Mama’ku
Ketika diam menjadi warisan, dan perjalanan ke negeri leluhur adalah satu-satunya cara untuk mulai bicara.
Ada sebuah jenis keheningan yang lebih berat dari suara apapun. Bukan keheningan yang lahir dari kedamaian, melainkan dari luka yang terlalu dalam untuk diucapkan—luka yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa sepatah kata pun, hanya melalui tatapan yang menghindar, perut yang menegang setiap kali nama sebuah kota disebut, dan jarak yang tidak kasat mata antara seorang ibu dan anak perempuannya. Itulah keheningan yang coba diterobos oleh Mama’ku—sebuah film dokumenter pendek karya Sven Peetoom yang tayang perdana di Nederlands Film Festival 2025, dan sejak saat itu terus bergema jauh melampaui layar bioskop.
Film ini berdurasi 58 menit. Tetapi bebannya terasa seperti seumur hidup.
Sekilas Tentang Film
- Judul
- Mama’ku
- Sutradara
- Sven Peetoom
- Subjek
- Cheroney Pelupessy & ibunya, Laura
- Durasi
- 58 menit
- Jenis
- Dokumenter pendek
- Pemutaran perdana
- Nederlands Film Festival 2025
- Tersedia di
- PICL (streaming, Belanda) · MUBI
Perjalanan yang Sudah Lama Tertunda
Cheroney Pelupessy adalah seorang koreografer dan penari asal Belanda dengan akar budaya Indonesia dan Maluku. Dalam dunia seni pertunjukan, namanya sudah lama dikenal—terutama sejak karya debutnya yang besar, KETURUNAN (2022), sebuah pertunjukan tari yang menggali sejarah keluarga dan warisan bersama komunitas Indonesia-Maluku di negeri Belanda. Tetapi ada satu perjalanan yang belum pernah ia lakukan: kembali ke tanah asal ibunya.
Laura, ibu Cheroney, tumbuh di Jakarta. Namun selama bertahun-tahun, kota itu hanya hadir sebagai bayangan—sesuatu yang ada di masa lalu, tapi tidak pernah benar-benar dibicarakan. Bagi Cheroney, tumbuh dewasa berarti hidup berdampingan dengan sebuah rahasia yang tidak pernah diumumkan namun selalu terasa: bahwa ibunya menyimpan sesuatu yang besar, sesuatu yang berat, sesuatu yang membentuk cara ia berjalan, cara ia diam, dan cara ia mencintai.
“Apa yang dimulai sebagai pencarian sejarah keluarga yang terlupakan berkembang menjadi potret yang menyentuh tentang kekerasan dalam rumah tangga, trauma antargenerasi, dan harapan untuk terhubung.”
— Sinopsis resmi, Nederlands Film Festival 2025Maka pada suatu titik, Cheroney memutuskan untuk pergi—bukan sendiri, tetapi bersama ibunya. Kamera Sven Peetoom mengikuti mereka.
Sven Peetoom dan Proyek Kebenaran yang Sudah Lama Dijalani
Untuk memahami mengapa Mama’ku menjadi seperti apa adanya, penting untuk mengenal pembuat filmnya. Sven Peetoom bukan pendatang baru dalam tema ini. Selama bertahun-tahun, ia telah mendedikasikan karirnya untuk mengungkap konsekuensi dari penekanan sejarah kolonial Belanda di Indonesia—sebuah bab sejarah yang dalam istilah akademik disebut sebagai “luka kolonial yang tak tertutup,” namun dalam kehidupan nyata dirasakan sebagai keheningan yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Karya dokumenternya yang sebelumnya, Indisch Zwijgen (Keheningan Indo), mengisahkan tiga seniman muda keturunan Indonesia-Belanda yang mencoba menerobos dinding bisu keluarga mereka tentang masa lalu kolonial. Film itu ditayangkan lebih dari 160 kali di bioskop, museum, dan perpustakaan di Belanda—angka yang luar biasa untuk sebuah dokumenter pendek. Kemudian ada karya lainnya tentang kapal-kapal di pelabuhan Rotterdam dan Amsterdam, tempat para pengungsi Indonesia tiba untuk pertama kalinya dan mencoba membangun hidup di negeri yang belum pernah mereka kenal.
