Di Tengah Bara Perselisihan, Denny Landzaat Pulang: Sebuah Rindu yang Menyulam Kembali Persaudaraan Maluku

Share:

Ketika langit Maluku tengah berawan karena dua bentrok sosial yang mencederai rasa persaudaraan, sebuah momen sederhana namun sarat makna terjadi di Pulau Buru. Ia datang bukan sebagai juru damai resmi, bukan pula sebagai tokoh politik atau agama. Ia hanya seorang anak rantau yang kembali, menjejakkan kaki di tanah leluhur, membawa serta kerinduan yang tak pernah padam — Denny Landzaat, asisten pelatih Timnas Indonesia.

Di desa Waepotih, Pulau Buru, langkah kaki Denny disambut hangat, diarak oleh warga dengan sorak penuh sukacita. Dalam balutan Idulfitri, ia mengucap salam dan terima kasih dalam Bahasa Indonesia bercampur dialek Maluku, menghidupkan kembali suara persaudaraan yang kini terasa sayup di negeri ini.

Denny bukanlah orang asing. Ia adalah darah Maluku yang telah mengembara jauh ke Belanda, bermain bola hingga ke panggung dunia. Tapi hari itu, yang ia cari bukan lagi sorak stadion atau gemuruh suporter. Ia mencari akar, mencari pelukan tanah yang melahirkannya, dan mengajarkan kita semua arti sebuah rumah — tempat di mana perselisihan tak seharusnya tumbuh.

Ironis. Di saat seorang anak Maluku dari belahan bumi lain datang untuk menautkan kembali kenangan dan kasih dengan tanah asal, di sisi lain, api kebencian menyulut bentrokan demi bentrokan di negeri yang sama — memisahkan saudara, membakar rumah, dan menyisakan tangis.

Momen ini seperti tamparan lembut namun menyakitkan bagi kita semua. Jika seorang yang telah hidup jauh dari Maluku selama puluhan tahun bisa kembali dengan kerendahan hati, penuh cinta dan rindu, mengapa kita yang tinggal di sini saling menjauh karena perbedaan?

Denny Landzaat bukan pahlawan. Tapi kehadirannya mengajarkan: persaudaraan tidak lahir dari kesamaan suku atau agama, tetapi dari rasa memiliki yang tulus terhadap tanah dan sesama.

Dalam satu video yang viral, ia berkata lirih, “Terima kasih banyak atas sambutannya. Saya merasa pulang.”

Dan kalimat itu — saya merasa pulang — seharusnya cukup untuk membuat kita bertanya: Apakah Maluku masih rumah yang layak untuk kita pulangi bersama, atau telah berubah jadi tembok-tembok curiga yang memisahkan anak-anaknya?


Denny Landzaat Pilih Pulang ke Maluku, Interaksi Pakai Bahasa Indonesia – PEMAIN KE 12
error: Content is protected !!