Maluku Satu Darah di Jersey Oranye

Darah Maluku di Panggung Dunia

Maluku Satu Darah
di Jersey Oranye

Antara kebanggaan dua generasi bintang diaspora, paradoks pembinaan sepak bola di tanah asal, dan warisan yang belum tuntas.

106
Caps Van Bronckhorst
26
Pemain Skuad Belanda PD 2026
70
Caps Jacob Sihasale
40rb+
Diaspora Maluku di Belanda

Dari Rotterdam ke Latuhalat: Wajah Baru Sepak Bola Maluku

Antara Giovanni van Bronckhorst dan Tijjani Reijnders terbentang jarak lebih dari dua dekade. Namun keduanya berbagi warisan yang sama: darah Maluku yang mengalir diam-diam namun kuat, membentuk karakter permainan yang khas — cerdas, tenang, dan tak mudah goyah di bawah tekanan panggung tertinggi.

Menjelang Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, nama Reijnders kembali ramai diperbincangkan di Ambon — di warung kopi, di grup WhatsApp, di lapangan kampung. Sementara Van Bronckhorst, kini asisten pelatih Liverpool, tetap menjadi simbol bahwa jalur dari tanah Maluku ke puncak Eropa bukan sekadar dongeng.

Giovanni van Bronckhorst
06
Giovanni van Bronckhorst
Bek Kiri · Eks Kapten Timnas Belanda

Lahir di Rotterdam, 5 Februari 1975, dari ibu bernama Fransien Sapulette — perempuan Maluku asli. Dalam autobiografinya, ia bangga menegaskan tidak ada darah Italia meski namanya sering disalahpahami. Bermain di Feyenoord, Rangers, Arsenal, dan FC Barcelona, ia adalah salah satu bek kiri paling elegan yang pernah ada.

106
Caps Belanda
3
Piala Dunia
1
Juara UCL
🏝️   Ibu: Fransien Sapulette — Ulath, Maluku Tengah
Tijjani Reijnders
08
Tijjani Reijnders
Gelandang · Manchester City · Belanda

Lahir di Zwolle, 29 Juli 1998. Ibunya, Angelina Lekatompessy, berasal dari Desa Latuhalat, Ambon, Maluku. Di tubuhnya terukir tato bermotif khas Maluku. Setelah bersinar di AC Milan, ia direkrut Manchester City. Kini menjadi tulang punggung skuad Belanda di Piala Dunia 2026 bersama Frenkie de Jong dan Cody Gakpo.

PD
Debut 2026
Man. City
2025
Grp F
Jadwal Belanda
🏝️   Ibu: Angelina Lekatompessy — Latuhalat, Ambon

Latar belakang Indonesia saya adalah sesuatu yang sangat saya banggakan. Ini adalah bagian besar dari diri saya. Ibu saya berasal dari Indonesia, dan saya merasakan koneksi yang mendalam dengan budaya dan orang-orangnya.

— Tijjani Reijnders, kepada Milan TV

Ada yang menarik ketika mengamati permainan keduanya: keduanya bukan pemain yang mengandalkan fisik semata. Van Bronckhorst bermain dengan kepala, membaca ruang dan waktu dengan presisi tinggi. Reijnders pun demikian — kecerdasannya dalam membaca celah pertahanan lawan dan ketenangan di bawah pressing tinggi menjadi ciri khasnya. Dua karakter berbeda posisi, namun berbagi DNA taktik yang sama.

Negeri Tulehu: “Brazil-nya Indonesia”
Di Kecamatan Salahutu, Ambon, terdapat sebuah dusun yang dikenal secara nasional sebagai penghasil pemain berbakat. Negeri Tulehu telah menyumbangkan puluhan pemain ke liga-liga nasional, namun tanpa ekosistem lokal yang kuat, bakat-bakat itu harus merantau jauh dari kampung halaman untuk berkembang.
— ✦ —

Gudang Bakat Tanpa Rumah yang Layak

Di sinilah kebanggaan bertemu dengan ironi yang pahit. Maluku dikenal sebagai salah satu kantong penghasil pesepak bola terbaik Indonesia. Namun selama beberapa dekade, kebanggaan itu nyaris tak punya rumah yang layak untuk tumbuh.

