Pengembangan Kepulauan Banda sebagai Kawasan Strategis Pariwisata dan Geopark Global

Share:

Pengembangan Kepulauan Banda menjadi kawasan strategis pariwisata nasional, dengan tujuan akhir adalah menuju status UNESCO Global Geopark (UGGp), merupakan sebuah langkah strategis yang menyentuh tiga aspek inti: konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Rencana ini didorong oleh potensi geologis, ekologis, dan budaya yang unik serta pertumbuhan kunjungan wisatawan yang signifikan.

Namun, perjalanan menuju kesuksesan bukanlah tanpa hambatan. Laporan tahun 2024 menunjukkan bahwa Kaldera Toba telah menerima “kartu kuning” dari UNESCO karena tidak memenuhi sepenuhnya kriteria, sebuah peringatan serius bagi semua geopark di Indonesia. Laporan tersebut menyoroti tantangan nyata seperti kurangnya sumber daya manusia, rendahnya partisipasi masyarakat, keterbatasan anggaran, dan masalah tata kelola.

Dengan demikian, analisis mendalam terhadap ketiga fokus utama pengembangan—konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi lokal—serta pemilihan prioritas antara status nasional versus internasional, sangat diperlukan. Studi kasus dari geopark lain di Indonesia memberikan wawasan berharga tentang model-model sukses dan pelajaran penting yang dapat diambil untuk memandu pengembangan Banda.

Prioritas Pengembangan: Status Nasional vs. Internasional dalam Konteks Strategi Pariwisata

Dalam konteks rencana pengembangan Banda Neira, keputusan strategis harus diambil mengenai urutan prioritas antara status Geopark Nasional dan UNESCO Global Geopark (UGGp). Kedua status ini memiliki makna dan konsekuensi yang berbeda, yang secara langsung akan membentuk arah pengembangan kawasan jangka panjang. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 menetapkan bahwa pengembangan geopark dilakukan melalui empat tahapan: penetapan geoheritage, perencanaan, penetapan status, dan pengelolaan. Lebih lanjut, Perpres ini menegaskan bahwa sebuah wilayah harus ditetapkan sebagai Geopark Nasional selama minimal satu tahun sebelum bisa diajukan sebagai calon UGGp. Oleh karena itu, secara prosedural, status Geopark Nasional adalah langkah awal yang mutlak harus dicapai sebelum bercita-cita menuju UGGp. Langkah ini lebih dari sekadar formalitas; itu adalah fase pembentukan dasar-dasar kelembagaan, manajemen, dan komitmen yang kuat.

Pengembangan menuju UGGp merupakan langkah yang lebih ambisius dan kompleks. Status UGGp bukan hanya penobatan, tetapi sebuah kontrak jangka panjang dengan organisasi internasional yang mensyaratkan tingkat tertinggi dalam hal konservasi, edukasi, pembangunan berkelanjutan, dan keterlibatan masyarakat. Wilayah-wilayah yang mencapai status ini, seperti Ciletuh-Palabuhanratu, Rinjani-Lombok, Toba Caldera, dan Merangin Jambi, menjadi duta bangsa Indonesia dalam skala global. Manfaatnya melampaui branding pariwisata; UGGp memberikan akses ke jaringan internasional, pendanaan alternatif, kerja sama penelitian, dan pertukaran praktik terbaik. Sebagai contoh, Inisiatif Strategis Geoparks Investment Advisory Council (GIAC) menawarkan platform digital “Geopark Connect”, “Net Zero Geoparks Hub”, dan “Geowork” untuk mendukung pengembangan infrastruktur, karbon netral, dan lapangan kerja.

