Republik Konten

Share:

Di sebuah negeri bernama Republik Konten, pemimpin tertinggi mereka bukanlah presiden, bukan raja, bukan dewan rakyat, melainkan Algoritma. Dialah yang menentukan siapa yang berkuasa, siapa yang dihujat, siapa yang ditinggikan, dan siapa yang akan dimusnahkan dari eksistensi digital.

Di negeri ini, tidak ada pemilih. Tidak ada demokrasi. Yang ada hanyalah pemirsa dengan jempol yang tak henti-henti menggulir layar, memberikan suara dalam bentuk like, share, dan comment. Hukum tertinggi adalah engagement, dan moralitas tunduk pada tren.


Kantor Pusat Kontenisme

Seorang pemuda lusuh, Dimas, diinterogasi oleh seorang pejabat tinggi Republik Konten, bernama Tuan Viralz. Ruangan itu penuh layar monitor yang menampilkan statistik trending hari ini.

Tuan Viralz: “Jadi kau ingin naik ke atas, Nak? Kau ingin jadi seseorang di negeri ini?”

Dimas: “Saya hanya ingin suara saya didengar, Pak.”

Tuan Viralz: (tertawa) “Suara? Suara siapa? Suaramu? Oh, anak muda… Suara tidak ada harganya di sini. Yang ada hanya reaksi. Kau ingin didengar? Bikin gaduh! Hina seseorang! Lempar kontroversi! Atau lebih baik… jadilah korban!”

Dimas: “Tapi saya punya gagasan! Saya ingin mengubah sistem ini!”

Tuan Viralz: (tersenyum sinis) “Sistem ini tidak ingin diubah, Nak. Sistem ini hanya ingin ditonton. Jadi kau punya dua pilihan: menjadi tontonan atau tetap jadi latar belakang.”


Warung Kopi Kere

Di sudut kota, di tempat yang tidak pernah masuk trending, sekelompok pemuda berbicara di warung kopi. Mereka adalah kaum miskin digital, orang-orang yang tak punya cukup followers untuk dianggap ada.

Rudi: “Lihat tuh, si Alvin baru saja hina ibu-ibu di TikTok. Sekarang followers-nya naik 100 ribu dalam sehari!”

Sari: “Karena di Republik Konten, hinaan itu adalah modal. Kita? Kita cuma bisa jadi pemirsa. Kita yang miskin ini hanya bisa mengagumi para penindas kita.”

Budi: “Kenapa sih, orang lebih suka nonton orang dijatuhkan daripada dibantu?”

Sari: “Karena itu hiburan, Budi. Orang suka lihat yang lebih rendah dari mereka. Makanya, kalau kau miskin dan baik hati, kau tidak akan pernah trending. Tapi kalau kau miskin dan menyedihkan? Nah, itu bisa laku!”

Rudi: “Lalu kita harus gimana? Ikut main, atau keluar dari sini?”

Sari terdiam sejenak. Ia menatap layar HP-nya yang penuh dengan berita viral hari ini. Lalu ia tersenyum kecil.

Sari: “Kalau kita tidak bisa menang di aturan mereka, saatnya kita buat aturan baru. Tapi pertanyaannya… siapa yang mau melawan Algoritma?”


Pengadilan Engagement

Dimas akhirnya mendapatkan panggung. Ia berdiri di depan ribuan pemirsa live-streaming. Algoritma mengizinkan pidatonya masuk trending. Tapi ini bukan kemenangan, ini ujian. Di belakang layar, Tuan Viralz tersenyum puas.

Dimas: “Hari ini, aku tidak meminta like. Aku tidak butuh share. Aku hanya ingin kalian sadar… Kita telah menjadi budak tontonan!”

Komentar mulai berdatangan:

@viralhunter99: “Kasian, nggak laku. Ngemis simpati!”

@queencontent: “Basi banget! Kapan nangisnya?”

@fakemotivation: “Mending giveaway aja, Bang!”

Dimas menatap ke layar. Ia sadar, tak ada yang benar-benar mendengar. Mereka hanya mencari reaksi. Dan di kursi penguasa, Tuan Viralz tertawa.

Tuan Viralz: “Selamat datang di Republik Konten, Nak. Di sini, hanya sensasi yang berhak hidup. Dan kau… kau hanyalah suara tanpa gema.”

Tayangan diputus. Nama Dimas menghilang dari trending. Dan dunia pun kembali menggulir layar.


Lembaga Survei Viral

Di sebuah ruangan mewah, seorang pria berkacamata bulat, bernama Tuan Statistik, berdiri di hadapan layar besar yang menampilkan angka-angka kepuasan rakyat. Ia sedang mengadakan konferensi pers.

Tuan Statistik: “Berdasarkan survei terbaru kami, tingkat kepuasan rakyat terhadap penguasa di Republik Konten tetap stabil di angka 85%!”

Para wartawan digital bertepuk tangan.

Wartawan 1: “Pak, bukankah banyak rakyat yang mengeluh di media sosial? Mengapa angka ini begitu tinggi?”

Tuan Statistik: (tersenyum) “Itu karena kami hanya menghitung engagement positif. Kalau ada yang berkomentar negatif tapi tetap menonton, itu tetap kami hitung sebagai kepuasan!”

Wartawan 2: “Jadi kalau ada orang marah, menghujat, tapi tetap mengikuti berita, itu dianggap mendukung?”

Tuan Statistik: “Tepat sekali! Karena di Republik Konten, yang penting bukan kenyataan, tapi persepsi!”

Tawa bergema di ruangan. Sementara di luar sana, rakyat terus menggulir layar, tanpa sadar bahwa opini mereka sudah ditentukan jauh sebelum mereka mengetik komentar.


error: Content is protected !!