Masalah Struktural Sepak Bola Maluku

PSA — Persatuan Sepakbola Ambon — adalah nama yang harusnya menjadi jangkar. Klub ini pernah berjaya di era 1960-an, melahirkan generasi pemain yang disegani secara nasional. Namun kemudian PSA nyaris menghilang — “mati suri” dalam rentang waktu puluhan tahun, sementara talenta Maluku terpaksa merantau ke Jawa dan Sulawesi untuk mendapat pembinaan serius.

Barulah pada September 2025, kepengurusan PSA dilantik kembali oleh Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, dengan komitmen membangkitkan kejayaan sepak bola Ambon. Namun komitmen di atas podium pelantikan belum otomatis menjadi sistem pembinaan yang berjalan sepanjang tahun.

📉
PenurunanSepak bola Maluku stagnan sejak awal 2000-an akibat minimnya kompetisi dan lemahnya pembinaan
🏛️
PSA BangkitPengurus PSA 2025–2030 dilantik September 2025. PSA U-17 berhasil lolos ke Piala Soeratin nasional
🔍
PSSI MemantauSoekarno Cup Mei 2026 dipantau langsung PSSI sebagai ajang pencarian bakat muda Maluku

Paradoksnya jelas: di satu sisi ada pengakuan bahwa bakat berlimpah, di sisi lain tata kelola klub, infrastruktur pembinaan, dan kesinambungan kompetisi lokal masih rapuh. Yang dibutuhkan Maluku bukan sekadar turnamen musiman atau semangat pelantikan pengurus baru yang meriah. Yang dibutuhkan adalah sistem — akademi yang berjalan sepanjang tahun, kompetisi berkelanjutan, dan komitmen yang tak berhenti di retorika upacara.

📌   Perkembangan Terkini (2026)

Pemkot Ambon merencanakan dua turnamen besar di 2026: Turnamen Ketua Umum KONI Kota Ambon untuk kelompok usia, dan Piala Wali Kota Ambon untuk kategori umum. Soekarno Cup yang digelar PDI-P Maluku pada Mei 2026 berhasil menarik pemantau resmi dari PSSI — momentum yang disambut sebagai angin segar bagi kebangkitan sepak bola daerah.

— ✦ —

Sihasale & Putiray: Sebelum Ada Diaspora, Ada Mereka

Sebelum Tijjani Reijnders dan Giovanni van Bronckhorst, ada nama-nama lain dari Maluku yang mengukir sejarah — bukan di liga Eropa, melainkan langsung di jantung persepakbolaan nasional melalui PSSI. Keduanya memulai dari PSA Ambon, dan keduanya meninggalkan jejak yang hingga kini sulit ditandingi.

Jacob Sihasale
Era 1966 – 1974
Jacob Sihasale
Penyerang · PSA Ambon → Persebaya

Lahir di Ambon, 16 April 1944. Berawal dari PSA, ia menjadi mesin gol Timnas Indonesia selama lebih dari satu dekade. Bersama Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, Max Timisela, dan Abdul Kadir, ia dikenal sebagai kuartet tercepat di Asia — dijuluki “Macan Asia”. Membantu Indonesia meraih medali perunggu Asian Games 1958, dan memenangkan Jakarta Anniversary Tournament 1972 dengan mengalahkan Korea Selatan 5–2. Wafat pada 7 Juli 1983 dalam usia 39 tahun.

70
Caps Timnas
23
Gol Timnas
#5
Penampilan
Rochy Putiray
Era 1990 – 2004
Rochy Putiray
Striker · PSA → Arseto → Persija

Lahir di Ambon, 26 Juni 1970. Striker nyentrik yang selalu tampil dengan sepatu beda warna — namun kemampuan mencetak gol tak bisa diremehkan. Bersama Arseto Solo (1987–1998) ia menjadi ujung tombak tak tergantikan. Setelah merantau ke Hong Kong, ia membuat sejarah: mencetak gol ke gawang AC Milan bersama Kitchee FC dalam laga di Hong Kong Stadium, 30 Mei 2004. Mengabdi untuk Timnas Indonesia selama 14 tahun.

