Njio Tjoen Ean: Kapitein der Chinezen, Ambon

Share:

Njio Tjoen Ean adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Ambon, yang pernah menjabat sebagai Kapitan Cina. Sebagai seorang pemimpin komunitas Tionghoa di Ambon pada masa penjajahan Belanda, perannya tidak hanya sebagai penghubung antara pemerintah kolonial dengan komunitas Tionghoa, tetapi juga sebagai tokoh yang berkontribusi dalam perkembangan sosial, budaya, sastra, pendidikan, dan ekonomi di wilayah tersebut.

Latar Belakang

Komunitas Tionghoa di Ambon memiliki sejarah panjang yang bermula sejak era perdagangan rempah-rempah. Sebagai pelabuhan penting di Maluku, Ambon menjadi pusat pertemuan berbagai bangsa, termasuk para pedagang dari Tiongkok. Keberadaan komunitas Tionghoa di Ambon semakin diperkuat dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menunjuk seorang Kapitan Cina untuk memimpin dan mengatur kehidupan komunitas tersebut.

Njio Tjoen Ean lahir di Ambon pada tanggal 15 Juli 1860 dan meninggal pada tanggal 15 Agustus 1925. Ayahnya, Njio Tjang Tjoan saat itu juga menjadi Kapitein Tionghoa (1856-1891). Njio Tjoen Ean menikah dengan Lie Tjong Nio dan dikaruniai tujuh orang anak. Marga Njio banyak yang menjadi kapitein di Ambon. Ia sendiri kemudian menjadi Luitenant (1891), Kapitein (1905) dan kemudian Majoor (1918). Ia juga menerima penghargaan Bintang Perak dan Bintang Emas Kecil, serta disamakan dengan orang Eropa pada 1913.

Njio Tjoen Ean, Kapitein der Chinezen, Ambon [cihc.nl]

Njio Tjoen Ean dipromosikan sebagai Kapitan Cina pada 30 Agustus 1905. Gelar ini diberikan kepada individu yang dianggap mampu memimpin komunitas Tionghoa dengan bijaksana sekaligus menjaga hubungan yang harmonis dengan pemerintah kolonial. Sebagai seorang Kapitan, Njio Tjoen Ean bertugas mengawasi administrasi komunitas Tionghoa, menyelesaikan perselisihan internal, dan mewakili komunitas dalam berbagai urusan dengan pihak kolonial. Njio Tjoen Ean merupakan penerus ayah dan kakeknya, mempertahankan posisi mereka selama tiga generasi.

Kapitan Cina

Lembaga Kapitan Cina pernah menjadi bentuk kepemimpinan penting bagi komunitas Tionghoa di Asia Tenggara. Meskipun asal-usulnya masih diperdebatkan, diyakini bahwa jabatan ini pertama kali diperkenalkan oleh Portugis di Malaka menjelang abad ketujuh belas.

Jabatan tersebut menjadi bagian integral dari pemerintahan daerah di tempat-tempat dengan populasi Tionghoa yang besar. Perusahaan Hindia Belanda (VOC) mengadopsi lembaga ini pada tahun 1619 dengan menunjuk So Bing Kong sebagai Kapitein Batavia, sedangkan di Singapura, posisi “Kapten Cina” resmi dibentuk pada tahun 1820. Lembaga ini, yang menjangkau seluruh Asia Tenggara, menunjukkan signifikansi yang besar di mata para penguasa lokal dan pemerintahan kolonial yang mengambil alih dari elit pribumi.

Njio Tjoen Ean berfoto bersama Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, dan penduduk lokal pada saat merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, 31 Agustus 1910 [cihc.nl]

Jabatan ini melambangkan kepemimpinan masyarakat Tionghoa yang berfungsi sebagai penghubung antara penguasa lokal dan komunitas Tionghoa, dengan kekuasaan eksekutif, administratif, dan, dalam beberapa kasus, yudikatif atas rakyatnya, serta selalu menjembatani Pemerintah dan masyarakat. Pentingnya jabatan Kapitan Cina mulai menurun pada awal abad kedua puluh, seiring munculnya bentuk kepemimpinan masyarakat lainnya, dan pada tahun 1920-an, lembaga tersebut hampir punah di sebagian besar Asia Tenggara.

