Kobis e…, ose tuh Kafir!

Share:

Kobis adalah seorang pemuda berusia 27 tahun yang hidup tanpa peduli soal agama. Ia lahir dalam keluarga Kristen Protestan, tapi sejak kecil tidak pernah benar-benar tertarik dengan gereja. Ia tidak pernah beribadah, tidak pernah berdoa, dan bahkan merasa agama hanyalah formalitas belaka.

Sehari-hari, Kobis lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat-tempat hiburan malam. Ia terbiasa merokok, minum alkohol, dan bermain kartu dengan teman-temannya hingga larut malam. Ia jarang pulang sebelum subuh dan sering kali bangun menjelang sore. Saat teman-temannya pergi ke gereja pada hari Minggu, Kobis justru masih terlelap di tempat tidurnya atau nongkrong di warung kopi sambil bercanda tentang bagaimana orang-orang membuang waktu mereka untuk sesuatu yang tidak nyata.

“Apa gunanya gereja? Tuhan bahkan tidak kelihatan,” katanya suatu kali.

Kebiasaannya itu membuat teman-temannya mulai menjauh. Mereka bahkan memberinya julukan “kafir.”

“Kau ini Kristen di KTP saja, Jakobis!” ejek salah satu temannya, Andi, suatu hari.

“Kau lebih cocok disebut ateis daripada Kristen,” timpal yang lain.

Kobis tidak pernah membantah. Ia tidak peduli dengan apa pun yang berhubungan dengan agama. Sampai suatu malam, semuanya berubah.


Pertemuan di Pantai

Malam itu, Kobis berjalan sendirian di tepi pantai. Ia baru saja keluar dari sebuah bar, tetapi hatinya terasa kosong. Seakan ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Tiba-tiba, matanya tertuju pada sosok seseorang yang duduk di atas batu besar, menatap lautan yang luas. Orang itu mengenakan jubah putih sederhana dan memiliki wajah yang penuh ketenangan. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, sesuatu yang membuat Hendrik berhenti melangkah.

Kobis: “Siapa kamu?”

Orang itu menoleh dan tersenyum.

Yesus: “Aku sudah lama menunggumu, Jakobis.”

Kobis terkejut. Ia tidak mengenal orang ini, tapi ada sesuatu dalam suara-Nya yang membuat hatinya bergetar.

Kobis: “Menunggu aku? Untuk apa? Aku bahkan tidak kenal kamu.”

Yesus: “Tapi Aku mengenalmu. Sejak kau lahir, sejak kau mengambil napas pertama di dunia ini, Aku sudah ada bersamamu.”

Kobis tertawa sinis.

Kobis: “Kalau kau mengenalku, kau pasti tahu aku tidak percaya hal-hal seperti ini. Aku tidak pernah berdoa, tidak pernah ke gereja, dan orang-orang bahkan menyebutku kafir.”

Yesus menatap Kobis dengan mata penuh kasih.

Yesus: “Aku tahu. Aku tahu kau kecewa, kau muak dengan kemunafikan, kau merasa agama hanya sebuah label tanpa makna. Kau merasa dunia ini lebih nyata daripada apa yang tidak terlihat.”

Kobis terdiam. Bagaimana orang ini bisa tahu apa yang ada di hatinya?

Kobis: “Kalau kau tahu semua itu, lalu kenapa kau masih peduli padaku?”

Yesus tersenyum lembut.

Yesus: “Karena Aku mengasihimu, Jakobis. Tidak peduli seberapa jauh kau melangkah, Aku tetap menunggumu. Tidak peduli seberapa banyak kau menyangkal, Aku tetap ada di sini.”

Kobis menghela napas, merasa tidak nyaman.

Kobis: “Aku tidak butuh kasih sayang dari Tuhan yang membiarkan hidup ini penuh penderitaan. Kalau Tuhan benar-benar ada, kenapa dunia ini penuh dengan kesakitan? Kenapa ada orang jahat? Kenapa ada orang seperti aku yang tidak merasakan damai?”

Yesus menatap laut sejenak, lalu kembali menatap Jakobis.

Yesus: “Jakobis, Aku tidak pernah menjanjikan dunia tanpa penderitaan, tetapi Aku menjanjikan bahwa Aku akan selalu bersamamu di tengah penderitaan. Seperti tertulis dalam Yesaya 41:10: ‘Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau, jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.’ Aku tidak memaksa manusia untuk percaya kepada-Ku, tetapi Aku selalu membuka tangan untuk siapa pun yang ingin kembali.”

Kobis menundukkan kepala.

Kobis: “Tapi aku sudah terlalu jauh. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya percaya.”

Yesus mendekat dan menepuk bahunya dengan lembut.

Yesus: “Percaya tidak harus dimulai dengan kesempurnaan. Percaya dimulai dengan satu langkah kecil. Ingatlah perkataan-Ku dalam Matius 11:28, ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.’ Kau tidak perlu memahami semuanya sekarang, Jakobis. Kau hanya perlu datang.”

Kobis terdiam lama. Di dalam hatinya, ada sesuatu yang selama ini ia abaikan—kerinduan yang selama ini ia tolak. Ia menatap wajah pria itu, dan entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa damai.

Kobis: “Kalau aku datang… apakah Kau akan menerimaku?”

Yesus tersenyum, dan dalam senyum itu, Kobis merasakan jawaban yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Di malam itu, di tepi pantai yang sunyi, seorang pemuda yang selama ini menolak Tuhan akhirnya mengambil langkah pertamanya kembali.

“Kafir bukan hanya mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga mereka yang mengenal-Nya namun tetap berpaling dari-Nya.”

error: Content is protected !!