Setiap tanggal 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini, sebuah momen untuk menghormati perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan dan emansipasi perempuan. Di tengah semangat ini, perempuan Maluku menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mewarisi semangat Kartini, tetapi juga mengukir jejak baru dalam ranah politik, baik di tingkat regional maupun nasional. Fenomena senator perempuan dari Maluku menjadi cerminan bagaimana perempuan mampu menembus batas budaya dan struktural untuk menjadi agen perubahan, sejalan dengan visi Kartini tentang peran perempuan dalam pembangunan bangsa.
Dominasi Perempuan Maluku di Parlemen Nasional
Pada Pemilu 2024, perempuan Maluku menorehkan prestasi gemilang di daerah pemilihan Maluku untuk DPR RI. Dari empat kursi yang tersedia, tiga diantaranya diraih oleh perempuan: Widya Pratiwi (PAN) dengan 163.315 suara, Mercy Chriesty Barends (PDI Perjuangan) dengan 100.703 suara, dan Saadiah Uluputty (PKS) dengan 93.119 suara. Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa perempuan Maluku memiliki daya saing yang kuat dan kepercayaan masyarakat yang semakin besar terhadap kepemimpinan perempuan.
Di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, dua senator perempuan Maluku juga menonjol pada periode 2019–2024: Novita Anakotta, Wakil II Komite IV DPD RI, dan Mirati Dewaningsih, Wakil Ketua II Badan Akuntabilitas Publik DPD RI. Keduanya menunjukkan bahwa perempuan Maluku mampu menduduki posisi strategis di tingkat nasional, mewakili aspirasi daerah dalam isu-isu pembangunan, akuntabilitas publik, dan pemberdayaan masyarakat. Prestasi ini mencerminkan semangat Kartini yang menekankan pentingnya pendidikan dan keterlibatan perempuan dalam kehidupan publik.
Selain itu, perempuan Maluku juga menunjukkan kiprahnya di tingkat nasional melalui Spica Alphanya Tutuhatunewa, alumni Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, yang berkarier di Kementerian Luar Negeri RI. Ia dikenal sebagai diplomat yang berdedikasi, dengan penempatan di kota-kota bergengsi seperti Washington DC, Wina, dan Melbourne, dan pernah menjabat sebagai Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania. Kehadirannya menegaskan bahwa perempuan Maluku memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam diplomasi dan hubungan internasional, memperluas pengaruh Maluku di panggung global.
Perjuangan di Tingkat Regional
Di tingkat regional, perempuan Maluku menunjukkan peran signifikan dalam politik, birokrasi, dan pemerintahan lokal. Salah satu figur inspiratif adalah Elly Toisuta, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Wali Kota Ambon. Sebelumnya, Elly Toisuta adalah Ketua DPRD Kota Ambon, sebuah posisi yang menunjukkan kemampuannya memimpin di ranah legislatif lokal. Kiprahnya sebagai Wakil Wali Kota memperkuat representasi perempuan Maluku dalam pengambilan keputusan strategis di tingkat pemerintahan kota, sekaligus menjadi teladan bagi perempuan lain untuk terlibat dalam politik lokal.
Di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Juliana Chatarina Ratuanak menjabat sebagai Wakil Bupati. Sebelumnya, ia adalah Kepala Dinas Kesehatan, sebuah latar belakang yang menunjukkan komitmennya dalam pelayanan publik, khususnya di bidang kesehatan, sebelum melangkah ke ranah eksekutif. Kehadirannya menjadi simbol pentingnya peran perempuan dalam kepemimpinan daerah terpencil, yang sering kali menghadapi tantangan akses dan pembangunan.
Perempuan Maluku juga menonjol di level birokrasi provinsi. Ahmadwaty Amahul, sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, berperan dalam mendorong pembangunan desa yang inklusif. Inawaty Tahir, Kepala Badan Pendapatan Daerah, berkontribusi dalam pengelolaan keuangan daerah untuk mendukung pembangunan Maluku. Elviana Tikupasang, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, memastikan pelestarian budaya dan pengetahuan melalui pengelolaan arsip yang baik. Sementara itu, Atriana Gais Samala, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, memainkan peran krusial dalam administrasi kependudukan yang mendukung pelayanan publik. Para figur ini menunjukkan bahwa perempuan Maluku mampu memimpin sektor-sektor strategis di tingkat regional.
