Ditolak di gerbang Teherantapibergema di seluruh Iran
Dalam pekan yang sama, Indonesia mengalami dua nasib diplomatik yang berlawanan arah. Satu duta besar berdiri di luar pagar pemakaman karena dianggap tidak cukup tinggi pangkatnya. Satu purnapresiden justru bicara langsung ke seluruh rakyat Iran, lewat layar kaca nasional mereka.
Ketika protokol negara kalah oleh satu video lima menit
Ada ironi yang sulit ditelan pekan ini. Negara dengan 48 menteri dan 57 wakil menteri di kabinetnya nyaris tidak punya satu pun pejabat yang bisa dikirim tepat waktu ke pemakaman salah satu tokoh paling berpengaruh di Timur Tengah. Sementara itu, seorang purnapresiden yang sudah dua dekade meninggalkan Istana justru menjadi wajah Indonesia yang disiarkan ke seluruh penjuru negeri yang berduka.
Ini bukan cerita tentang siapa benar dan siapa salah. Ini cerita tentang bagaimana simbol diplomatik bekerja — dan bagaimana satu keputusan administratif yang telat beberapa hari bisa mengubah citra sebuah negara di mata publik yang sedang berkabung.
Tujuh hari yang menelanjangi kesiapan diplomasi kita
Serangan yang mengubah segalanya
Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke kediamannya — memicu perang yang baru berhenti setelah kedua negara mencapai kesepakatan damai berbulan-bulan kemudian.
Indonesia memilih jalan minimal
Kemlu mengumumkan Indonesia cukup diwakili Duta Besar RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat, dalam prosesi penghormatan di Grand Mosalla, Teheran — karena pejabat kunci sedang sibuk menyiapkan kunjungan kenegaraan lain di Jakarta.
Aturan berubah, terlambat diketahui
Pemerintah Iran memberi tahu bahwa akses ke area utama persemayaman hanya diberikan untuk pejabat setingkat di atas duta besar — kabar yang baru diterima Jakarta tujuh hari sebelum puncak pemakaman, terlalu mepet untuk mengganti delegasi.
Berdiri di luar pagar
Dubes Soemirat hadir di Grand Mosalla, tapi tak mendapat akses masuk ke area utama — sementara Presiden Irak, PM Pakistan, dan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia melenggang bebas ke dalam.
Video lima menit dari Menteng
Jauh dari hiruk-pikuk itu, Megawati Soekarnoputri mengirimkan rekaman video belasungkawa ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta — dalam bahasa Indonesia, lengkap dengan subtitle Persia, tanpa satu pun protokol kenegaraan resmi.
Disiarkan ke seluruh negeri
Channel One, televisi nasional Iran, memutar pesan Megawati secara nasional. Kedutaan Besar Iran di Jakarta lantas mengabarkannya lewat akun X resmi mereka pada 7 Juli — menjadikannya sorotan publik dua negara sekaligus.
Delegasi “naik kelas” — belakangan
Setelah kritik publik memuncak, Menlu Sugiono memutuskan terbang sendiri ke Mashhad bersama Ketua MPR Ahmad Muzani untuk menghadiri puncak pemakaman pada 9 Juli — sesuatu yang bisa saja dilakukan sejak awal.
Satu minggu, dua Indonesia yang berbeda
Bandingkan dua momen ini berdampingan, dan polanya jadi telanjang: satu jalur resmi negara tersendat oleh birokrasi dan waktu, satu jalur personal justru berjalan mulus tanpa hambatan protokol sama sekali.
Dubes berdiri di luar pagar
Dari kabinet berisi 48 menteri dan 57 wakil menteri, tidak satu pun yang bisa berangkat sejak undangan pertama diterima. Ketika akses dipersempit hanya untuk pejabat di atas level duta besar, Indonesia tak sempat mengirim pengganti — dan nama Indonesia absen dari daftar 32 negara pengirim delegasi resmi yang dirilis Kedutaan Iran.
Video Megawati disiarkan nasional
Tanpa iring-iringan protokoler, tanpa jadwal penerbangan yang harus direbutkan, satu rekaman video dari kediaman Menteng justru tayang di televisi nasional Iran — lengkap dengan subtitle Persia, disaksikan publik yang tengah berkabung di seluruh negeri.