Namun, ambisi untuk UGGp juga datang dengan risiko yang signifikan. Evaluasi setiap empat tahun oleh UNESCO Global Geoparks Council (UGGpC) adalah proses yang sangat ketat . Status UGGp bisa dicabut jika kriteria tidak dipenuhi, seperti yang terjadi pada Kaldera Toba, yang saat ini berstatus “kartu kuning” atau peringatan. Rekomendasi resmi UNESCO kepada Toba termasuk meningkatkan inventarisasi warisan non-geologi, mereformasi badan pengelola, dan memperkuat jejaring regional. Ini menunjukkan bahwa pencapaian status UGGp bukan akhir dari perjuangan, melainkan titik awal dari komitmen berkelanjutan. Dalam konteks Banda, yang masih membangun fondasi infrastruktur dan kapasitas pengelolaan, terburu-buru mengejar status internasional tanpa memastikan kesiapan total dapat menempatkan kawasan pada posisi rawan kegagalan serupa.

Oleh karena itu, strategi pengembangan yang bijaksana bagi Banda adalah pendekatan bertahap. Fase pertama, yaitu pengembangan menuju Geopark Nasional, harus difokuskan pada penyelesaian masalah-masalah fundamental: perbaikan aksesibilitas (bandara dan pelabuhan), pengelolaan sampah, pasokan air bersih, dan pengembangan struktur pengelolaan yang kuat dan inklusif. Setelah status Geopark Nasional tercapai dan stabil, maka langkah berikutnya adalah mempersiapkan diri matang untuk ajukan diri ke UGGp. Pendekatan “Geopark Nasional dulu, lalu UGGp” tidak hanya sesuai dengan regulasi, tetapi juga merupakan pendekatan manajerial yang sehat. Ini memungkinkan Banda untuk membangun rekam jejak keberhasilan, menguji model-model pengelolaan, dan membangun modal sosial serta kapital politik yang diperlukan untuk melewati evaluasi internasional. Dengan demikian, pengembangan Banda menjadi pusat pariwisata nasional yang sukses adalah landasan yang diperlukan sebelum dapat mengejar cita-cita yang lebih tinggi sebagai bagian dari jaringan geopark global.

Perbandingan Status GeoparkStatus Geopark
Nasional
UNESCO Global
Geopark (UGGp)
Dasar Hukum UtamaPeraturan Presiden
No. 9 Tahun 2019
Global Geoparks
Network (GGN) yang
merupakan mitra
resmi UNESCO
ProsedurDitetapkan oleh Komite Nasional Geopark
Indonesia (KNGI)
setelah persiapan
minimal 6 bulan.
Harus menjadi Geopark Nasional minimal 1
tahun terlebih dahulu.
Diajukan melalui KNGI
ke UNESCO.
Jaringan & KerjasamaBerada dalam
naungan KNGI
(melibatkan 12 K/L).
Anggota Global
Geoparks Network
(GGN). Jaringan lintas
batas (misalnya APGN,
EGN).
Kriteria PengelolaanMemenuhi standar
nasional, fokus pada
pengelolaan di tingkat daerah.
Standar internasional
yang sangat ketat,
meliputi konservasi,
edukasi, pembangunan ekonomi, dan
keterlibatan masyarakat .
EvaluasiDinilai oleh KNGI
berdasarkan kriteria
nasional.
Dievaluasi setiap 4
tahun oleh UNESCO
Global Geoparks Council (UGGpC). Bisa mendapat “kartu hijau”, “kartu
kuning”, atau
“kartu merah”.
Contoh di IndonesiaBelum ada di konteks
sumber, namun me-
rupakan langkah awal
untuk menjadi UGGp.
Ada 12 UGGp di
Indonesia (data 2024):
Gunung Batur, Belitong,
Ciletuh, Gunung Sewu,
Rinjani, Kaldera Toba,
Raja Ampat, Maros-
Pangkep, Merangin, Ijen,
Kebumen, Meratus.
Tantangan PotensialMasih dalam proses
perizinan dan pem-
bentukan lembaga
pengelola.
Persyaratan tinggi, risiko penurunan status jika
tidak memenuhi kriteria (seperti kasus Toba).