Lembaga Kapitan China di Hindia Belanda memiliki tiga pangkat, yaitu Majoor, Kapitein dan Luitenant der Chinezen – yang secara keseluruhan dipanggil Chinese Officieren atau Opsir Tionghoa.

Peran dan Kontribusi

Njio Tjoen Ean tidak hanya dikenal karena jabatannya, tetapi juga karena kontribusinya dalam bidang sastra dan pendidikan. Ia dikenal sebagai perintis dalam perkembangan sastra dan Bahasa Melayu. Sekalipun berpendidikan Belanda namun ia sangat berminat terhadap kebudayaan dan filsafat Tionghoa, melalui pembuatan buku-buku terjemahan. Ia memberikan kontribusi signifikan dalam mengintegrasikan adat dan ritual Tionghoa dengan adat Jawa dan Islam agar selaras dengan Konfusianisme.

Ia menerjemahkan karya klasik Tiongkok ke dalam bahasa Melayu, termasuk ‘De Doctrine van het Midden’ (Zhongyong), yang selesai diterjemahkannya pada tahun 1897. Buku ini diterbitkan oleh Ambonsche Drukkerij pada tahun 1898, diikuti terjemahan keduanya, ‘Siang Loen’ (Hak Djie), yang dapat ditemukan di perpustakaan universitas di Leiden.

Buku-buku yang diterbitkannya antara lain:

  1. Taij Hak (Ambon, 1897).
  2. Siang Loen (Hak Djie) – Kitab-kitab Suci Bagian Pertama.
  3. Tiong Iong – Kitab-kitab Suci Bagian Kedua.
  4. Loen Gie – Kitab-kitab Suci Bagian Ketiga.
  5. Empat Kitab dari Ilmu Hikmat yang Sanoenoh (Ambon, 1898).
  6. Soe Sie Pek Boen – Empat Kitab dari anak-anak murid Soe Sie Pek Boen (Ambon, 1899).

Selain itu, Njio Tjoen Ean juga berperan dalam pengembangan pendidikan di Ambon. Ia adalah salah satu pendiri sekolah Poi Tik Hak Tong, yang didirikan pada tahun 1903 dengan tujuan untuk mengajar anak-anak Tionghoa dalam bahasa Belanda, yang kemudian ditutup ketika Ambon mendapatkan sekolah dasar Eropa ketiga pada tahun 1911, yang juga menerima anak-anak Tionghoa. Sekolah ini kini menjadi bagian dari perpustakaan regional di Maluku.

Sekolah Poi Tik Hak Tong [malukupost.com]

Jejak Warisan

Atas inisiatifnya, dibuatlah penerangan Jalan Tionghoa 1 dan 2, serta kuil Tionghoa dibangun pada tahun 1892. Pada tahun 1893, dana pemakaman Tionghoa didirikan. Ia juga memugar kuil Tionghoa yang rusak parah akibat gempa bumi pada tahun 1898.

Selama masa jabatannya, ia berkomitmen untuk kepentingan dana orang miskin Tionghoa, yang pada saat itu memiliki modal lebih dari f 60.000 dalam bentuk tunai.

Ia juga berupaya mendirikan Pemakaman Umum untuk Orang Tionghoa di negeri Urimessing (Benteng), yang akhirnya menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Di Ambon, terdapat sebuah lorong yang dulu dikenal sebagai Jalan Njio Tjoen Ean, sekarang dikenal sebagai Lorong Arab, yang menjadi simbol dari keberadaan masyarakat Tionghoa dan Arab yang hidup berdampingan secara damai.

Pernikahan Njio Tjoen Ean dengan Lie Tjong Nio [cihc.nl]

Penutup

Kisah Njio Tjoen Ean adalah bagian dari sejarah Ambon yang patut dihargai dan dilestarikan. Ia tidak hanya menjadi simbol kepemimpinan komunitas Tionghoa, tetapi juga tokoh yang menunjukkan pentingnya toleransi, kerja sama, dan kontribusi aktif dalam pembangunan masyarakat yang beragam. Dengan mengenang sosok seperti Njio Tjoen Ean, kita dapat memahami lebih dalam tentang dinamika sejarah dan warisan budaya yang membentuk kota Ambon hingga hari ini.

error: Content is protected !!