Dunia kita sedang lelah.
Setiap hari kita disuguhi berita tentang perang, krisis ekonomi, bencana ekologis, polarisasi politik, dan ketegangan sosial yang seperti tak pernah benar-benar reda. Media sosial mempercepat segalanya: kemarahan, kecemasan, ketidakpercayaan. Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat, tetapi batin manusia justru sering tertinggal—bingung, cemas, dan kadang kehilangan arah.
Di tengah lanskap global yang retak seperti itu, “Hari Kasih Sayang” kerap terasa janggal. Sebagian orang menyambutnya dengan bunga dan cokelat. Sebagian lain mencibirnya sebagai perayaan yang terlalu komersial. Namun jika kita berani menyingkirkan simbol-simbol luarnya, ada pertanyaan yang lebih dalam: apa arti kasih di tengah dunia yang tidak pasti dan tidak damai?
Kasih di Tengah Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah ciri utama zaman ini. Tidak ada yang benar-benar stabil. Pekerjaan bisa hilang dalam sekejap. Relasi bisa retak karena perbedaan pandangan. Situasi politik dan ekonomi berubah tanpa peringatan.
Dalam situasi seperti itu, manusia cenderung membangun benteng. Kita menjadi lebih defensif, lebih curiga, lebih mudah marah. Ketika rasa aman goyah, kita sering kali memilih perlindungan diri di atas kepedulian terhadap orang lain.
Di sinilah kasih menemukan maknanya yang paling radikal.
Kasih adalah keputusan untuk tetap membuka diri ketika dunia mendorong kita untuk menutup diri. Ia adalah keberanian untuk tetap percaya ketika banyak alasan untuk curiga. Ia adalah tindakan sadar untuk tidak membiarkan ketakutan menjadi penguasa hati.
Kasih bukan sekadar emosi lembut yang datang dan pergi. Ia adalah sikap eksistensial—cara kita memilih untuk hadir di dunia. Dalam ketidakpastian, kasih menjadi jangkar. Ia tidak menjamin masa depan yang mulus, tetapi ia memberi arah ketika kita merasa tersesat.
Ketidakdamaian dan Luka Kolektif
Dunia yang tidak damai bukan hanya tentang perang antarnegara. Ketidakdamaian juga hadir dalam percakapan sehari-hari yang penuh sindiran, dalam perdebatan yang kehilangan empati, dalam relasi keluarga yang retak karena perbedaan pilihan politik atau keyakinan.
Kita hidup dalam zaman di mana opini lebih cepat daripada pengertian. Orang lebih mudah menghakimi daripada mendengar. Kata-kata bisa menjadi senjata yang melukai lebih dalam daripada kita sadari.
Hari Kasih Sayang, jika dipahami secara reflektif, bisa menjadi momen untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah aku ikut memperparah luka dunia ini? Atau justru aku menjadi bagian dari proses penyembuhan?
Kasih tidak selalu berarti setuju. Ia tidak identik dengan kompromi tanpa prinsip. Tetapi kasih berarti memperlakukan orang lain sebagai manusia, bukan sekadar lawan dalam perdebatan. Ia mengakui bahwa di balik setiap argumen ada ketakutan, harapan, dan pengalaman hidup yang membentuknya.
Dalam dunia yang penuh luka kolektif, kasih adalah upaya kecil namun konsisten untuk menjahit kembali apa yang terkoyak.
Dari Romantisme ke Humanisme
Selama ini, Hari Kasih Sayang sering dipersempit menjadi perayaan romantis. Pasangan saling bertukar hadiah. Restoran penuh. Media sosial dibanjiri foto kebersamaan.
Semua itu tidak salah. Namun jika kasih hanya berhenti pada romantisme, kita kehilangan kedalaman maknanya.
Kasih sejati melampaui hubungan dua individu. Ia meluas ke keluarga, sahabat, komunitas, bahkan kepada orang asing. Ia hadir ketika seseorang memutuskan untuk memaafkan. Ia hidup ketika seorang anak kembali berbicara dengan orang tuanya setelah lama berselisih. Ia bertumbuh ketika seseorang belajar menerima dirinya sendiri—dengan segala kekurangan dan kegagalannya.
