Mitos Nusa Ina: Kosmologi, Identitas, dan Relevansi Budaya Maluku

Share:

Dari ujung Halmahera sampai Tenggara jauh…Katong samua basudara…Nusa Ina, katong samua dari sana” | Maluku Tanah Pusaka Eddie Latuharhary

Personifikasi Nusa Ina: Pulau Sebagai Ibu Bumi dan Akar Bersama Semesta Maluku

Konsep Nusa Ina merupakan fondasi filosofis dan spiritual yang paling fundamental dalam kosmologi dan identitas kolektif masyarakat Maluku. Istilah “Nusa Ina” sendiri berasal dari dua kata: “nusa,” yang berarti pulau, dan “ina,” yang berarti wanita atau ibu. Secara harfiah, Nusa Ina merujuk pada “Pulau Ibu”, sebuah personifikasi yang jauh melampaui sekadar deskripsi geografis. Ini adalah sebuah pandangan dunia yang menjadikan Pulau Seram—pulau terbesar di Maluku Tengah—asal-usul universal, tempat lahirnya kehidupan, dan akar bersama bagi semua etnis yang mendiami kepulauan tersebut. Personifikasi ini bukanlah sebuah cerita rakyat biasa, melainkan sebuah narasi kosmologis yang menyatukan seluruh keragaman budaya di Maluku ke dalam satu ikatan genealogis dan spiritual yang kuat, di mana semua orang adalah “Orang Basudara”—saudara sebangsa yang berasal dari satu rahim budaya dan spiritual . Narasi ini berfungsi sebagai perekat sosial yang tak ternilai, menegaskan bahwa perbedaan agama, suku, atau wilayah geografis tidak dapat menghapuskan ikatan keturunan bersama yang lebih dalam.

Signifikansi paling mendasar dari personifikasi Nusa Ina terletak pada posisinya sebagai entitas yang melahirkan pulau-pulau kecil lainnya di Maluku. Dalam keyakinan masyarakat Maluku, Pulau Seram diyakini sebagai pulau pertama yang terbentuk, yang kemudian “melahirkan” atau menjadi cikal bakal dari kepulauan lainnya. Konsep ini dicerminkan dalam beberapa narasi yang berpusat pada titik-titik suci di tengah pulau, seperti Nunusaku atau kompleks Gunung Murkele, yang dianggap sebagai pusat penciptaan. Pulau Seram sendiri dipercaya muncul dari bentuk bundar bernama Nusa Kupano dengan lingkar tanah bernama Nusa Hulawano. Posisi sentral Pulau Seram dalam kosmosologi Maluku ini juga didukung oleh faktor geologis; Seram adalah salah satu pulau tertua di Maluku Archipelago, yang memberikan legitimasi inheren bagi statusnya sebagai “tanah leluhur asli”. Kepercayaan akan asal-usul universal ini menciptakan sebuah kesadaran kolektif yang sangat kuat. Semua penduduk awal diyakini berasal dari Nusaina, menjadikannya sebagai tanah leluhur bagi mayoritas masyarakat Maluku, terutama di Seram dan Ambon-Lease. Hal ini menegaskan kembali ide bahwa semua Orang Maluku adalah saudara, yang telah tersebar ke berbagai penjuru kepulauan sebagai hasil dari dispersal genealogis.

Di balik personifikasi Pulau Seram sebagai Ibu Bumi, terdapat premis kosmologis yang lebih dalam: penciptaan manusia pertama sebagai seorang perempuan. Manusia pertama yang diciptakan adalah seorang perempuan bernama Alifuru Ina, yang juga dikenal dengan nama lain seperti Hulamasa. Penciptaannya tidak hanya bersamaan dengan terbentuknya Nusa Ina itu sendiri, tetapi ia juga dianggap sebagai “ibu bumi” yang melahirkan dirinya sendiri. Hal ini menempatkan perempuan dalam posisi sentral dan primordial dalam tatanan kosmis, bukan sebagai entitas sekunder, melainkan sebagai ciptaan pertama dan pemilik dunia. Alifuru Ina tidak hanya dianggap sebagai leluhur biologis, tetapi juga sebagai figur yang memiliki hak istimewa atas dunia karena kemampuannya berinteraksi secara harmonis dengan alam, yaitu binatang dan tumbuhan. Kemampuan ini merepresentasikan sebuah model relasi yang egaliter antara manusia dan lingkungan, di mana tidak ada dominasi hierarkis dari satu pihak atas yang lain. Paradigma ini secara inheren feminin, menempatkan nilai-nilai keibuan—pengasuhan, penyusuan, perlindungan, dan pemberian hidup—sebagai inti dari realitas kosmis. Konsep “Allah Ina” (Tuhan sebagai Ibu) yang dikembangkan oleh teolog Weldemina Yudit Tiwery adalah manifestasi teologis dari kosmologi ini, di mana Allah digambarkan melalui sifat-sifat keibuan seperti kasih sayang, merawat, dan menyusui kehidupan. Ini merupakan bentuk teologi kontekstual yang kuat, yang lahir dari pengalaman lokal untuk merekonstruksi ulang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama berdasarkan nilai-nilai kebersamaan dan kelembutan.

