Ada malam-malam yang lewat begitu saja—datang dan pergi tanpa bekas. Tapi ada satu malam dalam Ramadan yang selalu menyimpan misteri: Lailatul Qadar. Ia tidak pernah diumumkan dengan pasti, tidak diberi tanggal yang tegas, dan justru karena itulah ia terasa begitu dalam. Kita mencarinya, menunggunya, berharap diam-diam agar ia “menyentuh” kita.
Al-Qur’an menyebutnya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Angka itu bukan sekadar perhitungan matematis. Ia seperti cara langit memberi tahu bahwa ada waktu-waktu tertentu di mana hidup bisa berubah drastis—bukan karena kita melakukan sesuatu yang luar biasa besar, tapi karena kita hadir dengan hati yang benar.
Di malam itu, diyakini Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Wahyu yang mengubah arah sejarah manusia dimulai dalam kesunyian. Ini menarik: perubahan besar tidak selalu lahir dari keramaian, tapi dari keheningan. Dari ruang sunyi antara manusia dan Tuhannya.
Malam ini juga disebut sebagai malam turunnya malaikat, membawa ketenangan hingga terbit fajar. Tapi ketenangan itu bukan sesuatu yang selalu bisa dilihat atau diukur. Ia lebih sering dirasakan—dalam dada yang tiba-tiba lapang, dalam doa yang mengalir tanpa dipaksakan, dalam air mata yang jatuh tanpa alasan yang jelas.
Yang membuat Lailatul Qadar semakin unik adalah: waktunya disembunyikan.
Tidak ada kepastian. Tidak ada jadwal resmi. Ia bisa saja datang di malam ke-21, atau 23, atau 27—atau bahkan di malam lain yang tak kita duga. Seolah-olah kita diajak untuk tidak hanya “mengejar satu malam”, tapi menjalani sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan penuh. Ada pelajaran tentang konsistensi, tentang kesetiaan dalam beribadah, bahkan saat kita tidak tahu apakah malam ini “malam itu” atau bukan.
Di tengah semua itu, ada satu doa sederhana yang sering diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memberi maaf, maka maafkanlah aku.
Menariknya, doa ini tidak meminta kekayaan, kesuksesan, atau panjang umur. Ia langsung menuju inti: pengampunan. Seolah-olah, jika ini yang didapat, maka yang lain akan mengikuti.
Lailatul Qadar, pada akhirnya, bukan hanya tentang pahala yang berlipat. Ia adalah tentang kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hidup, menatap diri sendiri dengan jujur, dan bertanya: ke mana arah hidupku sebenarnya?
Malam ini seperti cermin. Ia tidak menghakimi, tapi memantulkan. Ia tidak memaksa, tapi mengundang.
Dan mungkin, yang paling penting, Lailatul Qadar bukan tentang menemukan malam itu. Tapi tentang menjadi orang yang siap ketika malam itu datang.
Karena bisa jadi, yang berubah bukan malamnya—melainkan kita.
Iis Asiyah – Bandung, Maret 2026