Setelah kabar mengejutkan tentang kebangkrutan Tong Tong Fair—festival budaya Indische terbesar di Belanda yang telah berlangsung puluhan tahun—kini Den Haag bersiap menyambut sebuah era baru. Sebuah acara budaya baru bernama Jalan Jalan, yang dalam bahasa Indonesia berarti berjalan-jalan, akan menjadi penerus warisan panjang yang sebelumnya diwakili oleh Tong Tong Fair.
Meski bentuk dan skala acaranya mungkin berubah, intinya tetap sama: memperingati dan merayakan budaya Indo yang berakar pada percampuran tradisi Belanda dan Indonesia. Warisan yang melekat pada Tong Tong Fair bukan hanya soal makanan lezat, pertunjukan seni, atau bazar penuh warna — tetapi juga tentang ketahanan identitas dan sejarah komunitas Indo di negeri Belanda.
Merangkul Budaya dan Komunitas yang Lebih Luas
Jalan Jalan tidak hanya hadir sebagai pengganti, tetapi juga membawa semangat baru. Konsepnya dirancang untuk menjangkau lebih luas, termasuk komunitas Indonesia, Maluku, dan Papua yang memiliki ikatan sejarah dan budaya dengan Belanda. Berbeda dengan pendahulunya yang lebih fokus pada budaya Indo—yakni budaya percampuran antara Belanda dan Indonesia pada masa kolonial—Jalan Jalan akan menjadi ruang inklusif bagi beragam ekspresi budaya dari Nusantara.
Menurut laporan dari media lokal Omroep West, edisi pertama dari festival ini akan diselenggarakan pada tahun 2026. Namun, sebelum itu, akan digelar edisi perkenalan pada 15 Agustus 2025. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Asia, sebuah momen penting dalam sejarah hubungan Belanda dan Indonesia.
Kebangkitan dari Kehilangan
Tong Tong Fair sebelumnya dikenal sebagai Pasar Malam Besar—ajang tahunan yang meriah dengan makanan khas, kerajinan tangan, musik, dan tarian tradisional. Acara ini menyedot puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya dan menjadi tempat nostalgia serta pelestarian budaya bagi generasi keturunan Indonesia di Belanda.
Sayangnya, festival tersebut tidak dilaksanakan pada tahun lalu akibat kesulitan finansial yang akhirnya berujung pada kebangkrutan penyelenggaranya. Ketiadaan acara ini meninggalkan kekosongan budaya yang dirasakan oleh banyak pihak, terutama komunitas Indische dan diaspora Indonesia di Belanda.
Sejarah Tong Tong Fair: Dari Pasar Malam Besar hingga Tong Tong Fair
Tong Tong Fair berakar dari gerakan kebudayaan yang menolak tekanan pemerintah Belanda pascaperang untuk mengasimilasi komunitas Indo ke dalam masyarakat umum. Sekelompok Indo yang vokal dan independen, yang tergabung dalam kelompok Indies Cultural Circle, berkumpul di sekitar intelektual Indo ternama, Tjalie Robinson. Salah satu pencapaian besar mereka adalah pendirian Pasar Malam Besar pada tahun 1959.
Sejak awal, festival ini berhasil menarik pengunjung lintas generasi dan terus menghadirkan program yang beragam serta progresif, sembari tetap menjaga ikatan budaya berabad-abad dengan Kepulauan Indonesia — jauh melampaui ekspektasi para pendirinya. Keberhasilan ini mencapai puncaknya ketika Ratu Beatrix secara resmi membuka edisi ke-45 Pasar Malam Besar pada tahun 2003. Lima tahun kemudian, untuk perayaan ke-50, Sang Ratu kembali membuka acara tersebut — yang juga menjadi kali terakhir nama Pasar Malam Besar digunakan, sebelum berubah menjadi Tong Tong Fair.
Setelah Revolusi Nasional Indonesia dan pengusiran warga negara Belanda dari Republik Indonesia, hubungan antara kedua negara membeku — tidak hanya secara politik dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang akademik dan budaya. Ketegangan ini berlangsung hingga jauh ke abad ke-21.
Namun, Tong Tong Fair berupaya menjadi jembatan di tengah ketegangan tersebut. Sejak tahun 1970-an, penyelenggara secara konsisten mengundang para seniman dan pengrajin dari Indonesia untuk tampil di ajang ini. Salah satu momen paling bersejarah terjadi pada tahun 1985, saat para putri kerajaan dari Solo — anak-anak Pakubuwono XII — menampilkan tarian Serimpi yang eksklusif. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, anggota bangsawan Surakarta menampilkan tarian ini di luar lingkungan Kraton Solo.
Tahun itu juga, Tong Tong Fair menggalang dana untuk membantu rekonstruksi Kraton Solo yang rusak akibat kebakaran. Dua dekade kemudian, pada 2006, mereka kembali mengadakan penggalangan dana untuk membantu korban tsunami 2004 di Indonesia.
Penutupan yang Menggugah Emosi dan Harapan Baru
Pada 14 Mei 2024, dua perusahaan di balik festival ini — Tong Tong Holding B.V. dan Pasar Malam Besar B.V. — dinyatakan bangkrut. Imbasnya, edisi ke-64 dari Tong Tong Fair resmi dibatalkan. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi komunitas Indo dan pencinta budaya Indonesia di Belanda dan sekitarnya.
Namun, kisah Tong Tong Fair belum usai. Sebuah kelompok kerja yang terdiri dari mantan staf dan mitra budaya sedang merancang kelanjutan festival ini dalam bentuk baru. Mereka bertekad menjaga semangat dan nilai-nilai yang selama ini dihidupi oleh festival: mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam sebuah ruang perayaan lintas budaya.
Dukungan Pemerintah Kota Den Haag
Saskia Bruines, Wakil Walikota bidang kebudayaan dari partai D66, menyatakan bahwa format lama seperti Tong Tong Fair “sudah tidak lagi berkelanjutan secara finansial dan membutuhkan pembaruan.” Ia menyambut baik lahirnya “Jalan Jalan” sebagai bentuk baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
“Para penggagas acara telah berdiskusi dengan banyak komunitas di seluruh kota. Sekarang sudah ada landasan yang kuat untuk menghadirkan acara Haags–Indische yang baru. Edisi perkenalan bulan Agustus nanti akan memberikan gambaran suasana dan konsep yang ingin dibawa oleh festival ini,” ujarnya.
Melangkah ke Depan
Dengan nama yang merujuk pada aktivitas santai nan akrab dalam budaya Indonesia, Jalan Jalan diharapkan tidak hanya menjadi festival, tetapi juga perjalanan budaya yang mempererat hubungan antara Belanda dan komunitas-komunitas yang memiliki akar di Indonesia. Festival ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan, ekspresi seni, serta refleksi atas sejarah yang kompleks, namun tetap penuh harapan.