Pada tahun 1618, langit Eropa dikejutkan oleh kemunculan tiga komet terang dalam rentang waktu hanya beberapa bulan. Fenomena ini begitu langka sehingga baru terjadi lagi pada akhir abad ke-20, ketika dua komet spektakuler—Hyakutake (1996) dan Hale-Bopp (1997)—menjadi tontonan luar biasa bagi dunia. Seperti kedua komet modern tersebut, tiga komet tahun 1618 juga dapat terlihat dengan mata telanjang, menjadikannya peristiwa astronomi yang bersejarah.
Lebih dari sekadar terlihat jelas di langit, tiga komet ini juga menjadi komet pertama dalam sejarah yang diamati menggunakan teleskop astronomi.
Kemunculan Tiga Komet di Langit Eropa
Komet pertama, yang kini dikenal dengan nama C/1618 Q1, muncul di langit Eropa pada akhir Agustus 1618. Pertama kali terlihat di Hungaria pada 25 Agustus 1618, komet ini kemudian diamati oleh astronom Johannes Kepler antara 1 hingga 25 September 1618.
Komet kedua, C/1618 V1, muncul pada awal November 1618. Komet ini pertama kali diamati pada 10 November di Sisilia, dan pada hari yang sama terlihat juga di Roma.
Namun, komet ketiga-lah yang paling mengesankan dari semuanya. Ditemukan oleh Johannes Kepler pada 29 November 1618, komet ini terlihat di langit kota Linz, Austria. Ekor ganda yang spektakuler menghiasi angkasa, dan dalam beberapa kesempatan, komet ini bahkan dapat dilihat pada siang hari. Panjang ekornya membentang hingga 100 derajat di langit, menjadikannya pemandangan yang luar biasa. Selama hampir tiga bulan, dari akhir November 1618 hingga Januari 1619, komet ini tetap terlihat dan dipelajari oleh banyak astronom ternama pada masa itu.
Sejumlah ilmuwan besar, termasuk Orazio Grassi di Roma, Pierre Gassendi di Prancis, Wilhelm Schickard di Jerman, serta Longomontanus di Denmark, mencatat pengamatan mereka tentang komet tersebut. Namun, yang menarik adalah Galileo Galilei tidak ikut mengamatinya. Pada waktu itu, Galileo sedang sakit akibat radang sendi dan mungkin tidak memiliki kesempatan untuk melihat komet ini. Meski begitu, ada kemungkinan lain bahwa ia memang sengaja mengabaikan fenomena tersebut karena keyakinannya bahwa komet bukanlah benda langit sejati, melainkan hanya ilusi optik.



Kesaksian dari Berbagai Belahan Dunia
Fenomena tiga komet ini ternyata tidak hanya tercatat di Eropa. Di Tiongkok, sebuah catatan sejarah menyebutkan bahwa pada 26 November 1618, sebuah komet dengan ekor sepanjang lebih dari 10 derajat terlihat mengarah ke tenggara. Sementara itu, García de Silva Figueroa, seorang duta besar Spanyol untuk Persia, melaporkan bahwa ia melihat komet yang sama di Isfahan, Iran. Kesaksian serupa juga datang dari Korea dan Filipina, menandakan bahwa fenomena ini memang berskala global.
Namun, diantara berbagai laporan tersebut, ada satu kesaksian yang sangat unik, yakni dari Kepulauan Rempah, Maluku, tepatnya di Ternate.
Komet-Komet Tahun 1618 dalam Catatan Seorang Biarawan di Maluku
Pada abad ke-17, Kepulauan Maluku—terutama Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan—adalah satu-satunya tempat di dunia di mana cengkeh (Syzygium aromaticum) tumbuh secara alami. Keberadaan rempah-rempah berharga ini menjadikan Maluku sebagai pusat perebutan kekuasaan antara bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda.
Dari tahun 1606 hingga 1663, Spanyol mempertahankan kehadirannya di Maluku dengan membangun garnisun di Ternate dan Tidore. Bersamaan dengan pasukan Spanyol, datang pula para biarawan dari berbagai ordo keagamaan, termasuk seorang Fransiskan bernama Pastor Gregorio de San Esteban. Selama tinggal di Maluku antara 1609 hingga 1619, Pastor Gregorio mencatat berbagai peristiwa dalam manuskripnya yang berjudul “Memoria y Relación e historia verdadera de lo sucedido en las Islas Molucas 1609 – 1619“. Dalam dokumen ini, ia secara khusus menceritakan pengamatannya tentang tiga komet tahun 1618.
Kesaksian Pastor Gregorio de San Esteban tentang Komet di Maluku
Pada 9 November 1618, sekitar pukul 04.00 pagi, Pastor Gregorio melihat sebuah komet muncul di langit timur Maluku. Ia menggambarkan komet ini sebagai berbentuk seperti daun palem besar, dengan warna putih bersih. Komet ini berasal dari bintang kecil yang hampir tidak terlihat dan memiliki ekor sepanjang 8 hingga 10 tombak. Komet ini tetap terlihat selama sekitar satu setengah bulan, secara perlahan bergerak ke arah selatan.
Menariknya, pengamatan Pastor Gregorio ini mungkin merupakan pengamatan pertama komet ini di dunia, karena catatan dari Eropa baru muncul pada 10-11 November 1618.
Pada 26 November 1618, Pastor Gregorio kembali melihat komet kedua di langit Maluku. Awalnya, komet ini memiliki ekor kecil, tetapi kemudian tumbuh menjadi sangat besar. Warna ekornya agak kemerahan, dengan arah gerak ke utara. Ia mencatat bahwa komet ini tetap terlihat selama sekitar satu bulan. Berdasarkan deskripsi ini, komet yang ia lihat adalah C/1618 W1, yang dikenal sebagai komet paling terang dan spektakuler dari ketiganya.
Pastor Gregorio, yang masih dipengaruhi oleh kepercayaan astrologi pada zamannya, mencoba menafsirkan arti dari kemunculan komet ini. Ia merujuk pada seorang astrolog Muslim dari abad ke-9, Abū Maʻšar (Albumasar), yang berpendapat bahwa komet seperti ini bisa menjadi pertanda perang, bencana, atau kematian raja-raja.
Komet ketiga yang disebutkan dalam dokumennya lebih sulit untuk diverifikasi. Pastor Gregorio sendiri tidak melihat komet ini secara langsung, tetapi mendengar laporan dari penduduk Tidore bahwa pada suatu malam mereka melihat cahaya putih aneh di langit timur. Beberapa orang bahkan mengklaim melihat komet lain. Namun, karena komet ini hanya terlihat dalam satu malam, kemungkinan besar itu adalah kesalahan pengamatan atau sekadar pandangan terakhir dari komet sebelumnya.
Dampak Komet di Maluku
Pastor Gregorio mencatat bahwa tak lama setelah komet muncul, perang pecah dengan lebih sengit di Maluku. Konflik antara Ternate dan Tidore semakin meningkat, dengan kehancuran yang meluas di berbagai pulau.
Kesaksiannya menjadi bukti bahwa fenomena astronomi besar seperti komet tidak hanya disaksikan di Eropa, tetapi juga di Nusantara. Bahkan, jika laporan ini benar, Pastor Gregorio bisa dianggap sebagai orang pertama yang melihat dua dari tiga komet tahun 1618, jauh sebelum pengamatan di Eropa dicatat secara resmi.
Namun, sebagaimana ilmuwan lain pada zamannya, ia masih mencampurkan pengamatan ilmiah dengan kepercayaan astrologi dan mistisisme.
Oleh: Marco Ramerini