Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.
lukas 8:44
Suasana di ruang tunggu rumah sakit pagi itu begitu sunyi. Bau obat dan cairan antiseptik menyelimuti udara, sementara suara langkah para perawat terdengar bergema di koridor. Saya duduk di atas ranjang dengan pakaian operasi berwarna hijau, menanti giliran masuk ke ruang bedah.
Di samping saya, istri saya, Shanty, menggenggam tangan saya erat. Matanya yang biasanya penuh semangat kini tampak berkaca-kaca.
Shanty: “Opa, beta tahu ini berat, tapi Tuhan pasti menyertai.”
Saya mengangguk, berusaha tersenyum. Namun, di dalam hati, ada ketakutan yang tak bisa saya nafikan. Ini bukan sekadar operasi biasa. Ini adalah perjuangan hidup dan mati.
Ketika seorang perawat datang dan mulai mendorong ranjang saya menuju ruang operasi, saya hanya bisa menatap langit-langit putih rumah sakit, mencoba mengumpulkan keberanian. Jantung saya berdegup lebih kencang.
Tepat saat pintu ruang operasi terbuka dan udara dingin dari dalam menyambut saya, hanya satu doa yang keluar dari mulut saya, begitu singkat namun penuh harapan:
“Biarlah kujamah ujung jumbai jubah-Mu, Yesus.”
Lalu semuanya menjadi gelap.
Dalam Kehadiran-Nya
Saya tidak tahu apakah itu mimpi atau suatu pengalaman rohani, tapi dalam kegelapan itu, saya merasa seperti berada di suatu tempat yang berbeda. Ada cahaya keemasan di sekitar saya, lembut dan hangat.
Kemudian, saya melihat-Nya.
Yesus berdiri tidak jauh dari saya, mengenakan jubah putih yang berkilauan. Ia tersenyum lembut, begitu damai.
Saya jatuh berlutut, dan tanpa ragu, saya mengulurkan tangan, menjamah ujung jumbai jubah-Nya.
Yesus: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, anak-Ku.”
Secepat kilat, sebuah kehangatan mengalir dalam tubuh saya, seakan setiap sel yang sakit mulai dipulihkan. Saya ingin berbicara, ingin bertanya lebih banyak, tetapi perlahan cahaya itu memudar.
Dan kemudian, saya terbangun.

Setelah Operasi
Ketika saya membuka mata, cahaya putih rumah sakit menyambut saya. Rasa nyeri masih ada, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam hati saya. Ada kedamaian yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.
Shanty berada di sisi saya, air matanya berlinang, tetapi kali ini bukan karena ketakutan, melainkan kebahagiaan.
Shanty: “Puji Tuhan! Operasi berhasil, Opa!”
Saya tersenyum, meski lemah. “Su abis kah,” bisik saya.
Dokter yang masuk ke ruangan mengangguk dengan ekspresi puas.
Dokter: “Anda sangat kuat, Bung. Operasi berjalan lancar, tetapi perjalanan belum selesai. Anda masih harus menjalani kemoterapi untuk memastikan tidak ada sel kanker yang tersisa.”
Saya mengangguk. Dalam hati, saya tahu bahwa Tuhan sudah bekerja. Jika Dia sudah membawa saya sejauh ini, saya percaya Dia juga akan menyertai saya dalam setiap langkah selanjutnya.
Lagu Dalam Mimpiku
Beberapa waktu saat saya tersadar dari keadaan, saya merasakan pentingnya sesuatu yang harus dituliskan. Dalam kebingungan disertai selang di sekeliling tubuh, saya memanggil Shanty.
Shanty: “Opa, mau chat siapa lagi? Anak-anak dan cucu-cucu sudah saya kabari. Istirahat dulu saja, ya?”
Saya: “Jang malawang. Tulis saja.”
Dengan harapan untuk cepat menyelesaikan tugas itu, Shanty mengambil ponselnya dan bersiap mengetik.
Shanty: “Oke, mau Opa tulis apa?”