Konservasi Sebagai Fondasi Pengembangan Berkelanjutan

Konservasi merupakan salah satu dari tiga pilar utama pengembangan geopark menurut UNESCO, bersama dengan edukasi dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dasar hukum di Indonesia, yakni Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019, pun menempatkan konservasi sebagai pilar utama pertama dalam pengembangan geopark. Bagi Kepulauan Banda, konservasi adalah fondasi absolut yang menjamin keberlanjutan dari segala aktivitas pariwisata dan pemberdayaan ekonomi. Tanpa perlindungan yang efektif terhadap warisan geologi, hayati, dan budayanya, semua upaya pengembangan akan sia-sia dan bahkan dapat merusak nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang.

Potensi geologis Banda, seperti gunung api bawah laut dan formasi batuan purba, merupakan warisan geologi (geoheritage) yang memiliki signifikansi ilmiah internasional. Begitu pula dengan warisan biologisnya, khususunya terumbu karang oseanik yang kondisinya umumnya baik dan merupakan rumah bagi spesies ikan langka seperti Napoleon wrasse (kerapu raja). Ancaman-ancaman nyata terhadap konservasi ini sudah teridentifikasi, termasuk overfishing, penggunaan alat tangkap merusak, perubahan penggunaan lahan pesisir, dan polusi laut. Studi awal telah menyarankan adanya forum kerja multi-pihak dan regulasi terhadap perubahan penggunaan lahan pesisir sebagai langkah strategis untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Implementasi rencana strategis ini adalah langkah konkret pertama menuju konservasi aktif.

Salah satu model terbaik yang relevan untuk diadopsi adalah pendekatan co-management (pengelolaan bersama) yang ditekankan dalam perencanaan pengembangan Banda. Model ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat lokal, dan sektor swasta. Studi kasus Geopark Gunung Sewu menunjukkan bahwa geosite dengan pengembangan wisata sebelumnya menunjukkan peningkatan kunjungan yang signifikan setelah ditetapkan sebagai geopark, namun juga menimbulkan tantangan lingkungan seperti penumpukan sampah di geosite Stagnasi (Pindul Cave). Hal ini menekankan bahwa konservasi bukan hanya soal melindungi situs, tapi juga pengelolaan dampak dari aktivitas wisata itu sendiri. Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta menunjukkan bahwa inisiatif-inisiatif seperti program “Clean Friday” dan segmentasi pasar dapat berhasil menurunkan jumlah wisatawan sekaligus meningkatkan pendapatan, sehingga mengurangi tekanan lingkungan. Strategi serupa dapat diterapkan di Banda untuk mengelola dampak kunjungan wisata yang meningkat pesat.

Pentingnya konservasi tidak hanya terbatas pada lingkungan fisik, tetapi juga meluas ke warisan budaya. Warisan sejarah rempah-rempah dan peninggalan kolonial di Banda adalah bagian integral dari “warisan geologi-lanskap” yang harus dilindungi. Upaya konservasi harus mencakup pelestarian benteng-benteng sejarah, tradisi hidup seperti tari Cakalele, dan sistem pengelolaan sumber daya tradisional seperti adat Sasi, yang sedang dipulihkan di Banda. Pengakuan situs Banda sebagai candidat warisan dunia campuran oleh UNESCO pada 2015 menegaskan nilai universal luar biasa dari kombinasi lanskap budaya dan maritim Banda. Konservasi warisan budaya ini tidak hanya melestarikan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber identitas dan daya tarik unik yang mendukung pengembangan ekowisata.

Untuk mencapai visi ‘Living Treasure’, Banda perlu mencontoh model Holistic Management yang diterapkan di Cuilcagh Lakelands UNESCO Global Geopark di Irlandia, yang mencakup enam pilar strategis, termasuk Konservasi & Rekreasi. Ini berarti pengelolaan yang holistik, di mana konservasi bukan hanya menjadi tujuan tersendiri, tetapi terintegrasi ke dalam semua aspek pengembangan, mulai dari perencanaan destinasi wisata, pengembangan infrastruktur, hingga strategi pemasaran. Dengan demikian, konservasi di Banda akan berfungsi ganda: melindungi nilai warisan yang tak ternilai dan sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan ekonomi dan edukasi yang berkelanjutan.

