Setiap sore di rumah tua kami di Ambon, selalu ada cerita. Rara, Echa, dan El duduk mengelilingi saya, sementara Jeje sesekali mampir dari Lateri, membawa cerita dari rumah Oma Yo. Abby dan Theo, meski jauh di Medan, selalu menghubungi lewat video call. Kehidupan saya sebagai opa blogger kini terasa lebih berwarna dengan kehadiran keenam cucu yang membawa cahaya di setiap sudut hidup saya.
Kehidupan kami, meski sederhana, adalah potret kebahagiaan yang nyata. Hidup bersama keenam cucu kami yang membawa warna di setiap sudut cerita, membuat saya selalu merasa diberkati. Sebagai seorang Opa, kisah-kisah ini menjadi inspirasi untuk terus menulis dan berbagi, agar cinta keluarga kami bisa menghangatkan hati siapa saja yang membaca.

Kehidupan kami adalah potret sebuah keluarga kecil yang penuh cerita, cinta, dan doa. Ikuti kisahnya…!

Dialog dengan Rara
“Rara,” panggil saya suatu sore, “Bagaimana dengan rencana proposalmu? Apa sudah mulai ada kemajuan?”
Rara yang tengah membaca buku agribisnis tersenyum tipis. “Sedikit lagi, Opa. Tapi, kadang beta bingung mau fokus ke topik yang mana. Opa bisa bantu kasih topik toh”
“Lebe dar sisa. Santai saja, Nona,” saya memberi semangat. “Skripsi itu seperti menanam. Butuh waktu dan kesabaran. Jangan lupa, doa selalu jadi pupuk terbaik.”
“Danke, Opa,” Rara menjawab sambil melirik El yang mengganggu konsentrasinya dengan mainan di meja.
Jeje dan Pengalaman Pertama Bertemu Oyang Donda
Saat Jeje pulang dari Makassar, ceritanya tentang pertemuan dengan Oyang Donda sangat menghangatkan hati.
“Opa, tahu ka seng? Oyang Donda itu kuat sekali meskipun sudah 83 tahun. Dia cerita tentang Papa Tsar waktu kecil dulu!” kata Jeje sambil tertawa.
“Ah, cerita apa itu? Oma Donda paling sayang papamu karena dia cucu pertamanya,” saya membalas sambil tertawa kecil.
“Katanya, Papa dulu suka minta ikut Oma ke sekolah, lalu Opa Uchu, adiknya Oma Shanty kasih pakai baju sekolahnya. Papa kelihatan lucu sekali!” Jeje tertawa lepas.
Saya ikut tertawa, “Itu benar. Papa Tsar waktu kecil itu lucu. Fotonya masih ada di Opa pung galeri”


Echa dan Bakat IT-nya
Sementara itu, Echa selalu sibuk dengan laptop di meja kerja saya yang sudah dirubah menjadi meja belajar bagi mereka bertiga, Rara, Echa, dan El. “Echa, apa lagi yang kamu edit kali ini?” saya bertanya, mendekati meja.
“Foto Opa yang waktu di pantai kemarin. Beta tambahkan efek supaya kelihatan lebih dramatis,” jawab Echa bangga.
Saya mengangguk. “Nona memang seperti Papa Tsar dulu, pintar sekali dengan teknologi.”
Echa tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. “Papa selalu bilang, teknologi bisa bikin semua orang saling terhubung. Makanya, beta suka bantu Opa supaya Blog dan YouTube Opa terus aktif.”
El yang Rajin dan Cerewet
El masuk ke ruang kerja sambil membawa sapu. “Opa, tadi ada debu di sudut meja. Sudah beta bersihkan!”
Saya tersenyum. “Beta pung cucu satu ini seperti alarm kebersihan di rumah.”
“Tentu saja! Kalau bukan Eklesia, siapa lagi yang mengingatkan Opa untuk jaga kebersihan?” jawabnya sambil tersenyum bangga.
Saat dia melihat saya sedang makan, El menegur “Opa, sebelum makan tadi berdoa dolo ka seng?.”
Saya pun tertawa, memandang betapa cerewetnya cucu ini, tetapi selalu penuh perhatian.


Abby dan Dialek Ambonnya
Abby, si pujangga kecil kami di Medan, sering mengirim video berisi puisi yang dia baca dalam bahasa Inggris. Dalam video call baru-baru ini, dia berkata, “Opa, Abby punya puisi baru! Tapi kali ini Abby campur dengan dialek Ambon.”
Saya tertawa. “Ah, bagus itu! Abby memang cucu Opa yang multitalenta.”
Abby pun membaca puisinya dengan percaya diri, sementara Theo sibuk berteriak di latar belakang, “Abby! Jangan lupa main sama Theo!”
Theo, Si Cowboy Kecil
Theo selalu menjadi penutup percakapan yang lucu. Dalam satu panggilan, dia berkata, “Opa, kapan kita ke Ambon naik kuda?”
Saya tersenyum. “Theo, Ambon itu pulau. Kuda tidak bisa berenang ke sini!”
“Kalau begitu, Theo bawa kapal besar, Opa!” jawabnya penuh semangat.
Setiap interaksi dengan cucu-cucu ini mengingatkan saya bahwa kehidupan penuh makna. Mereka adalah warisan terbaik saya, mencerminkan cinta, harapan, dan cerita yang terus berlanjut. Sebagai opa blogger, saya merasa diberkati bisa menulis dan membagikan kisah ini kepada dunia.

