Opa dan Enam Permata Hati

Pesona Danau Toba

Beberapa hari berikutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Toba. Ini adalah pengalaman pertama kami melihat danau vulkanik terbesar di dunia. Saat tiba di tepi danau, Shanty terdiam sejenak, matanya menerawang.

“Opa,” katanya dengan suara lembut, “tempat ini indah sekali. Rasanya seperti surga kecil di bumi.”

Saya menatap danau yang tenang, dikelilingi oleh pegunungan hijau. “Batul, Oma. Ini adalah salah satu keajaiban Tuhan. Tidak ada yang bisa menyaingi keindahannya.”

Kami berdua menyusuri dermaga, sementara Troy sibuk menjaga Theo yang tidak sabar ingin bermain air. Theo, dengan semangat khas anak kecil, berteriak, “Opa, Theo mau berenang di sini!”

Saya hanya tersenyum. “Nanti saja, Theo. Airnya terlalu dingin sekarang.”

Abby, yang berdiri di samping Shanty, berkata, “Oma, ayo kita buat puisi tentang Istana Maimun dan Danau Toba.”

Shanty tertawa. “Baiklah, tapi Abby yang mulai duluan. Oma akan ikut.”

"Pesona Istana dan Danau"  
(Dibacakan bergantian oleh Abby dan Oma Shanty)

Abby:
Di Istana Maimun megah berdiri,
Jejak raja terukir abadi.
Pintu berukir, dinding berwarna,
Kisah Deli hidup selamanya.


Oma Shanty:
Sang waktu berlalu, sejarah berbicara,
Budaya berpadu, harmoni tercipta.
Istana ini tak hanya bangunan,
Tapi jiwa yang menjaga peradaban.


Abby:
Danau Toba, tenang membiru,
Pelukan gunung hijau yang syahdu.
Airnya berbisik, angin bernyanyi,
Rahasia alam di hati kami.


Oma Shanty:
Di tepi danau, jiwa menyatu,
Keagungan Tuhan terasa di situ.
Toba, kau kisahkan harmoni,
Cinta alam yang tak terganti.


Abby dan Oma Shanty bersama:
Istana dan danau, kisah yang satu,
Pesona Indonesia dalam restu.
Mari rawat, mari jaga,
Agar indahnya abadi selamanya.

Perjalanan ini menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidup kami. Selain menikmati pemandangan dan belajar sejarah, liburan ini juga menjadi momen kami mempererat hubungan dengan Troy, Erika, dan cucu-cucu kami.

Dalam perjalanan pulang ke Ambon, Shanty berkata kepada saya, “Opa, hidup kita ini seperti perjalanan tadi. Banyak hal yang indah kalau kita mau berhenti sejenak dan menikmatinya.”

Saya mengangguk. “Batul, Oma. Dan kisah ini akan selalu Opa ceritakan, supaya anak-cucu kita tahu betapa berharganya waktu yang kita habiskan bersama.”

Ziarah Bersama Anak-Anak Tsar: Jejak Cinta Seorang Ayah

Sepulang kami dari berlibur ke Medan tiga tahun lalu, momen paling mengharukan adalah saat saya, Shanty, dan keempat cucu kami—Rara, Jeje, Echa, dan El—berziarah ke makam Tsar. Itu adalah kali pertama mereka semua bersama-sama mengunjungi makam ayah mereka sejak Tsar meninggal tiga tahun lalu.

Pagi itu, suasana terasa berbeda. Shanty mengingatkan anak-anak Tsar untuk membawa bunga dan doa terbaik mereka. Rara, cucu sulung kami yang sudah dewasa, menyiapkan doa khusus. Jeje membawa buku kecil untuk mencatat apa yang ingin ia sampaikan kepada ayahnya, sementara Echa dan El memetik bunga dari taman rumah untuk ditaruh di makam.

Setiba di makam, Shanty berlutut dan dengan lembut menaruh bunga di atas nisan. “Tsar, Mamie dan Papie datang,” katanya dengan suara bergetar. “Kami rindu, Nak.”

Saya berdiri di sampingnya, mencoba menenangkan istri saya sambil menatap nisan anak kami. Dalam hati, saya berbisik, Tsar, kau selalu menjadi bagian hidup kami, dalam doa, dalam cerita, dalam hati.

Ketika kami tiba, anak-anak tampak berdiri dalam keheningan. Rara menunduk, kemudian dengan penuh kasih menaruh bunga di atas nisan. “Pipi (panggilan cinta buat papanya), ini Rara. Katong semua di sini untuk Pipi,” suaranya bergetar, tetapi wajahnya tegar.

Jeje, dengan hati-hati membuka buku kecilnya dan membaca, “Papa, beta tahu papa sekarang bersama Tuhan. Tapi beta ingin papa tahu, beta rindu pelukan papa.” Suaranya tersendat, dan Oma Shanty merangkulnya untuk memberi kekuatan.

Echa, yang biasanya sibuk dengan teknologi, berdiri diam memandangi nisan. “Papa,” katanya pelan, “Beta sudah bantu Opa edit video. Beta harap papa bangga sama beta.”

El, si bungsu dari mereka, menaruh bunga kecil di nisan sambil berkata polos, “Papa, beta sudah rajin belajar, papa lihat kan? Beta selalu berdoa untuk papa disana.”

