“Sisa Panggilan Jiwa”

Share:

Di sebuah bangku taman tua, Laras duduk termenung. Wajahnya yang cantik dulu kini terselubung bayangan kelelahan. Rambutnya acak-acakan, seragam perawat yang lusuh melekat pada tubuhnya. Sesekali ia menoleh, seperti mendengar panggilan yang hanya ada di pikirannya..

Sepuluh tahun lalu, Laras adalah perawat terbaik di RS Sejahtera. Ia dikenal tegas, ramah, dan penuh perhatian. Namun, pandemi merenggut lebih dari sekadar pasien; ia merenggut kedamaian jiwa Laras. Setiap malam ia dihantui jerit pasien yang tidak sempat ia selamatkan. Pandemi berakhir, tetapi perang di dalam dirinya terus berlanjut.

“Bu, dosis obatnya harus kita tambah,” gumamnya pada udara kosong. Ia berbicara seolah sedang memimpin rapat dengan dokter. Warga yang melewati taman sering menatapnya dengan prihatin, tetapi tak satu pun yang mendekat.

Dunia Laras kini adalah bayangan-bayangan. Ia melihat ruangan rumah sakit dalam kabut, tempat pasien berbaring dengan wajah-wajah pucat yang menghantuinya. Kadang, ia tertawa kecil, mengenang momen-momen ketika ia berhasil membawa senyum di wajah pasien. Namun, tawa itu segera berganti dengan isak pelan.

Hari itu, seorang bocah perempuan menghampirinya. “Tante, kenapa sedih?”

Laras tertegun. Dengan senyum tipis, ia menjawab, “Tante hanya merindukan teman-teman tante.”

Bocah itu mengangguk polos. Ia memberikan bunga liar yang baru dipetik, lalu pergi. Laras memegang bunga itu erat-erat, air matanya mengalir deras.

Di taman itu, Laras mungkin kehilangan realitas, tetapi tidak kehilangan kemanusiaannya. Hati perawatnya tetap hidup, walau jiwa Laras terus bergumul di antara dua dunia—kenyataan dan kenangan.

“Kadang kita tidak tahu cerita di balik wajah yang terlihat kosong. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka perjuangkan.”

VGS

VGS – Makassar, 14 Januari 2025

#KitaSamaKitaSatu

#DukungODGJ

error: Content is protected !!