Di Ambon, nada-nada kecil dari empat senar ukulele bukan sekadar irama. Ia adalah suara sejarah, warisan budaya, dan lambang semangat kolektif masyarakatnya. Ukulele bukan hanya alat musik, tapi jiwa yang menyatu dalam setiap perayaan, ibadah, hingga pendidikan. Alat musik petik mungil ini, yang pertama kali dibawa armada Portugis pada tahun 1512 dan berakar dari tradisi Hawaii, telah menjadi lebih dari sekadar instrumen di Ambon. Ia adalah simbol identitas, jembatan budaya, dan denyut nadi yang menghidupkan semangat Ambon sebagai “City of Music” yang diakui UNESCO sejak 2019. Dalam setiap petikan senarnya, ukulele menceritakan kisah tentang warisan, kreativitas, dan harapan generasi muda Maluku.
Ukulele, atau yang akrab disebut “jukulele/juk” oleh warga Ambon, hadir dengan wujud sederhana: terbuat dari kayu, tempurung kelapa, dan empat senar yang menghasilkan nada-nada merdu. Ukurannya yang kecil, hanya sekitar 40-50 cm, membuatnya ramah bagi anak-anak, namun kekuatannya dalam menyatukan komunitas tak bisa dianggap remeh. Di Ambon, ukulele bukan sekadar alat musik, melainkan cerminan jiwa masyarakat Maluku yang penuh semangat dan kebersamaan. Dari gang-gang kecil di desa hingga panggung-panggung besar, petikan ukulele mengalun, membawa lagu-lagu tradisional seperti “Burung Kakatua” atau “Gunung Salahutu” yang sarat akan makna budaya.
Pemerintah Kota Ambon, menjadikan ukulele sebagai pilar utama dalam memperkuat identitas kota. Bayangkan, sebuah ambisi besar untuk mencetak 10.000 pemain ukulele profesional dari 53.000 pelajar SD dan SMP di Ambon! Untuk mewujudkannya, ukulele telah diintegrasikan ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah, seperti di SD Negeri 2 Hative Besar yang bahkan memiliki monumen ukulele sebagai simbol komitmen. Setiap 4 September, Ambon merayakan Moluccan Ukulele Day, sebuah perayaan yang menggema dengan petikan senar dan nyanyian anak-anak, menandakan betapa kuatnya ikatan kota ini dengan alat musik tersebut.
Komunitas ukulele di Ambon tumbuh subur, menjadi wadah bagi anak-anak dan remaja untuk menyalurkan kreativitas sekaligus menjauh dari pengaruh negatif seperti kecanduan gadget. Amboina Ukulele Kids Community (AUKC), Mollucan Jukulele Leaders (MJL), hingga Ukulele Bahtera Voice adalah beberapa nama yang menghidupkan semangat ini. Di bawah bimbingan tokoh seperti Gaspar Nikolaas Tulalessy, atau yang akrab disapa Niko, anak-anak belajar tidak hanya memetik senar, tetapi juga memahami akar budaya mereka melalui lagu-lagu tradisional Maluku. Donasi ukulele dari musisi ternama seperti Ridho Hafiedz dari Slank hingga Menparekraf Sandiaga Uno semakin memperkuat upaya ini, memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk memainkan alat musik yang mereka cintai.

Ukulele juga menjadi jembatan menuju dunia. Musisi Ambon seperti Rio Efruan telah membawa ukulele dan tifa ke panggung internasional, seperti di Jinju, Korea Selatan, pada 2022, menunjukkan bahwa musik Ambon mampu berbicara dalam bahasa universal. Konser seperti “The Power of Musik Ukulele” oleh SDN 8 Ambon bersama Sanggar Ansambel Musik Benteng pada Mei 2025, atau kolaborasi dengan musisi internasional seperti Ashley Campbell pada 2023, menjadi bukti bahwa ukulele Ambon bukan hanya milik lokal, tetapi juga daya tarik global.
Namun, di balik kejayaannya, ada tantangan yang harus dihadapi. Ketersediaan ukulele berkualitas masih terbatas, dengan harga yang bisa mencapai Rp1 juta, angka yang tidak kecil bagi sebagian warga. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa lagu-lagu tradisional Maluku perlahan dilupakan oleh generasi muda yang lebih akrab dengan musik modern. Namun, semangat Ambon tak pernah surut. Melalui sanggar, kompetisi seperti Jukulele Competition di IAKN Ambon, dan dukungan pemerintah, ukulele terus menjadi alat untuk melestarikan budaya sekaligus membuka peluang baru.
Di Ambon, ukulele adalah lebih dari sekadar alat musik. Ia adalah cermin jiwa kota, pengingat akan sejarah, dan harapan untuk masa depan. Setiap petikan senarnya adalah cerita tentang kebersamaan, tentang anak-anak yang bermimpi besar, dan tentang kota kecil di Maluku yang menyanyikan lagu-lagunya untuk dunia. Di tangan para pemain ukulele Ambon, dunia mendengar detak jantung Kota Musik Dunia—dan detak itu semakin kencang, semakin merdu.
https://shorturl.fm/XIZGD
https://shorturl.fm/6539m