Tentang “Indisch Zwijgen” (2023): Dokumenter sebelumnya oleh Peetoom ini mengikuti tiga seniman muda keturunan Indonesia-Belanda yang meneliti masa lalu mereka dan mencoba mematahkan kesunyian tentang leluhur mereka. Film ini diputar lebih dari 160 kali dan menerima Kristallen Film untuk 10.000+ penonton bioskop, serta masuk nominasi Penghargaan Kritikus Film KNF di Nederlands Filmfestival 2024.
Dalam semua karya itu, ada benang merah: bahwa sejarah tidak berakhir di buku teks. Ia hidup di dalam tubuh, di dalam pola tidur, di dalam cara seseorang menarik napas ketika kenangan buruk menyeruak ke permukaan. Peetoom percaya bahwa kamera yang sabar—kamera yang tidak terburu-buru, yang memberi ruang untuk keheningan itu sendiri—adalah alat yang paling jujur untuk mendokumentasikan proses ini.
Dan itulah yang ia bawa ke Mama’ku.
Jakarta: Kota yang Hadir Sekaligus Absen
Saat Cheroney dan Laura mendarat di Jakarta, yang kita saksikan bukan sekadar perjalanan wisata ke kota tua. Ini adalah renegosiasi identitas yang berlangsung di atas aspal panas, di depan bangunan-bangunan yang mungkin masih sama seperti dulu, di hadapan orang-orang asing yang mungkin menggunakan bahasa yang terasa seperti bisikan masa kecil. Jakarta hadir sebagai kota yang mengandung dua hal sekaligus: kenangan yang menyakitkan dan kemungkinan penyembuhan.
Bagi Laura, kota ini bukan hanya tempat ia tumbuh. Ia adalah tempat di mana sesuatu terjadi—sesuatu yang selama bertahun-tahun ia simpan jauh di kedalaman, yang tak pernah ia ceritakan kepada anak-anaknya, yang membentuk caranya berdiri di dunia dengan jarak yang terukur, dengan kehati-hatian yang kadang terasa seperti dingin. Kekerasan dalam rumah tangga. Perpindahan paksa. Trauma yang tidak pernah diberi nama.
“Kenangan yang tersembunyi selama bergenerasi mulai bergerak. Dalam kebiasaan lama dan cerita yang berakar dalam, Cheroney tidak hanya menemukan sejarah—tetapi juga menemukan dirinya sendiri.”
— Program Schuur HaarlemPerjalanan ini mencakup lebih dari Jakarta. Mereka juga mengunjungi Kepulauan Maluku—tanah leluhur yang bahkan lebih jauh dari ingatan, namun justru karena itu terasa lebih hangat, lebih misterius, lebih dekat dengan sesuatu yang primitif dan asli. Di sinilah lapisan-lapisan film menjadi semakin kaya: antara ibu yang diam dan anak yang bertanya, antara masa lalu yang perih dan masa kini yang ingin sembuh, antara dua perempuan dari satu keluarga yang mencoba menemukan bahasa bersama.
Trauma Antargenerasi: Sains dan Seni Bicara Bersama
Ada alasan mengapa film-film seperti Mama’ku terasa begitu relevan di zaman ini. Penelitian tentang trauma antargenerasi—yang juga dikenal sebagai epigenetic trauma—menunjukkan bahwa pengalaman traumatis dapat meninggalkan jejak tidak hanya dalam psikologi seseorang, tetapi secara harfiah dalam ekspresi genetik yang diturunkan kepada keturunannya. Seorang ibu yang pernah mengalami kekerasan, perpindahan, atau penganiayaan berat tidak hanya membawa luka itu dalam dirinya—ia juga, tanpa disadari, mewariskan sensitivitas sistem saraf yang sudah termodifikasi kepada anak-anaknya.
Tentu saja, Cheroney Pelupessy tidak datang ke Jakarta membawa buku teks neurobiologi. Ia datang membawa tubuhnya—dan sebagai seorang penari, tubuh adalah instrumen utama pemahamannya tentang dunia. Salah satu hal yang paling kuat dari film ini adalah keyakinannya bahwa tubuh tahu apa yang tidak mampu diucapkan oleh kata-kata. Bahwa gerakan—sebuah pelukan yang tertahan, sebuah langkah yang ragu, sebuah tangan yang akhirnya menggenggam—bisa mengatakan lebih dari satu jam percakapan.
