Bulan Agustus kembali datang, seperti tamu lama yang setia menepuk pundak kita, meski kita sendiri belum sempat merapikan ruang tamu. Di setiap sudut kota, bendera Merah Putih mulai berkibar. Tapi di antara tiang-tiang bambu dan bendera plastik itu, kadang ada juga yang tak lazimβbendera bajak laut Jolly Roger dari One Piece, tertancap di atas warung kopi, di atas atap anak muda yang sedang resah: simbol harapan liar akan keadilan yang tak datang dari istana, tapi dari petualangan, dari keberanian membongkar tatanan lama.
Sekolah rakyat di ujung kampung tetap berdiri, meski atapnya bocor dan papan tulisnya sudah usang. Anak-anak masih datang, membawa semangat yang tak dimengerti oleh angka-angka APBN. Mereka belajar menghitung dengan tangan, menggambar dengan arang. Di hadapan mereka, masa depan adalah teka-teki. Di belakang mereka, poster kampanye pendidikan bergizi dan digitalisasi sekolah terpampang gagahβtapi hanya di baliho, tidak di dapur.
Di seberang jalan, Koperasi Merah Putih diresmikan dengan gunting emas dan senyum media. Foto-foto berseragam batik tersebar di media sosial, penuh kata-kata seperti “kemandirian ekonomi rakyat” dan “UMKM naik kelas”. Tapi ibu penjual sayur di pasar masih menulis utang di buku lusuh, dan tak paham apa beda koperasi dengan rentenir. Baginya, merah putih adalah seragam sekolah cucunya yang belum terbeli.
Sementara itu, seorang komisaris BUMN baru dilantik. Namanya dikenal di layar kaca, bukan karena prestasi industri, tapi karena silsilah politik dan konten TikToknya yang viral. Di meja kerjanya, proposal-proposal proyek strategis menumpuk. Tapi entah berapa yang akan jatuh ke jurang korupsi, dibungkus rapi dalam bahasa “penguatan ekosistem nasional” dan “sinergi lintas lembaga”.
Korupsi memang tak pernah absen dari ulang tahun bangsa ini. Seperti tamu istimewa yang selalu tahu jalan masuk. Bahkan ketika pengadilan memutus bersalah, masih ada ruang grasi dari Presidenβdengan alasan kemanusiaan, meski rakyat yang dikorupsi tak sempat meminta belas kasihan saat harga minyak goreng melambung.
Di layar kaca, pemerintah menjanjikan “makan bergizi gratis” bagi anak-anak sekolah. Sebagian percaya, sebagian tersenyum miris. Di banyak tempat, makan saja masih menjadi soal, apalagi bergizi. Anak-anak yang antre di dapur umum lebih banyak dari yang duduk di kantin sekolah. Tapi kita disuruh percaya, karena katanya inilah bukti negara hadir.
DANANTARA kini menjadi aktor penting di panggung ekonomi nasional. Lembaga investasi strategis ini digadang-gadang sebagai kendaraan masa depan Indonesia: mengelola dana triliunan, menyasar proyek-proyek unggulan, dari pelabuhan, energi, hingga logistik. Tapi bagi warga yang antre beras di gudang desa, nama besar Danantara terdengar seperti cerita dari negeri jauhβindah dalam konsep, tapi asing dalam kenyataan. Mereka belum tahu apa arti “sovereign wealth fund”, mereka hanya tahu harga beras naik, dan pekerjaan makin sulit dicari.
IKN dibangun di jantung Kalimantan. Pusat pemerintahan baru katanya, “simbol Indonesia masa depan”. Tapi tambang ilegal menggerogoti sisi lainnya. Di hutan-hutan yang dulu sakral, kini berdiri ekskavator dan tenda-tenda liar. Sungai berubah warna, tanah kehilangan akar. Tapi siapa peduli, selama kontrak masih ditandatangani dan keuntungan terus mengalir.
Kemiskinan tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti rupa. Kadang muncul sebagai anak putus sekolah yang jadi kurir pinjol, kadang sebagai ibu tunggal yang berdagang siomay sambil menggendong bayi. Mereka tak masuk statistik resmi, tapi mereka adalah denyut asli negeri ini.
Menjelang Proklamasi ke-80, kita dihadapkan pada tumpukan kenyataan dan retorika. Antara yang dikatakan dan yang dijalani, ada jurang yang makin lebar. Tapi seperti bendera Merah Putih yang tetap dinaikkan tiap pagi, kita masih percaya. Mungkin bukan pada pemerintah, bukan pada proyek, tapi pada kekuatan rakyat kecil yang bertahan. Yang meski lelah, masih bersedia bermimpi.
Dan di antara semua bendera itu, mungkin sesekali bendera bajak laut dari One Piece tak perlu dicabut. Biar tetap berkibarβsebagai pengingat bahwa keadilan tak datang dari janji, tapi dari keberanian untuk mengguncang sistem yang salah.