Jacklevyn Frits Manuputty adalah sosok yang tak asing di kalangan Gereja Protestan Maluku dan dunia keagamaan Indonesia. Di tahun 2024, ia terpilih sebagai Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) untuk masa pelayanan 2024-2029 melalui sidang lima tahunan di Toraja Utara, menggantikan Gomar Gultom dalam posisi penting ini. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum PGI periode 2019-2024. Jacky membawa harapan baru bagi masyarakat gerejawi dan pluralisme keagamaan di Indonesia.
Panggilan Pelayanan
Pilihan Jacky untuk menjadi pendeta sebenarnya bukanlah suatu keputusan yang direncanakan sejak kecil. Baru setelah menyelesaikan pendidikan di SMA, ia memilih untuk melanjutkan pendidikan di sekolah teologi. “Itu merupakan dorongan pribadi, meski keputusan saya masuk sekolah teologi mengejutkan teman-teman saya. Karena ketika remaja saya termasuk anak yang nakal, sedikit bandel, dan suka berantem. Yah, boleh dikatakan kenakalan anak-anak remaja pada usia tersebut,” terangnya pada suatu wawancara.
Karier Jacky dimulai pada tahun 1997 ketika ia menjabat sebagai Ketua Majelis Jemaat GPM Haria Klasis Lease. Ia juga menjabat sebagai Direktur Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sinode GPM dari 2011 hingga 2017. Dalam perannya, ia dikenal aktif dalam advokasi terhadap industri pertambangan di pulau-pulau kecil, khususnya Pulau Haruku di Maluku Tengah, yang merupakan kampung halamannya. Kerja sama dengan sahabatnya, almarhum Pdt. Pieter Manoppo, membuahkan hasil yang signifikan, menggagalkan rencana penambangan yang dapat membahayakan lingkungan dan masyarakat.
Pendiri dan Direktur Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM) ini adalah alumnus STT Jakarta (1989), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (2003), dan MA Graduate Program on Pluralism & Interreligious Dialogue pada Hartford Seminary, Hartford, CT-USA, (2010).
“Itu merupakan dorongan pribadi, meski keputusan saya masuk sekolah teologi mengejutkan teman-teman saya.”
jacky manuputty
Kehidupan Pribadi
Pendeta Jacky Manuputty lahir di Haruku, Maluku Tengah pada tanggal 20 Juli 1965. Beliau adalah anak dari pasangan Godlief Johanis Manuputty dan Esterlina Ririmasse. Latar belakang keluarga yang kental akan nilai-nilai tradisional dan keagamaan telah membentuk karakter dan dedikasi Pendeta Jacky dalam menjalankan panggilannya sebagai provokator damai dan pemimpin gereja.
Jacky adalah suami dari Louise Maspaitella, yang senantiasa mendukungnya dalam perjalanan spiritual dan profesional. Dalam kehidupan pribadi dan publik, Jacky berusaha menjadi teladan bagi masyarakat dalam membangun hubungan antariman dan mempromosikan kedamaian.

Dengan visi untuk membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan, Jacky Frits Manuputty siap menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum PGI, menghadapi tantangan ke depan dengan keyakinan dan semangat yang tak tergoyahkan. Keberadaannya tidak hanya memberikan harapan bagi jemaat, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia yang mendambakan harmoni antarumat beragama.
Provokator Damai dari Maluku
Dalam konteks yang lebih luas, Jacky dikenal sebagai “Provokator Damai” di Maluku. Ketika konflik berkepanjangan melanda wilayah tersebut pada akhir 1990-an, Jacky secara aktif mengupayakan perdamaian. Bersama dengan Abidin Wakano, yang kini menjabat sebagai Rektor IAIN Ambon, mereka berkolaborasi dalam menjalin dialog antara umat beragama. Melalui serangkaian pertemuan lintas iman, mereka bertujuan untuk meredakan ketegangan dan mempromosikan toleransi di tengah masyarakat yang terkotak-kotak.
Jacky dan Abidin berperan sebagai jembatan antara komunitas Kristen dan Islam, mendirikan forum-forum diskusi yang memungkinkan kedua belah pihak berbagi pandangan dan pengalaman. Melalui pendekatan yang inklusif dan dialogis, mereka berhasil mengurangi perpecahan yang ada, membangun rasa saling pengertian, dan menciptakan jaringan dukungan yang kuat di kalangan tokoh agama dan masyarakat. Kolaborasi mereka adalah contoh nyata bagaimana komitmen kepada perdamaian dapat mengatasi perbedaan dan menjembatani kesenjangan.