Wawasan paling kritis yang muncul dari analisis ini adalah bahwa kosmologi Maluku secara fundamental berlandaskan prinsip kesetaraan non-hierarkis, baik dalam hubungan antara manusia dan alam maupun dalam hubungan antara gender. Manusia tidak ditempatkan di puncak rantai makanan atau sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian integral dari ekosistem yang saling bergantung. Hubungan antara Alifuru Ina (perempuan) dan Alifuru Ama (laki-laki) juga didasarkan pada prinsip kesetaraan mutlak. Meskipun Alifuru Ina diciptakan lebih dahulu, keduanya dianggap memiliki derajat yang sama karena berasal dari Sang Pencipta yang sama, Kapua Upu Ila Kahuresi (setara dengan Allah/Tuhan). Pernikahan mereka bukanlah adegan penaklukan, melainkan penyatuan simbolik antara langit (Alifuru Ama) dan bumi (Alifuru Ina), membentuk pasangan mitra setara yang menjadi leluhur bersama bagi semua komunitas Maluku yang tersebar di Ambon, Lease, Ternate, dan Tenggara. Prinsip egalitarianisme ini menjadi dasar bagi nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan inklusi yang menjadi tulang punggung masyarakat Maluku. Figur Alifuru Ina yang diyakini memandangi anak-anaknya dari kejauhan dengan kasih sayang tanpa diskriminasi, memberikan kebebasan untuk memilih agama dan mengejar kemakmuran, serta memberikan perlindungan bagi semua penduduk, termasuk pendatang, adalah manifestasi langsung dari kosmologi ini. Narasi ini secara aktif menolak segala bentuk fanatisme dan perpecahan, menegaskan bahwa sebagai satu keluarga besar yang berasal dari satu rahim, perpecahan adalah hal yang bertentangan dengan kodrat penciptaan itu sendiri. Oleh karena itu, personifikasi Nusa Ina bukan hanya sebuah legenda asal-usul, melainkan sebuah doktrin spiritual yang secara konsisten menegaskan kesatuan, persaudaraan, dan tanggung jawab kolektif atas kehidupan dan lingkungan di Maluku.

Tokoh Leluhur dan Proses Penciptaan: Alifuru Ina, Alifuru Ama, dan Titik-Titik Sakral Kosmik

Proses penciptaan dalam kosmologi Maluku didasarkan pada serangkaian mitos yang berpusat pada tokoh-tokoh leluhur primordial dan lokasi-lokasi suci yang dianggap sebagai titik awal semesta. Tokoh sentral dalam narasi ini adalah Alifuru Ina, manusia pertama yang diciptakan, dan Alifuru Ama, manusia pertama laki-lakinya. Penciptaan mereka tidak terjadi di sembarang tempat, melainkan di Pulau Seram yang dipersonifikasikan sebagai Nusa Ina, atau “Pulau Ibu”. Narasi ini menegaskan bahwa Alifuru Ina (Hulamasa) diciptakan bersamaan dengan terbentuknya Nusa Ina itu sendiri, menjadikannya ciptaan pertama yang secara simultan menjadi manusia pertama dan pemilik dunia. Ia dianggap sebagai pemilik dunia karena kemampuannya berinteraksi secara harmonis dengan alam liar, yaitu binatang dan tumbuhan, yang mencerminkan sebuah hubungan yang setara dan tidak hierarkis antara manusia dan lingkungannya. Setelah Alifuru Ina hadir di dunia, sang Pencipta kemudian menciptakan manusia kedua, seorang laki-laki bernama Alifuru Ama (Lupai), yang digambarkan sebagai pendatang dari langit yang jatuh cinta kepada Alifuru Ina. Kehadiran Alifuru Ama tidak dimaksudkan untuk menundukkan Alifuru Ina, melainkan untuk menjadi mitranya, sebuah pasangan leluhur yang setara dan paralel yang menjadi cikal bakal seluruh komunitas Maluku.

Lokasi penciptaan dan interaksi pertama Alifuru Ina dan Alifuru Ama menjadi subjek dari beberapa versi mitos yang berpusat pada dua titik sakral utama di Pulau Seram: Nunusaku dan kompleks Gunung Murkele. Versi yang lebih populer dan luas dikenal di wilayah barat laut Pulau Seram adalah legenda Nunusaku. Nunusaku dipercaya sebagai tempat suci yang indah, sebuah hulu pertemuan tiga sungai besar yang disebut Tiga Batang Aer (Sapalewa, Eti, dan Tala). Secara mitologis, Nunusaku adalah sebuah pohon beringin raksasa yang tumbuh di puncak gunung, menjadi sumber kehidupan pertama di dunia. Lokasi ini dianggap sangat suci sehingga hanya dapat ditemukan oleh orang-orang yang berhati bersih dan berniat baik, menjadikannya simbol spiritualitas yang dalam dan tidak dapat diakses oleh semua orang. Di Nunusaku inilah Alifuru Ina dan Alifuru Ama diyakini bertemu, jatuh cinta, dan menikah, sebuah peristiwa yang melambangkan penyatuan antara bumi dan langit. Setelah pernikahan mereka, mereka melahirkan keturunan yang menjadi nenek moyang dari berbagai suku di Maluku.

Di sisi lain, versi yang lebih dominan di wilayah tengah dan utara Seram adalah legenda Murkele. Kompleks Gunung Murkele, yang terdiri dari Gunung Murkele Kecil dan Besar, juga dianggap sebagai pusat penciptaan. Berdasarkan versi ini, Alifuru Ina tinggal di Gunung Murkele Kecil, yang merupakan pusat Kerajaan Lomine. Sementara itu, Alifuru Ama tinggal di Gunung Murkele Besar, yang menjadi pusat Kerajaan Paiyono/Poiyano. Meskipun lokasi interaksinya berbeda, esensi narasi tetap sama: Alifuru Ina dan Alifuru Ama adalah pasangan leluhur yang setara yang menjadi fondasi bagi seluruh populasi Maluku. Adanya dua versi mitos ini—Nunusaku dan Murkele—menunjukkan adanya pluralisme dan fleksibilitas dalam tradisi lisan Maluku. Kedua versi ini tidak saling bertentangan secara total, melainkan saling melengkapi untuk menegaskan satu argumen utama: Pulau Seram adalah satu-satunya pulau asal-usul, dan pusat penciptaan berada di tengah-tengahnya. Selain itu, ada juga referensi historis yang mengintegrasikan mitos-mitos ini dengan penemuan arkeologis. Lokasi Nunusaku, misalnya, dikaitkan dengan area pegunungan Manusela, termasuk Gunung Binaya dan Gunung Murkele, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Manusela dan dianggap sebagai pusat spiritual Nusa Ina. Temuan arkeologis seperti situs gua, artefak batu, dan catatan gua di daerah-daerah ini semakin memperkuat status sacred geography ini, menunjukkan adanya integrasi antara mitos dan bukti material masa lalu.