Dalam dunia yang sering mengukur nilai manusia berdasarkan pencapaian, kasih mengingatkan bahwa setiap pribadi berharga bukan karena prestasinya, tetapi karena keberadaannya.
Hari Kasih Sayang, dalam kerangka ini, menjadi undangan untuk memperluas cakrawala cinta: dari “aku dan kamu” menjadi “kita sebagai sesama manusia.”
Kasih sebagai Perlawanan yang Sunyi
Barangkali kita terlalu sering membayangkan perubahan dunia dalam skala besar: kebijakan global, perjanjian damai, revolusi sosial. Padahal, perubahan paling mendasar sering kali terjadi dalam skala kecil—dalam keputusan-keputusan pribadi yang tampak sederhana.
Memilih untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Memilih untuk mendengar sebelum berbicara.
Memilih untuk tetap lembut ketika disakiti.
Kasih, dalam konteks ini, adalah bentuk perlawanan yang sunyi. Ia tidak selalu mendapat sorotan. Ia tidak viral. Tetapi ia bekerja perlahan, seperti air yang menetes terus-menerus hingga mampu melubangi batu.
Di tengah ketidakdamaian, setiap tindakan kasih adalah pernyataan bahwa kita menolak tunduk pada logika kekerasan dan kebencian. Kita mungkin tidak bisa menghentikan semua konflik global, tetapi kita bisa memastikan bahwa dalam lingkaran kecil kehidupan kita, kasih tetap menjadi bahasa utama.
Berdamai dengan Diri Sendiri
Ada satu dimensi yang sering dilupakan: kasih terhadap diri sendiri.
Ketidakpastian dunia juga menciptakan tekanan batin. Banyak orang merasa harus selalu kuat, selalu berhasil, selalu relevan. Media sosial memperbesar rasa kurang. Kita membandingkan hidup kita dengan potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain.
Dalam suasana seperti itu, Hari Kasih Sayang dapat menjadi ruang untuk bertanya: sudahkah aku bersikap penuh belas kasih terhadap diriku sendiri?
Kasih terhadap diri bukan berarti egoisme. Ia berarti mengakui keterbatasan, menerima kegagalan, dan memberi diri kita izin untuk berproses. Seseorang yang berdamai dengan dirinya sendiri cenderung lebih mampu menghadirkan damai bagi orang lain.
Perdamaian dunia, dalam arti tertentu, dimulai dari batin yang tidak lagi berperang dengan dirinya sendiri.
Harapan yang Tidak Naif
Ada yang mungkin berkata: berbicara tentang kasih di tengah dunia yang keras adalah sikap naif. Namun sebenarnya, yang naif justru adalah mengira bahwa kebencian dapat menghasilkan dunia yang lebih baik.
Kasih bukan ilusi. Ia adalah kebutuhan eksistensial. Tanpa kasih, manusia akan terjebak dalam spiral saling curiga dan saling menghancurkan. Dengan kasih, meskipun dunia tetap tidak sempurna, ada kemungkinan untuk terus membangun, memperbaiki, dan memulai kembali.
Hari Kasih Sayang bukan solusi instan bagi semua masalah global. Tetapi ia bisa menjadi simbol—pengingat tahunan bahwa di tengah segala ketidakpastian, kita masih memiliki kebebasan untuk memilih cara hidup kita.
Kita tidak bisa mengendalikan semua peristiwa. Kita tidak bisa memastikan dunia selalu damai. Tetapi kita bisa memilih untuk tidak menambah gelapnya dunia dengan kegelapan baru.
Pada akhirnya, makna Hari Kasih Sayang di tengah dunia yang tidak pasti dan tidak damai terletak pada pilihan sederhana namun mendalam: apakah kita akan membiarkan ketakutan membentuk kita, atau kita berani membiarkan kasih yang memimpin?
Barangkali dunia tidak berubah drastis hanya karena satu hari perayaan. Tetapi jika setiap orang menggunakan momen ini untuk menyalakan kembali komitmen kecil terhadap kasih, maka setidaknya ada lebih banyak cahaya daripada kemarin.
Dan dalam dunia yang retak, satu cahaya kecil pun berarti. 🕯️