Di pertengahan Desember 2025, sebuah istilah baru menghiasi linimasa media sosial, grup WhatsApp keluarga, dan obrolan warung kopi di seluruh negeri: “Super Flu.” Nada suara yang berbisik, emoji wajah cemas, dan berita berantai tentang “satu orang bisa menulari tiga orang lainnya” membuat istilah ini menyebar lebih cepat daripada virus yang sebenarnya. Namun, di balik label dramatis itu, tersembunyi realitas yang jauh lebih tenang—dan jauh lebih rumit.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memang mengonfirmasi keberadaan virus influenza A subvarian H3N2 dengan subklad K di Tanah Air sejak Agustus 2025. Namun, mereka juga menegaskan: gejalanya tidak lebih parah dari flu musiman biasa, dan situasi tetap terkendali. Lalu, mengapa “Super Flu” begitu mengguncang jiwa kolektif masyarakat?
Label yang Lahir dari Kecemasan, Bukan Laboratorium
“Super Flu” bukanlah istilah medis. Ia tidak pernah muncul dalam jurnal ilmiah atau pedoman klinis. Ia lahir bukan dari mikroskop, melainkan dari kecemasan publik yang membutuhkan nama—nama yang ringkas, dramatis, dan viral.
Dalam budaya digital yang didominasi oleh narasi cepat dan emosi instan, “flu biasa” terasa terlalu biasa. Tapi “Super Flu”? Itu memicu imajinasi akan ancaman global, wabah mematikan, atau bencana kesehatan yang tak terhindarkan. Padahal, kata “super” di sini mengacu pada tingkat penularan, bukan keganasan. Satu orang memang bisa menularkan ke dua atau tiga orang lain—angka yang tinggi untuk flu musiman, tetapi jauh dari epidemi seperti Ebola atau SARS.
Namun, di tengah trauma pasca-pandemi, masyarakat jadi lebih sensitif terhadap ancaman tak kasat mata. Kata “super” menjadi semacam alarm mental: sesuatu yang berbeda, sesuatu yang harus diwaspadai, sesuatu yang tidak boleh dianggap remeh. Dan begitu alarm itu berbunyi, responsnya bukan hanya perilaku—tapi juga sistem.
Klinik Penuh, Dokter Kewalahan, Meski Pasien Tak Sakit Parah
Di sebuah puskesmas di kawasan Jakarta Selatan, dr. Lina melihat perubahan drastis dalam dua pekan terakhir. “Biasanya, pasien ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) kita tangani dengan obat penurun demam dan istirahat. Tapi sekarang, begitu mereka dengar ‘Super Flu’, langsung panik. Banyak yang minta PCR, minta dirawat, atau datang hanya karena batuk ringan,” ujarnya.
Inilah paradoks dari “Super Flu”: tidak ada lonjakan kasus berat, tapi ada lonjakan kecemasan. Dan kecemasan itu punya konsekuensi nyata.
Fasilitas kesehatan—terutama di tingkat primer—menghadapi tekanan tak terduga. Ruang tunggu penuh sesak, staf administrasi kewalahan, dokter dipaksa memilah antara pasien yang benar-benar butuh penanganan dan yang datang karena khawatir terkena “virus super.” Akibatnya, alur pelayanan terganggu. Pasien dengan gejala serius seperti sesak napas atau demam tinggi justru harus menunggu lebih lama.
Belum lagi tekanan psikologis pada tenaga kesehatan. Mereka tidak hanya harus mendiagnosis, tapi juga menjadi “konselor” yang meyakinkan masyarakat bahwa flu ini—meski menular cepat—masih bisa ditangani di rumah dengan istirahat dan hidrasi cukup.
Informasi yang Terbelah: Antara “Tenang” dan “Waspada”
Pemerintah berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka harus transparan dan tidak mengecilkan ancaman penularan tinggi. Di sisi lain, mereka harus mencegah kepanikan yang justru memperburuk beban sistem kesehatan.
Juru bicara Kemenkes RI berulang kali menyampaikan: “Situasi terkendali.” Tapi pesan itu sering tenggelam di tengah gelombang narasi media sosial yang lebih dramatis. Bahkan ketika otoritas berkata “tenang,” masyarakat tetap mendengar “Super Flu”—dan kata itu sendiri sudah mengandung ketegangan.
Ini adalah tantangan khas era pasca-truth: ketika emosi dan narasi mengalahkan data. Orang tidak hanya merespons virus, tapi juga cerita tentang virus itu. Dan cerita tentang “Super Flu” jauh lebih menarik ketimbang penjelasan tentang subklad H3N2.
Ironisnya, justru di tengah informasi yang melimpah, literasi kesehatan masyarakat masih rapuh. Banyak yang tidak tahu bahwa vaksin influenza tahunan tetap efektif melawan varian ini, atau bahwa gejala “super” sebenarnya mirip flu biasa: demam, batuk, nyeri otot, dan kelelahan.
Ketika Nama Jadi Lebih Kuat Daripada Fakta
Apa yang bisa dipelajari dari fenomena “Super Flu”?
Pertama, komunikasi krisis kesehatan harus adaptif. Daripada hanya menyangkal istilah populer, otoritas kesehatan perlu mengakui keberadaannya—lalu segera memberi makna yang akurat. Misalnya, dengan kampanye: “Super berarti cepat menular, bukan berarti parah.” Atau: “Jangan takut flu, tapi jangan abaikan juga—cukup pakai masker saat batuk, cuci tangan, dan istirahat.”
Kedua, kolaborasi dengan influencer dan platform digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Di saat berita resmi lambat menyebar, narasi di TikTok atau Instagram Stories bisa menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam. Otoritas kesehatan perlu bermain di medan yang sama, dengan bahasa yang sama—tanpa harus mengorbankan akurasi ilmiah.
Ketiga, investasi dalam literasi kesehatan publik adalah bentuk pencegahan jangka panjang. Masyarakat yang paham dasar-dasar virologi, imunisasi, dan prinsip kesehatan masyarakat akan lebih kebal terhadap hoaks dan panik massal. Pendidikan kesehatan tidak hanya untuk anak sekolah—tapi untuk semua lapisan masyarakat, melalui berbagai saluran: radio, televisi, media sosial, bahkan iklan di angkot.
Penutup: Antara Waspada dan Berlebihan
“Super Flu” mungkin akan memudar dari perbincangan publik dalam beberapa minggu. Kasusnya akan turun, media akan beralih ke isu lain, dan kehidupan kembali normal. Tapi jejaknya tetap ada—sebagai pengingat bahwa di abad ke-21, ancaman kesehatan terbesar bukan selalu virusnya, tapi cara kita membicarakannya.
Virus ini tidak super dalam keganasan, tapi justru super dalam mengungkap kelemahan sistem komunikasi, ketimpangan literasi, dan kerentanan emosional masyarakat pasca-pandemi.
Seperti kata seorang perawat di Surabaya:
“Yang paling melelahkan bukan merawat pasien, tapi meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sedang menghadapi kiamat.”
Dan mungkin, di sanalah tugas terberat dari kesehatan masyarakat hari ini: menjaga keseimbangan antara waspada dan berlebihan, antara ilmu dan narasi, antara fakta dan perasaan.