Setelah Alifuru Ina dan Alifuru Ama menikah dan memiliki keturunan, mereka memimpin generasi-generasi awal yang kemudian menyebar ke seluruh kepulauan Maluku. Namun, narasi ini tidak selalu berakhir dengan damai. Salah satu versi mitos menyebutkan bahwa setelah Alifuru Ina meninggal dunia, muncul konflik di kalangan keturunannya. Peristiwa ini dipicu oleh pembunuhan Rapie Hainuwele, seorang figur penting yang tidak dapat diterima oleh semua pihak. Pembunuhan ini menjadi puncak dari irisan yang tidak dapat diselesaikan, yang akhirnya memicu peperangan, fragmentasi sosial, dan migrasi paksa dari pusat asal menuju pulau-pulau lain di Maluku. Peristiwa ini menjadi katalisator bagi dispersal populasi dan penyebaran budaya Alifuru ke seluruh kepulauan. Meskipun demikian, narasi ini juga menyimpan pesan moral yang kuat: konflik dan perpecahan adalah hasil dari pelanggaran terhadap nilai-nilai harmoni yang ditetapkan oleh para leluhur. Oleh karena itu, kisah dispersal ini, meskipun tragis, juga menjadi bagian dari identitas kolektif yang mengakui bahwa semua komunitas Maluku, meskipun kini tersebar, berasal dari satu akar bersama yang sama. Peninggalan dari periode-periode ini, seperti situs perkampungan kuno (Negeri Lama) di lereng gunung dan pantai, serta jejak-jejak arkeologis dari Neolitik hingga pra-kolonial, menjadi bukti fisik dari perjalanan panjang masyarakat Maluku dari pusat asal mereka. Inti dari semua versi mitos ini adalah bahwa segala sesuatu di Maluku berasal dari satu titik awal yang sama, dan semua orang adalah saudara yang terhubung oleh ikatan genealogis yang tak terpisahkan.

Metafora Geografis dan Simbolisme Alam: Memetakan Alam ke Dalam Tubuh Kosmik Ibu

Salah satu aspek paling kaya dan mudah dipahami dari kosmologi Nusa Ina adalah cara masyarakat Maluku memetakan simbolisme geografi mereka ke dalam metafora tubuh kosmik seorang ibu [[1,8]]. Metafora ini berfungsi sebagai sistem pemahaman yang kuat, membuat konsep-konsep abstrak tentang penciptaan, kehidupan, dan hubungan manusia dengan alam menjadi konkret, personal, dan mudah diingat. Melalui metafora ini, alam fisik diubah menjadi sebuah organisme hidup yang maternal, di mana setiap fitur—tanah, laut, gunung, dan sungai—memiliki peran yang jelas dalam proses pemberian dan pemeliharaan kehidupan. Pandangan dunia ini mencerminkan ketergantungan hidup yang total terhadap alam dan menginterpretasikan pengalaman keibuan ilahi sebagai manifestasi nyata dari kasih sayang dan perawatan dari Sang Pencipta. Metafora ini tidak hanya berfungsi sebagai narasi kosmologis, tetapi juga sebagai landasan etis untuk perilaku manusia, khususnya dalam konteks pelestarian lingkungan dan hubungan sosial yang harmonis.

Pada tingkat paling fundamental, daratan dan perairan dianggap sebagai rahim besar sang Nusa Ina. Tanah subur dan lautan luas digambarkan sebagai rahim yang mengandung, melahirkan, dan memelihara semua kehidupan di Maluku. Konsep ini menegaskan bahwa pulau-pulau di Maluku adalah anak-anak dari Nusa Ina, yang terlahir dari rahimnya dan dibawa oleh sungai-sungai yang mengalir di seluruh kepulauan. Metafora rahim ini juga mencakup siklus kehidupan yang berkelanjutan; Nusa Ina tidak hanya melahirkan masa lalu, tetapi juga sedang mengandung masa kini dan akan terus mengandung masa depan. Alifuru Ina sendiri dianggap sebagai simbol dari rahim yang mengandung, melahirkan, dan menyusui kehidupan, menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu kesatuan. Hubungan ini bersifat relational dan egaliter, di mana manusia adalah anak-anak dari Ibu Bumi yang harus menjaga dan menghormati rahim yang telah melahirkannya, bukan sebagai penguasa yang menaklukkan.

