“Yang Tuhan Buat Itu Baik Adanya?” — Sebuah Refleksi dari Dalam Dukacita

Share:

Di banyak rumah duka, sering kita dengar ungkapan ini:
“Yang Tuhan buat itu, baik adanya.”

Kalimat ini biasanya diucapkan dengan niat tulus, sebagai penghiburan, penguatan iman, atau sekadar menambal keheningan yang terlalu pilu untuk diisi dengan kata lain. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan benar-benar bertanya: Benarkah ini?
Benarkah kematian orang yang saya kasihi adalah sesuatu yang “baik adanya”?
Apakah kehilangan yang meluluhlantakkan, air mata yang tak berhenti mengalir, dan sunyi yang menggema di dada — semuanya bagian dari “kebaikan Tuhan”?

Sumber Kutipan yang Sering Disalahpahami

Ungkapan “yang Tuhan buat itu, baik adanya” berasal dari Kitab Kejadian pasal pertama, ketika Allah selesai menciptakan langit, bumi, laut, dan segala isinya. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kejadian 1:31). Ini adalah deklarasi kebaikan ciptaan pada mulanya — dunia yang murni, harmonis, dan belum tercemar oleh dosa, penyakit, atau kematian.

Tetapi dunia kita hari ini tidak lagi seperti dunia Kejadian 1. Dunia kita sudah terluka. Ada perang, bencana, ketidakadilan, dan tentu saja — kematian. Maka pertanyaannya, ketika seseorang yang kita kasihi pergi, apakah kita bisa atau bahkan seharusnya meminjam kutipan penciptaan untuk membenarkan penderitaan?

Ketika Ungkapan Itu Justru Menyayat Luka

Sebagai seseorang yang pernah duduk lama di samping ranjang kematian, saya tahu betapa mudahnya kalimat itu terucap, dan betapa menyakitkannya ia bisa terdengar. Ada saat di mana kita ingin marah pada dunia — dan bahkan pada Tuhan. Kita ingin bertanya: “Mengapa?”
Dan di tengah pertanyaan itu, datanglah sebuah suara yang terasa seperti vonis suci:
“Yang Tuhan buat itu baik adanya.”

Benarkah?
Apakah Tuhan yang baik menyusun kepergian ini seperti seorang arsitek menyusun bangunan megah, dan kita harus tersenyum dalam rasa kehilangan?
Apakah kita harus berpura-pura bahwa duka ini adalah bagian dari keindahan?

Yesus Tidak Mengatakan Itu di Depan Kubur Lazarus

— Tuhan yang Berduka dan Menangis Bersama Kita

Salah satu momen paling menggugah dalam seluruh kisah Injil terjadi di depan sebuah kubur. Di sana, di hadapan kematian sahabat-Nya, Yesus menangis. Dua kata pendek yang terekam dalam Yohanes 11:35 — “Yesus menangis” — menjadi semacam jendela yang membuka tabir terdalam tentang siapa Tuhan itu.

Yesus tahu Lazarus akan dibangkitkan sebentar lagi. Ia tahu bahwa duka Maria dan Marta akan berubah menjadi sukacita. Namun, Ia tidak melompati kesedihan mereka. Ia tidak berkata, “Tenang, semua ini baik adanya.” Ia tidak menguliahi mereka dengan pengajaran tentang takdir atau rencana Allah. Ia tidak bahkan langsung menyuruh mereka beriman.

Ia menangis.

Tangisan ini bukan karena kebingungan atau ketidakberdayaan. Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas maut — sebentar kemudian, Ia akan memanggil Lazarus keluar dari kubur, membalikkan tragedi menjadi mujizat. Tapi sebelum mujizat itu, Yesus masuk ke dalam duka itu. Ia berempati secara penuh, membiarkan diri-Nya larut dalam kepedihan yang sangat manusiawi.

Ini menggugah. Karena tangisan Yesus membongkar banyak asumsi keliru kita tentang Tuhan.

Sering kali dalam penderitaan, kita membayangkan Tuhan sebagai entitas yang jauh, tinggi, tak tersentuh. Duduk di takhta surgawi, mengatur segalanya dalam skema ilahi yang misterius dan “baik adanya”, sementara manusia di bumi harus menerima saja dengan kepala tertunduk.

Tetapi Yesus di depan kubur Lazarus menghancurkan citra Tuhan yang semacam itu. Ia menunjukkan bahwa Allah tidak berjarak. Allah tidak apatis. Allah bukan pelaku utama dari kematian, melainkan Penebus dari segala luka yang disebabkan oleh dosa dan kefanaan.

Dalam inkarnasi-Nya, Allah memasuki dunia kita yang rusak, memikul tubuh yang bisa merasakan lelah, lapar, sakit, bahkan kehilangan. Ia mencintai, berteman, merayakan, dan juga berduka. Ketika Lazarus mati, Yesus tidak menahan emosi-Nya di balik wajah tegar. Ia tidak menyembunyikan air mata-Nya. Justru Ia menangis dengan dan untuk mereka yang ditinggalkan.

Ini adalah Tuhan yang tak hanya berkata, “Aku menyertaimu,” tapi juga menangis bersamamu.

Dalam budaya kita, sering ada dorongan untuk cepat-cepat “menghibur” yang berduka — dengan kata-kata rohani, ayat-ayat hafalan, atau kalimat klise seperti “Tuhan tahu yang terbaik.” Tapi Yesus mengajarkan hal lain.

Ia tidak terburu-buru melompati ratapan Maria dan Marta. Ia tidak meremehkan kesedihan mereka, atau menyalahkan mereka karena kurang percaya. Ia menghormati air mata mereka, dan turut mengalirkan air mata-Nya sendiri.

