Stempel
Keaslian
Semalam sebelum Prancis bertemu Spanyol di semifinal, seorang mantan kepala pemerintahan menulis kolom yang mempertanyakan siapa yang “benar-benar” berhak memakai seragam timnas. Bukan taktik, bukan performa — melainkan nama keluarga dan asal-usul.
Pujian yang menyembunyikan pisau
Kalimatnya dimulai seperti pujian. Itulah yang membuatnya lebih tajam, bukan lebih halus.
Dalam kolom opininya untuk El Debate, Rajoy mengakui Prancis memenangi setiap laga di turnamen ini, kini menghuni puncak peringkat FIFA, dan tampil sebagai skuad yang sangat kuat. Lalu ia membalik kalimatnya dengan satu klausa yang mengubah segalanya.
“Satu hal yang tidak mereka miliki adalah pemain Prancis.” Mariano Rajoy, kolom El Debate — dilaporkan Beritasatu
Bukan kritik taktik. Bukan soal performa Kylian Mbappe atau lini pertahanan Didier Deschamps. Rajoy mempersoalkan nama keluarga, warna kulit, tempat lahir — mempertanyakan siapa yang berhak disebut pemain Prancis “asli”, seolah paspor dan seragam timnas adalah dua dokumen yang berbeda kelas.
Dari kolom ke kecaman internasional
Rajoy menerbitkan kolom analisisnya di El Debate, media yang rutin memuat tulisan mingguannya sepanjang Piala Dunia.
Kutipan kolom menyebar di media sosial dan media olahraga internasional. Kedutaan Besar Prancis di Spanyol merespons, menegaskan seluruh pemain timnas adalah warga negara Prancis.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menanggapi lewat wawancara televisi. PM Spanyol Pedro Sanchez ikut bersuara di X, tanpa menyebut nama Rajoy secara langsung namun sasarannya jelas.
Prancis menghadapi Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Arlington, Texas — dengan kontroversi ini menggantung di atas laga sebagai bayang-bayang yang tak diundang.
Kecaman datang dari dua arah
Yang membuat insiden ini sulit dibingkai sebagai sekadar “rivalitas jelang laga besar” adalah siapa yang ikut mengecam — termasuk dari dalam negeri Rajoy sendiri.
Menteri Luar Negeri Prancis menegaskan lewat BFM TV bahwa kebangsaan Prancis tidak ditentukan oleh warna kulit.
Presiden FFF menyebut pernyataan Rajoy sebagai kalimat bernada rasisme yang tidak bisa ditoleransi.
PM Spanyol saat ini menulis di X bahwa sebagian orang masih mengukur kebangsaan lewat nama keluarga dan warna kulit — sementara yang lain mengukurnya lewat kerja keras.
Pemimpin Partai Komunis Prancis mengecam keras, menyebutnya sebagai rasisme terang-terangan yang menyasar timnas.
Prancis, sasaran berulang di turnamen yang sama
Rajoy bukan orang pertama yang melontarkan serangan berbau rasis ke timnas Prancis di Piala Dunia 2026 ini. Awal Juli, setelah gol penalti Mbappe menyingkirkan Paraguay di babak 16 besar, senator Paraguay Celeste Amarilla melontarkan komentar yang menyerang asal-usul sang kapten.
“Orang Kamerun yang terjajah yang benar-benar berpura-pura menjadi orang Prancis.” Celeste Amarilla, Senator Partai Liberal Radikal Paraguay
Pola ini bukan kebetulan. Setiap kali Prancis menang, pertanyaan tentang siapa yang “layak” mengenakan seragamnya kembali diajukan — seolah kemenangan tim multietnis harus terus-menerus mempertanggungjawabkan komposisinya, sesuatu yang jarang dituntut dari tim lain.
Ribuan kilometer dari Dallas, perdebatan yang serupa
Di Indonesia, pertanyaan “siapa yang berhak disebut Timnas” juga bergema — meski dengan nada yang berbeda dari serangan Rajoy.
Sejak era Shin Tae-yong, PSSI menaturalisasi puluhan pemain diaspora keturunan Indonesia. Dalam laga kontra Arab Saudi pada September 2024, delapan dari sebelas starting XI Timnas Indonesia adalah pemain naturalisasi. Menjelang Piala AFF 2026, skuad Garuda berpotensi diperkuat hingga sebelas pemain naturalisasi baru, sebagian besar keturunan Belanda dan Jerman yang direkrut lewat gelombang kedua naturalisasi era pelatih John Herdman.
Pujian dan kecaman datang nyaris bersamaan. Shin Tae-yong pernah meminta publik melihat sisi positif program ini, menyebutnya fondasi yang membuat sepak bola Indonesia tak mudah runtuh melawan lawan mana pun. Di sisi lain, anggota Komisi X DPR RI Anita Jacoba Gah dikecam habis oleh suporter usai mempertanyakan kebijakan PSSI yang terus mengambil pemain dari luar negeri, alih-alih membina talenta lokal.
“Kita tidak miskin atlet. Banyak atlet berbakat di sini.” Anita Jacoba Gah, Anggota Komisi X DPR RI
Kritik yang bertahan hingga kini berputar pada tiga sumbu: dominasi pemain naturalisasi di posisi inti yang dianggap mengurangi jam terbang talenta lokal, kekhawatiran atas regenerasi jangka panjang, dan pertanyaan identitas ketika sebagian besar starting XI lahir dan besar di luar Indonesia. Bedanya dengan kasus Rajoy: perdebatan di Indonesia umumnya tidak menyerang keabsahan kewarganegaraan pemain itu sendiri — status mereka sebagai WNI lewat jalur resmi FIFA Pasal 7 dan 8 jarang dipersoalkan. Yang diperdebatkan adalah kebijakannya, bukan keaslian orangnya.
Argumen yang sebenarnya tidak butuh sepak bola
Yang menarik dari komentar Rajoy bukan isinya, melainkan bentuknya: pujian teknis sebagai bungkus, keberatan identitas sebagai inti.
Logikanya sederhana dan karena itu berbahaya: sebuah tim boleh diakui kuat, boleh diakui juara, tapi keabsahannya tetap bisa dipertanyakan lewat garis keturunan. Ini bukan logika tentang taktik atau performa — ia bisa ditempelkan ke tim mana pun, di liga mana pun, di negara mana pun, tanpa perlu menonton satu menit pertandingan.
Perdebatan tentang siapa yang “asli” versus siapa yang “naturalisasi” bukan monopoli Prancis atau Spanyol, seperti terlihat dari kasus PSSI di atas. Tapi ada jarak penting antara dua bentuk perdebatan itu: mempersoalkan kebijakan naturalisasi adalah wacana publik yang sah, sedangkan menuduh seseorang “berpura-pura” menjadi warga negaranya sendiri — seperti dilakukan Rajoy dan Amarilla — adalah hal lain yang jauh lebih personal dan menyakitkan.
Yang jelas, sepak bola hanya jadi panggung. Pertanyaan yang sesungguhnya diajukan Rajoy — dan yang dijawab balik oleh Kedubes Prancis, Barrot, Diallo, Roussel, bahkan Sanchez — bukan tentang siapa yang akan menang di Dallas. Melainkan siapa yang berhak disebut “kita”.