Edukasi Sebagai Motor Pembangunan Masyarakat Berkelanjutan

Edukasi adalah pilar kedua dari konsep geopark UNESCO, dan merupakan motor penggerak utama bagi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Tujuan utama edukasi di geopark adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat dan para pengunjung tentang warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya, serta pentingnya pelestariannya. Di era digital, edukasi tidak lagi terbatas pada ceramah atau papan informasi statis. Itu berarti memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Model edukasi yang paling sukses adalah integrasi kurikuler, di mana materi geopark dimasukkan ke dalam silabus sekolah-sekolah di daerah setempat. Studi di Kaldera Toba menunjukkan bahwa setelah program edukasi geopark diselenggarakan, pemahaman siswa tentang konsep geopark meningkat drastis dari 11% menjadi 67%. Program “Sekolah Sahabat Geopark” yang digagas UNESCO dan didukung oleh Kemendikbudristek merupakan contoh konkret dari pendekatan ini. Untuk Banda, pendekatan ini sangat relevan. Pelajaran tentang letusan Gunung Api Banda, sistem geotermal di sekitarnya, dan sejarah perdagangan rempah-rempah bisa menjadi bagian dari mata pelajaran IPS dan IPA, membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan kontekstual.

Selain pendidikan formal, edukasi di geopark juga harus menyasar semua kalangan usia melalui berbagai media. Platform digital dan media sosial adalah sarana yang sangat efektif. Desa Wisata Nglanggeran, misalnya, menggunakan website gunungapipurba.com dan media sosial untuk pemasaran dan edukasi. Di era digital, Banda dapat menciptakan situs web berbasis GIS, seperti yang direkomendasikan untuk visualisasi geopark di Indonesia, serta channel YouTube, podcast, dan aplikasi mobile yang memberikan informasi mendalam tentang geologi, sejarah, dan ekologi pulau-pulau di Kepulauan Banda. Kolaborasi antara Universitas Banda Neira (UBN) dan lembaga swadaya masyarakat seperti EcoNusa Foundation untuk meluncurkan Marine Station EcoNusa adalah langkah awakilan yang tepat untuk menciptakan pusat edukasi dan riset lapangan.

Inovasi dalam edukasi juga penting. Konsep “Forest Bathing” yang diusulkan untuk Geopark Batur di Bali dapat diadaptasi di Banda. Edukasi tidak hanya tentang “apa itu geologi?”, tetapi juga tentang “bagaimana cara berinteraksi dengan alam secara harmonis?”. Program-program seperti GeoRafting di Troodos UGGp, Yunani, menunjukkan bagaimana pengalaman luar ruangan dapat menjadi alat edukasi yang kuat. Banda dapat mengembangkan jalur-jalur trekking dengan interpretasi geologi, tur snorkeling dan diving dengan fokus pada keanekaragaman hayati laut, serta workshop kerajinan tradisional yang mengajarkan nilai-nilai keberlanjutan.

Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, edukasi di geopark haruslah transformasional. Tujuannya adalah untuk membentuk warga negara yang sadar lingkungan, memiliki rasa hormat terhadap pengetahuan lokal, dan siap untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengelolaan geopark sendiri adalah bentuk edukasi terbaik, karena mereka diajarkan untuk berpikir secara kolektif, memecahkan masalah, dan mempertanggungjawabkan tindakan mereka terhadap warisan bersama. Dengan pendekatan edukasi yang holistik dan inklusif, Banda dapat memastikan bahwa nilai-nilai keberlanjutan tidak hanya diterima oleh wisatawan, tetapi juga diyakini dan diamalkan oleh masyarakat lokal, sehingga memperkuat fondasi pengelolaan geopark jangka panjang.

