Apakah Ada Kata yang Hilang dalam 1Kor. 9:15?
Bagi pembaca Alkitab yang cermat, mungkin pernah merasa bingung dengan tanda “.. !” dalam 1Kor. 9:15: “Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati daripada… ! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga!”
Tanda “.. !” ini menunjukkan bahwa kalimat tersebut tidak lengkap, seolah ada kata yang hilang. Dalam bahasa Yunani, Paulus memang tidak menyelesaikan kalimatnya:
καλὸν γάρ μοι μᾶλλον ἀποθανεῖν ἤ — τὸ καύχημά μου οὐδεὶς κενώσει.
Terjemahan literalnya: Sebab bagiku lebih baik mati daripada — [ada jeda di sini] tidak ada yang akan meniadakan kemegahanku!
Penghentian ini mencerminkan emosi mendalam si penulis, mirip dengan gaya bahasa dalam konteks lain (seperti 1Kor. 15:2; Gal. 2:2), yang disebut “aposiopesis“. Dalam bahasa Indonesia, KBBI mendefinisikan aposiopesis sebagai penghentian pikiran yang mendadak.
Aposiopesis (/ˌæpəsaɪ.əˈpiːsɪs/; Yunani Klasik: ἀποσιώπησις, “menjadi diam”) adalah kiasan di mana sebuah kalimat sengaja diputus dan dibiarkan tidak selesai, akhir kalimatnya diberikan oleh imajinasi, sehingga memberikan kesan tidak mau atau tidak mampu untuk melanjutkan.[1] Contohnya adalah ancaman “Keluar, atau—!” Perangkat ini sering menggambarkan penggunanya sebagai orang yang diliputi oleh gairah (takut, marah, kegembiraan) atau kerendahan hati. Untuk menandai terjadinya aposiopesis dengan tanda baca, dapat digunakan tanda em (—) atau elipsis (…).

Jadi, bukan berarti terjemahan LAI salah atau Alkitab yang kita punya kurang lengkap. Paulus sengaja tidak melengkapi kalimatnya karena emosi yang kuat.
Ini serupa dengan ucapan sehari-hari kita, seperti “Saya berniat menyelesaikan ini, tetapi… ya, begitulah.” Kalimat tersebut menunjukkan ketidaklengkapan untuk mengekspresikan emosi tertentu.
Lalu, apa maksud Paulus dengan penghentian tersebut? Mari kita lihat beberapa terjemahan Alkitab:
- TB2: Sebab lebih baik aku mati daripada berbuat seperti itu.
- BIMK: Lebih baik saya mati daripada kehilangan hal yang saya banggakan itu.
- ESV: For I would rather die than have anyone deprive me of my ground for boasting.
- NIV: for I would rather die than allow anyone to deprive me of this boast
- NRSV: I would rather die than that—no one will deprive me of my ground for boasting!
Penafsiran ini dapat dirasakan jika kita mencermati perikop ini secara keseluruhan. Dalam pasal 9, Paulus menjelaskan bahwa sebagai rasul, dia berhak menerima dukungan finansial dari jemaat Korintus (ay. 1-14). Namun, dia memilih untuk menyanggah hak tersebut dan bekerja sebagai pembuat tenda demi mencapai tujuan yang lebih tinggi (ay. 15-27).
Perlu dicatat bahwa Paulus tetap menerima dukungan dari tempat lain (2Kor. 11:7-11), tetapi di Korintus, dia menolak untuk menerima dukungan tersebut. Alasannya? Dia ingin membedakan dirinya dari orang-orang Korintus yang sering mengejar kekayaan dan nama besar. Dengan tidak menerima dukungan dari jemaat tersebut, Paulus tetap dapat memberitakan Injil dengan leluasa. Di sinilah dia bermegah, karena bisa menyebarkan Injil tanpa “upah,” yang dapat disalahartikan oleh orang lain.
Sebagai pribadi yang dewasa rohani, Paulus memberikan contoh kepada jemaat Korintus bahwa dia siap mengesampingkan hak demi kemajuan pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki prinsip yang sama? Allah telah melimpahkan berkat-Nya kepada kita, bahkan mengorbankan Anak-Nya. Apakah kita rela melepaskan sebagian hak demi membantu orang lain menerima anugerah Allah?
