Dalam sunyi yang dulu sering diisi dengan melodi “Barcelona” atau “Sakura,” kini kita dihadapkan pada kabar yang menyayat hati: musisi legendaris Fariz RM kembali ditahan karena kasus narkotika. Ini bukan kali pertama, dan barangkali—jika kita tak belajar—bukan yang terakhir.
Fariz RM bukan pengedar. Ia bukan kriminal dalam pengertian yang sering kita tempelkan pada pelaku kekerasan atau pencuri hak orang lain. Ia adalah korban dari satu masalah yang lebih dalam, lebih kompleks, dan lebih manusiawi: kecanduan.
Kecanduan Bukan Kriminalitas, Tapi Krisis Kemanusiaan
Dalam dunia medis dan psikologi, kecanduan diakui sebagai penyakit kronis. Ia memengaruhi otak dan perilaku, membuat seseorang sulit lepas dari zat adiktif meski sadar akan risikonya. Seperti halnya penderita diabetes atau hipertensi, mereka yang mengalami kecanduan membutuhkan perawatan jangka panjang, bukan vonis dan penjara.
Namun, di negeri ini, narasi yang dibangun masih keliru. Mereka yang tergelincir ke dalam kecanduan lebih sering dijadikan headline sensasional ketimbang dipahami dan disembuhkan. Kita lebih cepat menghakimi daripada mengulurkan tangan.
Fariz RM, sang pionir musik pop progresif Indonesia, adalah saksi hidup dari bagaimana sistem kita gagal melihat manusia di balik masalah.
Rehabilitasi yang Serius, Bukan Sekadar Formalitas
Kita memerlukan sistem rehabilitasi yang benar-benar menyentuh akar masalah. Rehabilitasi bukan hanya ruang isolasi selama tiga bulan, bukan hanya sesi konseling seadanya, lalu selesai.
Rehabilitasi yang efektif melibatkan proses detoksifikasi yang aman, konseling individu dan kelompok, pendampingan psikososial, terapi perilaku, bahkan pelatihan kerja dan dukungan spiritual. Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan empati, dana, dan kebijakan yang berpihak pada pemulihan, bukan hukuman.
Jika rehabilitasi dijalankan setengah hati, maka relaps—kekambuhan—hanya tinggal menunggu waktu. Maka tak heran jika nama-nama yang pernah “bersih” kembali tertangkap. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena kita lalai merawat.
Seni Tidak Imun dari Luka
Fariz RM telah memberikan hidupnya untuk musik. Ia menjadi suara dari era 80-an yang tak tergantikan. Karyanya melampaui ruang dan waktu. Namun, seperti banyak seniman besar, kehidupan batin dan tekanan sosial kerap menjadi titik rapuh.
Mungkin justru karena kepekaannya sebagai seniman, Fariz RM menyerap terlalu dalam kesunyian dunia. Dan di saat dunia tak mendengar, narkotika menawarkan pelarian semu. Tragis, tapi nyata.
Saatnya Berubah: Dari Hukum ke Pemulihan
Kita perlu mengubah cara pandang. Menangani kasus seperti Fariz RM dengan pendekatan hukum pidana hanya akan melanggengkan siklus penderitaan. Alih-alih menutup luka, kita memperlebar sobekan. Padahal, kita punya pilihan: menjadikan hukum sebagai alat pemulihan, bukan penghukuman.
Bayangkan jika Fariz RM mendapat rehabilitasi holistik, didampingi secara medis dan emosional, lalu dilibatkan dalam program pemulihan berbasis seni dan budaya. Ia bisa menjadi duta anti-narkoba yang autentik, bukan simbol kegagalan sistem.
Penutup: Yang Kita Butuhkan adalah Kasih dan Keberanian
Kasih, untuk melihat bahwa di balik kasus, ada manusia yang terluka.
Keberanian, untuk berkata bahwa sistem kita salah arah — dan harus berubah.
Fariz RM adalah bagian dari sejarah kita. Jangan biarkan ia menjadi bagian dari tragedi kita yang lain: kegagalan untuk menyembuhkan ketika seseorang paling membutuhkan pertolongan.