Peetoom memahami ini, dan kameranya merespons dengan tepat. Ia tidak memaksa pengakuan dramatis atau momen puncak yang teater. Ia membiarkan film ini bernapas dalam ritme yang lebih lambat—ritme kehidupan nyata, di mana penyembuhan tidak datang dalam satu ledakan emosi, melainkan dalam akumulasi momen-momen kecil yang, jika dilihat bersama-sama, membentuk sesuatu yang menyerupai kepercayaan.
Dari Layar ke Panggung: Seni Sebagai Ritual Penyembuhan
Mama’ku tidak berhenti sebagai film. Dalam versi pertunjukan lengkapnya, dokumenter ini menjadi babak pertama dari sebuah malam seni yang lebih besar—sebuah pilihan kuratorial yang terasa tidak hanya cerdas, tetapi berani secara artistik. Setelah 58 menit film selesai, penonton tidak diajak pulang. Mereka diajak masuk lebih dalam.
Babak kedua adalah sebuah duet fisik antara Cheroney Pelupessy dan Elly Lutan—seorang penari Jawa berusia 73 tahun dari Jakarta yang namanya sudah menjadi legenda dalam dunia tari kontemporer dan tradisional Indonesia. Di atas panggung, tari kontemporer bertemu dengan bahasa gerak tradisional. Dua perempuan dari dua generasi, dua tradisi, dua geografi—bertemu dalam satu ruang dan satu waktu untuk berbicara tentang apa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
“Pertemuan mereka di atas panggung melambangkan jarak dan kedekatan antargenerasi, pencarian dan penemuan tentang siapa diri kita.”
— Website resmi Cheroney PelupessyElly Lutan, dalam pertunjukan ini, tidak sekadar menjadi kolaborator—ia menjadi tubuh yang menggantikan sosok ibu. Seperti yang ditulis dalam program pertunjukan: seorang penari Jawa memainkan peran ibu Cheroney, “seolah-olah ia selalu memang begitu.” Ini adalah pilihan artistik yang mencengangkan. Dengan melampaui keterbatasan realistis—bahwa ibu kandung Cheroney bukanlah penari profesional—pertunjukan ini justru menemukan kebenarannya yang paling murni: bahwa hubungan ibu dan anak adalah sebuah koreografi yang dipelajari tubuh sebelum pikiran sempat berpikir.
Tim Kreatif
Kekuatan pertunjukan ini juga tercermin dalam tim yang mengelilingi Cheroney. Komposisi musik oleh Tom van Wee; permainan instrumen oleh Wayan Pitriana, Krishna Sutedja, dan Wulan Dumatubun yang menyatukan unsur-unsur gamelan dan musik kontemporer; desain kostum oleh Mirjam Manusama yang merawat estetika tanpa mengorbankan kebebasan gerak; hingga asisten koreografer Prawita Indah yang menjembatani dua tradisi gerak. Ini adalah sebuah karya kolektif dalam arti yang sesungguhnya—di mana setiap elemen hadir bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai bagian dari argumen artistik yang lebih besar.
Cheroney Pelupessy: Seniman yang Tubuhnya Adalah Arsip
Untuk memahami mengapa Mama’ku terasa sehidup ini, perlu diingat siapa Cheroney sebenarnya sebagai seorang seniman. Ia bukan hanya seorang penari yang kebetulan memiliki latar belakang yang menarik—ia adalah seseorang yang telah menjadikan sejarah tubuh sebagai pusat dari seluruh praktik artistiknya.
Dalam setiap karya yang ia ciptakan, ada satu pertanyaan yang terus berulang: bagaimana cerita-cerita masa lalu tinggal di dalam tubuh kita? Bagaimana memori kolektif—tentang pengungsian, kekerasan, hilangnya bahasa dan tanah—menyemat dirinya dalam cara kita bergerak, cara kita berdiam diri, cara kita menempati ruang? Bagi Cheroney, tari bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah arkeologi—penggalian lapisan demi lapisan yang tersimpan jauh di bawah permukaan kesadaran.
Dengan Mama’ku, ia untuk pertama kalinya membawa arkeologi itu ke dalam hubungan yang paling dekat dan paling rumit: hubungannya dengan sang ibu. Dan kamera Sven Peetoom hadir bukan untuk menghakimi atau mendramatisasi, melainkan untuk menjadi saksi yang setia.
“Dengan Mama’ku, saya ingin membuat garis-garis tak kasat mata antara ibu dan anak menjadi nyata dan dapat dirasakan. Ini adalah sebuah pencarian tentang apa yang diteruskan—bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam keheningan, dalam gestur, dalam cerita-cerita yang tak terucapkan.”
