Musik adalah jembatan lintas budaya yang menghubungkan jiwa-jiwa di seluruh dunia. Salah satu maestro yang mengukir namanya dalam sejarah musik Hawaiian adalah George de Fretes. Pria kelahiran Bandung, Indonesia, ini tidak hanya dikenal sebagai “Raja Hawaiian steel guitar”, tetapi juga sebagai sosok yang menginspirasi generasi musisi setelahnya. Berikut kisah perjalanan hidupnya yang penuh warna, dari tanah air hingga kancah internasional.
Lagu-lagu Maluku yang paling dikenang dari Tjo de Fretes adalah Sarinah, Sarinande, Kole-Kole, Goro-Gorone, Labuhanku, dan masih banyak lagi.
Awal Kehidupan: Bakat Musik Sejak Kecil

George de Fretes lahir pada 23 Desember 1921 dari keluarga Ambon yang memiliki latar belakang militer. Ibunya, Carolina Tersemas, dan ayahnya, Anton Balthasar de Fretes, bekerja di KNIL, yang membuat keluarganya harus berpindah ke Batavia (Jakarta) pada tahun 1925.
Bakat musik Tjo terlihat sejak kecil. Dengan botol-botol berisi air, ia menciptakan suara indah menggunakan besi kecil sebagai alat musik pertamanya. Terinspirasi dari musisi Sol Hoopii dan Andy Iona, ia belajar secara otodidak memainkan ukulele dan gitar Hawaiian. Pada usia 9 tahun, gitarnya dimodifikasi menjadi Hawaiian steel guitar, yang kemudian menjadi instrumen ikoniknya.
Tak hanya itu, Tjo juga menguasai banjo, mandolin, trompet, saksofon, dan biola. Keahliannya yang luas menunjukkan bakatnya sebagai musisi serba bisa.
Membentuk Band dan Kesuksesan di Hindia Belanda
Pada usia 16 tahun, Tjo membentuk The Royal Hawaiian Quintet bersama saudara kandungnya, Arie de Fretes. Dengan lagu Royal Hawaiian Hula, mereka memenangkan kontes musik Hawaiian pada Agustus 1937.
Setahun kemudian, mereka mengubah nama band menjadi The Royal Hawaiian Minstrels dan memenangkan kompetisi besar di Surabaya, menjadikan mereka juara Archipel. Musik mereka mulai sering diputar di NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep), yang memperluas popularitasnya di Hindia Belanda.
The Royal Hawaiian Minstrels menjadi band Hawaiian dengan bayaran tertinggi pada saat itu.
Masa Perang dan Pembatasan Musik
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, musik Amerika dan Hawaiian dilarang. The Royal Hawaiian Minstrels harus mengubah nama mereka.
George dan Arie kemudian membentuk grup Suara Istana, yang memainkan musik Keroncong. Grup ini diperkuat oleh musisi Bram Titaley, F. van Harling, Theo Mendagi, dan Charles serta Jan Lamoh.
Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, George kembali ke panggung hiburan dengan tampil di acara-acara Welfare-artists yang diperuntukkan bagi tentara Belanda yang masih berada di Indonesia.

Hijrah ke Belanda dan Merintis Karier Baru
Pada tahun 1958, Tjo melakukan perjalanan ke Belanda sebagai penumpang gelap di kapal MS Johan van Oldenbarnevelt. Setelah sempat ditahan di Doetinchem, ia menetap di Den Haag dan menandatangani kontrak dengan Phonogram.
Di Belanda, Tjo membentuk kembali The Royal Hawaiian Minstrels – Suara Istana. Mantan istrinya, Joyce Aubrey, bersama suaminya yang baru, Fred Hoogduin, juga bergabung. Selain itu, putrinya, Wanda, kerap tampil sebagai penari dan penyanyi Hawaiian.
Penampilan mereka pada 1 September 1958 di Stadsschouwburg Utrecht menjadi awal dari kebangkitan mereka di dunia hiburan Eropa.
Pada 20 Desember 1958, Tjo tampil di AVRO TV Weekend-Show, memainkan Ticklin’ The Strings dengan mata tertutup, sebuah pertunjukan yang semakin mengukuhkan keahliannya.

Petualangan ke Amerika dan Kembali ke Hawaii
Pada tahun 1964, Tjo pindah ke Amerika Serikat dan bermain di berbagai acara komunitas Indonesia di California. Ia sempat tinggal di Hawaii selama enam bulan, di mana ia bermain bersama beberapa pemain steel guitar ternama.
Setelah itu, ia bergabung dengan The Tielman Brothers dalam tur ke Jerman, Swiss, dan Swedia. Pada 1966, ia merekam album Hawaii Beat A Go Go bersama Frank Valdor.
Pada tahun 1969, Tjo menetap di Los Angeles, dimana ia terus tampil untuk komunitas Belanda-Indonesia di sana.
Akhir Hayat dan Warisan Abadi
Pada 19 November 1981, dunia musik kehilangan sosok George de Fretes, yang meninggal di Los Angeles akibat serangan jantung. Ia dimakamkan di sebelah idolanya, Sol Hoopii, dengan plakat perunggu yang sama.
Meskipun ia telah tiada, pengaruhnya tetap terasa. Musik Krontjong-Hawaiian yang diperkenalkannya menjadi bagian penting dalam sejarah Indo-Rock. Pada tahun 1998-2001, label Rarity Records merilis koleksi The Home Tapes, yang berisi rekaman-rekaman langka George de Fretes.
George de Fretes: Legenda yang Tak Pernah Padam
George de Fretes bukan hanya musisi berbakat, tetapi juga seorang inovator yang menggabungkan elemen Hawaiian, jazz, dan keroncong menjadi satu harmoni unik.
Karya-karyanya tetap hidup, menjadi inspirasi bagi banyak musisi di Indonesia dan Belanda. Warisan musiknya terus dikenang sebagai permata tak ternilai dalam dunia musik Hawaiian dan Indo-Rock.