Di tengah gemerlap budaya Maluku Tengah, Desa Tulehu menghidupkan sebuah tradisi memukau setiap Hari Raya Idul Adha yang dikenal sebagai Ritual Gendong Kambing. Sebagai bagian dari upacara adat Kaul dan Abda’u, ritual ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah kain indah yang ditenun dari benang-benang iman, sejarah, dan kebersamaan. Ketika matahari merangkak naik usai Salat Id, denting shalawat dan takbir menggema, menandai dimulainya prosesi yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, serta yang sakral dengan yang komunal.
Perjalanan Melintasi Zaman
Akar Ritual Gendong Kambing tertanam sejak abad ke-15, ketika Islam mulai berlabuh di Tanah Hitu yang subur. Tiga tokoh agama legendaris—Pandita Wakan, Pandita Lou, dan Pandita Lain—merintis tradisi ini dengan memerintahkan murid-murid mereka untuk menggendong kambing kurban dalam sebuah prosesi. Tindakan ini, yang terinspirasi dari kisah pengabdian Nabi Ibrahim, menjadi pilar identitas budaya Tulehu. Pada abad ke-17, ketika Tulehu meneguhkan diri sebagai pemerintahan otonom bercorak Islam, ritual ini berkembang menjadi perwujudan agung dari iman dan solidaritas, sebuah tradisi yang terus hidup hingga kini.
Ritual ini juga menggemakan semangat para pemuda Ansar, yang menyambut hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Di Tulehu, warisan ini diwujudkan oleh para pemuda yang memainkan peran kunci dalam prosesi Abda’u, dengan semangat dan dedikasi mereka melambangkan kesiapan untuk berkorban demi kebenaran dan komunitas.
Prosesi yang Memukau
Saat Hari Raya Idul Adha tiba, Tulehu berubah menjadi panggung penuh makna. Usai Salat Id, ritual dimulai dengan pemandangan yang menawan: tiga ekor kambing—satu utama dan dua pendamping—digendong dengan kain oleh para pemuka adat dan agama. Prosesi ini meliuk-liuk melintasi desa, diiringi oleh alunan zikir dan shalawat yang menyentuh jiwa. Kambing-kambing, simbol pengorbanan, diarak menuju pelataran Masjid Raya Negeri Tulehu, tempat mereka akan dikurbankan dalam ritual Kaul Negeri—sebuah nazar untuk memohon perlindungan Ilahi dan menolak bala.
Puncak ritual ini adalah perpaduan antara kesakralan dan kemeriahan. Saat imam menyembelih kambing, para ibu dari atas masjid menaburkan bunga-bunga harum, kelopaknya melayang bagai restu dari langit. Di saat yang sama, para pemuda desa, mengenakan ikat kepala putih dan kaus singlet, berebut darah kambing yang disembelih, sebuah tindakan simbolis yang mencerminkan keberanian dan komitmen mereka terhadap warisan leluhur. Prosesi Abda’u kemudian mengambil alih, dengan para pemuda bersaing merebut bendera hijau berbingkai kuning emas—lambang kesuburan dan kemakmuran.
Simfoni Makna
Ritual Gendong Kambing adalah permata dengan banyak sisi, setiap sisinya memantulkan makna yang saling terhubung. Intinya adalah tindakan religius, sebuah penghormatan hidup terhadap kisah Ibrahim dan Ismail, di mana ketaatan kepada Allah menjadi yang utama. Kata “Abda’u,” yang berasal dari bahasa Arab “abada” (beribadah), menegaskan esensi spiritual ini, mengingatkan peserta akan pengabdian mereka kepada Yang Maha Kuasa.
Namun, ritual ini juga merupakan tonggak budaya. Ia mempererat ikatan persaudaraan antarwarga Tulehu, menumbuhkan rasa persatuan yang melintasi generasi. Keterlibatan pemuda dalam prosesi Abda’u memastikan bahwa tradisi desa bukanlah peninggalan masa lalu, melainkan praktik hidup yang diwariskan dengan kebanggaan. Pembagian daging kurban kepada fakir miskin semakin memperkuat dimensi sosial ritual ini, mewujudkan prinsip Islam tentang sedekah dan kepedulian komunal.
Secara historis, ritual ini menjadi bukti warisan Islam Tulehu, sebuah legasi yang dimulai dengan masuknya Islam di Uli Solemata. Ini adalah perayaan ketahanan, pengingat akan kemampuan desa untuk mempertahankan identitasnya di tengah arus waktu.
Mercusuar Budaya
Di luar makna lokalnya, Ritual Gendong Kambing telah menjadi mercusuar budaya, menarik ribuan pengunjung—baik domestik maupun mancanegara—ke Tulehu setiap tahun. Prosesi ini, yang diperkaya dengan penampilan seperti tari cakalele, tari Sawat, dan denting ritmis Hadrat, menawarkan pengalaman yang memanjakan indera. Pemimpin lokal, termasuk Bupati Maluku Tengah, melihat potensinya sebagai aset pariwisata, mendorong pengelolaan profesional untuk meningkatkan kesejahteraan daerah tanpa mengorbankan kesucian tradisi.
Upaya mendokumentasikan ritual, seperti film pendek oleh pemuda lokal Eddie Liku, memastikan kisahnya menjangkau audiens global. Inisiatif ini tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk bangga akan warisan mereka, menjamin kelangsungannya di dunia yang terus berubah.
Warisan yang Patut Dijaga
Ritual Gendong Kambing lebih dari sekadar tradisi; ia adalah narasi hidup yang merangkum jiwa Tulehu. Ia adalah bukti kekuatan iman untuk menyatukan, ketangguhan budaya untuk bertahan, dan keindahan komunitas untuk berkembang. Saat warga Tulehu menggendong kambing mereka setiap Idul Adha, mereka juga menggendong warisan yang berbicara tentang hati kemanusiaan—pengingat bahwa dalam pengorbanan ada persatuan, dan dalam tradisi ada keabadian.
Di dunia yang sering berlari menuju masa depan, ritual Tulehu mengundang kita untuk berhenti sejenak, menghormati masa lalu, dan merayakan ikatan yang menyatukan kita. Ini adalah kisah yang ditulis dalam langkah-langkah prosesi, dinyanyikan dalam lantunan pengabdian, dan dihidupi dalam semangat sebuah desa yang menolak membiarkan warisannya memudar.