Suara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit. Hari itu, saya datang untuk kontrol pertama setelah enam bulan lalu menjalani kemoterapi untuk kanker usus stadium 3. Ada sedikit ketegangan di dada, meskipun saya berusaha tetap tenang. Pemeriksaan darah hari ini akan menentukan apakah saya harus bersiap untuk langkah berikutnya atau bisa bernapas lega.
Di ruang tunggu, beberapa pasien duduk dengan wajah penuh harap. Saya pun mengisi waktu dengan membaca sekilas tentang Serologi CEA—tes yang dapat mendeteksi dan memantau kanker. Ketika nama saya dipanggil, saya melangkah masuk dengan hati berdebar.
Pemeriksaan di Makassar
Hari itu akhirnya tiba. Enam bulan sudah berlalu sejak terakhir kali saya menjalani kemoterapi. Sesuai dengan SOP bagi pasien kanker yang telah menyelesaikan terapi, saya harus menjalani kontrol pertama setelah setengah tahun untuk memantau perkembangan kondisi tubuh, khususnya melalui pemeriksaan Serologi CEA. Hati saya berdebar-debar, meskipun saya mencoba menenangkan diri. Bayangan akan hasil pemeriksaan yang kurang baik sempat melintas, tapi saya tetap berusaha berpikir positif.
Setibanya di Makassar, saya langsung menuju rumah sakit yang sudah saya kenal sejak lama. Lorong-lorong rumah sakit terasa begitu familiar, namun tetap saja ada rasa cemas yang tak bisa dihindari. Saya duduk di ruang tunggu, memperhatikan pasien lain yang juga menanti giliran. Beberapa di antaranya tampak ditemani keluarga, sementara saya kali ini ditemani Shanty, Rara, dan Jeje yang sementara berlibur di Makassar.
Saat nama saya dipanggil, saya menarik napas dalam dan melangkah masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter menatap saya dengan senyum hangat. Setelah beberapa pertanyaan tentang kondisi tubuh saya, hasil pemeriksaan pun dibacakan.
Dokter memeriksa hasil tes dan tersenyum.
“Bung Victor, hasil Serologi CEA masih dalam skala aman.”
“Berarti bagus, tetap jaga pola makan dan jangan lupa olahraga ringan,” ujar dokter dengan nada meyakinkan.
Saya mengangguk, tersenyum lega. “Syukurlah, Dok. Berarti kontrol berikutnya enam bulan lagi, ya?”
“Benar. Untuk tahun pertama dan kedua, kontrol dilakukan setiap enam bulan. Selanjutnya, tiga tahun berikutnya cukup setahun sekali. Tetap perhatikan kondisi tubuh, ya.”
Saya keluar dari ruang dokter dengan perasaan lega yang luar biasa. Rasanya seperti beban besar terangkat dari pundak saya. Di luar rumah sakit, saya menyempatkan diri menghubungi cucu-cucu di Ambon.
“Halo, bidadariku. Opa sudah selesai kontrol. Puji Tuhan, hasilnya bagus,” kata saya dengan suara penuh syukur.
“Syukur! Katong lega dengar itu. Opa hati-hati pulang, ya? Katong semua su rindu, jang lupa oleh-oleh Opa” jawab El dengan nada canda di ujung telepon.
Saya menutup telepon dan bersyukur dalam hati. Mazmur 118:6 terngiang dalam benak saya: “Tuhan di pihakku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ayat ini menjadi penguatan bagi saya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama Tuhan menyertai.
“Tuhan di pihakku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”
Mazmur 118:6
Beristirahat di Makassar dan Tetap Ngeblog
Saya memutuskan untuk beristirahat beberapa hari di Makassar sebelum pulang ke Ambon. Kota ini punya tempat tersendiri di hati saya. Udara yang sedikit lebih panas dari Ambon, hiruk-pikuk jalanan, dan makanan khas seperti coto dan konro yang selalu menggoda selera.
Di sela waktu istirahat, saya tetap aktif mengelola blog Jejak Maluku. Menulis tentang sejarah dan budaya tanah kelahiran membuat saya merasa tetap dekat dengan Ambon, meski sedang berada jauh. Echa, cucu saya yang trampil di bidang IT, terus membantu mengedit dan mengunggah artikel baru. Kami berdiskusi lewat telepon tentang tulisan terbaru yang membahas peran rempah Maluku dalam perdagangan dunia.
“Opa, tulisan tentang cengkih dan pala sudah beta periksa. Mau ditambah lagi bagian tentang peran Belanda, kah?” tanya Echa.