14
Tahun di Timnas
AC
Milan Dibobol
HK
Liga H.Kong
“Dari PSA Ambon ke pentas Asia, hingga diaspora Maluku di Eropa — benang merah itu tidak pernah benar-benar putus.”

Jejak Sepak Bola Maluku dari Masa ke Masa

1958 – 1960
PSA Ambon Melahirkan Generasi Emas
Jacob Sihasale memulai karier di PSA Ambon, bergabung dengan generasi yang kemudian dikenal sebagai “Macan Asia”. Timnas Indonesia meraih perunggu Asian Games 1958 di Tokyo.
1966 – 1974
Puncak Kejayaan Sihasale di Timnas
70 penampilan dan 23 gol bersama Timnas Indonesia. Kemenangan 5–2 atas Korea Selatan di Jakarta Anniversary Tournament 1972 menjadi salah satu momen paling dikenang.
1987 – 2004
Era Rochy Putiray
Striker nyentrik dari Ambon mendominasi lini serang Arseto Solo, melanglang ke Persija, PSM, hingga Liga Hong Kong, di mana ia mencetak gol ke gawang AC Milan pada 2004.
1975 – 2010
Giovanni van Bronckhorst: Legenda Belanda Berdarah Maluku
Dari Rotterdam, anak Fransien Sapulette menjadi kapten Timnas Belanda, juara Liga Champions bersama Barcelona, dan membawa Oranye ke final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.
1998 – Sekarang
Tijjani Reijnders: Generasi Baru
Anak Angelina Lekatompessy dari Latuhalat, Ambon, berkembang menjadi gelandang kelas dunia bersama AC Milan dan Manchester City, kini siap mengguncang Piala Dunia 2026.
2025 – 2026
PSA Bangkit, Harapan Menghidupkan Kembali
Kepengurusan PSA 2025–2030 dilantik. Pemkot Ambon menggelar serangkaian turnamen usia muda. PSSI hadir memantau Soekarno Cup Mei 2026 sebagai sinyal positif bagi kebangkitan sepak bola daerah.
— ✦ —

Euforia Tanpa Sistem: Pertanyaan yang Harus Dijawab

Piala Dunia 2026 boleh menjadi momen kebanggaan bagi Ambon ketika menyaksikan Tijjani Reijnders berlari di lapangan membela Belanda. Namun pertanyaan yang lebih dalam harus ikut ramai dibicarakan: mengapa Maluku yang begitu subur dengan bakat justru belum mampu menghasilkan pemain yang membela Timnas Indonesia secara konsisten di era modern?

Pemerintah Provinsi Maluku kerap menjadikan nama-nama seperti Van Bronckhorst dan Reijnders sebagai kebanggaan kolektif dalam berbagai forum dan pidato. Spanduk dukungan dipasang, komentar resmi mengalir di media lokal, dan identitas “tanah pesepak bola” terus didengungkan. Namun pertanyaan yang tidak pernah cukup keras diajukan adalah: berapa stadion berstandar nasional yang dimiliki Maluku? Berapa akademi sepak bola berjenjang yang didanai pemerintah daerah? Berapa pelatih bersertifikasi yang secara sistematis menggembleng anak-anak muda Ambon?

Yang dibutuhkan bukan sekadar turnamen musiman atau semangat pelantikan pengurus baru. Yang dibutuhkan adalah sistem yang bertahan melampaui satu periode kepemimpinan — akademi yang berjalan sepanjang tahun, kompetisi lokal yang berkelanjutan, dan infrastruktur yang tak bergantung pada momentum euforia semata.

Dari Jacob Sihasale yang berlari di lapangan keras era 1960-an, Rochy Putiray yang membobol AC Milan dengan sepatu berbeda warna, Van Bronckhorst yang mengangkat trofi Liga Champions, hingga Reijnders yang kini siap di Piala Dunia 2026 — benang merahnya nyata. Pertanyaannya: siapa yang akan merawat warisan itu di kampung halaman?

Share:
error: Content is protected !!