Pemberdayaan Ekonomi Lokal Melalui Ekowisata Berkelanjutan

Pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal adalah pilar ketiga dan sering dianggap sebagai indikator keberhasilan utama dari sebuah geopark. Tujuan utamanya adalah menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan industri pariwisata berkelanjutan yang didominasi oleh sektor kecil dan menengah (UMKM). Pengembangan ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak integritas warisan geologi dan lingkungan, serta memastikan distribusi manfaat yang adil dan inklusif.

Model Community-Based Tourism (CBT) atau ekowisata berbasis masyarakat adalah pendekatan yang paling sesuai untuk Banda. Studi kasus Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta adalah contoh paling menonjol. Keberhasilan Nglanggeran didasarkan pada keterlibatan aktif Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang dibentuk berdasarkan SK Kepala Desa sejak 1999. Mereka memiliki peran sentral dalam pengembangan atraksi, pengelolaan usaha (seperti Griya Nglanggeran Chocolate), dan pemasaran. Hasilnya, pendapatan masyarakat meningkat signifikan, dengan peningkatan pendapatan per bulan mencapai IDR 800.000 hingga IDR 1.500.000 per keluarga. Meskipun demikian, studi tersebut juga menemukan bahwa distribusi manfaat tidak selalu merata, dan terdapat konflik internal serta dominasi individu dengan modal sosial lebih tinggi. Pelajaran penting dari Nglanggeran adalah bahwa meskipun CBT sangat efektif, keberhasilannya sangat bergantung pada kelembagaan lokal yang kuat, transparansi, dan komitmen untuk inklusi.

Untuk Banda, model CBT-CBET (Community-Based Ecotourism) harus diadaptasi. Aktivitas ekowisata yang cocok meliputi:

  • Wisata Laut: Snorkeling, diving, dan tour melihat terumbu karang yang sehat.
  • Wisata Budaya Sejarah: Kunjungan ke benteng kolonial Belanda, museum sejarah rempah, dan demonstrasi tradisi seperti tari Cakalele.
  • Wisata Alam: Trekking di Pulau Api, pengamatan burung, dan edukasi tentang ekosistem vulkanik.
  • Wisata Produk Lokal: Pengalaman memancing, pengolahan hasil laut, dan pembuatan produk turis dari bahan lokal.

Produk-produk lokal (geoproduk) harus didorong sebagai bagian dari pengalaman wisata. Studi kasus Gorontalo menunjukkan bahwa pengembangan geoproduk seperti kerajinan tangan, fashion tradisional, dan makanan lokal sangat mendukung UMKM. Di Banda, geoproduk bisa mencakup hasil laut, tenun Sasirangan, dan souvenir dari cangkang kerang atau batu vulkanik.

Penting untuk mempelajari model pendanaan dan kemitraan yang sukses. Secara umum, pembiayaan geopark di Indonesia masih sangat bergantung pada APBN dan APBD. Namun, untuk memastikan keberlanjutan, perlu diversifikasi sumber dana. Studi kasus Geopark Natuna menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur dan diplomasi kebijakan memerlukan dukungan besar. Solusi yang diusulkan termasuk inovasi geoproduk, kerja sama dengan swasta (public-private partnership/KPBU), manajemen aset situs geografis, dan pengembangan BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Model Pentahelix (pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, BUMN, media) yang diterapkan di Ijen dan Batur Geopark adalah contoh kerja sama multisektor yang efektif.

Sebuah tantangan besar yang perlu diantisipasi adalah “touristification,” di mana pengembangan pariwisata berlebihan dapat mengubah masyarakat menjadi objek wisata dan mengurangi kualitas pengalaman wisatawan. Studi di Jeju Island, Korea Selatan, menunjukkan bahwa tingginya partisipasi masyarakat adalah kunci keberhasilan. Untuk mencegah hal ini, Banda harus menerapkan strategi pengelolaan wisata yang bijaksana, seperti segmentasi pasar (seperti dilakukan di Nglanggeran) dan promosi wisata berkualitas daripada sekadar memburu jumlah pengunjung. Dengan pendekatan yang holistik, partisipatif, dan berorientasi pada kualitas, Banda dapat mencapai tujuan pemberdayaan ekonomi tanpa mengorbankan keaslian dan keberlanjutan warisan budaya dan alamnya.