Saya tidak hanya merasakan kehilangan seorang pemimpin Iran, tapi juga penjaga api perjuangan dunia ketiga.
— Megawati Soekarnoputri, dalam video belasungkawa untuk Ali KhameneiDalam video itu, Megawati juga mengenang pertemuannya dengan Khamenei di Teheran tahun 2004 — dan menyebut semangat perjuangan sang Ayatollah mengingatkannya pada ayahnya sendiri, Bung Karno. Ia menutup pesan dengan doa bagi persatuan rakyat Iran, lalu pekikan khas: “Merdeka”.
Isi pesan itu bukan basa-basi diplomatik kosong. Ia menyentuh nostalgia ideologis yang jarang disentuh pejabat aktif — romantisme anti-imperialisme, semangat Konferensi Asia-Afrika, dan kedekatan personal dua tokoh yang saling mengenal sejak dua dekade lalu. Itulah yang mungkin membuat Iran memilih menyiarkannya secara nasional, sementara delegasi resmi RI justru masih berkutat dengan urusan akses gerbang.
Video Belasungkawa Megawati untuk Ali Khamenei
Rekaman video yang dikirim ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta dan disiarkan Channel One Iran dengan subtitle bahasa Persia. | @PDIPerjuangan
Tiga pertanyaan yang tak bisa dihindari Jakarta
Di balik kekacauan jadwal dan protokol, insiden ini membuka tiga pertanyaan besar tentang arah politik luar negeri Indonesia hari ini.
- 01 Apakah “bebas aktif” mulai condong? Sejumlah pengamat menilai ketiadaan delegasi resmi di awal bisa dibaca sebagai sinyal kehati-hatian Jakarta terhadap Washington, yang tengah berkonflik dengan Teheran — dan yang belakangan dikenal dekat dengan Presiden Prabowo Subianto.
- 02 Kenapa baru bergerak setelah ditolak? Rencana mengirim Menlu dan Ketua MPR baru muncul setelah Dubes Soemirat gagal masuk ke area utama pemakaman — memunculkan pertanyaan apakah keputusan ini murni penghormatan diplomatik, atau reaksi atas rasa malu publik.
- 03 Kalau sepenting itu, kenapa presiden tak datang sendiri? Sejumlah negara mengirim kepala negara atau kepala pemerintahan. Jika hubungan dengan Iran dianggap strategis, ketidakhadiran presiden — dan lambannya respons awal — sulit dijelaskan hanya dengan alasan jadwal.
Apakah politik luar negeri bebas aktif kita mulai luntur karena pemerintah takut atau sungkan terhadap Amerika?
— Pengamat hubungan internasional, menanggapi ketidakhadiran delegasi resmiMegawati tidak butuh protokol untuk didengar
Ada pelajaran yang lebih tenang di balik kegaduhan ini. Iran tidak menunggu kepastian pangkat, tidak mempersoalkan siapa yang mengirim, dan tidak menuntut kunjungan fisik untuk memberi ruang siar nasional. Yang mereka butuhkan hanya satu: pesan yang tulus, dan riwayat hubungan personal yang sudah terjalin sejak 2004.
Ironisnya, justru jalur non-negara inilah yang berhasil menyentuh publik Iran secara langsung — sementara jalur resmi negara masih sibuk menghitung siapa yang cukup tinggi pangkatnya untuk lolos di pintu gerbang.
Sebuah negara bisa punya kabinet paling gemuk se-Asia Tenggara, dan tetap kalah gesit dari satu video berdurasi lima menit yang dikirim dari sebuah rumah di Menteng.
Pemakaman telah usai. Delegasi Indonesia akhirnya tiba di Mashhad. Tapi jejak minggu ini akan tinggal lebih lama dari sekadar berita hari itu: bahwa di mata publik Iran, wajah Indonesia yang paling mereka ingat bukan datang dari Istana atau Kementerian Luar Negeri — melainkan dari seorang purnapresiden yang bicara dari jauh, tanpa pengawalan protokoler sama sekali.