Lebih lanjut, fitur-fitur topografi di Pulau Seram dilambangkan sebagai organ-organ tubuh ibu yang lain, terutama payudara dan aliran susu. Gunung-gunung di Maluku, terutama Gunung Murkele, digambarkan sebagai payudara sang Nusa Ina. Payudara ini menjadi sumber kehidupan bagi anak-anaknya, memberikan nutrisi dan perlindungan. Hutan yang lebat yang tumbuh di lereng-lereng gunung ini dilambangkan sebagai simbol perlindungan dan pengayoman, mirip dengan pelukan hangat seorang ibu. Puncak-puncak gunung yang tertutup kabut dan hutan hujan tropis dianggap sebagai mahkota atau mahkota emas sang Ibu, sementara dataran rendah yang subur di sepanjang pantai adalah senyum atau wajahnya yang ramah. Metafora ini menciptakan hubungan emosional yang sangat erat antara masyarakat dengan landscape mereka. Merusak hutan di lereng gunung bukan lagi sekadar aktivitas deforestasi, melainkan sebuah tindakan yang dianggap merampas payudara sang Ibu, yang akan mengakibatkan kekurangan nutrisi dan perlindungan bagi seluruh komunitas. Hal ini menegaskan bahwa pelestarian hutan dan ekosistem gunung adalah sebuah kewajiban moral yang berasal dari rasa hormat dan kasih sayang terhadap Nusa Ina.

Peran paling vital dalam metafora tubuh ini dimainkan oleh sungai-sungai, yang secara spesifik dilambangkan sebagai aliran air susu ibu (ASI). Tiga sungai besar di Pulau Seram—Sapalewa, Eti, dan Tala—yang bersumber dari Nunusaku atau pohon kehidupan di Nusa Ina, dianggap sebagai Tiga Batang Aer atau “tiga trunks air” yang membawa kehidupan ke seluruh kepulauan . Arus sungai-sungai ini melambangkan aliran ASI yang mengalir dari payudara gunung-gunung ke anak-anaknya yang tersebar di seluruh Maluku. Konsep ini menjelaskan mengapa sungai-sungai ini memiliki status yang sangat sakral dalam kosmologi Maluku. Mereka bukan hanya jalur transportasi atau sumber air, melainkan jalur vital yang menghubungkan pusat penciptaan (Nunusaku/Murkele) dengan anak-anaknya di seluruh kepulauan. Proses peradaban manusia di Pulau Seram pun dianggap berkembang di sepanjang aliran sungai-sungai ini, yang menjadi sarana diffusi budaya, teknologi, dan kebijaksanaan. Siklus kehidupan manusia juga terkait dengan sungai; bayi-bayi baru lahir sering kali dibawa ke sungai untuk disucikan, dan mayat para leluhur dikuburkan di dekat mata air untuk kembali ke rahim sang Ibu. Oleh karena itu, mencemari atau menghalangi aliran sungai dianggap sebagai tindakan yang sangat tabu dan berbahaya, karena ia secara metaforis membahayakan sumber makanan spiritual dan fisik bagi seluruh komunitas. Metafora ini secara efektif mentransformasikan isu-isu lingkungan menjadi persoalan moral yang berakar pada hubungan kinship yang intim dengan alam sebagai ibu.

Metafora tubuh ini juga mencakup elemen-elemen lain seperti laut dan pantai. Laut yang luas di sekitar Pulau Seram digambarkan sebagai payudara luar atau bagian tubuh yang lebih luas dari Nusa Ina, sementara pantai-pantai yang berkilauan di bawah sinar matahari adalah bibirnya yang tersenyum. Interaksi manusia dengan laut—berburu ikan, berdagang, dan menjaga perbatasan—diinterpretasikan sebagai interaksi dengan bagian tubuh ibu yang vital. Fenomena alam seperti badai atau tsunami tidak hanya dipandang sebagai peristiwa fisik, tetapi juga bisa diartikan sebagai reaksi emosional atau marah dari Nusa Ina jika anak-anaknya tidak menjaga keharmonisan atau merusak lingkungannya. Konsep ini menunjukkan sebuah pandangan dunia holistik di mana manusia, alam, dan spiritualitas tidak terpisah, melainkan merupakan bagian dari satu organisme yang utuh dan hidup. Pandangan ini secara konsisten menekankan nilai-nilai kelembutan, kasih sayang, dan perawatan, yang tercermin dalam praktik-praktik adat yang menghargai alam dan mempromosikan keseimbangan. Dengan memetakan alam ke dalam tubuh kosmik seorang ibu, masyarakat Maluku menciptakan sebuah sistem nilai yang kuat yang tidak hanya menjelaskan asal-usul mereka, tetapi juga memberikan panduan moral untuk hidup harmonis dengan lingkungan mereka dan satu sama lain.

Fondasi Sosial dan Spiritual: Legitimasi Matriarki dan Peran Ritual Kapata

Mitos Nusa Ina dan kosmologi yang menyertainya tidak hanya berfungsi sebagai narasi asal-usul spiritual, tetapi juga berperan sebagai fondasi legitimasi untuk struktur sosial dan politik masyarakat Maluku, terutama sistem matriarki yang dominan sebelum datangnya pengaruh patriarki dari bangsa Eropa. Struktur sosial awal Maluku didominasi oleh sistem matriarki, yang secara logis diperkuat oleh mitos penciptaan yang menempatkan perempuan, Alifuru Ina, sebagai ciptaan pertama, pusat penciptaan, dan pemilik dunia. Dalam kosmologi ini, Alifuru Ina bukan hanya leluhur biologis, tetapi juga figur yang memiliki otoritas spiritual dan temporal, menjadi pengatur tatanan alam serta relasi sosial. Dominasi tokoh perempuan dalam adat dan tradisi, seperti ‘Anak Pulang Mama’, menjadi manifestasi nyata dari legenda ini. Tradisi ‘Anak Pulang Mama’ menegaskan bahwa garis keturunan diambil dari pihak perempuan, sebuah praktik yang mencerminkan warisan sistem matrilineal yang sangat kuat. Penempatan perempuan (Ina) sebagai pusat dalam mitos penciptaan menjadi dasar legitimasi atas struktur sosial yang menghargai peran sentral perempuan dalam pembentukan komunitas dan pelestarian budaya. Nilai-nilai egalitarianisme yang melekat dalam hubungan antara Alifuru Ina dan Alifuru Ama, yang keduanya adalah mitra setara, juga menjadi model ideal bagi relasi sosial di masyarakat Maluku.

