Di tengah hutan lebat dan arus sungai yang deras, para tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, menunjukkan pengabdian yang luar biasa. Pada Juli 2025, sebuah video yang diunggah di media sosial mengguncang hati masyarakat Indonesia: sekelompok nakes, sebagian besar perempuan, menyeberangi Sungai Tala dengan air setinggi pinggang demi memberikan pelayanan kesehatan kepada warga desa terpencil. Tanpa jembatan, tanpa alat keselamatan, dan dengan gaji minim, mereka rela mempertaruhkan nyawa untuk menjalankan tugas mulia. Kisah ini bukan hanya tentang keberanian, tetapi juga cerminan ketimpangan infrastruktur di wilayah terpencil Indonesia.
Menyeberang Sungai Tala: Risiko Demi Kemanusiaan
Kecamatan Kilmury, terletak di pedalaman SBT, adalah wilayah yang sulit dijangkau. Sungai Tala, yang membelah Desa Selor, menjadi penghalang utama bagi nakes untuk mencapai kampung-kampung terpencil. Dalam video yang viral di Instagram (@rumpi_gosip) dan TikTok (@alberth_101113) pada 12 Juli 2025, nakes terlihat berjalan perlahan melawan arus sungai yang kuat, membawa peralatan medis di atas kepala agar tidak basah. Beberapa di antara mereka nyaris terseret arus, namun tetap melanjutkan perjalanan demi menjalankan posyandu dan memberikan pelayanan kesehatan dasar.

“Bayangkan, mereka menyeberang sungai seperti itu setiap kali ada tugas ke desa. Ini bukan hanya soal dedikasi, tapi juga soal nyawa,” tulis akun @GNFI, yang turut menyebarkan video tersebut. Netizen pun ramai-ramai memuji nakes sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” yang rela menghadapi bahaya demi kesehatan masyarakat.
Gaji Minim, Semangat Maksimal
Meskipun menghadapi risiko besar, nakes di Kilmury bekerja dengan gaji yang jauh dari layak. Banyak dari mereka adalah tenaga kontrak atau honorer dengan penghasilan minim, namun semangat mereka tak pernah padam. “Kami melakukan ini karena tahu betapa warga di sini membutuhkan kami,” ujar salah seorang nakes dalam wawancara yang diunggah di akun @MindaXtv. Dedikasi ini menjadi sorotan karena kontras dengan keterbatasan yang mereka hadapi: tanpa jembatan, tanpa transportasi memadai, dan tanpa jaminan keselamatan.
Kesenjangan Infrastruktur: Jembatan yang Tak Kunjung Hadir
Sungai Tala bukan hanya tantangan bagi nakes, tetapi juga bagi warga setempat. Selama musim hujan, arus sungai yang deras sering memutus akses sepenuhnya, menghambat pelayanan kesehatan, pendidikan, dan mobilitas ekonomi. Mohdar Fotty, pemuda asal Kilmury, menyindir slogan “Gerak Cepat” pemerintah SBT yang tidak sejalan dengan realitas di lapangan. “Kami butuh jembatan, bukan janji,” katanya dalam unggahan media sosial.
Kritik serupa juga disampaikan oleh Sekretaris Komisi III DPRD Maluku, Abdul Kelilauw. Ia menyoroti proyek jalan sepanjang 4 kilometer yang dibiayai Dana Alokasi Khusus (DAK) 2023, yang dinilai tidak efektif karena dibangun di tengah hutan dan tidak dilengkapi jembatan. “Jalan itu tidak menghubungkan banyak kampung, dan tanpa jembatan, manfaatnya minim,” ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembangunan jalan dan jembatan di Kilmury menjadi prioritas dengan sistem multiyears pada 2025.
Sejarah Panjang Keterbatasan Akses
Kisah nakes Kilmury bukanlah yang pertama. Pada Februari 2025, warga Desa Afang Kota terpaksa mengangkut ibu hamil ke Puskesmas menggunakan gerobak kayu sejauh 4 kilometer karena tidak adanya akses jalan yang memadai. Pada 2021, warga Desa Mising juga menggunakan gerobak untuk membawa pasien melintasi jalur pantai selama 2 jam karena kondisi laut tidak memungkinkan penggunaan perahu. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa keterbatasan infrastruktur di Kilmury adalah masalah kronis yang belum terselesaikan.
Suara Rakyat dan Harapan untuk Perubahan
Kisah nakes Kilmury memicu gelombang dukungan di media sosial. Akun seperti @liaasister dan @MindaXtv menyerukan pemerintah SBT untuk segera membangun jembatan di Sungai Tala. “Jangan tunggu ada korban jiwa dulu baru bertindak,” tulis seorang netizen. Warga Kilmury juga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada proyek jalan, tetapi juga infrastruktur vital seperti jembatan yang dapat mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan akses pelayanan dasar.
Hingga akhir Juli 2025, belum ada laporan konkret tentang pembangunan jembatan di Sungai Tala. Namun, perjuangan nakes Kilmury telah membuka mata banyak pihak tentang realitas di wilayah terpencil. Kisah mereka adalah pengingat bahwa di balik setiap pelayanan kesehatan, ada pengorbanan besar yang sering kali tidak terlihat.
Panggilan untuk Aksi
Dedikasi nakes Puskesmas Kilmury adalah cerminan semangat kemanusiaan yang tak tergoyahkan. Namun, keberanian mereka tidak seharusnya menjadi solusi permanen untuk masalah infrastruktur. Pemerintah daerah dan pusat perlu segera bertindak, membangun jembatan dan memperbaiki akses jalan di Kilmury. Hanya dengan langkah nyata, pengabdian para nakes ini dapat didukung dengan layak, sehingga warga di pelosok Maluku tidak lagi terisolasi dari hak dasar mereka: kesehatan dan kesejahteraan.
Mari bersama-sama mengapresiasi para pahlawan kesehatan ini dan mendesak perubahan nyata untuk Kilmury. Karena di balik setiap langkah mereka melintasi Sungai Tala, ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.