— Cheroney PelupessyKonteks yang Lebih Besar: Luka Kolonial yang Masih Terbuka
Film ini tidak hadir dalam ruang hampa. Ia lahir dari dan berbicara kepada sebuah konteks yang lebih luas—tentang bagaimana sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia masih meninggalkan parut yang nyata pada jutaan jiwa, bahkan generasi-generasi setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Komunitas Indo-Belanda dan Maluku di Belanda—yang jumlahnya mencapai ratusan ribu jiwa—telah lama hidup dengan apa yang oleh para sosiolog dan psikolog disebut sebagai “budaya diam”: kecenderungan untuk tidak membicarakan pengalaman traumatis dari masa kolonial, pengungsian, atau kekerasan yang dialami sebelum dan sesudah migrasi. Diam ini bukan karena tidak ada yang perlu dikatakan. Diam ini adalah mekanisme bertahan hidup yang dipelajari oleh satu generasi dan diwariskan—seringkali tanpa kesadaran—kepada generasi berikutnya.
Apa yang dilakukan Peetoom dengan kamera, dan Cheroney dengan tubuhnya, adalah sebuah tindakan yang pada dasarnya bersifat politis: menolak untuk diam. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan tuntutan, tetapi dengan cara yang lebih sulit dan lebih berani—dengan kerentanan yang jujur, dengan kesediaan untuk duduk berdampingan dengan rasa sakit dan tidak segera melarikan diri darinya.
Resonansi yang Melampaui Komunitas
Namun—dan ini mungkin pencapaian terbesar film ini—Mama’ku tidak pernah terasa eksklusif. Ia tidak berkata: “ini hanya untuk kamu yang punya darah Maluku” atau “ini hanya untuk kamu yang mengerti sejarah Belanda dan Indonesia.” Sebaliknya, dengan menempatkan hubungan ibu dan anak perempuan sebagai jantung ceritanya, film ini berbicara kepada siapa saja yang pernah merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak terkatakan antara dirinya dan orang tuanya—sesuatu yang penting, yang mungkin tidak pernah akan cukup dimengerti, tetapi perlu dicoba untuk dimengerti.
Itulah mengapa film ini, yang ditayangkan di lebih dari 100 bioskop di Belanda pada 2025, menemukan penontonnya jauh melampaui diaspora Indonesia-Maluku. Itulah mengapa program seninya—yang menggabungkan dokumenter dengan pertunjukan tari—terus dipentaskan di berbagai kota: dari Amsterdam hingga Rotterdam, dari Den Bosch hingga Haarlem.
Sebuah Ode untuk Para Ibu yang Tidak Tahu Harus Bicara dari Mana
Di penghujung film, tidak ada resolusi yang rapi. Tidak ada momen di mana segala sesuatunya tiba-tiba menjadi terang dan jelas. Yang ada adalah sesuatu yang lebih halus dan lebih benar: dua perempuan yang, melalui perjalanan bersama, telah berhasil duduk lebih dekat satu sama lain—tidak karena semua luka sudah sembuh, tetapi karena mereka telah memilih untuk tidak lagi duduk berjauhan.
Inilah yang membuat Mama’ku terasa seperti sebuah hadiah—bukan hanya bagi Cheroney dan Laura, tetapi bagi siapa saja yang menontonnya. Sebuah hadiah berupa izin: untuk bertanya, untuk tidak menyerah pada keheningan, untuk percaya bahwa meskipun tidak semua cerita bisa diucapkan dengan kata-kata, tubuh—dan seni—selalu menemukan jalannya sendiri untuk berbicara.
Sven Peetoom telah membuat banyak film tentang keheningan. Tetapi Mama’ku terasa seperti yang paling dekat dengan jantung dari semua itu: bukan tentang keheningan sejarah yang besar dan abstrak, melainkan tentang keheningan kecil di meja makan, di dalam mobil, di antara ibu dan anak yang saling mencintai namun tidak selalu tahu caranya.
Dan kadang-kadang, itulah jarak yang paling sulit untuk ditempuh.
Mama’ku (2025) · Sutradara: Sven Peetoom · Diproduksi bersama Cheroney Pelupessy · Tayang perdana di Nederlands Film Festival, September 2025 · Tersedia untuk ditonton di PICL (Belanda) dan MUBI.
✦ ✦ ✦