Di suatu tempat di lautan luas di selatan Jawa, terdapat sebuah pohon yang tumbuh langsung dari dasar laut. Namanya adalah Pausengi, dan ia berada di poros dunia. Sebuah pusaran air dahsyat mengelilingi batang pohon ini, menarik masuk kapal mana pun yang berlayar terlalu dekat dengannya. Di cabangnya bertengger Garuda, makhluk setengah manusia dan setengah elang. Setiap malam, ia terbang ke utara dan kembali dengan membawa seekor gajah, harimau, badak, atau binatang besar lainnya dalam cakarnya. Beberapa pelaut yang selamat dari pusaran air Pausengi bisa pulang dengan berpegangan pada bulu Garuda.
Kisah tentang pohon Pausengi dan buah ajaibnya—yang secara tradisional diyakini sebagai penawar segala racun—muncul dalam buku ke-12 Ambonese Herbal, sebuah karya besar tentang pengetahuan botani dari daerah tropis yang disusun pada paruh kedua abad ke-17 oleh Georg Everhard Rumpf, seorang naturalis Jerman ternama. Ia menghabiskan beberapa dekade tinggal di Pulau Ambon. Dalam menceritakan kisah ini, Rumphius—nama Latin yang lebih disukainya—sebenarnya sedang mencoba memecahkan misteri botani.
Dari waktu ke waktu, kelapa raksasa berbentuk menyerupai bokong manusia sering terdampar di pantai Kepulauan Rempah. Tidak ada yang pernah melihat pohon yang menghasilkan kelapa ini. Akibatnya, berbagai legenda pun berkembang, beberapa diantaranya dicatat oleh Rumphius. Namun, ia sendiri tidak mempercayai kisah pohon Pausengi. Ia yakin bahwa kelapa laut atau cocos-de-mer berasal dari tanah yang belum dikenal.
Kini, kita tahu bahwa ia benar. Cocos-de-mer tumbuh di Seychelles, rantai pulau yang saat itu belum dieksplorasi. Pohon palem langka ini tumbuh sangat tinggi dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berbunga dan berbuah. (Menurut penyair Octavio Paz, tongkol bunganya berbentuk seperti phallus, memiliki panjang sekitar 1 meter, dan berbau seperti tikus). Setiap buahnya dapat berbobot lebih dari 18 kg. Setelah berkecambah, cangkang kosongnya mengapung di lautan luas, membingungkan siapa pun yang menemukannya.
Campuran fakta, cerita rakyat, legenda, dan spekulasi dalam entri Rumphius tentang kelapa laut mencerminkan ciri khas karyanya. Ia hidup pada masa ketika batas antara berbagai disiplin ilmu belum jelas. Ia adalah seorang etnografer sekaligus ahli biologi, seorang ahli bahasa sekaligus ilmuwan. Dalam menyusun berbagai karyanya tentang geografi, linguistik, dan sejarah alam (hanya Ambonese Herbal saja terdiri dari enam jilid tebal), ia mengandalkan penduduk setempat untuk memberinya spesimen dan menjelaskan khasiat medisnya. Ia menyelesaikan karyanya yang luar biasa ini meskipun buta dan mengalami berbagai tragedi pribadi. Sebagian besar karyanya baru diterbitkan setelah ia meninggal. Mengingat banyaknya bencana yang menimpa naskahnya, sungguh ajaib bahwa karya ini bisa bertahan.


Tragedi yang Menimpa Rumphius
Rumphius lahir pada tahun 1627 di Hanau, Jerman, di tengah kekacauan Perang Tiga Puluh Tahun. Ayahnya adalah seorang tukang bangunan yang mengajarinya matematika, bahasa Latin, dan teknik menggambar. Pada usia 18 tahun, ia bergabung dengan pasukan tentara bayaran. Tertipu oleh seorang pedagang jiwa bangsawan, ia mengira akan berperang untuk Venesia, tetapi malah terjebak di Portugal selama tiga tahun. Pada tahun 1649, ia kembali ke Jerman. Tiga tahun kemudian, ia bergabung dengan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dan berlayar untuk selamanya.
Pada tahun 1653, ia tiba di Batavia (Jakarta) sebelum menetap di Ambon, pusat perdagangan Kepulauan Rempah, yang kemudian menjadi tempat tinggalnya seumur hidup.

Di Ambon, Rumphius segera terpesona oleh keanekaragaman hayati tropis. Ia mulai menyusun katalog spesies yang sangat luas. Namun, hidupnya dipenuhi kerja keras dan musibah tragis. Pada tahun 1670, di usia 43 tahun, ia mengalami kebutaan total. Pada tahun 1674, gempa bumi dahsyat mengguncang Ambon, menewaskan istri dan dua anaknya. Tsunami yang menyertainya menyapu desa tempat ia telah lama tinggal dan bekerja sebagai pedagang.