Hidup di usia senja membawa banyak berkah. Selain keenam cucu yang menjadi warna-warni kehidupan kami, ada juga istri tercinta, Shanty, serta anak bungsu kami, Troy, yang tinggal bersama istrinya, Erika, di Medan. Kehidupan kami adalah potret sebuah keluarga besar yang penuh cerita, cinta, dan doa.
Oma Shanty: Sang Penjahit yang Tak Pernah Berhenti Berkarya
Shanty, istriku, adalah perempuan luar biasa yang selalu memiliki energi tak habis-habisnya untuk menjahit. Di usia 62 tahun, ia masih menerima pesanan pelanggan setianya. Setiap pagi, ia duduk di sudut ruang kerjanya dengan mesin jahit kesayangannya.
“Oma, masih kuat menjahit terus-terusan?” tanyaku sambil membawa secangkir teh untuknya.
Shanty tersenyum, matanya berbinar. “Kalau sudah mencintai pekerjaan, capek itu hilang, Opa. Lagipula, menjahit ini sudah jadi bagian hidupku sejak muda. Apalagi sekarang ada Echa yang sering bantu cetak desainnya.”

Echa, cucu ketiga kami, mulai belajar membantu omanya dengan teknologi. Ia membuat pola jahit digital yang memudahkan Shanty untuk menerima pesanan dari berbagai pelanggan.
Suatu sore, ketika El melihat oma menjahit, ia bertanya dengan polos, “Oma, kenapa Opa tidak pernah bantu menjahit?”
Shanty tertawa, “Opa kan tangannya besar, susah kalau pegang jarum. Opa lebih cocok jadi penulis dan pengamat saja.”
Kami semua tertawa mendengar jawabannya.
Troy dan Erika di Medan
Troy, anak bungsu kami, tinggal di Medan bersama istrinya, Erika, dan dua anak mereka, Abby dan Theo. Troy adalah sosok ayah yang penyayang, sementara Erika dikenal dengan kelembutannya dalam mendidik anak-anak mereka.
Dalam salah satu panggilan video, Troy bercerita, “Pa, Ma, Theo sekarang lagi obsesif banget sama koboi. Dia bahkan minta dibuatkan topi koboi dari kardus.”
Saya tertawa, “Anak itu memang penuh imajinasi. Nanti kalau ke Ambon, kita ajak dia lihat sapi saja karena tidak ada kuda di Ambon.”
Erika menimpali, “Iya, Pa. Abby juga sekarang sering membaca puisi sambil pakai dialek Ambon. Lucu sekali dengarnya.”
Meski jauh di Medan, Troy dan Erika selalu memastikan kami tetap merasa dekat dengan mereka. Setiap Sabtu sore, mereka menghubungi kami untuk bercerita tentang kegiatan anak-anak dan kehidupan mereka di sana.
Dialog Kebersamaan
Salah satu momen yang paling saya syukuri adalah ketika seluruh keluarga bisa berkumpul di Ambon, seperti saat Natal tahun lalu. Shanty sibuk memasak hidangan khas Ambon di dapur, sementara Troy di Medan membantu Erika di luar rumah, memanggang ikan.
Aktivitas kami dibuat live oleh Echa dan Rara.
Rara yang sedang libur kuliah berbisik kepada saya, “Opa, kalau semua kumpul begini, rasanya seperti rumah semakin hidup, ya.”
“Batul, Nona,” saya menjawab. “Inilah rumah. Bukan hanya dinding dan atap, tapi orang-orang di dalamnya.”
Theo yang melihat kami berbicara tiba-tiba berlari ke arah layar ponsel papanya, “Opa! Theo mau jadi cowboy yang punya rumah besar seperti ini!”

Semua orang tertawa. Shanty keluar dari dapur sambil membawa sepiring kue bagea, lalu menambahkan, “Kalau jadi cowboy, jangan lupa kasih makan kudanya, ya.”
Abby menimpali dalam bahasa Inggris, “Grandma, Theo will need a cowboy hat first!”
El menterjemahkannya “Oma, Abby bilang Theo butuh topi koboi dolo.” Shanty hanya tersenyum sambil mencubit lembut pipi El.
“Kenangan di Medan: Opa, Oma, dan Petualangan Tiga Tahun Lalu”
Tiga tahun yang lalu, saya dan Shanty memutuskan untuk meluangkan waktu berlibur ke Medan, kota tempat Troy, Erika, Abby, dan Theo tinggal. Selain melepas rindu dengan cucu-cucu, perjalanan ini juga menjadi momen istimewa bagi kami untuk menjelajahi beberapa tempat bersejarah dan indah di Sumatera Utara.
Istana Deli dan Jejak Sejarah
Salah satu tempat pertama yang kami kunjungi adalah Istana Maimun, atau yang sering disebut Istana Deli. Shanty, dengan rasa ingin tahunya, tak henti-hentinya memotret setiap sudut istana yang megah.
“Opa, lihat ukirannya,” ujar Shanty sambil menunjuk detail ornamen di pintu istana. “Cantik sekali. Seperti ada jejak perpaduan budaya di sini.”



Saya mengangguk. “Ini warisan sejarah, Oma. Istana ini adalah saksi dari masa kejayaan Kesultanan Deli. Detail seperti ini adalah pengingat betapa kaya budaya kita.”
Abby, yang saat itu baru berusia delapan tahun, ikut dalam perjalanan kami ke istana. “Opa, istana ini besar sekali. Apa dulu Opa pernah tinggal di istana?” tanyanya polos.
Saya tertawa. “Tidak, Abby. Opa hanya penulis cerita. Tapi melihat istana ini, Opa jadi ingin menulis tentang sejarahnya.”
Abby tersenyum, “Kalau Opa tulis ceritanya, Abby mau baca!”