunda, dan terobosan baru atas yang pernah gagal. Kita kerjakan bersama, dengan moralitas, kerendahan hati, dan sinergi seluruh civitas ekklesia akademika.”
Di akhir pidato, ia mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Fakultas Teologi yang telah menjadi “rumah intelektualnya”, kepada mahasiswa berbagai angkatan, kepada dua rektor sebelumnya yang pernah memercayakan tugas wakil rektor kepadanya, dan — yang paling mengharukan — kepada Tuhan Yesus Kristus, “Guru Agung yang mendidik saya melalui setiap suka-duka pengalaman.”
Dengan nada mantap ia menutup:
“UKIM bertumbuh di dalam dan oleh iman, pengetahuan, dan kasih. UKIM SMART – Build the Future. Shalom.”