Pada hari itu, Rumphius dan keluarganya sedang berada di Pecinan Ambon untuk melihat perayaan Tahun Baru Imlek. Istri dan dua putrinya masuk ke dalam sebuah toko, sementara ia menunggu di luar. Saat gempa terjadi, mereka terjebak di dalam. Seorang saksi mata menggambarkan pemandangan setelahnya:
“Sungguh memilukan melihat pria itu duduk di samping jasad keluarganya, sambil meratap atas musibahnya dan kebutaannya.”
Beberapa tahun kemudian, rumahnya terbakar habis, menghancurkan perpustakaan dan hampir seluruh manuskripnya. Dengan berat hati, ia terpaksa menjual koleksi pribadinya kepada seorang pangeran Medici. Setelah ia berhasil menulis ulang manuskripnya, ia mengirimkannya ke Amsterdam untuk diterbitkan. Namun, dalam perjalanan, kapal yang membawa naskah tersebut diserang oleh pasukan Prancis dan tenggelam. Karya itu hanya selamat karena seorang pecinta alam di Jawa diam-diam membuat salinan pribadi sebelum manuskripnya dikirim.
Ketika akhirnya naskah itu tiba di Amsterdam, VOC menganggapnya berisi terlalu banyak informasi rahasia dan melarang penerbitannya. Ambonese Herbal baru diterbitkan 50 tahun kemudian.
Rumphius dan Puisi dalam Botani
Dalam menyusun karyanya, tugas pertama Rumphius adalah memberi nama. Untuk setiap tumbuhan dan kerang dalam koleksinya, ia mencatat namanya dalam Latin, Melayu, Ambon, dan jika memungkinkan, Jawa, Hindi, Portugis, serta Tionghoa. Ia juga harus menciptakan nama baru dalam bahasa Belanda.
Nama-nama yang ia ciptakan seringkali puitis dan menggugah imajinasi. Kerang-kerangnya memiliki nama-nama seperti: Little Dream Horn (Tanduk Mimpi Kecil), The Prince’s Funeral (Pemakaman Sang Pangeran), Peasant Music (Musik Petani) dan The Double Venus Harp (harpa Venus Ganda).
Nama-nama tumbuhannya bahkan lebih menarik, antara lain: the Writer’s Fern (Pakis Penulis), the Nude Tree (Pohon Telanjang), the Adultery Plant (Tanaman Selingkuh), the Blue Clitoris Flower (Bunga Klitoris Biru), the Memory Plant (Tanaman Ingatan), the Astonishment Plant (Tanaman Takjub), the Wondrous Quis-Qualis Shrub (Semak Quis-Qualis yang Menakjubkan), the Bilious Rope (Tali Empedu), Stinking Bindweed (Benang Catang Berbau), Redolent Conyza (Conyza Harum), Saturn’s Beard (Janggut Saturnus), Hair of Nymphs (Rambut Nimfa), the Wild Drumstick Tree (Pohon Tangan Drum liar), Eyes of the Sea Crabs (Mata Kepiting Laut), the Mountain Fish-Slayer Tree (Pohon Pembunuh Ikan Gunung), the Blinding Shrub (Semak Menyilaukan), the Berries-Bearing Tuba Shrub (Semak Tuba yang Berbuah), the Notched Appendage (Bagian Tidak Terputus), dan the Tart Rottangh. Meskipun buta, Rumphius menggambarkan dunia alami dengan pancaindra lain. Ia merasakan perbedaan siput dengan tangannya, mencatat rasa durian yang lembut dan nikmat seperti puding telur, serta menggambarkan rasa pahit dan sepat Daun Buaya.
Rumphius tidak berhenti hanya pada memberi nama. Ia menggambarkan setiap struktur tanaman, bentuk akarnya, susunan daun-daunnya, dan warna bunga-bunganya. Ia berusaha mencatat semua kemungkinan kegunaan untuk setiap tanaman dalam koleksinya, dari komersial hingga medis hingga romantis. Ia menulis tanaman mana yang baik untuk diare, mana yang menyembuhkan penyakit kuning, mana yang meredakan persalinan, dan mana yang membakar gairah Venus. Ketika ia bisa, ia juga mencantumkan apa arti berbagai tanaman dalam bahasa rahasia wanita Ambon, yang menggunakan herbal untuk mengisyaratkan siapa yang mereka cintai dan siapa yang mereka benci.
Salah satu kenangan pribadinya yang langka muncul saat ia menamai Anggrek Susanna untuk mengenang istrinya:
“Dalam ingatan tentang dia yang saat masih hidup adalah sahabat dan penolong utamaku dalam mengumpulkan tumbuhan.”
Rumphius tidak hanya seorang ilmuwan hebat, tetapi juga pujangga alam.
Sangat inspiratif…perlu di eksplorasi semua herbal yg sang ILMUWAN Hebat dan luar biasa temukan…ini merupakan Kekayaan Intelektual yg hrs dilestarikan semoga tetap ad dan tdk terjd Bioperacy oleh org luar
Telusuri buku dari Rumphius….mungkin bisa dimulai dari ANRI. Di BRIN pasti ada dokumen ataupun links nya. Mumpung su ada di pusat, lebih mudah carinya