Saya: “Ini adalah syair lagu. Jangan sampai terlupa.”
Terdengar nada heran dari suaranya.
Shanty: “Syair lagu apa? Nanti saja deh, Opa.”
Namun, saya tidak bisa menunggu lebih lama. Kata-kata pun meluncur begitu saja dari bibir saya.
Saya: “Biarlah kujamah ujung jumbai jubah-Mu, Yesus.”
Shanty terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang saya ucapkan.
Shanty: “Wow, Opa! Itu dalam sekali. Kenapa Opa ingin menuliskannya?”
Saya: “Beta menyentuh ujung jumbai jubah-NYA. Setiap kata itu penting, dan beta ingin itu abadi.” Dan saya pun menangis…
Dengan semangat, Shanty mulai mengetik dengan air mata yang terurai, menyalurkan lagi makna dari syair yang saya berikan. Kini, sebuah lagu yang terlahir dari momen terindah di saat yang sulit, menjadi warisan untuk generasi selanjutnya.
Biarlah kujamah ujung jumbai jubah-Mu, Yesus
Di sepanjang umur hidupku
Tubuhku kuat selalu tangguh
Telah kudaki gunung tinggi
Melintasi luasnya lautan
Sepanjang hidup ini
Ku tak pernah takut apapun
Menghadapi gelombang badai
Meski hanya seorang diri
Kini umur memakan hidupku
Tulang patah tubuh menua
Penyakit datang menyerangku
Hilang semua kekuatanku
Namun kupanggil namaMu Yesus
Kujamah ujung jumbai jubah-Mu
Lalu Kau bilang angkatlah tilammu
Kupulih tubuh ini sembuh
Oh Tuhan, Yesusku
Oh Tuhan, Yesusku
Kujamah ujung jumbai jubahMu
Kupulih karena imanku
Perjalanan Kemo
Kemoterapi bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap kali saya menginap lagi di rumah sakit, dengan cairan obat menetes perlahan ke dalam tubuh saya, ada saat-saat dimana saya merasa lemah, hampir menyerah.
Namun, setiap kali rasa sakit itu datang, saya mengingat kembali saat saya menjamah ujung jumbai jubah-Nya.
Dan di saat-saat tersulit itu, saya berdoa dengan kata-kata yang sama:
“Biarlah kujamah ujung jumbai jubah-Mu, Yesus.”
Ada hari-hari dimana tubuh saya terasa begitu lemah hingga sulit untuk berdiri. Ada malam-malam dimana saya terbangun karena mual yang luar biasa. Tetapi dalam setiap rasa sakit, ada harapan yang terus membara.
Keluarga saya, cucu-cucu saya yang selalu mengirim pesan dan doa, Shanty yang tak pernah lelah mendampingi saya—semuanya adalah bukti bahwa kasih Tuhan nyata dalam hidup saya.
Kesembuhan yang Dijanjikan
Enam bulan berlalu. Hari itu, saya duduk di ruang dokter, menunggu hasil pemeriksaan terakhir. Hati saya berdebar, tetapi ada keyakinan yang tak tergoyahkan.
Ketika dokter membuka map dan tersenyum, saya tahu bahwa jawaban yang saya tunggu akhirnya tiba.
Dokter: “Bung, semua hasilnya bersih. Tidak ada tanda-tanda kanker lagi.”
Saya menutup mata sejenak, meresapi setiap kata itu. Lalu, saya tersenyum.
Saya: “Terima kasih, Dok.”
Namun di dalam hati, saya tahu kepada siapa saya benar-benar harus berterima kasih.
Ketika saya melangkah keluar dari rumah sakit hari itu, saya menatap langit biru dan berbisik pelan,
“Terima kasih, Yesus. Engkau telah menyembuhkan aku. Imanku kepada-Mu tidak sia-sia.”
Dan dengan langkah mantap, saya melanjutkan perjalanan hidup saya—sebagai seorang yang telah menjamah jumbai jubah-Nya dan disembuhkan oleh kasih-Nya.