Nama Hanoch Luhukay mungkin tidak asing bagi mereka yang pernah berinteraksi dengan dunia akademik di Makassar, khususnya di Universitas Hasanuddin. Lahir di Ambon, 20 Februari 1923, ia tumbuh menjadi figur yang memiliki peran penting dalam dokumentasi sejarah dan literasi. Kisah hidupnya penuh dengan dedikasi terhadap pendidikan, penelitian, dan pelestarian arsip.

Perjalanan Hidup
Pada usia 27 tahun, Hanoch Luhukay sudah sering bepergian ke Makassar. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1949, ia memutuskan untuk menetap di kota tersebut. Namun, langkah besarnya dimulai pada tahun 1951 ketika ia memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Hanoch Luhukay meninggal di Ambon pada 13 Januari 2010, di usia 86 tahun. dan dimakamkan oleh istri, anak-anak dan cucu-cucunya di Passo.
Hobi Unik yang Menjadi Warisan
Sejak masa kuliah, Hanoch telah menunjukkan hobi yang sangat unik dan berharga: mengoleksi dan merawat surat kabar. Semua surat kabar yang ia peroleh tidak pernah dibiarkan sia-sia. Ia tidak menjualnya, tidak menempelkannya di dinding, apalagi menggunakannya sebagai pembungkus makanan. Sebaliknya, ia menyimpan setiap eksemplar dengan rapi, bahkan menyemprotnya dengan insektisida untuk mencegah kerusakan akibat rayap.
Ketika menjadi dosen di Universitas Hasanuddin dan tinggal di kompleks Unhas, Jalan Andi Mapapnyukki 62, hobinya ini semakin berkembang. Hampir seluruh kamar di rumahnya dipenuhi oleh koleksi surat kabar. Bahkan garasi rumahnya, yang seharusnya digunakan untuk kendaraan, dimanfaatkan sebagai ruang penyimpanan dokumen dan karya sastra, termasuk karya para seniman daerah yang belum sempat diterbitkan.
Baca Juga : Empat Generasi “Orang Ambon” di Makassar
Peran Penting dalam Dokumentasi Sejarah
Koleksi surat kabar Hanoch Luhukay bukan sekadar tumpukan kertas. Ia menyimpan dokumen-dokumen penting yang menjadi saksi sejarah. Salah satu koleksi istimewanya adalah dokumen hasil interogasi Belanda terhadap pahlawan nasional Wolter Monginsidi. Melalui dokumen tersebut, ia membantu mengungkap fakta bahwa Wolter Monginsidi gugur sebagai kesuma bangsa pada 5 September 1949.
Hanoch Luhukay juga sangat produktif menulis buku dan menerjemahkan dokumen penting. Beberapa karyanya yang monumental antara lain:
- Hanoch Luhukay dan B.E. Tuanakotta. 2006. Memori Asisten Residen W.J.Leyds Selama Bertugas di Mandar. Yayasan Kaitupa. (Terjemahan dari: Leyds, W.J. 2006. Memoar of The Resident Assistant).
- Hanoch Luhukay. 199?. Dari Makassar ke Ujung Pandang, Beberapa Catatan Perubahan Ketatanegaraan, Tata Pemerintahan dan Kehidupan Sosial Sebuah Kota Besar. Manuskrip. Tidak diterbitkan.
- Luhukay, Hanoch dan M. Saleh Putuhena. 1983. Peranan Organisasi Keagamaan Pada Awal Perjuangan Kemerdekaan Di Sulawesi Selatan. Makalah pada Seminar Sejarah Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan Menentang Penjajahan Asing. Jakarta: Depdikbud.
- Hanoch Luhukay, Ishak Ngeljaratan, dan Suradi Yasil. 1984. Kesusasteraan Indonesia di Sulawesi Selatan. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
- Luhukay, Hanoch. 1987. Four Generation of “Orang Ambon” in Makassar. Royal Institue of Linguistics and Anthropology International Workshop on Indonesian Studies (2: 1987 : Leiden). Royal Institue of Linguistics and Anthropology. Leiden.
- Hanoch Luhukay. 1981. Delegasi Sulawesi Tidak Hadir pada Sidang-sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pedoman Rakyat, 22 Agustus 1981.
- Luhukay, Hanoch. 1985. Front Penentang ‘Republik Maluku Selatan’ di Makassar (terbentuk pada tanggal 26 April 1950). Paper. Seminar Sejarah Nasional IV, Yogyakarta.
- Hanoch Luhukay. Rekonstruksi Historis Hubungan Pusat-Daerah Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1974. Manuskrip. Tidak dipublikasikan.
- Hanock Luhukay, dan Ny. S.G. Luhukay. 1983. Catatan Pemerintah Belanda dan Asing Tentang Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan selama Perang Kemerdekaan Republik Indonesia. Pedoman Rakyat -Tahun XXXVI No. 281, Thursday, February 3 1983.
- Hanoch Luhukay, dan B.E. Tuwanakota. 2006. Beberapa Catatan Tentang Pembuatan Perahu dan Pelayaran di Daerah Mandar, Sulawesi Selatan. (terjemahan Liebner, H (1996). Laporan Penelitian.
- Luhukay Hanoch. 1967. Maluku dalam Perlintasan Suasana Orde Baru. Manuskrip. Yayasan Kaitupa.
- Luhukay Hanoch. 1982. Peranan KRIM (Kebaktian Rakyat Indonesia Maluku) di Sulawesi Selatan dalam Revolusi Fisik . Paper Seminar Sejarah Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan Menentang Penjajahan Asing , Ujung Pandang , 1982 , 14 pp.
- Luhukay Hanoch. 1982. Sejarah Lisan dari Sulawesi Selatan dengan Kegunaan Praktis. [Kertas kerja disampaikan pada Lokakarya Sejarah Lisan Arsip Nasional, 14-17 Juni, 1982]. Jakarta: Arsip Nasional, 1982. 23 pp.
- Hanoch Luhukay. 1993. Pattimurah atau Pattimura?. Suara Maluku, Ambon, 22 Maret 1993.
Ia juga bersama beberapa kolega di Ambon menulis Buku Ajar:
- Makaruku, N.Z. Elly, A, Makaruku, dan H. Luhukay. 1997. Buku Ajar Bahasa Alune. Cetakan Pertama Desember 1997 Ambon: Lembaga Kebudayan Daerah Maluku.
- Seleky, W. Y.R. Weimese, H. Luhukay, dan E. Rumalewang. 1997. Buku Ajar Bahasa Buru. Ambon: Lembaga Kebudayan Daerah Maluku.

