Memaknai Kembali Kepemimpinan Adat: Studi Kasus Negeri Rumahtiga

Share:

Konflik yang melanda Negeri Rumahtiga di Ambon terkait kekosongan Raja definitif bukan sekadar masalah teknis birokrasi, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang tantangan kepemimpinan adat di era modern. Sudah bertahun-tahun lamanya, Negeri Rumahtiga dipimpin oleh penjabat sementara, menciptakan kevakuman yang menghambat laju pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Prahara di Balik Tahta Adat

Masalah utama berakar pada perselisihan “mata rumah parentah”—keluarga atau klan yang secara adat berhak memimpin. Meskipun telah ada putusan pengadilan yang menguatkan hak salah satu pihak, proses adat untuk menetapkan Raja definitif berjalan lambat, bahkan terkesan mandek. Konflik ini menunjukkan betapa rumitnya memadukan tradisi yang telah mengakar kuat dengan sistem hukum formal yang modern.

Lebih dari sekadar perebutan kekuasaan, situasi ini memunculkan pertanyaan kritis: bagaimana sebuah sistem kepemimpinan yang dibangun di atas nilai-nilai kekerabatan dan musyawarah dapat beradaptasi dengan realitas politik dan hukum saat ini? Di satu sisi, ada desakan untuk menghormati putusan hukum; di sisi lain, ada keengganan dari sebagian pihak untuk tunduk pada keputusan tersebut, yang mereka anggap tidak sejalan dengan nilai-nilai adat.

Peluang di Tengah Badai

Alih-alih menjadi hambatan, konflik ini bisa menjadi momentum bagi Negeri Rumahtiga untuk mendefinisikan ulang makna kepemimpinan. Masa kekosongan ini adalah kesempatan untuk merenungkan kembali:

  1. Kepemimpinan yang Melayani: Seorang pemimpin adat sejati bukan hanya sosok yang diwariskan, tetapi yang mampu mengayomi, mempersatukan, dan membawa kemajuan bagi seluruh masyarakat, tanpa terkecuali.
  2. Harmoni Adat dan Hukum: Menyelesaikan masalah ini secara damai akan menjadi preseden penting bagi negeri-negeri lain di Maluku. Ini adalah pelajaran bahwa hukum dan adat bisa berjalan beriringan, saling melengkapi, asalkan ada itikad baik untuk mencari jalan keluar bersama.
  3. Keterlibatan Kaum Muda: Konflik ini juga menjadi panggilan bagi generasi muda Rumahtiga untuk terlibat aktif dalam merumuskan masa depan negeri mereka. Mereka adalah jembatan antara tradisi dan modernitas, yang bisa membawa angin segar dan solusi inovatif.

Menuju Fajar yang Baru

Penyelesaian konflik di Negeri Rumahtiga adalah ujian bagi seluruh komponen masyarakat: para tetua adat, tokoh pemuda, hingga pemerintah daerah. Kekosongan Raja definitif bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah babak baru.

Semoga dari puing-puing perselisihan ini, akan lahir sebuah kepemimpinan yang kuat, bijaksana, dan mampu merangkul semua pihak. Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah siapa yang duduk di singgasana, melainkan bagaimana kepemimpinan itu dapat membawa Negeri Rumahtiga kembali bersatu, membangun masa depan yang lebih baik, dan menjadi teladan bagi negeri-negeri adat lainnya.

error: Content is protected !!