Pilihan di Tengah Keramaian: Saat Kebenaran Dikalahkan Suara Banyak Orang

Share:

Refleksi dari Injil Matius 27: 11-26.

Ada satu momen sunyi yang justru terjadi di tengah keramaian. Sebuah keputusan besar lahir bukan dari perenungan, tetapi dari teriakan massa.

Di hadapan orang banyak, Pontius Pilatus berdiri dengan satu pertanyaan sederhana, namun mengguncang sejarah:
“Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?”

Dua nama disebut. Dua pilihan dibuka.

Di satu sisi, Barabas—seorang pemberontak, simbol kekerasan, sosok yang jelas bersalah.
Di sisi lain, Yesus Kristus—yang datang dengan kasih, yang menyembuhkan, yang mengajar tentang Kerajaan Allah.

Dan yang terjadi selanjutnya bukan sekadar keputusan. Itu adalah cermin.

Lalu…mengapa orang banyak memilih Barabas?

Mungkin karena Barabas lebih “masuk akal” bagi mereka. Ia melawan penjajah, ia keras, ia sesuai dengan bayangan Mesias versi mereka—kuat, politis, membebaskan secara instan.

Sementara Yesus… terlalu berbeda.
Ia berbicara tentang mengasihi musuh.
Ia tidak melawan saat ditangkap.
Ia tidak memenuhi ekspektasi.

Kebenaran sering kali tidak populer.
Ia tidak selalu keras. Tidak selalu cepat. Tidak selalu sesuai keinginan.

Dan di situlah manusia mulai ragu.

Kita sering berpikir: kalau semua orang berkata demikian, pasti itu benar.

Namun di halaman ini, sejarah berkata sebaliknya.

Orang banyak berteriak bersama.
Mereka sepakat.
Mereka bulat suara.

Tetapi mereka salah.

Ada kekuatan besar dalam kerumunan—kekuatan yang bisa menghapus nurani pribadi. Di tengah teriakan bersama, suara hati menjadi pelan… lalu hilang.

Bukankah ini masih terjadi hari ini?

Di media sosial, dalam pergaulan, bahkan dalam keputusan-keputusan hidup—kita sering lebih takut berbeda daripada takut salah.

Menariknya, Pontius Pilatus sebenarnya tahu bahwa Yesus tidak bersalah.

Namun ia tetap menyerahkan keputusan kepada massa.

Mengapa?

Karena tekanan.
Karena posisi.
Karena ketakutan kehilangan kendali.

Pilatus adalah gambaran banyak dari kita:
kita tahu apa yang benar… tapi kita memilih aman.

Ia tidak berteriak “salibkan Dia.”
Ia hanya membiarkan itu terjadi.

Dan sering kali, dosa terbesar bukanlah tindakan aktif, tetapi pembiaran.

Di balik semua itu, ada satu sosok yang sering terlupakan: Barabas.

Ia yang seharusnya dihukum… justru dibebaskan.

Ia yang bersalah… berjalan keluar sebagai orang merdeka.

Sementara Yesus, yang tidak bersalah, berjalan menuju salib.

Ini bukan kebetulan. Ini gambaran.

Barabas adalah kita.
Dan Yesus mengambil tempat kita.

Kita yang seharusnya menanggung akibat dosa, justru diberi kebebasan.
Bukan karena kita layak, tetapi karena kasih.

Kisah ini bukan hanya tentang masa lalu. Ini tentang hari ini.

Setiap hari, dalam cara yang berbeda, pertanyaan yang sama diajukan kepada kita:
“Siapa yang kamu pilih?”

  • Saat kita harus memilih antara jujur atau nyaman
  • Saat kita harus berdiri sendiri atau ikut arus
  • Saat kita tahu yang benar, tapi yang salah terasa lebih mudah

Kita mungkin tidak berdiri di depan Pilatus.
Tidak ada kerumunan yang berteriak.
Tidak ada salib yang terlihat.

Tetapi pilihan itu tetap ada—diam-diam, dalam hati.

Refleksi ini bukan untuk menghakimi orang banyak di masa lalu.
Karena kalau jujur, kita sering ada di posisi mereka.

Kadang kita memilih “Barabas-Barabas kecil” dalam hidup kita—
hal-hal yang cepat, mudah, populer… tapi menjauhkan kita dari kebenaran.

Namun kabar baiknya: kisah ini tidak berakhir di pilihan manusia.
Kasih Tuhan tetap berjalan, bahkan melewati keputusan yang salah.

Dan hari ini, kita masih diberi kesempatan untuk memilih lagi.

Mungkin tidak dengan teriakan.
Mungkin tidak di depan umum.

Tetapi dalam keheningan hati.

Siapa yang kamu pilih?

error: Content is protected !!