Selain sebagai fondasi struktur sosial, mitos Nusa Ina juga berfungsi sebagai landasan spiritual yang kuat, yang diwujudkan dan dihidupkan melalui tradisi lisan, terutama melalui medium Kapata. Kapata adalah sebuah bentuk puisi lisan yang dinyanyikan atau dibacakan dengan ritme tertentu, sering kali disertai musik dari tifa (drum). Kapata bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah sistem komunikasi yang kompleks yang berfungsi sebagai penyimpan sejarah, transmisi nilai-nilai adat, kontrol sosial, dan pemeliharaan identitas kolektif dalam masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki sistem tulisan. Dalam konteks ini, Kapata adalah jembatan vital antara mitos kosmologis yang statis dan realitas sosial yang dinamis. Melalui performa Kapata, narasi-narasi tentang penciptaan, dispersal, dan perjanjian antar leluhur tidak hanya diingat, tetapi juga direkonsiliasi dan dibuat relevan dalam setiap upacara adat.

Fungsi Kapata sebagai dokumentasi historis sangat krusial. Melalui liriknya, Kapata memuat informasi tentang peristiwa-peristiwa penting, genealogi keluarga raja, norma-norma sosial, dan kebijaksanaan leluhur. Misalnya, Kapata Perang Kapahaha dari Morella Village secara spesifik mengabadikan perlawanan melawan kolonialisme Belanda pada abad ke-17, dengan detail waktu, lokasi, dan tokoh-tokoh kunci seperti Putijah dan Kapitan Telukabessy. Lirik-lirik seperti “Kakula seli eka rula lala” (Kemerdekaan hanya bisa direbut dengan darah) dan “Kapahaha hausihui holi siwa lima” (Menyalakan perjuangan di seluruh Patasiwa dan Patalima) bukan hanya puisi, melainkan narasi historis yang dilestarikan secara oral. Demikian pula, Kapata Siwalima dari Soahuku Village secara eksplisit merujuk pada mitos Nusa Ina, dengan menyebutkan dispersal dari Nunusaku dan perjanjian paktasila yang dibuat di tepi sungai. Lirik “Siapa yang membalikkan batu, batu akan menindihnya; siapa yang melanggar sumpah, sumpah itu akan membunuhnya” berfungsi sebagai pengingat sakral akan ikatan persaudaraan yang mengikat semua orang Maluku sebagai “saudara kandung”. Dengan demikian, Kapata adalah media yang ampuh untuk menanamkan ingatan kolektif dan mengikat generasi muda dengan sejarah dan budaya mereka.

Struktur dan isu Kapata sering kali disusun secara simbolis untuk memperkuat pesan yang disampaikan. Jumlah nada musik dalam sebuah lagu Kapata kadang-kadang melambangkan jumlah suku atau klaster sosial tertentu, seperti delapan soa (klan) dalam Kapata coronation Allang. Bahkan struktur musiknya sendiri—melodi yang naik-turun—merepresentasikan medan pegunungan dan ombak di Maluku, sebuah metafora untuk alam. Performa Kapata sendiri sangat ritualistik dan sakral. Ia biasanya dinyanyikan dalam konteks upacara formal seperti koronasi raja (Raja), renovasi rumah adat (baeleo), atau upacara perdamaian seperti pamoi. Saat dinyanyikan, Kapata diyakini memiliki kekuatan magis yang dapat memengaruhi realitas spiritual dan sosial, menjadikannya alat kontrol sosial yang kuat. Ia digunakan untuk menegaskan otoritas raja, mengikat komunitas dalam ikatan persaudaraan, dan mengingatkan semua pihak pada norma-norma yang telah ditetapkan oleh leluhur. Partisipasi kaum perempuan, yang seringkali menjadi memorizer dan performer utama Kapata, dalam pelestarian literatur lisan ini menunjukkan peran strategis mereka dalam menjaga dan mentransmisikan pengetahuan adat dan sejarah. Dengan demikian, Kapata adalah lebih dari sekadar puisi; ia adalah manifestasi hidup dari kosmologi Nusa Ina, yang terus bekerja untuk mempertahankan identitas, memori, dan harmoni sosial di Maluku.

Narasi Hegemonik Seram sebagai Nusa Ina

Analisis mendalam terhadap mitos Nusa Ina tidak lengkap tanpa mengakui bahwa narasi ini, meskipun menjadi tulang punggung identitas Maluku secara umum, pada dasarnya merupakan sebuah narasi sentris Seram. Sangat jelas dari sumber-sumber yang ada bahwa mitos Pulau Seram sebagai “Nusa Ina” atau “Mother Island” adalah sebuah narrative hegemonik yang secara dominan mengatur pemahaman tentang asal-usul Maluku, namun pada saat yang sama, dapat meminggirkan atau mengabaikan perspektif komunitas non-Seram. Narasi ini berfungsi sebagai legitimasi simbolis bagi Seram sebagai pusat kultural dan spiritual, tetapi juga dapat menciptakan dinamika kekuasaan yang tidak seimbang, di mana budaya dan identitas dari wilayah lain di Maluku dianggap subordinat atau sebagai turunan dari “pusat.” Pengakuan terhadap nuansa kontroversial ini sangat penting untuk memahami kompleksitas sosial dan politik di Maluku, serta untuk menyajikan sebuah laporan riset yang objektif dan berimbang.