Model Ekowisata Berkelanjutan: Pelajaran dari Studi Kasus Indonesia

Menyusul pendekatan yang sukses dari geopark lain di Indonesia adalah langkah strategis untuk mempercepat perkembangan Banda Neira. Lima studi kasus utama—Nglanggeran (Yogyakarta), Belitung, Ciletuh, Ijen, dan Maros-Pangkep—memberikan peta jalan lengkap dengan praktik-praktik terbaik dan pelajaran penting yang dapat diadaptasi. Setiap geopark memiliki konteks unik, namun pola umum dalam keberhasilan dan tantangan dapat diidentifikasi.

Desa Wisata Nglanggeran (Gunung Sewu Geopark):
Keberhasilan Nglanggeran adalah manifestasi sempurna dari Community-Based Tourism (CBT). Kunci keberhasilannya terletak pada:

  • Organisasi Masyarakat yang Kuat: Pokdarwis memiliki peran dominan (42%) dalam pengembangan industri pariwisata desa.
  • Keterlibatan Pemuda: Karang Taruna Bukit Putra Mandiri berperan besar dalam pengembangan atraksi (36%).
  • Diversifikasi Produk Wisata: Mengembangkan homestay, kuliner tradisional, kerajinan, dan atraksi alam seperti embung dan air terjun.
  • Pemasaran Digital: Website dan media sosial yang efektif.
  • Pelajaran Penting: Meskipun sukses secara ekonomi, terdapat masalah distribusi manfaat yang tidak merata dan konflik internal. Ini menunjukkan bahwa kelembagaan masyarakat harus dibangun dengan prinsip transparansi dan inklusi untuk mencegah polarisasi sosial.

Geopark Belitung:
Studi di Belitung menyoroti pentingnya modal sosial sebagai kunci keberhasilan kolaborasi. Penelitian menemukan bahwa kepercayaan, norma budaya, dan jaringan sosial yang kuat di kalangan masyarakat adalah faktor utama yang mendorong kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata. Model di Belitung bersifat bottom-up, dimotori oleh Komunitas Geosites dan Desa Wisata. Akibatnya, terjadi peningkatan akomodasi, pergeseran ekonomi dari tambang ke pariwisata, dan peningkatan PAD. Pelajaran dari Belitung adalah bahwa investasi dalam membangun kepercayaan dan jaringan sosial adalah investasi yang sangat penting sebelum memulai proyek-proyek besar.

Geopark Ciletuh-Palabuhanratu:
Ciletuh menampilkan model EBM-CBT yang menekankan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan homestay, pemandu wisata, dan produk lokal. Rekomendasi UNESCO sendiri untuk Ciletuh meliputi pengembangan rencana induk, peningkatan infrastruktur, pelatihan geoguide, dan pengembangan geoproduk. Ciletuh juga menunjukkan pentingnya kemitraan pentahelix untuk keberlanjutan. Pelajaran dari Ciletuh adalah bahwa perencanaan yang komprehensif dan pelatihan berkualitas adalah syarat mutlak untuk mewujudkan pemberdayaan ekonomi yang nyata.

