Ini adalah cerita yang unik dan penuh makna tentang identitas dan akarku.
Aku lahir di Makassar, kota dengan jejak sejarah yang panjang dan kehidupan yang berdenyut di antara pasar-pasar tradisional, laut yang biru, dan suara riuh masyarakatnya. Di kota ini, aku tumbuh, belajar, dan bercita-cita. Teman-temanku di masa muda memiliki panggilan khusus untukku: “Ambon,” disamping itu nama kecilku disini “Chosy.” Sebuah panggilan yang lucu, karena saat itu, aku belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di Ambon. Namun, siapa yang tahu bahwa nasib akan membawaku ke kota yang namanya kerap terucap dalam candaan itu?
Setelah menyelesaikan kuliah, pekerjaan pertamaku membawaku ke Ambon. Perjalanan itu adalah lompatan besar, meninggalkan tempat yang telah kukenal sepanjang hidupku dan memulai segalanya dari nol. Awalnya, Ambon terasa asing. Bahasa, budaya, bahkan udara lautnya terasa berbeda. Tetapi, perlahan aku jatuh cinta pada kota ini. Pada keramahan orang-orangnya, pada keindahan pantainya yang seolah tak pernah bosan menawarkan ketenangan, dan pada suasana kota kecil yang membuat waktu terasa melambat.
Di Ambon, aku menemukan rumah kedua. Aku bekerja, menikah, membesarkan anak-anak, dan membangun komunitas yang membuatku merasa diterima. Lucunya, teman-teman di sini memberi panggilan baru untukku: “Bapa Daeng,” nama kecilku pun beda, “Veky.” Sebuah penghormatan pada akarku sebagai orang Makassar. Ironi ini membuatku sering tersenyum sendiri. Di Makassar aku disebut “Ambon,” sementara di Ambon aku menjadi “Daeng.”
Namun, cerita ini tidak berhenti di sana. Meski hidupku kini berpusat di Ambon, Makassar tetap memanggilku. Panggilan itu datang dalam bentuk reuni dengan teman-teman lama, dalam acara keluarga, atau sekadar nostalgia di lorong-lorong yang pernah menjadi saksi masa kecilku. Setiap kali aku menjejakkan kaki di Makassar, aku merasakan hangatnya pelukan kota itu. Seolah ia berkata, “Kamu belum benar-benar pergi, ji.” Tapi setelah beberapa hari atau minggu, aku selalu kembali ke Ambon. Kembali ke rutinitas, keluarga, dan segala hal yang telah menjadi bagian dari hidupku selama puluhan tahun.
Di tengah dua kota ini, aku sering merenung: di mana sebenarnya rumahku? Apakah rumah adalah tempat di mana aku lahir, atau tempat di mana aku menjalani sebagian besar hidupku? Apakah “pulang” berarti kembali ke akar, ataukah kepada cabang-cabang yang telah tumbuh dengan kokoh?
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa rumah bukan hanya tentang tempat, tetapi tentang perasaan. Makassar adalah akarku, fondasi dari segala yang kumiliki. Namun Ambon adalah pohon yang tumbuh darinya, dengan cabang-cabang yang menjulang tinggi, memberikan naungan dan buah. Aku adalah gabungan dari keduanya – dua kota yang saling melengkapi dalam identitasku.
Ketika aku berada di Ambon, suara-suara seperti, “Bapa, su makan ka balong” atau “Beta pi pasar dolo, eh,” mengingatkanku pada kehidupan yang kini menjadi rutinku. Sementara di Makassar, ungkapan seperti, “Ado, kasian kau, Daeng,” dan “Jangan lupa mi pulang Makassar, nah,” membawaku kembali ke akar yang selalu kuingat.
Jadi, ketika seseorang bertanya kepadaku, “Di mana rumahmu?” Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Rumahku adalah dua kota yang saling memanggilku dengan nama yang berbeda.” 😊
“Hidup adalah perjalanan antara akar dan cabang, antara kenangan dan harapan. Dan bagi mereka yang beruntung, rumah tidak hanya satu tempat, tetapi dua yang saling melengkapi.”
vgs