Prosesi Sidi Baru atau Pengakuan Percaya adalah momen sakral dalam kehidupan seorang Kristen. Ini bukan hanya perayaan seremoni rohani, melainkan pernyataan iman yang mendalam bahwa seseorang telah menerima ajaran Kristus dan siap menjalani hidup sebagai murid-Nya. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan bagaimana perayaan ini berubah arah. Banyak gereja menjadikannya ajang pesta besar-besaran: busana mewah, tenda berhiaskan lampu gemerlap, bahkan hiburan yang menyilaukan. Apakah ini yang dimaksud dengan “pengakuan percaya”?
Seharusnya, Sidi Baru menjadi titik tolak kedewasaan iman. Tetapi yang terlihat, justru kemegahan lahiriah yang dipamerkan. Anak-anak remaja yang baru saja menyatakan kesediaannya menjadi pelayan Kristus justru disambut dengan pesta yang lebih mirip hajatan duniawi. Tidak jarang, nilai-nilai kesederhanaan dan keteladanan Kristus hilang di balik kemegahan perayaan ini.
Apakah gereja kehilangan arah dalam membimbing generasi muda? Bukankah Yesus lahir di kandang domba, berjalan kaki mengajar, dan mati di kayu salib tanpa kemewahan sedikit pun? Bagaimana mungkin kita memaknai pengakuan percaya dengan pesta besar, sementara banyak saudara seiman masih bergumul dalam kemiskinan, kehilangan arah, atau bahkan tidak sempat mengenal Kristus karena tidak tersentuh pelayanan gereja?
Dan kini, muncul pertanyaan yang lebih menyayat nurani kita.
Dengan adanya tragedi di Seram Utara, dimana jemaat GPM Masihulan menjadi korban. Apakah cukup pantas kita berpesta, sementara tubuh yang lain sedang menderita? Apakah benar kita satu tubuh Kristus?
Dalam ajaran Kristen, kita disebut satu tubuh dalam Kristus. Bila satu anggota tubuh menderita, semua turut merasakannya. Maka ketika sebagian dari tubuh ini—jemaat Masihulan—mengalami duka, kekerasan, kehilangan, dan trauma, bagaimana mungkin bagian tubuh yang lain justru berpesta, makan minum berlebihan, dan membanggakan kemewahan?
Kita patut bertanya lebih dalam:
- Apakah kita benar-benar satu tubuh?
- Ataukah kita hanya memakai simbol kesatuan itu saat nyaman dan menguntungkan?
Tragedi di Seram Utara seharusnya menggugah nurani Gereja dan jemaat GPM di seluruh wilayah Maluku dan Maluku Utara. Ini bukan hanya soal solidaritas, tapi soal kesetiaan pada iman yang kita akui di hadapan Tuhan. Dalam konteks ini, menunda pesta atau mengubahnya menjadi aksi solidaritas bukanlah pengorbanan besar—itu adalah panggilan kasih sejati.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya,
“Apa yang pantas kami rayakan?”
dan mulai bertanya,
“Apa yang pantas kami bagikan?”
Sidi Baru bukan tentang pesta. Ini tentang panggilan pelayanan. Jika kita melupakan ini, maka kita telah kehilangan makna terdalam dari pengakuan iman itu sendiri.