Geopark Ijen (Jawa Timur):
Ijen Geopark menggunakan model pentahelix yang melibatkan pemerintah, swasta (PTPN XII, Perhutani), perguruan tinggi, masyarakat, dan media. Inisiatif seperti “Geo Trip” dan “Geopark Week” berhasil meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dari 26.897 pada 2010 menjadi 362.350 pada 2022 di Kabupaten Bondowoso saja. Dampak ekonomi positif dirasakan oleh masyarakat melalui peningkatan omzet homestay, UMKM, dan penjualan kopi Arabika. Namun, tantangan masih ada, seperti kurangnya regulasi resmi untuk model pentahelix di tingkat daerah dan belum meratanya partisipasi masyarakat dalam struktur pengelolaan. Ijen menunjukkan bahwa meskipun model pentahelix sangat efektif, diperlukan payung hukum yang jelas untuk memastikan keberlanjutannya.

Geopark Maros-Pangkep (Sulawesi Selatan):
Maros-Pangkep adalah contoh sukses pengembangan berbasis Community Based Tourism (CBT) dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan akomodasi, kuliner, cenderamata, dan jasa wisata. Dengan 31 destinasi wisata, termasuk situs arkeologi prasejarah berusia 45.000 tahun, pengembangan wisata di Maros-Pangkep sangat luas. Partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam seluruh tahapan pengembangan. Model ini cocok untuk Banda karena menekankan pengembangan berkelanjutan yang didorong oleh potensi wisata alam dan budaya yang sudah ada.

Dari keenam studi kasus ini, beberapa prinsip umum untuk pengembangan Banda dapat disimpulkan:

  1. Bangun Modal Sosial: Seperti di Belitung, investasi dalam membangun kepercayaan dan jaringan sosial di antara pemangku kepentingan adalah langkah awal yang krusial.
  2. Kuatkan Organisasi Masyarakat: Ikuti jejak Nglanggeran, bangun dan berdayakan Pokdarwis/TPA (Tim Penggerak Amanat) yang profesional, mandiri, dan memiliki legal standing yang jelas.
  3. Terapkan Multi-Sektor Collaboration: Contoh Ijen dan Maros-Pangkep menunjukkan bahwa kemitraan antara pemerintah, swasta, akademisi, dan media (pentahelix) sangat diperlukan untuk memobilisasi sumber daya dan kapasitas yang lebih besar.
  4. Fokus pada Diversifikasi Produk: Jangan hanya mengandalkan satu jenis wisata. Kembangkan paket wisata yang mencakup budaya, sejarah, alam, dan kuliner.
  5. Integrasi dengan Ekonomi Kreatif: Dorong pengembangan UMKM, kerajinan tangan, dan produk lokal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat secara langsung.
  6. Pendekatan Holistik: Semua model sukses menunjukkan bahwa pengembangan tidak hanya tentang pariwisata, tetapi juga konservasi, edukasi, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Implementasi dari model-model ini di Banda harus disesuaikan dengan konteks lokal, termasuk potensi geotermal dan pengelolaan kawasan konservasi laut yang sudah ada. Dengan mempelajari dan memodifikasi praktik-praktik terbaik dari saudara-saudaranya di Indonesia, Banda dapat membangun fondasi yang kokoh untuk menjadi contoh kawasan pariwisata berkelanjutan yang inspiratif di tingkat nasional maupun internasional.

Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis untuk Pengembangan Banda

Setelah melakukan analisis mendalam terhadap potensi, tantangan, dan pelajaran dari pengalaman geopark di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa rencana pengembangan Kepulauan Banda Neira sebagai kawasan strategis pariwisata nasional dan tujuan UGGp adalah langkah yang ambisius namun sangat realistis jika dilaksanakan dengan pendekatan yang terstruktur, inklusif, dan berkelanjutan. Suksesnya pengembangan Banda tidak terletak pada pencapaian status formal semata, melainkan pada kemampuannya untuk mewujudkan sinergi positif antara tiga pilar utama: konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pertumbuhan kunjungan wisatawan yang spektakuler dari 365 orang pada 2023 menjadi 57.000 orang pada 2024 adalah bukti nyata adanya minat besar, namun juga menunjukkan urgensi untuk membangun kapasitas pengelolaan yang sepadan.