Ambon pernah menjadi medan konflik berdarah. Kini, daerah ini justru menjadi laboratorium kerukunan terbaik di Indonesia. “Ini tidak mudah, kami melewati tantangan yang luar biasa,” tutur Ustad Dr. Abidin Wakano, yang saat itu sebagai Ketua Majelis Ulama Maluku, yang aktif menyerukan perdamaian di Ambon. Ustad Abidin menyatakan bahwa dirinya memilih jihad membangun perdamaian yang hampir hancur lebur di Ambon. Dia dan sahabatnya, Pendeta Jacky Manuputty, mengubah provokasi yang dulunya mengoyak perdamaian, menjadi provokasi untuk membangkitkan perdamaian.
Konsep Provokator Damai adalah inovasi yang mereka desain untuk mengajak generasi muda di Maluku membangun perdamaian. Anak-anak di Maluku diajak untuk mengembangkan keahlian mereka dalam berbagai bidang bersama-sama tanpa melihat perbedaan. Dan hal itu berhasil. “Setiap kali memfasilitasi, kadang saya tergetar karena berusaha mengejar perdamaian. Saya merasa berhutang pada generasi sekarang, yang telah mewarisi permusuhan yang menjebak. Jadi, saya berjuang dengan anak muda Maluku melatih mereka untuk membangun tanah Maluku, sebagai cara untuk melunasi utang saya,” kata Pendeta Jacky.
Pendeta Jacky melakukan live in dan dialog yang dianggap sangat penting untuk melaksanakan misinya dalam menciptakan perdamaian di Maluku. Meskipun Maluku memiliki sejarah konflik keagamaan antara Islam dan Kristen, menurutnya, Maluku kini telah terlepas dari hal itu dan aman untuk dikunjungi.
Memahami Tantangan Zaman
Sebagai seorang teolog pemikir, Pdt. Jacky memandang pandemi COVID-19 sebagai bukti nyata dari dua hal penting. Pertama, betapa rapuhnya kita sebagai manusia, dan kedua, pandemi menunjukkan bahwa kita semua sesungguhnya setara. “Baik presiden, menteri, pendeta, maupun umat awam, semua bisa terkena serangan Corona. Baik Anda kaya maupun miskin, semua bisa terpapar; uang dan kekuasaan tidak bisa menghalangi,” tegasnya pada sebuah wawancara.
Di sisi lain, pandemi juga menyadarkan kita akan pentingnya peran keluarga sebagai ecclesiola (gereja/persekutuan kecil). “Keluarga adalah gereja kecil. Kekristenan pada awalnya bukanlah ecclesia, tetapi berkembang dari ecclesiola-ecclesiola,” ungkap Jacky. Ia mendorong setiap keluarga untuk membangun semangat persekutuan, diakonia, dan pastoral konseling berbasis keluarga, terutama di era pandemi.
“Keluarga adalah gereja kecil. Kekristenan pada awalnya bukanlah ecclesia, tetapi berkembang dari ecclesiola-ecclesiola,”
jacky manuputty
Mengajar dan Membawa Perubahan
Di luar pelayanan gerejawi, Jacky juga menjadi pengajar Filsafat di Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku di Ambon. Selain itu, ia mendorong mahasiswa untuk aktif dalam gerakan reformasi menjelang jatuhnya rezim Suharto, dan selama konflik Maluku, ia berperan sebagai saksi perdamaian. Bersama tokoh-tokoh lainnya, seperti Ustadz Abidin Wakanno dan Uskup Amboina Monsigneur PC Mandagi, Jacky menyemai benih-benih perdamaian dan toleransi di tengah perpecahan yang ada.
Pendeta Jacky Manuputty selalu berusaha membawa perspektif baru dalam pelayanan dan kepemimpinan gereja. Dedikasinya terhadap penelitian dan pengembangan gereja, serta kemampuannya dalam menggalang kerjasama lintas sinode, membuat beliau dihormati dan diakui oleh banyak pihak.
Penghargaan dan Pengakuan
Jacky Frits Manuputty telah menerima berbagai penghargaan yang mengakui dedikasinya terhadap perdamaian dan hubungan antariman. Beberapa di antaranya adalah:
- Ma’arif Award pada tahun 2007 untuk kontribusinya dalam pembangunan perdamaian dan hubungan antariman.
- Peacemakers in Action Award dari Tanenbaum Center for Interreligious Understanding, New York City, pada tahun 2012.
- Pengangkatan sebagai Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Antarperadaban pada tahun 2017.
- World Harmony Week Prize dari Raja Jordania, Abdullah II, pada tahun 2018.
Ia juga dianugerahi gelar Doctor Of Divinity, Honoris Causa (Dr.HC) oleh almamaternya, menegaskan komitmennya dalam dunia pendidikan dan pelayanan.

Penutup
Pendeta Jacky Manuputty adalah sosok yang karismatik dan penuh inspirasi. Kepemimpinannya diharapkan dapat membawa PGI ke arah yang lebih baik dan membawa dampak positif bagi masyarakat luas. Dengan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap kemajuan gereja dan kesejahteraan masyarakat, Pendeta Jacky menjadi teladan bagi banyak orang.