Komunitas non-Seram, terutama yang tinggal di Maluku Tenggara (Southeast Maluku), secara eksplisit menolak narasi Seram sebagai satu-satunya asal-usul Maluku. Mereka memiliki mitos asal-usul alternatif yang unik dan kuat, yang menegaskan identitas dan keberadaan mereka yang berbeda. Salah satu contohnya adalah mitos tentang pulau bernama Vernusang yang tenggelam, yang diyakini sebagai cikal bakal dari kepulauan Yamdena, Selaru, Kisar, Babar, dan Tepa. Mitos ini berfungsi sebagai counter-narrative yang secara langsung menantang klaim hegemoni Seram. Mitos Vernusang tidak hanya menjelaskan asal-usul geografis, tetapi juga menjadi fondasi bagi identitas kolektif mereka sebagai “orang yang tersisa” setelah bencana besar. Mereka secara sadar mempertahankan mitos ini untuk menegaskan bahwa mereka bukanlah pendatang atau turunan dari Seram, melainkan komunitas dengan sejarah dan genealogi yang independen.

Perbedaan budaya dan linguistik antara wilayah Central Maluku (Seram, Ambon, Lease) dan Southeast Maluku semakin memperkuat resistensi ini. Komunitas di Maluku Tenggara menekankan perbedaan-perbedaan signifikan dalam berbagai bidang, termasuk: arsitektur rumah tradisional (Romlapa vs. Baileo), adat istiadat unik seperti cium pipi (Nahwook), sistem sosial yang berbeda (Kinabela dan Kalwedo vs. Pela-Gandong dan Siwalima), dan variasi linguistik yang cukup signifikan. Perbedaan-perbedaan ini bukanlah sekadar detail minor, melainkan penegasan dari identitas yang berbeda. Ketika narasi hegemonik Seram mencoba memaksakan terminologi dan simbol-simbolnya—seperti Masohi, Siwalima, atau lagu-lagu tradisional—ke dalam kehidupan publik dan administratif di seluruh provinsi, hal ini dapat dianggap sebagai bentuk “violence simbolik” atau “penyesatan kesadaran” (false consciousness). Komunitas di Maluku Tenggara merasa bahwa identitas dan sejarah mereka diabaikan atau dipinggirkan oleh narasi sentris Seram, yang menggambarkan mereka sebagai “pulau-pulau yang terlupakan” (the forgotten islands). Penggunaan metafora kolokial seperti Seram yang digambarkan sebagai ayam betina yang melindungi anak-anaknya yang kecil dan bulat (pulau-pulau kecil) adalah contoh lain dari framing linguistik yang memperkuat dominasi Seram.

Meskipun demikian, situasi di Maluku tidak sepenuhnya monolitik. Terdapat juga fenomena integrasi budaya yang menarik yang menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi dalam tradisi lisan. Contoh paling menonjol adalah integrasi mitos La Ode Wuna dari Sulawesi Buton ke dalam kosmologi lokal Seram Utara. Mitos ini menceritakan tentang seorang putra raja dari Buton yang diusir, berubah menjadi makhluk setengah manusia setengah ular, dan kemudian pergi ke laut. Meskipun mitos ini hanya berskala kecil di Sulawesi, ia telah menjadi sangat populer di Seram Utara dan berhasil diintegrasikan ke dalam narasi asal-usul lokal. Mitos La Ode Wuna ini digunakan secara aktif sebagai alat perdamaian pasca-konflik Maluku pada tahun 1999–2002, khususnya dalam Piagam Malino II yang ditandatangani pada Februari 2003. Dengan menceritakan mitos ini, orang Seram dan Buton dapat membangun perspektif bersama bahwa kedua kelompok telah hidup berdampingan dan terlibat dalam sejarah yang sama sejak zaman asal-usul, sehingga mengurangi stereotip sebagai “pendatang baru” (neu kame) yang sering dialami oleh komunitas Buton di Seram. Integrasi ini menunjukkan bahwa tradisi lisan bersifat dinamis dan dapat berevolusi untuk mengakomodasi kelompok-kelompok baru, bahkan jika itu berarti membingkai kembali sejarah untuk menciptakan harmoni sosial.

Sebuah laporan riset yang bertujuan untuk edukasi publik harus secara hati-hati menyajikan kedua sisi dari narasi ini. Di satu sisi, penting untuk menghargai dan memahami kekuatan serta signifikansi kosmologis Nusa Ina bagi banyak komunitas di Maluku. Ini adalah narasi yang kuat tentang persaudaraan, kebersamaan, dan hubungan spiritual dengan alam. Di sisi lain, sangat penting untuk mengakui dan menghormati keberagaman budaya di Maluku. Menyajikan mitos-mitos alternatif dari Maluku Tenggara dan menjelaskan dinamika hegemoni budaya akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan adil. Ini akan menghindari kesan bahwa Maluku adalah sebuah entitas homogen dan akan menyoroti pentingnya dialog lintas budaya dan penghormatan terhadap identitas lokal yang beragam. Dengan demikian, analisis yang seimbang tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang mitos Nusa Ina, tetapi juga memberikan wawasan yang lebih dalam tentang dinamika sosial dan politik yang membentuk identitas kolektif di kepulauan Maluku yang kaya akan budaya.

