Simon, Apakah Jawabmu !

Share:

Pagi itu, udara di Ambon terasa sejuk, tetapi kepala Simon terasa berat. Sisa mabuk semalam masih berputar di kepalanya. Dia menyesal, tapi rasa takut dimarahi ibunya lebih besar. Karena itu, meski tubuhnya lemas, Simon tetap memaksa diri ke gereja pagi-pagi.

Ketika tiba di gereja, Simon memilih tempat duduk paling belakang, berharap tidak ada yang memperhatikannya. Pandangannya kosong, dan kelopak matanya terasa berat. Tak lama kemudian, dia tertidur sambil bersandar di bangku kayu yang dingin.

Di depan, Pendeta Philip mulai berkhotbah dengan penuh semangat. Bacaan pagi itu diambil dari Matius 17:24-27.

Pendeta Philip membaca dengan suara lantang, “Yesus membayar bea untuk Bait Allah.” Dia menjelaskan panjang lebar tentang arti tanggung jawab, kejujuran, dan pengorbanan.

Tiba-tiba suara pendeta meninggi ketika membaca ayat 25, “Apakah pendapatmu, Simon?”

Simon, yang sedang tertidur lelap, tersentak bangun. Dengan mata yang masih setengah tertutup dan wajah bingung, dia spontan menjawab keras, “Eh… beta pikir… beta seng tahu, Bapa pandeta!”

Seluruh jemaat langsung menoleh ke arah Simon. Beberapa menahan tawa, dan sebagian lagi memasang wajah heran. Pendeta Philip pun terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar.

Pendeta Philip: “Nah, Simon. Itu pertanyaan Yesus buat Petrus di Alkitab, bukan paar ale. Tapi, kalau memang ale ada jawab, beta juga mau dengar. Apa ale pung pendapat soal tanggung jawab?”

Simon tergagap, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang pusing. “E… tanggung jawab, ka? Beta pikir… tanggung jawab itu kayak… bayar utang, e. Kalau seng bayar, nanti orang marah.”

Pendeta Philip mengangguk. “Betul, Simon. Tanggung jawab memang soal membayar apa yang harus kita bayar, tapi bukan cuma soal uang. Kadang kita juga harus bertanggung jawab atas waktu, tindakan, dan hidup kita.”

Jemaat mulai mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu. Simon, yang kini sudah lebih terjaga, mencoba menyimak lebih baik.

Pendeta Philip melanjutkan, “Yesus memberikan teladan dalam membayar bea Bait Allah, padahal Dia tidak perlu membayar. Tapi Dia melakukannya sebagai bentuk tanggung jawab dan kasih. Kita juga dipanggil untuk bertanggung jawab dalam hidup kita. Ale tahu apa artinya, Simon?”

Simon tersenyum malu-malu, lalu menjawab pelan, “Beta pikir… beta harus mulai berhenti mabo kapa Bapa pandeta… itu juga tanggung jawab lai to.”

Pendeta Philip tersenyum bangga, “Bagus, Simon. Itu langkah pertama. Tuhan selalu kasih kesempatan kedua buat orang yang mau berubah. Jadi, jangan sia-siakan!”

Sejak hari itu, Simon mulai berpikir lebih dalam tentang hidupnya. Meski tidak langsung berubah 100%, percakapan pagi itu terus terngiang di benaknya. Jemaat pun sering bercanda, memanggil Simon dengan julukan “Simon si penanggung bea.” Namun bagi Simon, itu menjadi pengingat untuk mulai memperbaiki diri dan hidup lebih bertanggung jawab.


Selamat Hari Minggu, Selamat Beribadah

error: Content is protected !!