Contoh kecilnya, kita bisa menahan diri dari hobi untuk sementara, menabung dan mempersembahkan uang itu untuk mendukung pelayanan gereja, lembaga misi, atau membantu orang yang membutuhkan, terutama di masa pandemi ini. Dengan membiasakan diri melakukan hal-hal kecil, Tuhan akan menuntun kita untuk terlibat dalam hal-hal yang lebih besar, seperti yang dilakukan Paulus.
Menyisir Makna 1Kor. 9:15
Di rumah di kawasan Mangga Dua, Ambon, Oom Hanoch Luhukay, Vabio Lekahena (beta pung ponakan), deng beta (VG Siahaya) mendiskusikan berbagai topik keagamaan dan budaya. Ini diskusi tiga generasi, bapak, anak, dan cucu. Salah satu topik yang menarik perhatian adalah Oom Hanoch Luhukay mau menggugat Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
Oom Hanoch: (dengan penuh semangat) Saya ingin menggugat Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) atas terjemahan ayat 1Kor. 9:15. Tanda “...!” di sana menunjukkan ketidaklengkapan yang mencolok. Bukankah seharusnya kita mendapatkan terjemahan yang lebih baik dari otoritas Alkitab?
Beta: (menanggapi) Oom Hanoch, beta mengerti kekhawatiran itu. Namun, bukankah ada alasan mendalam mengapa Paulus tidak menyelesaikan kalimatnya? Ini mencerminkan emosi yang sangat kuat.
Oom Hanoch: (menggeleng) Emosi tidak seharusnya mengubah fakta. Kalimat yang tidak lengkap membuatnya tampak ambigu. Apa yang kita lihat di sana adalah kekurangan dalam terjemahan yang bisa menyesatkan pembaca.
Vabio: (senyum) Mari katong cermati, Opa Hanoch. Dalam banyak konteks, penghentian mendadak ini—yang dalam bahasa sastra disebut aposiopesis—adalah alat yang sering digunakan untuk mengekspresikan kekuatan emosi. Paulus tahu betul apa yang dia lakukan.
Oom Hanoch: (dengan nada skeptis) Tetapi bagaimana jika pembaca tidak memahami konteks itu? Mereka bisa salah menangkap makna dan rasa Paulus. Kan seharusnya LAI memberikan terjemahan yang murni dan tidak menimbulkan kebingungan.
Beta: (mendukung) Itu batul, dan kontekstualisasi memang penting. Namun, bukankah katong juga harus melihat maksud asli dari penulis? Dengan tidak menyelesaikan kalimatnya, dia mengajak kita untuk merasakan intensitas emosionalnya.
Oom Hanoch: (tetap keras) Emosi bisa dimengerti, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak menghadirkan penyampaian yang jelas. Dari sudut pandang budaya, kita perlu menghargai kejelasan dalam komunikasi.
Vabio: (bergeser ke arah Oom Hanoch) Opa e, beta setuju bahwa kejelasan penting. Namun, konteks dan nuansa juga merupakan bagian tak terpisahkan dari komunikasi. Mungkin alih-alih menggugat LAI, kita bisa merayakan keragaman interpretasi ini sebagai bentuk dialog berharga mengenai teks. Opa nih, sadiki-sadiki gugat, sadiki-sadiki gugat. Balong rasa dapa loko (tertawa).
Oom Hanoch: (berpikir sejenak sambil tersenyum) Mungkin ada benarnya nyong. Dialog ini memang memperkaya perspektif kita. Tapi bagaimana kita mendorong orang untuk memahami nuansa yang ada tanpa menyalahkan?
Beta: (tersenyum) Katong perlu memberikan pendidikan yang baik tentang cara membaca teks-teks kuno. Dengan pemahaman yang lebih dalam, pembaca bisa merasakan apa yang dirasakan Paulus.
Oom Hanoch: (setuju) Jadi, alih-alih menggugat, kita perlu menciptakan diskusi terbuka tentang hal ini. Saya setuju, mari kita galang lebih banyak percakapan seperti ini.
Semua di rumah yang sedari tadi mendengarkan percakapan ini langsung tertawa sambil berpelukan hangat. Katong samua harus menciptakan ruang untuk saling belajar dan menghargai perspektif yang berbeda. Diskusi berakhir, namun semangat eksplorasi terhadap makna dan keaslian teks berlanjut.
Beta merindukan diskusi seperti ini...
Sumber: “Apakah Ada Kata yang Hilang dalam 1Kor. 9:15?” [studibiblika.id]