Untold Story: Kunjungan ke Kampus UNPATTI

Share:

Pada Juli 2000, konflik sosial yang melanda Maluku mencapai puncaknya, menyapu bersih tidak hanya rumah-rumah penduduk tetapi juga fasilitas pendidikan yang menjadi penopang masa depan generasi muda. Kampus Universitas Pattimura (UNPATTI), yang terletak di kawasan Rumahtiga, Ambon, menjadi salah satu korban keganasan tersebut. Ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan hampir seluruh infrastruktur kampus dirusak dan dibakar. Kerusakan ini bukan hanya soal fisik bangunan yang luluh lantak, tetapi juga tentang hancurnya harapan dan sumber daya pendidikan yang vital bagi mahasiswa dan dosen.

Ketika situasi memanas, kami, para dosen dan mahasiswa, dipaksa meninggalkan kampus dengan tergesa-gesa. Bersama keluarga, saya mengungsi ke Passo, meninggalkan rumah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kampus. Ketakutan akan serangan membuat kami memilih keselamatan sebagai prioritas. Kami bersyukur mendapat tempat tinggal sementara di Kompleks Perumahan Dolog. Meski rumah itu kosong tanpa fasilitas memadai, setidaknya kami memiliki tempat untuk berlindung.

Kabar tentang penghancuran kampus akhirnya sampai kepada kami. Seminggu setelah meninggalkan rumah, negeri Rumahtiga, termasuk kampus UNPATTI, benar-benar hancur. Dalam hati, ada perasaan kehilangan yang mendalam, terutama mengingat perpustakaan dan laboratorium yang berisi hasil kerja keras bertahun-tahun para akademisi, mahasiswa, dan staf.

Sebulan kemudian, saya mendapat kabar dari seorang rekan dosen (CeKa) bahwa akan ada tim dari UNPATTI yang berencana masuk ke kampus untuk menyelamatkan dokumen-dokumen yang mungkin masih bisa ditemukan. Tim ini akan mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan dan akan berangkat menggunakan kapal milik Angkatan Laut melalui Pelabuhan Gudang Arang. Mendengar berita ini, hati saya berkecamuk. Ada rasa cemas, tetapi juga keinginan yang besar untuk kembali melihat kampus, meski dalam kondisi yang tak lagi utuh.

Saya mencoba bergabung dengan tim tersebut, tetapi nama saya tidak tercantum dalam daftar resmi. Namun, rasa tanggung jawab terhadap kampus mendorong saya untuk tetap mencari cara. Bersama seorang teman dosen, kami menyewa speedboat untuk mengikuti rombongan ke Poka, di mana kampus UNPATTI berada. Perjalanan kami dipenuhi doa dan harapan, meski bayangan tentang reruntuhan terus menghantui.

Setibanya di kampus, hati saya mencelos. Bangunan yang dulunya megah kini hanya menyisakan puing-puing. Ruang kelas tempat saya mengajar, laboratorium yang menjadi tempat penelitian, dan perpustakaan yang menjadi pusat pengetahuan, semuanya habis terbakar. Aroma hangus masih tercium di udara, seolah mengingatkan kami pada tragedi yang baru saja terjadi.

“Beta menangis saat melihat kampus dan rumah-rumah yang sudah menjadi puing-puing di Poka-Rumahtiga”

VGS

Kami berusaha mencari dokumen dan barang-barang penting di antara reruntuhan, tetapi semuanya sudah hancur. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Pasukan TNI Angkatan Darat yang berjaga, berjumlah sepuluh orang, tampak berusaha menjaga keamanan di tengah situasi yang masih mencekam. Wilayah Poka dan Rumahtiga saat itu masih dikuasai oleh kelompok-kelompok perusuh, menambah ketegangan di sekitar kampus.

Kami menghadapi kebingungan besar saat harus kembali ke kota. Kampus masih terkepung oleh kelompok perusuh yang menguasai wilayah tersebut, dan bermalam di sana jelas bukan pilihan. Salah satu teman menggunakan HT untuk menghubungi pihak di Kota, meminta agar pasukan keamanan segera dikirim untuk menjemput dan mengawal kami. Kami semua menyadari bahwa tanpa bantuan itu, keselamatan kami terancam.

Saat akhirnya rombongan bersiap pulang, kami menghadapi pemeriksaan ketat oleh perusuh di bawah pengawasan tentara. Mereka memastikan tidak ada dokumen atau barang-barang penting yang kami bawa keluar. Ketegangan semakin memuncak ketika kami berjalan menuju pantai, bahkan dengan pengawalan aparat keamanan, kami masih sempat dihadang oleh perusuh yang bersikeras mengintimidasi kami.

Perjalanan pulang menjadi momen yang penuh emosi. Ketika mobil yang kami tumpangi melewati kompleks perumahan dosen, tempat saya dan keluarga dulu tinggal, air mata saya mengalir. Puing-puing rumah kami terlihat jelas, menjadi saksi bisu dari kehancuran yang melanda.

Perjalanan ini meninggalkan bekas mendalam dalam hati saya. Melihat kampus yang telah luluh lantak adalah pengalaman yang tak terlupakan, tetapi juga menjadi pengingat tentang betapa pentingnya ketahanan dan kerja keras untuk membangun kembali apa yang telah hancur. Dalam hati, saya berjanji bahwa suatu hari nanti, UNPATTI akan bangkit kembali, lebih kuat dari sebelumnya, menjadi simbol harapan dan ketahanan di tengah tragedi.

Meski tragedi itu menyisakan luka mendalam, saya percaya bahwa semangat kolektif para dosen, mahasiswa, dan masyarakat Maluku akan membawa kampus ini kembali ke kejayaannya. Hingga kini, kenangan tentang kunjungan itu terus menginspirasi saya untuk menghargai arti penting pendidikan, bahkan di tengah badai kehidupan.

“CK, inga ka seng”

error: Content is protected !!