Saya tersenyum mendengar semangatnya. “Bagus, Echa. Tambahkan saja sedikit, supaya lebih lengkap.”
Hari-hari di Makassar terasa lebih ringan dengan kegiatan yang tetap produktif. Namun, hati saya sudah rindu pulang.
CEA (Carcinoembryonic Antigen)
CEA adalah sebuah protein yang biasanya terdapat dalam jumlah rendah pada darah orang sehat, tetapi dapat meningkat secara signifikan pada individu yang menderita beberapa jenis kanker, termasuk kanker usus besar, kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker pankreas.
CEA adalah sebuah protein yang biasanya terdapat dalam jumlah rendah pada darah orang sehat, tetapi dapat meningkat secara signifikan pada individu yang menderita beberapa jenis kanker, termasuk kanker usus besar, kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker pankreas.
CEA adalah sebuah protein yang biasanya terdapat dalam jumlah rendah pada darah orang sehat, tetapi dapat meningkat secara signifikan pada individu yang menderita beberapa jenis kanker, termasuk kanker usus besar, kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker pankreas.

Perjalanan Pulang dengan KM Nggapulu
Setelah urusan kontrol selesai dan blog tetap berjalan, saya bersiap kembali ke Ambon. Kali ini, saya tidak sendiri. Shanty dan Rara menemani saya dalam perjalanan laut dengan KM Nggapulu. Pilihan ini bukan hanya soal nostalgia, tapi juga soal menikmati perjalanan yang lebih santai dibandingkan perjalanan udara.
Di pelabuhan, suasana ramai seperti biasa. Para penumpang berlalu-lalang, ada yang membawa barang bawaan besar, ada pula yang hanya berbekal satu tas kecil. Saya pun mencari tempat duduk sembari menunggu kapal berangkat.
“Bapa Daeng mau ke Ambon, kah?” tanya seorang pria yang duduk di sebelah saya.
Saya tersenyum. “Iya, beta pulang. Sudah selesai kontrol kesehatan di Makassar.”
“Oh, puji Tuhan, semoga sehat terus, Bapa! Beta juga mau ke Namlea, ada urusan keluarga di sana.”




Percakapan ringan terus berlanjut, dan tak terasa, kapal pun mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Makassar. Saya duduk di dek kapal bersama Shanty dan Rara, menikmati angin laut yang membawa aroma khas. Perjalanan ini memang panjang, tapi saya menikmatinya. Ada rasa syukur yang mendalam karena masih bisa merasakan perjalanan pulang dengan hati yang lebih tenang.
Malam mulai turun. Saya berdiri di pinggiran kapal, menatap laut luas yang berkilauan diterpa cahaya bulan. Suasana tenang ini mengingatkan saya pada perjalanan-perjalanan sebelumnya, saat saya masih muda dan penuh semangat, melintasi lautan dengan mimpi dan harapan. Sekarang, usia boleh bertambah, tapi semangat tetap ada.
Di atas kapal, saya juga menyempatkan diri berbincang dengan beberapa penumpang lain, berbagi cerita dan mendengar kisah mereka. Ada yang baru pertama kali naik kapal, ada yang sudah terbiasa, bahkan ada yang membawa dagangan untuk dijual setibanya di tujuan mereka.
Tiba di Ambon dan Disambut Keluarga
Setelah melewati Bau-bau dan Namlea, akhirnya KM Nggapulu mendekati Ambon. Perasaan rindu akan rumah semakin kuat. Saya membayangkan wajah-wajah keluarga yang menanti di rumah, terutama Echa dan El yang pasti sudah tak sabar menyambut saya.
Di Pelabuhan Yos Sudarso, Yuyu, mamanya Rara, sudah menunggu bersama Echa dan El. Begitu melihat saya turun dari kapal, mereka segera menghampiri dengan wajah cerah.
“Opa! Akhirnya pulang!” seru El sambil berlari kecil.
Saya tertawa, membuka tangan lebar untuk memeluk mereka. “Iya, Opa sudah pulang. Rindu semua!”
Echa tersenyum. “Jadi kapan kita update blog lagi, Opa?”
Saya mengusap kepalanya dengan bangga. “Nanti kita lanjut lagi, sekarang Opa mau istirahat dulu.”
Perjalanan panjang ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin. Ada banyak hal yang bisa disyukuri, termasuk hasil pemeriksaan yang baik, kebersamaan dengan keluarga, dan perjalanan yang membawa banyak cerita baru. Saya pun melangkah masuk ke mobil dengan hati penuh syukur, siap kembali ke rumah, ke keluarga, dan ke kehidupan yang harus terus dijalani dengan semangat baru.