Relevansi Modern dan Ancaman Pelestarian: Mitos Nusa Ina dalam Tantangan Kontemporer

Meskipun berakar kuat dalam tradisi lisan yang berusia ribuan tahun, mitos Nusa Ina dan kosmologi yang menyertainya menunjukkan daya hidup yang luar biasa dalam konteks kontemporer, terutama dalam menghadapi tantangan modern seperti konflik sosial, pergeseran nilai, dan ancaman terhadap warisan budaya. Relevansi mitos ini tampak jelas dalam dua domain utama: sebagai alat rekonsiliasi pasca-konflik dan sebagai instrumen edukasi lingkungan, serta sebagai sumber inspirasi untuk gerakan pelestarian tradisi lisan. Namun, keberlangsungan narasi ini juga menghadapi tantangan yang signifikan yang harus diakui dan ditangani agar dapat terus menjadi sumber kekuatan spiritual dan moral bagi masyarakat Maluku.

Paling menonjol adalah peran mitos Nusa Ina dalam proses rekonsiliasi pasca-Konflik Maluku yang berdarah pada tahun 1999–2002. Setelah perang saudara yang membelah komunitas Kristen dan Muslim, narasi tentang “Orang Basudara” yang berasal dari satu rahim bersama menjadi senjata spiritual yang ampuh untuk membangun kembali jembatan kepercayaan. Para pemimpin adat dan tokoh masyarakat secara aktif menggunakan mitos ini untuk menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik, apapun agama atau etnis mereka, adalah saudara sebangsa yang berasal dari Alifuru Ina dan Alifuru Ama. Metafora Alifuru Ina yang diyakini merindukan keturunannya yang terpisah dan ingin memeluk mereka kembali menjadi pesan yang sangat kuat dan emosional, membangkitkan rasa malu dan tanggung jawab kolektif untuk kembali ke jalan perdamaian. Konsep “Basudara” dan ikatan genealogis melalui dispersal dari Nunusaku/Nusa Ina menjadi fondasi untuk mekanisme rekonsiliasi seperti Pela-Gandong, yang merefleksikan harmoni dan solidaritas lintas agama dan etnis. Dengan demikian, mitos ini tidak lagi hanya cerita masa lalu, tetapi menjadi alat pragmatis untuk membangun masa depan yang damai, menunjukkan kekuatan narasi dalam memfasilitasi rekonsiliasi sosial.

Di ranah lingkungan, metafora tubuh kosmik dalam mitos Nusa Ina menyediakan kerangka etis yang sangat relevan. Pesan untuk merawat sungai sebagai “ASI Ibu” dan menjaga hutan sebagai “perlindungan Ibu” dapat dengan mudah diterjemahkan ke dalam kampanye pelestarian lingkungan modern. Narasi ini menanamkan rasa tanggung jawab kolektif terhadap alam, di mana merusak lingkungan bukan lagi sekadar pelanggaran aturan, melainkan sebuah tindakan yang dianggap sebagai pengkhianatan terhadap ibu kandung. Konsep “Allah Ina” yang digambarkan sebagai Sang Pencipta yang penuh kasih sayang dan merawat kehidupan memberikan legitimasi spiritual untuk gerakan-gerakan hijau di Maluku. Dengan menghubungkan nilai-nilai keagamaan dan budaya dengan urgensi konservasi, mitos Nusa Ina dapat berfungsi sebagai alat edukasi yang efektif untuk mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Namun, meskipun relevansinya tinggi, tradisi lisan yang menjadi wahana utama penyampaian mitos ini menghadapi tantangan pelestarian yang serius. Globalisasi, pengaruh media massa, pergeseran gaya hidup modern, dan program-program transmigrasi di masa lalu telah menyebabkan penurunan drastis dalam penggunaan bahasa daerah (Bahasa Tanah). Karena Kapata dan mitos-mitos lainnya secara historis ditransmisikan secara lisan dalam bahasa-bahasa lokal, hilangnya kemahiran berbahasa ini merupakan ancaman langsung terhadap keberlanjutan tradisi ini. Generasi muda sering kali lebih fasih berbahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya, dan seringkali menunjukkan sikap negatif terhadap warisan bahasa daerah mereka. Kurangnya dukungan institusional, seperti kurikulum pendidikan formal yang tidak mengintegrasikan cerita rakyat dan literatur lisan, juga mempercepat proses kehilangan pengetahuan ini.

Upaya revitalisasi dan pelestarian telah dimulai, tetapi masih menghadapi banyak hambatan. Yayasan nirlaba seperti Heka Leka berusaha memperkenalkan buku dan program literasi di desa-desa terpencil, sementara kelompok seni budaya seperti Sanggar Seni Budaya Seram Totobuang berupaya melatih generasi muda dalam menari Mako-Mako dan menyanyikan Kapata. Namun, upaya-upaya ini sering kali terbatas oleh sumber daya finansial yang terbatas, infrastruktur yang tidak memadai, dan fokus pada kegiatan yang insidental daripada pendidikan berkelanjutan. Hanya sedikit sekali elders yang benar-benar memahami dan dapat menampilkan Kapata secara utuh, menunjukkan adanya stagnasi dalam transmisi intergenerasional. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan komitmen yang lebih besar dari pemerintah dan masyarakat sipil, termasuk integrasi literatur lisan ke dalam kurikulum sekolah, pendanaan yang stabil untuk proyek-proyek pelestarian, dan penghargaan yang lebih besar terhadap para penyimpan pengetahuan adat (elder).

