Maluku Satu Darah
di Jersey Oranye
Antara kebanggaan dua generasi bintang diaspora, paradoks pembinaan sepak bola di tanah asal, dan warisan yang belum tuntas.
Dari Rotterdam ke Latuhalat: Wajah Baru Sepak Bola Maluku
Antara Giovanni van Bronckhorst dan Tijjani Reijnders terbentang jarak lebih dari dua dekade. Namun keduanya berbagi warisan yang sama: darah Maluku yang mengalir diam-diam namun kuat, membentuk karakter permainan yang khas — cerdas, tenang, dan tak mudah goyah di bawah tekanan panggung tertinggi.
Menjelang Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, nama Reijnders kembali ramai diperbincangkan di Ambon — di warung kopi, di grup WhatsApp, di lapangan kampung. Sementara Van Bronckhorst, kini asisten pelatih Liverpool, tetap menjadi simbol bahwa jalur dari tanah Maluku ke puncak Eropa bukan sekadar dongeng.
Lahir di Rotterdam, 5 Februari 1975, dari ibu bernama Fransien Sapulette — perempuan Maluku asli. Dalam autobiografinya, ia bangga menegaskan tidak ada darah Italia meski namanya sering disalahpahami. Bermain di Feyenoord, Rangers, Arsenal, dan FC Barcelona, ia adalah salah satu bek kiri paling elegan yang pernah ada.
Lahir di Zwolle, 29 Juli 1998. Ibunya, Angelina Lekatompessy, berasal dari Desa Latuhalat, Ambon, Maluku. Di tubuhnya terukir tato bermotif khas Maluku. Setelah bersinar di AC Milan, ia direkrut Manchester City. Kini menjadi tulang punggung skuad Belanda di Piala Dunia 2026 bersama Frenkie de Jong dan Cody Gakpo.
Latar belakang Indonesia saya adalah sesuatu yang sangat saya banggakan. Ini adalah bagian besar dari diri saya. Ibu saya berasal dari Indonesia, dan saya merasakan koneksi yang mendalam dengan budaya dan orang-orangnya.
— Tijjani Reijnders, kepada Milan TV
Ada yang menarik ketika mengamati permainan keduanya: keduanya bukan pemain yang mengandalkan fisik semata. Van Bronckhorst bermain dengan kepala, membaca ruang dan waktu dengan presisi tinggi. Reijnders pun demikian — kecerdasannya dalam membaca celah pertahanan lawan dan ketenangan di bawah pressing tinggi menjadi ciri khasnya. Dua karakter berbeda posisi, namun berbagi DNA taktik yang sama.
Gudang Bakat Tanpa Rumah yang Layak
Di sinilah kebanggaan bertemu dengan ironi yang pahit. Maluku dikenal sebagai salah satu kantong penghasil pesepak bola terbaik Indonesia. Namun selama beberapa dekade, kebanggaan itu nyaris tak punya rumah yang layak untuk tumbuh.
Masalah Struktural Sepak Bola Maluku
PSA — Persatuan Sepakbola Ambon — adalah nama yang harusnya menjadi jangkar. Klub ini pernah berjaya di era 1960-an, melahirkan generasi pemain yang disegani secara nasional. Namun kemudian PSA nyaris menghilang — “mati suri” dalam rentang waktu puluhan tahun, sementara talenta Maluku terpaksa merantau ke Jawa dan Sulawesi untuk mendapat pembinaan serius.
Barulah pada September 2025, kepengurusan PSA dilantik kembali oleh Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, dengan komitmen membangkitkan kejayaan sepak bola Ambon. Namun komitmen di atas podium pelantikan belum otomatis menjadi sistem pembinaan yang berjalan sepanjang tahun.
Paradoksnya jelas: di satu sisi ada pengakuan bahwa bakat berlimpah, di sisi lain tata kelola klub, infrastruktur pembinaan, dan kesinambungan kompetisi lokal masih rapuh. Yang dibutuhkan Maluku bukan sekadar turnamen musiman atau semangat pelantikan pengurus baru yang meriah. Yang dibutuhkan adalah sistem — akademi yang berjalan sepanjang tahun, kompetisi berkelanjutan, dan komitmen yang tak berhenti di retorika upacara.