Baca Juga : Ambon – “Door de Eeuwen Rouw”
Pentingnya Dokumentasi
Dokumentasi memiliki peran krusial dalam menjaga jejak sejarah dan budaya. Apa yang dilakukan oleh Hanoch Luhukay adalah bukti nyata bagaimana dokumentasi dapat menjadi aset tak ternilai. Berikut adalah beberapa alasan mengapa dokumentasi itu penting:
- Merekam Sejarah Dokumentasi membantu merekam peristiwa, ide, dan gagasan penting yang terjadi pada suatu masa. Koleksi Hanoch, seperti dokumen interogasi Wolter Monginsidi, memberikan perspektif yang lebih jelas tentang sejarah perjuangan bangsa.
- Mencegah Hilangnya Informasi Tanpa dokumentasi, informasi berharga bisa hilang seiring berjalannya waktu. Surat kabar, dokumen pemerintahan, atau karya sastra daerah yang dikumpulkan oleh Hanoch menjadi sumber informasi yang berpotensi hilang jika tidak dirawat.
- Sumber Penelitian Koleksi dokumen dan surat kabar Hanoch telah membantu banyak mahasiswa, dosen, dan peneliti lokal maupun internasional dalam mengakses informasi yang sulit ditemukan di tempat lain. Dokumentasi semacam ini menjadi landasan bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
- Pelestarian Budaya Melalui koleksi karya sastra dan dokumen-dokumen daerah, Hanoch turut melestarikan kekayaan budaya yang mungkin kurang mendapat perhatian. Ini penting untuk menjaga identitas dan kebanggaan suatu komunitas.
- Inspirasi Generasi Mendatang Arsip yang terjaga dengan baik dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus menggali dan menghormati warisan leluhur. Apa yang dilakukan oleh Hanoch adalah contoh bagaimana individu dapat berkontribusi besar bagi masyarakat melalui upaya pelestarian.
Koleksi untuk Semua Kalangan
Rumah Hanoch Luhukay sering menjadi tempat kunjungan mahasiswa, dosen, wartawan, hingga masyarakat umum yang ingin memanfaatkan koleksinya. Tidak sedikit pula para peneliti dari luar negeri, seperti Australia, Amerika, dan Jerman, yang datang untuk mengakses koleksinya secara gratis. Koleksi ini juga membantu instansi seperti Kodam XIV Hasanuddin dan Pemerintah Daerah Makassar dalam menghimpun data dan arsip kegiatan mereka.
Dalam sebuah buku “Pers Indonesia” tahun 1974, Hanoch Luhukay disebutkan sebagai dokumentator pers, tokoh yang paling tekun melakukan pengarsipan suratkabar-suratkabar dari sejak zaman sebelum kemerdekaan.


Surat Kabar Daerah yang Terlestarikan
Hanoch Luhukay memiliki koleksi lengkap berbagai surat kabar daerah. Beberapa koleksi yang menonjol meliputi:
- Harian Pedoman Rakyat Makassar selama 17 tahun.
- Harian Tegas dan Fajar selama masa penerbitannya.
- Berbagai surat kabar harian dan mingguan lainnya yang terbit di Makassar.
Legasi yang Menginspirasi
Hanoch Luhukay bukan hanya seorang akademisi dan kolektor, tetapi juga penjaga sejarah yang tanpa lelah mengabdikan dirinya untuk melestarikan arsip dan dokumen penting. Hobinya yang sederhana, namun berharga, tidak hanya memberikan kebahagiaan bagi dirinya tetapi juga membantu banyak orang dalam memahami sejarah dan budaya.
Melalui dedikasinya, Oom Hanoch telah membuktikan bahwa upaya kecil dalam menjaga arsip dapat memberikan dampak besar bagi ilmu pengetahuan dan pelestarian sejarah. Namanya akan selalu dikenang sebagai sosok yang tak kenal lelah dalam menjaga jejak-jejak sejarah untuk generasi mendatang.
Mengenang mendiang Oom Hanoch Luhukay 💝
2 thoughts on “Hanoch Luhukay: Kolektor Surat Kabar yang Mengabadikan Sejarah”
Comments are closed.