Sebagai kesimpulan, mitos Nusa Ina adalah sebuah sistem kosmologis yang hidup, beradaptasi, dan relevan. Ia telah berhasil berfungsi sebagai fondasi identitas, perekat sosial, dan alat rekonsiliasi dalam masyarakat Maluku. Relevansinya terus terbukti dalam kemampuannya untuk menginspirasi perdamaian dan kesadaran lingkungan. Namun, keberhasilan ini bergantung pada kemampuan masyarakat untuk melestarikan medium tradisi lisan yang menjadi wahana utamanya. Ancaman terhadap bahasa dan pengetahuan adat adalah ancaman terhadap jiwa dari mitos ini sendiri. Oleh karena itu, investasi dalam pelestarian tradisi lisan bukan hanya tentang melestarikan sejarah, tetapi tentang memastikan bahwa warisan spiritual dan kebijaksanaan yang terkandung dalam mitos Nusa Ina dapat terus memberikan cahaya dan panduan bagi generasi masa depan.


REFERENSI

Resensi Buku “TEOLOGI INA: TERLAHIR DARI RAHIM MALUKU” || https://journal-theo.ukdw.ac.id/index.php/gemateologika/article/download/909/410/3985

Mitologi Nusa Ina, Perempuan sebagai Juru Damai di Maluku || https://www.nusantarainstitute.com/mitologi-nusa-ina-perempuan-sebagai-juru-damai-di-maluku/

Perempuan Justru Menjadi Manusia Pertama dalam Mitologi Maluku || https://nationalgeographic.grid.id/read/133806012/perempuan-justru-menjadi-manusia-pertama-dalam-mitologi-maluku?page=all

Orang Maluku dan Mitologi Nunusaku, tentang Mitos Asal-usul dan Peradaban Awal || https://www.kompasiana.com/wurihandoko7905/5f67300dd541df354066de32/nunusaku-menyingkap-tabir-peradaban-awal-di-pulau-seram-maluku?page=2&page_images=4

MANUSIA PERTAMA ITU NAMANYA INA: Membaca Narasi Mitos Penciptaan dari Perspektif Perempuan Maluku || https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/download/27/25/50

Tracing the Earliest Settlements on Seram Island, as a Theoretical Framework for the Chronology of Human Occupation in the Maluku Archipelago || https://ejournal.brin.go.id/kapata/article/view/11708

Penghargaan terhadap Perempuan Nuaulu dalam Ritual Inisiasi di Pulau Seram || https://jurnalantropologi.fisip.unand.ac.id/index.php/jantro/article/view/177/395

TEOLOGI INA: MENGGALI DARI NUSAINA PUSAT LELUHUR ORANG MALUKU – Disertasi || https://repository.ukdw.ac.id/1963/1/57110005_bab1_bab5_daftarpustaka.pdf

Keajaiban Mitos: Ketika Mitologi Merawat Perdamaian di Seram, Maluku dari Konflik || https://nationalgeographic.grid.id/read/134112870/keajaiban-mitos-ketika-mitologi-merawat-perdamaian-di-seram-maluku-dari-konflik?page=all

Pemanfaatan Cerita Rakyat Maluku dalam Pembelajaran Anak di Sekolah || https://balaibahasaprovinsimaluku.kemendikdasmen.go.id/2016/08/pemanfaatan-cerita-rakyat-maluku-dalam-pembelajaran-anak-di-sekolah/

Politics Representation and Symbolic Violence through the Discourse of Seram as Nusa Ina || https://www.researchgate.net/publication/314288633_Politics_Representation_and_Symbolic_Violence_through_the_Discourse_of_Seram_as_Nusa_Ina

Seram Island – Meeting the Nuaulu Tribe || https://travelwriter.ws/seram-island-meeting-the-nuaulu-tribe/

Being Strangers in Eastern Indonesia: Misunderstanding and Suspicion of Mythical Incorporation among the Butonese of North Seram – Disertasi || https://id.scribd.com/document/738232010/Dissertation-Geger-Riyanto

The Power of Oral Storytelling in History, Reading, and Writing || https://jeanleesworld.com/2021/06/01/the-power-of-oralstorytelling-in-history-reading-and-writing/

Kapata Oral Literature As A Documentation Media Of Maluku Community History || https://programdoktorpbiuns.org/index.php/proceedings/article/view/182

EPITHETS AND EPITOMES: MANAGEMENT AND LOSS OF NARRATIVE KNOWLEDGE IN SOUTHWEST MALUKU (EAST-INDONESIA) || https://ikat.us/Narrative%20Knowledge%20in%20SW%20Maluku.pdf

Seram Island || https://en.wikipedia.org/wiki/Seram_Island

BEING “HINDU” WITHOUT BEING HINDUIZED: THE INDIGENOUS NUAULU IN MALUKU || https://penamas.kemenag.go.id/penamas/en/article/download/787/279/4808

De legende van het eiland Seram: voorouderlijk land en de oorsprong van het leven in de Molukken || https://www.youtube.com/watch?v=tX4o0mm49Uc

Kapata Dalam Kajian Semiotika Menurut Teori Trikotomi Peirce || https://www.grin.com/document/1183340?srsltid=AfmBOopfB23XXW_uI9oUTS3HdTkiGYXP5YkAyvPIk_VxeeMBwvhF_mu6

Kapata Sebagai Penutur Sejarah Masyarakat Maluku || https://id.scribd.com/doc/20593664/Kapata-Sebagai-Penutur-Sejarah-Masyarakat-Maluku

Realitas Sejarah dalam Sastra Lisan Kapata Perang Kapahaha Desa Morella, Pulau Ambon || https://www.researchgate.net/publication/321399544_Realitas_Sejarah_dalam_Sastra_Lisan_Kapata_Perang_Kapahaha_Desa_Morella_Pulau_Ambon

Artikulasi Religi Sajak-Sajak Basodara di Maluku || https://www.academia.edu/10235794/Artikulasi_Religi_Sajak_Sajak_Basodara_di_Maluku

error: Content is protected !!