Pemkot Ambon merencanakan dua turnamen besar di 2026: Turnamen Ketua Umum KONI Kota Ambon untuk kelompok usia, dan Piala Wali Kota Ambon untuk kategori umum. Soekarno Cup yang digelar PDI-P Maluku pada Mei 2026 berhasil menarik pemantau resmi dari PSSI — momentum yang disambut sebagai angin segar bagi kebangkitan sepak bola daerah.
Sihasale & Putiray: Sebelum Ada Diaspora, Ada Mereka
Sebelum Tijjani Reijnders dan Giovanni van Bronckhorst, ada nama-nama lain dari Maluku yang mengukir sejarah — bukan di liga Eropa, melainkan langsung di jantung persepakbolaan nasional melalui PSSI. Keduanya memulai dari PSA Ambon, dan keduanya meninggalkan jejak yang hingga kini sulit ditandingi.
Lahir di Ambon, 16 April 1944. Berawal dari PSA, ia menjadi mesin gol Timnas Indonesia selama lebih dari satu dekade. Bersama Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, Max Timisela, dan Abdul Kadir, ia dikenal sebagai kuartet tercepat di Asia — dijuluki “Macan Asia”. Membantu Indonesia meraih medali perunggu Asian Games 1958, dan memenangkan Jakarta Anniversary Tournament 1972 dengan mengalahkan Korea Selatan 5–2. Wafat pada 7 Juli 1983 dalam usia 39 tahun.
Lahir di Ambon, 26 Juni 1970. Striker nyentrik yang selalu tampil dengan sepatu beda warna — namun kemampuan mencetak gol tak bisa diremehkan. Bersama Arseto Solo (1987–1998) ia menjadi ujung tombak tak tergantikan. Setelah merantau ke Hong Kong, ia membuat sejarah: mencetak gol ke gawang AC Milan bersama Kitchee FC dalam laga di Hong Kong Stadium, 30 Mei 2004. Mengabdi untuk Timnas Indonesia selama 14 tahun.
Jejak Sepak Bola Maluku dari Masa ke Masa
Euforia Tanpa Sistem: Pertanyaan yang Harus Dijawab
Piala Dunia 2026 boleh menjadi momen kebanggaan bagi Ambon ketika menyaksikan Tijjani Reijnders berlari di lapangan membela Belanda. Namun pertanyaan yang lebih dalam harus ikut ramai dibicarakan: mengapa Maluku yang begitu subur dengan bakat justru belum mampu menghasilkan pemain yang membela Timnas Indonesia secara konsisten di era modern?
Pemerintah Provinsi Maluku kerap menjadikan nama-nama seperti Van Bronckhorst dan Reijnders sebagai kebanggaan kolektif dalam berbagai forum dan pidato. Spanduk dukungan dipasang, komentar resmi mengalir di media lokal, dan identitas “tanah pesepak bola” terus didengungkan. Namun pertanyaan yang tidak pernah cukup keras diajukan adalah: berapa stadion berstandar nasional yang dimiliki Maluku? Berapa akademi sepak bola berjenjang yang didanai pemerintah daerah? Berapa pelatih bersertifikasi yang secara sistematis menggembleng anak-anak muda Ambon?
Yang dibutuhkan bukan sekadar turnamen musiman atau semangat pelantikan pengurus baru. Yang dibutuhkan adalah sistem yang bertahan melampaui satu periode kepemimpinan — akademi yang berjalan sepanjang tahun, kompetisi lokal yang berkelanjutan, dan infrastruktur yang tak bergantung pada momentum euforia semata.
Dari Jacob Sihasale yang berlari di lapangan keras era 1960-an, Rochy Putiray yang membobol AC Milan dengan sepatu berbeda warna, Van Bronckhorst yang mengangkat trofi Liga Champions, hingga Reijnders yang kini siap di Piala Dunia 2026 — benang merahnya nyata. Pertanyaannya: siapa yang akan merawat warisan itu di kampung halaman?