Kesimpulan utama dari analisis ini adalah bahwa Banda harus mengadopsi pendekatan “bertahap dan holistik”. Fokus awal seharusnya adalah memperkuat fondasi Geopark Nasional melalui penyelesaian masalah infrastruktur aksesibilitas, pengelolaan limbah dan air bersih, serta pembentukan lembaga pengelola yang kuat dan representatif. Hanya setelah fondasi ini kokoh, langkah menuju UGGp dapat dimulai. Pelajaran dari Kaldera Toba yang menerima “kartu kuning” harus dijadikan peringatan bahwa status internasional datang dengan beban tanggung jawab yang lebih besar dan evaluasi yang lebih ketat.

Rekomendasi strategis untuk Banda adalah sebagai berikut:

  1. Prioritaskan Pembangunan Kapasitas dan Tata Kelola: Alihkan fokus awal dari pengembangan atraksi baru kepada peningkatan kapasitas pengelola, baik di tingkat pemerintah daerah maupun masyarakat. Bangun kelembagaan pengelolaan yang profesional, berbasis hukum, dan melibatkan semua pemangku kepentingan. Pertimbangkan model BLUD/BUMDesa yang kuat untuk mengelola dana dan operasional, sebagaimana direkomendasikan oleh para ahli.
  2. Adopsi Model Hybrid Community-Based Tourism (CBT): Terapkan model CBT-CBET dengan mempelajari studi kasus Nglanggeran. Bentuklah kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di setiap pulau yang berpenghuni, berikan pelatihan manajemen, pelayanan, dan pengembangan produk wisata. Pastikan partisipasi masyarakat tidak sekadar simbolis, melainkan substansial melalui mekanisme musyawarah dan kepemilikan saham kecil di unit-unit usaha wisata.
  3. Bangun Jaringan Kolaborasi (Pentahelix): Terapkan model pentahelix secara sungguh-sungguh, melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat. Bangun kemitraan strategis dengan universitas (seperti UBN dan UI) untuk penelitian dan pengembangan, dengan perusahaan lokal untuk pengembangan geoproduk, dan dengan media untuk pemasaran yang etis dan berkelanjutan.
  4. Integrasikan Konservasi ke Dalam Pengelolaan Ekonomi: Buatlah aturan main yang jelas antara pengembangan ekonomi dan konservasi. Pelajari dan adaptasi strategi “segmentasi pasar” dan “pendidikan” seperti yang dilakukan di Desa Wisata Nglanggeran untuk mengurangi tekanan wisata dan meningkatkan nilai ekonomi per kunjungan. Bangun ekosistem ekonomi sirkular yang melibatkan UMKM lokal dalam rantai nilai pariwisata.
  5. Lakukan Edukasi Sebagai Proses Transformasional: Jangan pandang edukasi sebagai kegiatan tambahan. Integrasikan nilai-nilai geopark ke dalam semua lini, dari kurikulum sekolah hingga pelatihan bagi pemandu wisata. Bangun Marine Station EcoNusa dan pusat interpretasi di darat untuk menjadi pusat edukasi yang aktif dan interaktif.
  6. Manajemen Risiko dan Evaluasi Berkala: Buat rencana pengelolaan yang fleksibel dan berbasis data. Lakukan evaluasi internal secara berkala untuk mengukur dampak sosial-lingkungan dari pengembangan pariwisata. Siapkan tim khusus untuk menangani isu-isu sensitif seperti distribusi manfaat, konflik lahan, dan dampak lingkungan, dengan pendekatan solusi yang berbasis masyarakat.

Dengan pendekatan yang seimbang antara aspirasi untuk maju cepat menuju status internasional dan kesabaran untuk membangun fondasi yang kokoh, Banda Neira tidak hanya akan menjadi destinasi pariwisata yang menarik, tetapi juga akan menjadi contoh nyata bagi Indonesia tentang bagaimana melestarikan “harta kehidupan” —baik itu warisan geologi, budaya, maupun ekologis— melalui pariwisata yang berkelanjutan.

error: Content is protected !!