Dengan itu, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa menangis bukan kegagalan iman. Sebaliknya, menangis bisa menjadi bentuk iman yang paling jujur. Ketika kita kehilangan orang yang kita kasihi, kita tidak sedang melawan kehendak Tuhan — kita sedang menunjukkan bahwa cinta itu pernah hadir, dan sekarang kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Yesus menangis karena Lazarus adalah sahabat-Nya. Cinta-Nya nyata. Kehilangan itu menyakitkan. Dan Yesus tidak pura-pura seolah tidak merasakannya.

Apa artinya jika Tuhan menangis? Ini bukan sekadar penghiburan emosional. Ini adalah wahyu.

Ketika Yesus menangis, Ia mengungkapkan isi hati Allah sendiri. Allah bukan hanya Pencipta yang berkata, “Jadilah terang!” — Ia juga adalah Bapa yang menyaksikan penderitaan umat-Nya dan menangis bersama mereka.

Kita sering berpikir bahwa Tuhan hadir dalam kemenangan, dalam mujizat, dalam kesembuhan. Tetapi di depan kubur Lazarus, kita menemukan Tuhan hadir dalam keheningan, dalam pelukan yang erat, dalam air mata yang jatuh diam-diam ke tanah yang sama dengan tanah kuburan.

Yesus tidak memberi solusi cepat. Ia memberi kehadiran sejati.
Dan mungkin itulah yang paling kita butuhkan saat kehilangan: Tuhan yang hadir, bukan Tuhan yang menjelaskan.

Saat kita berdiri di samping peti jenazah orang yang kita cintai…
Saat malam terlalu sunyi karena suara tawa mereka telah tiada…
Saat kita duduk sendirian, menggenggam foto-foto lama yang kini terasa seperti harta karun kesedihan…

Yesus masih menangis bersama kita.

Ia adalah Imam Besar yang “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibrani 4:15). Ia tidak pernah menjadi terlalu ilahi hingga melupakan luka manusia. Salib-Nya adalah bukti puncak: bahwa Tuhan lebih memilih menderita bersama manusia, daripada membiarkan manusia menderita sendirian.

Air mata Yesus bukan hanya ekspresi kasih — itu juga awal dari kemenangan. Tangisan-Nya di depan kubur bukan akhir cerita. Sebentar kemudian, Ia berseru,

“Lazarus, keluarlah!”

Dan Lazarus keluar — hidup kembali.

Begitu pun kita. Meski hari ini kita berdiri di hadapan kematian, kehilangan, dan duka yang pekat, kita tahu bahwa tangisan Tuhan adalah janji akan pemulihan. Bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam. Ia akan bertindak. Entah di dunia ini, atau di kehidupan yang kekal.

Tapi sebelum itu, Tuhan tidak terburu-buru.

Ia duduk di samping kita, dan menangis bersama kita.

Jika Anda merasa bahwa Tuhan terasa jauh saat ini, ingatlah:

“Dia bukan hanya Tuhan atas kehidupan — Dia juga Tuhan yang pernah berdiri di depan kubur, dan menangis.”

Dan karena itu, Anda tidak sendirian.

Kebaikan Tuhan Tidak Menghapus Duka, Tapi Hadir di Dalamnya

Kita perlu membedakan antara kebaikan Tuhan dan kenyataan penderitaan.
Kebaikan Tuhan bukan berarti semua yang terjadi adalah baik.
Kebaikan Tuhan berarti tidak ada hal buruk pun yang mampu memisahkan kita dari kasih-Nya.
Bahkan di dalam lembah kelam, bahkan di tengah jerit kehilangan, bahkan saat kita kehilangan pegangan.

Kebaikan itu tidak selalu datang dalam bentuk jawaban, tapi dalam bentuk kehadiran.
Tuhan tidak menjelaskan duka kita — Tuhan turut serta di dalamnya.

Menjadi Jujur dalam Iman

Kita tidak harus berkata “baik” jika hati kita remuk.
Kita tidak berdosa karena menangis, meratap, atau bertanya.
Mazmur penuh dengan tangisan, Yeremia menuliskan kitab Ratapan, bahkan Yesus sendiri berseru di salib,

“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Itulah bahasa iman yang jujur — bukan iman yang memoles luka dengan kalimat indah, tetapi iman yang membawa luka itu ke hadapan Tuhan, dan tetap tinggal bersama-Nya.

Penutup: Yang Mungkin Lebih Baik Dikatakan

Mungkin di tengah keheningan duka, kita tidak perlu mengutip Kejadian 1.
Mungkin lebih baik kita berkata:

“Aku tidak tahu kenapa ini terjadi. Tapi aku percaya Tuhan tidak meninggalkanmu.”
“Aku di sini bersamamu. Dan Tuhan juga.”
“Tangisanmu didengar. Dukamu disaksikan.”

Karena dalam kehilangan, yang kita butuhkan bukanlah penjelasan — tetapi pelukan dan kehadiran.

Dan justru di situlah, tanpa banyak kata, kebaikan Tuhan benar-benar hadir.


Jika tulisan ini menyentuh hati Anda yang sedang berduka, jangan merasa harus kuat sekarang juga. Berduka adalah bentuk kasih. Dan Tuhan hadir bahkan dalam air mata Anda.

“Tuhan tidak selalu menghapus air mata kita segera, tapi Ia menyimpannya dalam kirbat-Nya.” — Mazmur 56:9



Share:
error: Content is protected !!