Meskipun data spesifik tentang keterwakilan perempuan di DPRD Maluku pasca-Pemilu 2024 masih terbatas, kehadiran figur-figur seperti Elly Toisuta, Juliana Chatarina Ratuanak, dan para kepala dinas tersebut menegaskan bahwa perempuan Maluku memiliki potensi besar untuk memimpin di tingkat regional. Namun, tantangan seperti budaya patriarki yang kuat, keterbatasan akses ke sumber daya politik, dan minimnya pengakuan terhadap peran perempuan dalam pengambilan keputusan tetap menjadi hambatan. Kebijakan afirmatif seperti kuota 30% kandidat perempuan dalam pemilu dan dukungan organisasi masyarakat sipil telah mendorong peningkatan partisipasi perempuan, sejalan dengan cita-cita Kartini untuk membuka ruang bagi perempuan dalam ruang publik.
Warisan Martha Christina Tiahahu dan Monia Latuarima: Kartini dari Maluku
Hari Kartini tidak hanya tentang mengenang perjuangan di Jawa, tetapi juga merayakan pahlawan perempuan dari berbagai daerah, termasuk Maluku. Martha Christina Tiahahu dan Monia Latuarima, pahlawan nasional asal Maluku, adalah simbol keberanian perempuan Maluku. Pada usia belasan tahun, mereka ikut berperang melawan penjajah Belanda, menunjukkan bahwa perempuan Maluku memiliki tradisi kepemimpinan yang kuat. Kisah mereka ini menjadi inspirasi bagi senator perempuan Maluku masa kini, yang terus memperjuangkan aspirasi masyarakat di tengah tantangan politik modern.
Seperti Kartini yang memperjuangkan pendidikan sebagai kunci emansipasi, Martha Christina Tiahahu dan Monia Latuarima menunjukkan bahwa keberanian dan dedikasi perempuan dapat mengubah sejarah. Warisan ini tercermin dalam kualifikasi akademik senator perempuan Maluku seperti Novita Anakotta, kiprah Spica Alphanya Tutuhatunewa di Kementerian Luar Negeri, serta kepemimpinan lokal seperti yang ditunjukkan oleh Elly Toisuta dan Juliana Chatarina Ratuanak.
Tantangan dan Harapan di Era Modern
Meskipun perempuan Maluku telah menunjukkan kemajuan signifikan, tantangan masih ada. Keterwakilan perempuan di parlemen, baik nasional maupun regional, belum mencapai proporsi ideal. Stereotip gender, budaya patriarki, dan kesenjangan akses ke dana kampanye serta jaringan politik masih membatasi ruang gerak perempuan. Di tingkat regional, perempuan seringkali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis, meskipun mereka aktif di tingkat grassroots.
Namun, Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk kesetaraan tidak pernah berhenti. Dengan semakin kuatnya gerakan pemberdayaan perempuan, dukungan kebijakan afirmatif, dan inspirasi dari figur seperti Kartini, Monia dan Martha, perempuan Maluku memiliki potensi besar untuk memperluas pengaruh mereka. Pendidikan yang lebih baik, kesadaran akan kesetaraan gender, dan peran organisasi wanita menjadi kunci untuk mendorong lebih banyak perempuan Maluku masuk ke ranah politik.
Mengukir Masa Depan di Hari Kartini
Hari Kartini 2025 adalah momen untuk merayakan keberhasilan senator perempuan Maluku, pemimpin lokal, dan figur birokrasi seperti Elly Toisuta, Juliana Chatarina Ratuanak, Ahmadwaty Amahul, Inawaty Tahir, Elviana Tikupasang, Atriana Gais Samala, serta Spica Alphanya Tutuhatunewa, sekaligus merefleksikan langkah ke depan. Widya Pratiwi, Mercy Barends, Saadiah Uluputty, Novita Anakotta, dan Mirati Dewaningsih adalah bukti bahwa perempuan Maluku mampu menembus batas dan memimpin dengan kompetensi. Mereka adalah Kartini modern yang tidak hanya mewakili Maluku, tetapi juga menginspirasi generasi muda perempuan untuk bermimpi besar.
Untuk mewujudkan visi Kartini secara penuh, diperlukan dukungan yang lebih besar: kebijakan yang lebih inklusif, pemberdayaan politik perempuan, dan pengakuan atas peran mereka dalam pengambilan keputusan. Dengan semangat Hari Kartini, perempuan Maluku dapat terus mengukir jejak, membawa perubahan yang lebih baik bagi daerah dan bangsa. Seperti yang pernah dikatakan Kartini, “Habis gelap terbitlah terang”—dan perempuan Maluku sedang menyalakan cahaya itu di panggung politik Indonesia.