Melalui video call dari Medan, Troy dan anak-anaknya juga mengikuti dengan haru.

Abby, dengan mata penuh haru, memegang tangan mamanya. “Bunda, apakah Uncle Tsar juga suka bunga melati?” tanyanya pelan.

Shanty tersenyum kecil, meski air mata membasahi pipinya. “Iya, Sayang. Dia suka sekali. Dia bilang wangi melati itu seperti doa, harum dan menyentuh hati.”

Theo, yang biasanya penuh energi, ikut terdiam. Dengan polos ia berkata, “Uncle Tsar pasti senang kalau lihat kita semua datang.”

Oma Shanty, yang berdiri di samping mereka, berbisik, “Nona-nonaku, papa kalian pasti mendengar semua doa dan rindu kalian. Dia selalu mencintai kalian, dari dulu sampai sekarang.”

Saya menatap keempat cucu kami dengan perasaan bangga dan haru. “Kalian adalah warisan terbaik dari papa kalian,” kata saya akhirnya. “Tsar hidup dalam diri kalian semua, dalam cara kalian mencintai, dalam keberanian kalian menghadapi hidup.”

Saat kami meninggalkan makam, suasana hening tetapi penuh dengan kehangatan. Anak-anak Tsar seolah membawa semangat baru, mengingatkan kami semua bahwa meskipun Tsar telah tiada, cinta dan kenangan tentangnya akan selalu hidup melalui mereka.

Ziarah itu menjadi momen refleksi untuk kami semua, terutama saya dan Shanty. Di makam Tsar, kami merasa kehadirannya begitu dekat, seolah ia ada di antara kami, tersenyum seperti dulu.

Ketika meninggalkan makam, saya menggenggam tangan Shanty erat. “Oma, Tsar akan selalu hidup dalam doa kita,” bisik saya.

“Iya, Opa,” jawab Shanty. “Dan melalui anak-anak dan cucu-cucu kita, Tsar tetap menjadi bagian dari keluarga ini.”

Momen itu mengingatkan kami betapa pentingnya menjaga kenangan dan cinta keluarga. Tsar mungkin sudah pergi, tetapi kasihnya akan selalu menyatu dalam hati kami, selamanya.

Di perjalanan pulang, Rara berkata kepada saya, “Opa, Pipi memang tidak ada lagi di sini, tapi beta janji akan menjaga adik-adik seperti yang Pipi lakukan dulu.” Saya menepuk pundaknya lembut. “Pipimu pasti bangga denganmu, Rara. Kalian semua adalah bukti cinta yang ia tinggalkan.”

Mengenang Tsar Vicarlov

Di sebuah kota yang tenang di Makassar, Tsar Vicarlov Siahaya lahir pada tahun 1983. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia mengabdikan dirinya dalam dunia teknologi informasi. Kecintaannya pada komputer membawanya meraih gelar Sarjana IT. Setiap hari, ruang kerjanya di hotel menjadi saksi bisu segala ide kreatif yang ia tuangkan ke dalam desain grafis, spanduk, baliho, dan bahkan majalah untuk anak-anak.

Namun, di balik senyumnya yang lebar itu, terkadang Tsar terjebak dalam kebiasaan buruk. Malam-malam penuh canda tawa seringkali berakhir dengan mabuk-mabukan. “Ayo, Tsar! Satu gelas lagi!” teriak temannya ketika mereka berkumpul. “Kita harus merayakan hari ini!”

“Ya, ya! Satu gelas lagi, teman!” Ia menjawab, meski di sudut hatinya, ia tahu kebiasaan itu mungkin tidak baik untuknya.

Di tahun 2021, hidupnya mulai berubah. Suatu hari, Tsar merasakan sakit kepala yang tak tertahankan. Setelah menjalani CT scan, hasilnya mengejutkan, ditemukan penyempitan pembuluh darah di otaknya.

Tengah malam itu, beta menjemputnya dan langsung membawanya ke RS Leimena. Dia colaps. Tubuhnya yang besarpun tidak sanggup menanggung semuanya. Kami berdoa, dan tetap berharap ia akan pulih. Akan tetapi, takdir berkata lain. Pada saat menjelang magrib, Tsar akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang mendalam di hati empat putrinya: Rara, Jeje, Echa, dan si bungsu Eklesia.

Pada pemakaman, Rara menatap nisan ayahnya. “Pipi, beta berjanji akan menjaga adik-adik. Katong samua akan membuatmu bangga,” ucapnya sambil menahan air mata.

Jeje yang berdiri di sampingnya menambahkan, “Kita akan terus mengenang semua cerita lucu yang Papa ceritakan, terutama saat kau berusaha menjelaskan teknologi terbaru dengan cara yang konyol.”

Echa, meskipun masih kecil, berbisik, “Papa pasti tersenyum di surga, kan?”

“Ya, Echa, dan antua pasti berharap katong saling mendukung satu sama lain seperti yang selalu antua ajarkan,” jawab Rara sambil merangkul adik-adiknya erat.

Kini, setiap kali mereka berkumpul, Tsar Vicarlov menjadi pengingat akan cinta dan tawa yang harus terus dijaga. Meskipun ia telah pergi, kenangan serta ajarannya akan selalu hidup di hati putri-putrinya.

Share:
error: Content is protected !!